Review Knalpot Prospeed Black Carbon – Ninja 250FI

Selamat malam ….

Beberapa waktu lalu performa Bianka (Ninja saya) saat dipersenjatai knalpot Prospeed (Blue dan Black Carbon) ditest menggunakan Dynojet SBS team oleh Otomotifnet dan Prospeed.

20130414-070800 PM.jpg

Hasil Dynojet test sdh cukup jelas:
1. Blue series lebih tinggi torsi dan horsepowernya dibandingkan Black Carbon.
2. Keduanya mengalami kenaikan hampir 4 HP dibandingkan knalpot standard.
3. Blue pada grafik dominan di rentang RPM 4,000 hingga 7,000.
3. Black Carbon barulah dominan pada rentang RPM 7,000-11,000.

20130414-071059 PM.jpg

Cukup mengejutkan, mengingat harga black carbon sebenarnya lebih mahal 500 ribu ketimbang seri Blue. Dan saya menduga hasil test ini juga ikut menyebabkan team SBS melengkapi Nico dg Blue series saat IRS serie 1. Padahal saat itu risetnya dgn Black Carbon.

20130414-071347 PM.jpg

Tapi itu kan hasil test Dynojet, bagaimana dengan road testnya?
Setelah test, tanpa dinyana, Bianka dibawakan hadiah Slip-on Prospeed Carbon oleh Bro Bie Hau. Kesempatan Brooo utk menjajal performa jalanannya.

Sudah lebih dr satu bulan dan 1500 km saya mencoba merasakan dan memahami karakter Black Carbon ini. Baik untuk harian ngantor (60 km pp) maupun weekend ride (paling jauh nonton IRS di Sentul). Berikut observasi saya.

1. Rentang Tenaga atau Power Band

Saat menghela Bianka pulang dr Dynojet test menembus traffic jalan Haji Nawi – Pondok Indah, saya sempat kaget dan merasa sedikit kecewa. Black Carbon tidak seresponsif adiknya, Blue. Di putaran bawah dan menengah saya merasa Blue sedikit lebih berisi dan padat. Tidak sangat signifikan, tapi cukup terasa. Saya coba pd bbrp kondisi, bahkan dlm sehari sampai copot silencer dua kali hehehe. Tetap sama saja. Saat memasuki area yang memiliki lintasan panjang dan cukup aman utk RPM bermain di atas 7000 barulah terasa betul power yang mendesak keluar melalui black Carbon. Sangat mulus dan tanpa jeda tenaga bisa naik sampai ke batas redline RPM. Sangat mudah dan tanpa terasa. Tahu2 sudah tersendat terkena limiter.
Dengan knalpot standar untuk mencapai redline akan ada drop sedikit, seperti mengambil nafas dua kali jadinya.

Drop explained
Dari sini bisa disimpulkan, black carbon sebenarnya lebih cocok jika kita lebih sering bertengger di RPM atas seperti saat di race track ataupun touring.

2. Panjang Nafas

20130414-080115 PM.jpg

Saya mencoba di lintasan sisi utara Foresta BSD yang tidak memiliki persimpangan dan cukup sepi. Ingin mengetahu panjang nafas di setiap gigi hingga RPM tertahan di redline.

Gigi BLUE. BLACK CARBON Knalpot Standar
1 55 km/jam. 58 km/jam 45 km/jam
2 84 km/jam. 87 km/jam. 75 km/jam
3 116 km/jam 118 km/jam. 90 km/jam
4 131 km/jam 132 km/jam. 120 km/jam
5. N/A 157 km/jam 150 km/jam

*hasil knalpot standar, test oleh Kang Taufik, beliau lebih ringan 30kg dibanding saya.

Mencapai redline mulus sekali dan nafasnya lebih panjang.

3. Tampilan dan suara

Black Carbon ini lebih rapi finishingnya. Bracket utk dudukan sudah dilas rapi pada badan silencer. Berbeda dengan blue yang harus menggunakan gelang brakect.
Untuk suara, anak saya Regis dan tetangga depan rumah (yang ikut “dipaksa” mendengarkan suara knalpot setiap pagi 🙂 )merasa Black Carbon lebih bulat dan ngebas suaranya.
Saat revving up menjelang redline, Black Carbon juga warna suaranya tetap konsisten. Sementara Blue ada kecenderungan berubah dan jadi agak pecah.

Jadi mana yang saya pilih?

Dua2nya. Untuk Harian, saya akan pakai Blue yang lebih cocok utk stop and go

20130414-075811 PM.jpg

Sementara utk weekend ride atau touring saya lebih memilih Black Carbon. Toh bongkar pasang silencer hanya butuh tang, kunci 14 dan 5 menit waktu.

20130414-081414 PM.jpg

ARTIKEL TERKAIT:

Review Knalpot Prospeed Blue series

Dynojet Test Knalpot Prospeed – Blue versus Black Carbon

Iklan

Review Knalpot Prospeed Blue – Ninja 250 FI

Selamat pagiii

Selamat kembali dr liburan panjang utk yg berlibur.

Welcome back to the real world .. Hehe..

Sebelum memulai minggu kerja yang bakal panjang, di subuh ini saya ingin sedikit menulis review atas knalpot Prospeed Blue yg sdh mengabdi selama dua tahun hari belakangan.

Bro dan Sis, kalau kita ngobrol tentang aftermarket exhaust utk Ninja 250 FI sebenarnya ada bbrp pilihan yang beredar di pasaran. Mulai dr VRX Sportisi, Yoshimura, Akrapovic, R9, Nassert Beet, Prospeed, Arrow, Two Brothers, Leopold Vince dan beraneka ragam lainnya. Belum lagi yang kreasi lokal atau custom dr bengkel knalpot.

Banyak sumber bisa menjadi acuan dalam memilih. Misalnya hasil Dyno test yang dimuat di media yang memperlihatkan perbedaan antara berbagai produk. Selain itu bbrp video yg diupload di youtube juga dapat memberikan gambaran atas penampilan dan suara.

Sumber lain adalah ngobrol dengan user atau saat melihat sendiri di jalan hehe

Pertengahan Agustus lalu, Otomotif membuat perbandingan, yang menurut saya jadi ukuran seberapa siap dan serius sebenarnya para produsen mengembangkan Research and Development untuk mengisi kebutuhan produk yang baru saja launching.

20130107-043720 AM.jpg

Buat saya selain kenaikan Horse Power, yang tidak kalah penting adalah grafik yang naik secara stabil dan tidak ada drop. Grafik di atas memperlihatkan bbrp produk drop di kitiran RPM 8000 sampai 10,000. Range yang menurut saya justru kritis. Yg grafiknya masih bagus disitu ada dua, apa saja? ayo lihat sendiri hehe
Kriteria kedua, saya juga mencari yg suaranya adem dan ngebas, tidak yg racing melengking. Yang istilahnya socially acceptable. Ga bikin masalah dg tetangga hehe.

Dan yang kriteria yang ketiga, pastinya yg harganya cocok. Makanya Nassertbeet yg mahalnya selangit (buat saya) engga dilirik babar blas.

Dengan mempertimbangkan harga, suara dan performa, ada dua besar yg saya pikirkan: Akrapovic dan Prospeed.

Akrapovic

20130107-044421 AM.jpg

Prospeed

20130107-044634 AM.jpg

Pilihan kemudian jatuh pada Prospeed, Akra sudah banyak sekali beredar, plus apalagi stlh mendengar Akra KW juga sudah mulai produksi dimana2.

Dari bro Herry group NIO (Ninja 250 Injection Owner) saya dapat kontak Bie Hau dan kemudian Sabtu kemarin janjian utk ketemu. Meluncurlah saya dan Regis, anak pertama saya (11th) dari Serpong ke workshopnya.

Bro Bie Hau ini orangnya asyik banget, sangat informatif dan sabar. Mau nanya apa saja diladenin. Dari pengalaman, engga banyak pedege yang seasyik ini.

Kurang dari sejam, Prospeed yg blue series pun terpasang.

20130107-044458 AM.jpg

Capcus, Biankapun diajak pulang…

Review Suara

Kesan pertama saat melihat tampilan terpasangan dan suaranya memang wahh sekali. Lebih baik ketimbang yang ada di youtube, karena range bass nya kurang terdengar disana. Suaranya berdenyut ngebass ke bawah. Rumble ….. Saat saya test decibel suaranya pada RPM 12,500 noise level menyentuh 95 DB atau hanya selisih 2 angka dari raungan maksimal knalpot standard. Artikel mengenai tes decibel knalpot standard ada disini.

Saya senang sekali dg timbre (warna suaranya) Prospeed yg Blue ini. Ngebas, tidak lebay, saat RPM naik juga tidak pecah. Hanya saja kalau habis ditarik, lalu mendadak tutup gas, dia akan “berdeham” sekali. Bukan nembak ya (pengalaman sbg Scorpio rider nih hehehe).

Review Performa

Selama dua hari ini perbedaan yang paling terasa buat saya adalah pada panjang nafasnya.
Kalau bro dan sis pernah bawa Ninja 250 FI, mungkin akan kerasa bagaimana torsi bawahnya Ninja itu nafasnya engga panjang dan harus sering ganti gigi pada gigi bawah.

Jadi berubah Bro..

Saya bawa Bianka minggu pagi ke daerah Foresta BSD untuk ditest range kecepatan per gigi. Hujan gerimis semenjak subuh. Yah tetap maju terus..

20130107-050133 AM.jpg

Kondisi motor standar habis. Tidak ganti injector, no PCV, ban sutandar yg licin itu.

Gigi baru saya pindah saat RPM menyentuh limiter. Untuk akurasi speedometer bisa dilihat di artikel saya yang ini.

Gigi Kecepatan
1     55 km/jam
2     84 km/jam
3     116 km/jam
4     131 km/jam

Data di gigi 5 tidak bisa didapat, krn saat kecepatan di 142 km/jam (sementara RPM belum mentok), ban belakang (standard) menunjukkan gejala spinning (berputar melebihi kecepatan jejak) dan bergoyang mencari jejakan. Genangan air kecil ada dimana2. Ini nampaknya yg membuat aqua planning (ban tidak bisa menjejak aspal dg baik akibat tekanan permukaan air) dan kemudian spinning.

Karena tidak punya data utk knalpot standar, saya coba lirik hasil test ridenya kang Taufik dgn Ninja 250 FI standard.

Gear 1 bisa mencapai 45 km/h
Gear 2 mencapai 75 km/h
gear 3 mencapai 90 km/h,
Gear 4 mencapai 120 km/jam
Gear 5 mencapai 150 km/h

Lumayan signifikan berbeda ya hasilnya

Kalau kang Taufik yg ngetest knalpot Prospeed mungkin hasilnya bisa lebih baik lagi. Krn beliau lebih berpengalaman dan postur tubuhnya lebih kecil dan JAUH lebih ringan hehe. Apalagi kalau bro dan Sis pakai ban kompon lunak seperti BT 090 DAN tidak di hari hujan.

Untuk sementara reviewnya itu dulu, anak2 saya sudah bangun pagi dan ini hari pertama sekolah. Rencananya minggu ini akan service yg kedua ( sudah 4600 km), sekalian resetting ECUnya.

20130107-052214 AM.jpg