Pemasukan Negara Akan Besar Jika Knalpot Diregulasi dg SNI. Kenapa tidak diatur resmi saja?

Ini topik panjang ga habis-habis. Bakal selesai kalau solusi sesuai judul diambil: diregulasi resmi dengan menggunakan SNI.

Penggunaan sepeda motor makin pesat, hampir 2,5 juta motor terjual per tahunnya di Indonesia. Begitu juga perkembangan penggunaan parts aftermarket.

Continue reading

SELAMAT! Setelah KNALPOT PALSU, Indonesia kini juga dikenal dgn HELM PALSU!

 

Prestasi yang sungguh luar biasa bagi Indonesia sebagai market motor terbesar ketiga di dunia. China dan India, kedua negara ini tidak hanya menjadi market motor teratas, namun juga bangkit menjadi produsen otomotif yang perlahan kian disegani di pasar dunia.

Continue reading

Review 600 km Penggunaan Ban Standard New Ninja 250 2018 (Dunlop ArrowMax GT601): Lebih Lekat utk Jalanan Indonesia Yang Penuh Khianat

Motor 250cc 2 silinder pada umumnya di Indonesia dibekali dengan ban sejuta umat IRC Road Winner. Mulai dari Ninja 250Fi, R25 dan terakhir CBR250RR. Tradisi ini diganggu oleh Kawasaki pada New Ninja 250 edisi 2018.

DSCF9935.JPG

Continue reading

Knalpot Original Honda CBR250RR Banyak Diburu. Mengapa?

 

Di kelas 250cc memang Honda menggunakan style yang berbeda dari yang lain dengan memasangkan knalpot double barrel pada CBR250RR.

Insting pertama pemilik, seperti saya tahun lalu, adalah untuk mengganti knalpot original CBR250RR dengan performance aftermarket, supaya lebih nampol performanya, gagah suaranya dan keren tampilanya.

Namun fenomena lanjutannya ternyata cukup unik. Knalpot original CBR250RR ini ternyata banyak dicari dan memiliki sendiri marketnya yang justru lebih seru rame ketimbang bursa secondnya CBR250RR.

Continue reading

Tenaga Yamaha R25 Mendekati 32 HP On Wheel Dengan Tiga Modul PnP ini

 

Mas kok nulis tentang R25 melulu sih? ga netral nih..

hehe sudah ada 2 pembaca blog yang menulis begitu. Waduh gimana ya, saya kan sedang mengeksplor motor saya sendiri. Apalagi minat dan komunitas R25 ini sedang berkembang. Saya berharap tulisan-tulisan saya menambah informasi dan referensi tentang produk global yang lahir di Indonesia ini.

Kembali ke laptop.

Melanjutkan artikel tentang aplikasi PC5 by Dynojet khusus untuk R25 sebelumnya. Kali ini saya mencoba melihat bagaimana kalau tiga modul PnP ini digabungkan. Apa dampaknya bagi performa R25.

Apa saja mas 3 modul itu?

1. Knalpot Prospeed Black Carbon R25

2. Filter udara Ferrox for R25

3. Power Commander 5 (PC5) Dynojet

Di dapur Sportisi Motorsport ketiga modul itu diuji diatas Dynojet test untuk mendapatkan hasil yang terukur dan tertulis.

20140920_124408-001

Supaya terlihat peningkatannya, hasil test motor standard tgl 19 Juli dijadikan baseline.

Dan inilah hasilnya.

R25Sabina

Fullscreen capture 9212014 124833 PM

Dengan pemasangan knalpot Prospeed Black Carbon dan Filter Ferrox tenaga dan torsi melejit diatas performa standard. HP naik dari 27.63 menjadi 29.92 dan torsi membaik semenjak putaran bawah dengan top torque adalah 19.03 Nm.

Dilanjutkan dengan pemasangan dan tune up PC5 performa meloncat lebih jauh lagi. HP meningkat menuju 31.55 HP dengan max torque sebesar 19.54 Nm. Mantap sekali….

Knalpot Prospeed yang sekarang digunakan lebih pada daily use (enak ditelinga dan bentuk) dan torsi bawah, kenaikan tenaganya pun hanya sekitar 1.3 DK. Saya menduga apabila menggunakan knalpot yang memang didesain utk racing (yang suaranya ampun-ampunan) seperti Sakura, AR-1 dan GBR Bandung maka tenaga bisa tembus ke 32 gede HP.

Ingat lho ini belum main cam, atau porting/polish dan lain sebagainya.

Hanya dengan mengganti knalpot (15 menit), ganti filter (5 menit) dan memasang PC5 (25 menit, kalau motornya masih standard, belum termasuk tuning).

Mas Bram juga mengatakan setelah melihat jerohan R25, daya tahan komponen masih sangat memungkinkan penggalian tenaga lebih jauh.

A bigger beast is waiting for you underneath…

Review Regis atas Helm HJC Lorenzo

 

Saya sedang mempersiapkan review tentang akurasi speedometer R25. Sementara itu silahkan dipirsa tulisan review Regis, anak pertama saya (12 th) atas helm hadiah HJC Lorenzo hadiah kiriman dari YIMM hampir 2 minggu lalu. Saya tidak melakukan edit hanya merapikan dan menambahkan gambar.

 

————————————–

 

Selamat  siang om dan tante, ini saya regis bagas.

Mohon maaf lahir dan batin mungkin saya banyak salahnya walaupun saya jarang menulis. Kali ini saya mau mereview helm HJC Jorge Lorenzo yang ayah dapat dari yamaha. Ayah memberikan helm ini untuk saya pakai.

IMG_7287

Continue reading

Perbandingan Dynojet Test 4 Knalpot Aftermarket untuk R25 – Apa Pilihan Anda?

 

Sekali lagi selamat hari raya Iedul Fitri. Saya mohon maaf jika ada artikel di blog saya yang kurang berkenan selama ini.

Masih melaporkan seputar R25. Topik kali ini, sesuai judul adalah:

Perbandingan hasil dynojet test 4 knalpot aftermarket untuk R25.

Catatan:

  1. Tanpa disertai pemasangan piggy-back atau penggantian filter
  2. Kesemua knalpot ditest di mesin Sportisi, sehingga skala kenaikannya bisa diperbandingkan
  3. Beberapa knalpot di test dengan sample/unit test, sementara yang lainnya (PRospeed dan Anjany Racing) menggunakan mass production unit.

Baiklahh mari kita mulai

Continue reading

Review Knalpot Prospeed Black Carbon – Ninja 250FI

Selamat malam ….

Beberapa waktu lalu performa Bianka (Ninja saya) saat dipersenjatai knalpot Prospeed (Blue dan Black Carbon) ditest menggunakan Dynojet SBS team oleh Otomotifnet dan Prospeed.

20130414-070800 PM.jpg

Hasil Dynojet test sdh cukup jelas:
1. Blue series lebih tinggi torsi dan horsepowernya dibandingkan Black Carbon.
2. Keduanya mengalami kenaikan hampir 4 HP dibandingkan knalpot standard.
3. Blue pada grafik dominan di rentang RPM 4,000 hingga 7,000.
3. Black Carbon barulah dominan pada rentang RPM 7,000-11,000.

20130414-071059 PM.jpg

Cukup mengejutkan, mengingat harga black carbon sebenarnya lebih mahal 500 ribu ketimbang seri Blue. Dan saya menduga hasil test ini juga ikut menyebabkan team SBS melengkapi Nico dg Blue series saat IRS serie 1. Padahal saat itu risetnya dgn Black Carbon.

20130414-071347 PM.jpg

Tapi itu kan hasil test Dynojet, bagaimana dengan road testnya?
Setelah test, tanpa dinyana, Bianka dibawakan hadiah Slip-on Prospeed Carbon oleh Bro Bie Hau. Kesempatan Brooo utk menjajal performa jalanannya.

Sudah lebih dr satu bulan dan 1500 km saya mencoba merasakan dan memahami karakter Black Carbon ini. Baik untuk harian ngantor (60 km pp) maupun weekend ride (paling jauh nonton IRS di Sentul). Berikut observasi saya.

1. Rentang Tenaga atau Power Band

Saat menghela Bianka pulang dr Dynojet test menembus traffic jalan Haji Nawi – Pondok Indah, saya sempat kaget dan merasa sedikit kecewa. Black Carbon tidak seresponsif adiknya, Blue. Di putaran bawah dan menengah saya merasa Blue sedikit lebih berisi dan padat. Tidak sangat signifikan, tapi cukup terasa. Saya coba pd bbrp kondisi, bahkan dlm sehari sampai copot silencer dua kali hehehe. Tetap sama saja. Saat memasuki area yang memiliki lintasan panjang dan cukup aman utk RPM bermain di atas 7000 barulah terasa betul power yang mendesak keluar melalui black Carbon. Sangat mulus dan tanpa jeda tenaga bisa naik sampai ke batas redline RPM. Sangat mudah dan tanpa terasa. Tahu2 sudah tersendat terkena limiter.
Dengan knalpot standar untuk mencapai redline akan ada drop sedikit, seperti mengambil nafas dua kali jadinya.

Drop explained
Dari sini bisa disimpulkan, black carbon sebenarnya lebih cocok jika kita lebih sering bertengger di RPM atas seperti saat di race track ataupun touring.

2. Panjang Nafas

20130414-080115 PM.jpg

Saya mencoba di lintasan sisi utara Foresta BSD yang tidak memiliki persimpangan dan cukup sepi. Ingin mengetahu panjang nafas di setiap gigi hingga RPM tertahan di redline.

Gigi BLUE. BLACK CARBON Knalpot Standar
1 55 km/jam. 58 km/jam 45 km/jam
2 84 km/jam. 87 km/jam. 75 km/jam
3 116 km/jam 118 km/jam. 90 km/jam
4 131 km/jam 132 km/jam. 120 km/jam
5. N/A 157 km/jam 150 km/jam

*hasil knalpot standar, test oleh Kang Taufik, beliau lebih ringan 30kg dibanding saya.

Mencapai redline mulus sekali dan nafasnya lebih panjang.

3. Tampilan dan suara

Black Carbon ini lebih rapi finishingnya. Bracket utk dudukan sudah dilas rapi pada badan silencer. Berbeda dengan blue yang harus menggunakan gelang brakect.
Untuk suara, anak saya Regis dan tetangga depan rumah (yang ikut “dipaksa” mendengarkan suara knalpot setiap pagi 🙂 )merasa Black Carbon lebih bulat dan ngebas suaranya.
Saat revving up menjelang redline, Black Carbon juga warna suaranya tetap konsisten. Sementara Blue ada kecenderungan berubah dan jadi agak pecah.

Jadi mana yang saya pilih?

Dua2nya. Untuk Harian, saya akan pakai Blue yang lebih cocok utk stop and go

20130414-075811 PM.jpg

Sementara utk weekend ride atau touring saya lebih memilih Black Carbon. Toh bongkar pasang silencer hanya butuh tang, kunci 14 dan 5 menit waktu.

20130414-081414 PM.jpg

ARTIKEL TERKAIT:

Review Knalpot Prospeed Blue series

Dynojet Test Knalpot Prospeed – Blue versus Black Carbon