Potensi Pasar Adventure 250cc di Indonesia

 

Semua biker akan adventure pada akhirnya” begitu sering kita dengar. Akan ada fase pada setiap biker dimana asyik masyuk mendandani motor, kopdar mingguan, nongkrong di cafe dan ritual rutin lainnya sudah tidak cukup punya greget. Mereka mulai menjadikan acara touring jarak menengah-jauh sebagai tantangan diri baru mereka sebagai biker. Bepergian melihat tempat yang indah, berinteraksi dengan masyarakat, bertemu kawan baru di tempat jauh: lintas pulau sesuatu yang memenuhi gelegak jiwa bikernya.

Baca lebih lanjut

Launching Kawasaki Versys X 250: Harga Mulai 61.9jt

She is here! In Indonesia! For those needs to travel further.

Hirota-San memperkenalkan konsep Any Time, Any Road pada Kawasaki Versys X 250. 

Ada dua versi yang dipersiapkan. Versi touring dan versi penggunaan sehari. Tourer version padat dengan kelebihan seperti crash guard, pannier, ABS, Fog Lamp dll.

Dengan chasis khusus backbone yg dipersiapkan utk motor adventure ini dalam menghadapi medan jalan dan bobot muatan.

Ukuran ban yg 19 inchi di depan dan 17 inchi di belakang akan sangat membantu handling dalam memghadapi kondisi jalan unpaved.

Centre stand sudah dipersiapkan utk Versys Tourer

Mesin plek plek sama dengan Ninja 250Fi begitu pula dengan engine mappingnya.

Harganya?

Utk tourer  version seharga 72.7 juta. Sementara versi city rider seharga 61.9 jt. 

Bulan February mulai delivery. Siap jelajah Indonesia!

Hanya Rubah AFR Gunakan PCV Milik Ninja250, Tenaga CBR250RR Naik 1.5 HP

Sabtu kemarin saat nongkrong di Sportisi, salah satu agendanya selain dyno test CBR250RR milik saya, juga aplikasi Power Commander 5 atau dikenal dengan PCV. PCV adalah modul piggyback yang digunakan untuk meningkatkan kinerja pembakaran dengan memberikan input data ke ECU. Nahhh PCV khusus untuk CBR250RR belum diproduksi, lha iya, motornya aja launching perdana di Indonesia. Ini sama ceritanya seperti saat setelah launching R25 dulu dimana Dynojet develop modul PCV nya di Sabina, R25 saya.

https://7leopold7.com/2014/09/20/pemasangan-pc5-dynojet-pada-yamaha-r25/

Baca lebih lanjut

Kawasaki Akan Luncurkan Versys X 250 Tanggal 30 Nov 2016?

Pagi tadi masuk email dari mbak Riri Kawasaki yang mengundang 7Leopold7.com untuk hadir launching produk first-mover mereka. Undangan tidak menyebutkan motor apa yang akan dilaunching, namun seperti biasa selalu ada hints/petunjuk dalam setiap undangan Kawasaki. Hampir pasti, kalau melihat thread ban yang digunakan ini adalah motor adventure: Versys X 250.

Screen Shot 2016-11-25 at 10.21.33 PM.png

Baca lebih lanjut

CBR250RR + Slip-on Exhaust Sportisi VRZero: Kombinasi Tepat. Perkuat Tenaga di RPM Bawah-Menengah.

 

Mungkin pendapat saya bias karena tunggangan harian yg berbeda cc-nya, tapi menurut saya pada RPM menengah CBR250RR kurang padat tenaganya. Bagaimana cara mengakalinya?

 


 

 

Tapi sebelumnya mari kita lihat data real dynotestnya.

compare250

 

Ternyata temuan Dynotest juga menunjukkan pada RPM medium 7000-9000 RPM, tenaga CBR250RR cenderung 1-2 HP dibawah R25. Salah satu cara mengakalinya yang sederhana:

Penggunaan knalpot slip-on dengan volume muffler yang kecil. Pendekatan ini banyak dipakai pada generasi 4 tak untuk mengail tenaga pada putaran bawah dan menengah.

Hanya dalam waktu setengah jam, mas Imam, mekanik andalan Sportisi sudah berhasil membuat adapter pipe slip-on untuk silencer andalan desain Sportisi. Ada dua varian slip-on yang terpasang. Satu yang berdimensi besar, VRX, yang dulu berhasil membuat Sabina, R25 saya meraih tenaga di 33 DK. Serta satu lagi yang berdimensi kecil VRZero.

Artikel kali ini akan membahas VRZeroberdimensi kecil bulat.

 

20161119_171126-001.jpg

 

Dari segi suara, alamak, suara CBR250RR yang kalem berubah jadi lantang merusak keseimbangan emosi lelaki yang mengalami penuaan dini. Roaarrrr roarrrrrr ….. Bikin panas bergejolak hati.

 

Dari segi tampilan, perlu dipoles sedikit. Memang untuk keperluan racing agak masakbodo dengan tampilan. Tapi untuk harian bisa dipercantik sedikit. Baik dari segi bahan maupun tampilan.

 

Sebelum di test kita lihat dulu Dyno Runnya: wuihhh cukup dengan slip-on tenaga naik hampir 0.5 DK. Sebaran tenaga di kurva tengah juga sedikit lebih baik.

 

Okelah the test is in the pudding. Jangan hanya berteori, enak atau engganya harusnya dicoba langsung. Saya gelandang ke jalan. Begitu masuk di gas sejak awal, bedanya langsung terasa. Tenaga tersalur lebih padat dan seketika. Duh biyung….

Karakter suara VRZero terasa konsisten tidak pecah dan nyaman di dengar di teriakan atas.

Lalu lintas padat di sekitar Rawamangun pun lebih mudah disibak. Baik karena hadirin dan hadirat jalan raya tahu/sadar ada raungan motor mendekat. Maupun karena lepasan tenaga di kitiran bawah menengah jadi lebih mengisi.

Honda CBR250RR + Exhaust Sportisi VRZero 1-007.jpg

Karena kepadatan lantas saya tidak bisa merasakan performa pada kitiran atas. Namun untuk stop ’n go, exhaust ini pas banget. Menutupi powerband CBR250RR yang cenderung kurang padat di putaran bawah kalau dengan knalpot standard.

Ini. Ini yang menurut saya karakter yang lebih tepat untuk riding dalam kota. You got the attention. You got the power.

Komparasi dan Analisa Tenaga Ninja 250 VS R25 VS CBR250RR Diatas Dynotest (Part 2)

Kalau di tulisan sebelumnya kita diskusi tentang perbandingan karakter tenaga dari 3 riding mode, kali ini kita akan membandingkan antara CBR250RR dengan dua rivalnya yang sudah terlahir duluan: Ninja 250FI dan R25.

Ini merupakan hasil test yang dilakukan oleh para punggawa Sportisi (mas Bram, Mas Koko) dan jurnalis kawakan dari Otomotif, kang AAN dengan menggunakan CBR250RR unit test milik AHM.

Motor yang diisi Pertamax 92 dinaikkan. Dilakukan run pada masing-masing riding mode hingga didapat nilai tertinggi. Diberika jeda kepada mesin agar temperatur tidak berlebihan. Untuk Sport Plus, run dilakukan hingga 8 kali dengan hasil yang mengagumkan: 31.06 HP dan torsi 19.16 Nm! Standard lho ini ya.

screen-shot-2016-11-22-at-1-13-25-am

Perbedaannya cukup signifikan dengan rivalnya.

R25 standard produksi 2014 tercatat pada angka 28.61 HP dengan torsi 18.60 Nm

Sementara Ninja 250FI yang teknologinya sudah berusia 4 tahun tercatat  pada 25.85 HP, 17.81 Nm.

compare250

Jika kita analisa lebih lanjut, grafik menunjukkan beberapa hal:

  1. CBR dan R25 memiliki karakter dan besaran tenaga yang mirip pada RPM 4000 hingga 7000. Saat test ride dijalan saya juga merasakan kemiripan ini.
  2. R25 kemudian memiliki keunggulan di RPM 7000-9000. Meninggalkan CBR hingga hampir 2 HP di rentang ini. Namun kemudian melandai setelah RPM 10.500. Temuan ini konsisten dengan test R25 saya, Sabina. Tenaga mulai menurun di RPM 12.300
  3. CBR250RR memiliki karakter tenaga yang meledak di atas.Tenaga menanjak dengan sudut lebih tajam keatas semenjak RPM 8000 hingga 12.000. Praktis tertinggi dibandingkan rivalnya semenjak RPM 9000 ke atas. Puncak tenaga pada RPM 13.000. AFR (Air Fuel Ratio) pada RPM bawah terlihat kering (sehingga emisi bagus), namun pada RPM rentang atas AFR nampak sekali lebih basah untuk memastikan mesin tetap bertenaga (tapi sedikit lebih boros). Ini KUNCI dari riding mode Sport, dugaan saya. Pada Comfort Mode, ledakan tenaga atas tidak dibutuhkan, sehingga AFR pada RPM atas dikunci tetap lean/kering/irit dan tenaga tertahan.

Temuan yang menurut saya menarik.

Sepertinya Honda memang mendesain CBR250RR sebagai anti-thesis dari R25. R25 sendiri dikembangkan Yamaha  sebagai anti-thesis bagi Ninja 250FI.

CBR250RR bermain di area performance tinggi yang pada R25 standard area itu dikunci (secara elektronik dengan ECU versi produksi massal) oleh Yamaha dengan pertimbangan durability.

Ini menyebabkan dalam kondisi standard yang direstui pabrikan, di atas dynojet test CBR250RR standard – tanpa diapapun – memiliki performa tertinggi.

Mungkinkan Ninja 250 dan R25 menyamai performa itu? Untuk Ninja 250 mungkin sebaiknya menunggu revisi major tahun depan. Sementara untuk R25, rider harus membuka kuncinya dengan menggunakan piggyback (artikel terpisah).

Good Job Honda utk CBR250RR!!

 

15078786_1161509617279005_4187673583472958412_n

 

 

Kejutan Penting Kawasaki Untuk Indonesia. Yang pertama: Akhir Bulan November Ini!

 

Mumpung di Jakarta, pagi tadi saya diajak dua orang petinggi Kawasaki Motor Indonesia untuk ngopi2 lagi di kawasan lama mereka di Pulogadung. Menyambung silaturrahmi dan pertemuan September lalu. Diskusi dan obrolan yang menarik berkisar kondisi dan rencana Kawasaki. Sayangnya hampir semuanya off the record. What was said here, stays here.

tumblr_static_kawasaki_logo

Baca lebih lanjut

Membuktikan Apa Perbedaan Riding Mode Honda CBR250RR Diatas Mesin Dynotest (Part 1)

Honda CBR250RR sudah mulai didistribusikan ke konsumen. Saat yang tepat untuk menggandeng jagoan terbaru kelas sport 250cc ini ke atas panggung Dynotest dengan tiga tujuan:

  1. untuk mendapatkan data perbedaan dari ketiga riding mode (Artikel Part 1)
  2. untuk mendapatkan data perbandingan dengan sport 250cc twin silinder lainnya (Artikel part 2)
  3. untuk mengetahui karakter knalpot aftermarket yang cocok dengan engine CBR250RR (Artikel part 3).

Sabtu sore ini saya pun nongkrong bersama para punggawa Sportisi (mas Bram, Mas Koko) dan jurnalis kawakan dari Otomotif, kang AAN untuk melaksanakan misi ini dengan menggunakan motor Unit Test dari AHM.

Motor di run beberapa kali 5-10 kali di setiap riding mode untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Untuk menjaga temperatur mesin tetap optimal big fan dinyalakan plus saya membantu menyemprotkan semburan halus air ke radiator untuk membantu pendinginan.

Dan hasil yang didapat adalah sebagai berikut:

1479550418_hasil-dyno-all-new-cbr250rr-versi-otomotif

Ternyata memang ada perbedaan pada karakter dan besaran tenaga yang dihasilkan dari 3 riding mode:

  1. Pada riding mode Sport dan Sport Plus, tenaga tetap menanjak naik dengan sudut tajam hingga pada titik tertinggi 31.06 HP (Sport Plus);
  2. Sementara pada mode Comfort, meskipun tenaga naik, namun mulai RPM 8,700 grafik lebih melandai dan tenaga tertahan di angka tertinggi 28,98 HP;
  3. Jika diperhatikan data AFR (Air Fuel Ratio), nampak pada RPM bawah ketiga riding mode sama keringnya (rasio kandungan BBMnya rendah). Namun pada saat RPM melonjak ke atas, pada mode Sport dan Sport Plus, AFR menjadi lebih basah/kaya/boros. Ini salah satu faktor yang menyebabkan tenaga menjadi lebih meledak di putaran atas (pada mode Sport/Sport +). Tentu harus melihat parameter lain seperti derajat pengapian  yang mungkin juga diset oleh ECU lebih progresif salah satunya. 
  4. Pada Comfort Mode, ledakan tenaga atas tidak dibutuhkan, sehingga AFR pada RPM atas dikunci tetap lean/kering/irit dan tenaga tertahan.

Kesimpulan:

Masing-masing Riding mode pada CBR250RR memang memiliki perbedaan karakter dan besaran tenaga. Tentu karena kapasitas mesin hanya 250cc, perbedaannya tidak sesignifikan mesin ber-cc lebih besar seperti 600cc atau 1000cc. Pada CBR250RR, perbedaanya sebesar 2,2 HP pada titik tertinggi masing-masing mode.

Buat saya sendiri sih, riding mode standard CBR250RR ya yang Sport Plus. Itu real, standard power.

Manfaat dari adanya Comfort Mode adalah, salah satunya, untuk mengunci tingkat AFR pada agar supply fuel tetap lean/kering sehingga tenaga mesin tertahan dan bensin relatif lebih irit dalam kondisi yang tidak membutuhkan ledakan tenaga atas: macet, in-city riding, nganter calon mertua ke pasar.

15078786_1161509617279005_4187673583472958412_n

 

Terima kasih untuk Kang AAN dan Otomotifnet.com, saya sdh boleh ngintip tes nya😀

Juga untuk AHM untuk pinjaman motornya, dan Sportisi untuk semuah-muahnya.