Aksi Terbuka Pawang Mengusir Hujan di Mandalika: Antara Hiburan Atau Bullyan?

Kebiasaan menggunakan pawang hujan itu sdh praktek lama di negara kita dan negara tetangga. Acara resmi kenegaraan, acara komersial, acara sosial semua jamak menggunakan jasa pawang hujan. Tapi kenapa yang diatraksikan terbuka di Mandalika jadi heboh?

Wawancara mendalam Jakarta Post terhadap praktek mengusir hujan memperlihatkan umumnya para pawang harus melakukan ritual keagamaan seperti berpuasa, berdzikir 1000 kali, dan laku lain mengikuti agama atau kebudayaan setempat. Mereka juga mensyaratkan panitia untuk menjaga sikap atau kata-kata selama event berlangsung.

https://www.thejakartapost.com/life/2018/09/07/how-indonesians-control-nature-meet-the-rain-shamans.html

LALU, apa yang berbeda dengan praktek pawang hujan di Mandalika?

Kalau praktek umumnya selama ini, kita tidak lihat ada pawang hujan, hujan tidak turun, meskipun cuacanya panas aneh.

Hanya sekali saya lihat pawang hujan di satu lokasi acara di Kalimantan, dia diam di sudut tidak banyak bicara.

Sementara di Mandalika, pawang hujan seperti sudah jadi atraksi tambahan dari balapan. Bahkan terkadang atraksi utama sepertinya. Mulai dari ritual doa, sesajen, kemudian wawancara dan liputan penuh dari media membuat “rain shaman” alias “pawang hujan” jadi viral di jagad maya.

Ini semua berpuncak pada moment balapan yang diguyur hujan.

Pawang melakukan ritual terbuka di pitlane, di depan tatapan kamera media seluruh dunia, penonton dan pembalap. *sebenarnya di sisi belakang paddock di Mandalika itu juga ada area terbuka panjang dimana ritual bisa dilakukan dengan lebih khusuk dan tertutup

Menurut saya, ya itu mungkin ritual yang memang harus dijalani oleh Pawang.

Tapi karena terbuka dan disiarkan seluruh dunia, tentu ada manfaat dan risiko yang didapat.

Manfaat: jadi salah satu sumber hiburan/atraksi, pengisi waktu selama menunggu hujan reda. Bisa juga sebagai sarana mempromosikan budaya lokal.

Risiko: reaksi penonton melihat ritual yang biasanya tertutup, dilakukan begitu terbuka bisa jadi sangat beragam. Ada yang terhibur, ada yg menjadikan bahan mocking/ledekan, ada juga yang mengkaitkan dengan meluasnya praktek klenik.

Apakah yang bereaksi negatif ini tidak percaya atau selama ini tidak pernah diuntungkan dengan praktek pawang hujan? TIDAK. Para pembalap selama ini tahu dan ikut terbantu dengan praktek rain shaman, begitu juga penonton Indonesia.

Jadi kalau melebar kemana-mana, ya itu resiko dari publisitas ritual.

Berani diekspose terbuka, ya harus siap bolanya mental kemana-mana.

Saya sendiri sih lebih prefer praktek berdoa/berharap menunda hujan ini dilakukan dalam diam,dan tafakur. seperti inti dasar dari berdoa ya. Komunikasi kita kepada yang Maha Mengatur. Meminta kemurahan hati Allah memberikan yang kita minta. Sembari kita menjaga sikap dan perkataan kita.

15 thoughts on “Aksi Terbuka Pawang Mengusir Hujan di Mandalika: Antara Hiburan Atau Bullyan?

  1. sejati pawang hujan itu tersembunyi, jika terlalu mengekspos diri akibatnya terbukti hujan kemarin tidak benar2 berhenti.

  2. Ikut malu saya sebenarnya om, lihat yg beginian di ekspos sampai tingkat dunia. Setuju lebih baik kl dilakukan diam2 saja. Dampak dr pemberitaannya lebih banyak berpotensi negatif dr pd positif.

    • Malu gimana? Coba pandang dr sudut pandang yg lain jgn terlalu sempit pemikiranmu….

    • Diluar negeri justru beritanya positif, di negara ini sendiri yg malah rame debat soal pawang.

  3. saya setuju dengan om Leo. akan lebih baik kalau ritual seperti ini bukan untuk diekspos. ibaratnya cukup menjadi rahasia umum, tahu sama tahu, dan cukup menjadi obrolan di warung kopi tanpa harus menjadi konten publikasi global.

    sempet baca-baca bahwa karena terlalu terpublish, termasuk prosesi dan medianya, malah jadi bahan serangan para dukun lain yang mau “uji ilmu”. πŸ˜…

  4. Ini bagian dari ngebranding si pawangnya. Tapi mmg penuh resiko. Menghentikan atau lebih tepatnya memindahkan hujan di musim hujan apalagi didekat pusaran badai membutuhkan energi besar. Sebuah perjudian besar. Klo berhasil ya mmg jempolan kcuali segelintir orang2 yg merasa malu.. Emang di luar negeri ga ada voodoo?? Dan dari sebagian yang nyinyir bawa2 ke ranah politis. Liat reaksi pembalap mereka ga ada yg nyinyir, bahkan pemberitaan mereka di luar positif semua. Jgn hanya karena menghentikan hujan dikaitkan ke dukun. Kita umat muslim ada ritual minta hujan, ada ritual menolak hujan..apalagi harus terang2an dihadapan orang banyak. Bahkan ulama yg saktipun masih pikir2 klo diminta datangkan hujan atau menolak hujan, klo berhasil sih ok,tapi klo ga berhasil ya dicap semua doa nya ga mustajab. Benar2 nekat ini pawang. Terlepas dari semua itu, sudah pasti itu atas seizin presiden juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s