Motor-motor Sport Dengan Profit Margin Tifis: GSX-R150, CBR250RR dan Ninja 250SL. Dan Apa Konsekuensinya Bagi Pabrikan dan Dealer?

 

List diatas tidak tertutup, artinya bisa saja terbuka utk motor sport lain. Tapi di artikel ini saya akan bahas tiga motor ini dan dampaknya bagi fabrikan dan dealer.

Profit margin itu = rasio keuntungan per jenis product yang didapat perusahaan. Semakin besar, semakin untung.

Ukurannya profit margin tifis apa om?

Dengan membandingkan harga pada motor sekelas/dekat spesifikasinya.

 

GSX-R150

Ini motor yang kalau saya masih SMP/SMA (30 kg yang lalu) pasti saya ambil. Harga paling bersahabat murah, dengan ketangguhan mesin suzuki yg pure power ga usah diragukan lagi.

Suzuki saat melahirkan ini dengan antisipasi bahwa ada begitu banyak demand atas versi motor sport dari Suzuki Satria FU, bebek sport andalan yg laris banget. Sehingga pricingnya pun bikin kaget, karena agresif banget. Belum lagi promosi gencar dengan biaya besar. Termasuk special price utk awak media/blogger.

Harga kemudian mengalami penyesuaian, apalagi selepas masa promosi. Diharapkan setelah pasar mulai teredukasi dan sering melihat GSXR150, momentum penjualan akan kia meningkat. Namun nampaknya penyusutan kue market sport 150cc semakin parah. Dan dialami di seluruh merk. Untuk keren di kelas 150cc, biker tidak harus naik sport, ada pilihan matic premium (Nmax, PCX), off-road (CRF150) atau kelas lain.

Total penjualan sport 150cc menurun dari 12,000 di Januari 2018 berangsur-angsur ke angka 8,000 di Mei tahun yang sama.

 

CBR250RR

Ini motorsport keren abis dah. Waktu saya pertama kali dpt artikel bocoran dari Honda Jepang, bukan AHM, prediksi harga adalah pada angka 70 tinggi, mendekati 80 juta rupiah. Sombong dikit, artikel saya yg pertama kali menulis motor ini akan diproduksi di Indonesia dg konfigurasi mesin twin paralel, bukan Vtwin seperti yg ramai digossipkan media ketika itu.

Dan menurut saya angka mendekati 80 juta tinggi itu masuk akal bagi sebuah CBR250RR. Because it’s a Honda. Honda pricing cenderung lebih tinggi dari competitor. Wajarrr. Sebagai perusahaan roda dua terbesar juga sangat wajar jika biaya utk desain, produksi dan promosi juga paling besar.

Tapi nyatanya bisa dikatakan CBR250RR saat ini dilepas dengan harga promosi termurah di angka 55 juta rupiah. Makkk ….

Penyebabnya sama dengan sport 150cc: melesunya pasar sport 250cc. Baik akibat diversifikasi kelas 250cc ataupun faktor lain seperti ekonomi. Mau keren naik 250cc? ah ga harus capek. Bisa dengan matic (Xmax. lalu ada Forza) atau adventure (CRF250Rally dan Versys X 250).

 

NINJA 250 SL

Ni motor didesain sebagai pengganti cash cow (sumber uang) nya Kawasaki: Ninja 150 2 tak. Namun selisih harga yg jauh dg 2 tak dan fanatisme penghirup wanginya oli samping menyebabkan motor ini kurang laku dipasaran.

Tampil drastiss dan all-out, Kawasaki memangkas berbagai komponen biaya agar bisa meletakkan Ninja 250SL persaingan pasar 150cc. Dan parahh agresif bener menurut saya langkah ini. Orang jadi mikir, diluar soal fanatisme brand, apakah mau beli motor 150cc atau 250cc dengan harga yg sama/lebih murah.

 


 

Sekarang kita bahas apa efeknya dari motor-motor yang dijual dengan profit margin sangat tifis ini:

Untuk konsumen, jelas menguntungkan. Paling tidak pada aspek penjualan, bisa beli yang paling value. Dengan asumsi tidak ada penurunan pada kualitas parts atau aftersales ya.

Untuk Pabrikan, menjual motor dengan margin tifis, berarti ada sejumlah biaya yang harus dipangkas:

  • Biaya marketing dan promosi mungkin yang akan terkena dampak pemotongan pertama. Event-event promosi yang bersifat mengedukasi publik/komunitas akan berkurang banyak, dengan asumsi: harga murah adalah promosi yg paling efektif di Indonesia.
  • Subsidi silang. Sayangnya yang sanggup begini utk jangka panjang hanyalah mereka yang benar-benar besar seperti AHM dengan CBR250RRnya. Engga untung, demi flagship.
  • Meningkatkan diversifikasi product dengan shared parts. Pada kasus GSX kita tahu ada bbrp varian product disini. Begitu juga dg Ninja 250 SL, kita tahu Kawasaki Indonesia jadi basis produksi Ninja 125/Z125 global yang diluar kubikasi, partsnya berbagi.

Untuk Dealer. nah disini yang agak berat. Ruang margin bagi dealer sangat terbatas untuk dimainkan, tidak seperti pabrik. Dengan cost yang sama (sewa tempat, maintenance cost, pajak, gaji dll) yang sama, keuntungan akan semakin berkurang.

Profit margin diturunkan dengan harapan volume (jumlah unit) yang terjual meningkat. Sehingga harapannya turunnya profit margin pada satu jenis product tidak mengurangi nett profit perusahaan secara umum. Tapi kalau ternyata volumenya tetap menurun ya beratttt…..

Kesimpulan:

Penjualan motor dengan profit margin tifis:

  • jangka pendeknya menguntungkan konsumen.
  • Penting dilakukan bagi pabrik sebagai bentuk adaptasi pada perubahan pasar.
  • Namun paling memukul bagi para dealer. Korban pertama yang jatuh (apabila turunnya profit margin tidak disertai kenaikan jumlah unit yg terjual) adalah dealer.

Ini kondisi yang tidak terlalu sehat, namun harus dilalui.

 

rc8-001

Advertisements