STNK dan Plat Nomer Regina (CBR250RR) Jadi Dalam 24 Hari. Berapa Pajaknya?

Tgl 19 Des Senin kemarin saya dikontak oleh mbak Nur yg baik dan manis dr Wahana. STNK dan Plat Nomer sudah jadi katanya. Yeahhh!!

Berarti terhitung sekitar 24 hari atau 3.5 minggu setelah motor tiba di konsumen STNK jadi. Lumayan. Pas banget sebelum Surat Ijin Jalan dan plat nomer bantuan habis masa berlakunya.

Pajak terkena progresif sebagai motor ketiga. Saya diminta menambah 444 ribu. Atau jika tanpa pajak motor ketiga, sebesar 888.000 Rupiah (sebagai motor kedua). Ternyata sebelum sempat saya cabut ke Samsat, Sabina – R25 masih ditembak KTP oleh pembeli. Memalukan.

Pake plat sementara aja udah sampai Madura, bakal tambah puas jalan-jalan si cantik Regina nih.


Knalpot Prospeed Double MF + CBR250RR: A Perfect Couple!

 

Terhitung 977 km saya testing Prospeed Double MF pada Regina. Mulai dari city ride, berlanjut dengan touring sampai ke Madura (918 km). Apa kesannya?

Semenjak bulan Maret 2016, Prospeed sebenarnya sudah riset knalpot untuk CBR250RR, pada unit pre-production. Langsung pada unit real. Hanya saja dengan kondisi tanpa aki, alias motor tidak bisa (tepatnya tidak boleh) nyala. Saya malahan sudah dikasi lihat knalpotnya duluan sebelum release resmi CBR250RR hehee.

Alur dan diameter piping mulai dari header hingga percabangan silencer tentu sudah dikuasai habis. Ga asal belok, karena sudut sekecil apapun bisa memberikan tahanan yang dibutuhkan ataupun dihindari.

Lalu bagaimana hasilnya?

 

Kondisi motor standard, piggyback sudah dicopot, baru saja selesai service pertama dan ganti oli/filter oli.

Baca lebih lanjut

Farewell Note to Regina

Saya menunggu kamu lama.

Sampai pernah satu titik saya hampir menyerah, karena waktu yang kian tidak berpihak.

Tapi saya pikir bahkan kalau waktu yang tersisa itu seharipun mungkin layak dicoba.

Dan 1777 km kemudian. Dari Rangkasbitung di Banten hingga Bangkalan Madura. Melewati ratusan tikungan, tak terhitung resiko, desiran konstan adreanaline. Mencoba sungguh-sungguh untuk mengenal kamu.

Mungkin hanya 20 hari, tapi kesan dan saat bersama kamu akan lekat di hati.

Leopold – Terminal 2E International Soetta.

918 km Menuju Madura Bersama Regina (CBR250RR): Touring Test

Long weekend 3 hari. Saatnya short touring. Sambil lebih memahami bagaimana motor yang track oriented seperti CBR250RR diajak sedikit touring. Iseng banget sih mas? Kenapa tidak? Saya yakin akan ada banyak kesempatan dimana rider CBR250RR mendapat kesempatan touring. Artikel ini semoga bisa memberi gambaran awal.

Baca lebih lanjut

Regina – My Red CBR250RR

 

Terima kasih untuk kawan-kawan yang sudah mengajukan usulan nama.

Sampai siang tadi usulan nama yang menurut saya pas untuk CBR250RR merah ada dua:

  1. Aruna, dalam bahasa sanskerta berarti merah, atau fajar yang kemerahan
  2. Regina, yang berarti ratu, yang berkuasa. Ini juga tribute untuk anak saya Regis yang mencintai motor.

Saya condong ke Aruna. Namun temen deket saya memiliki anak gadis cantik berumur 16 tahun yang bernama sama. Dan saya merasa agak kurang pas di hati kalau kemudian nama itu saya berikan pada motor tunggangan saya.

Untuk lebih pas nya kemudian saya share pilihannya ke Bung Regis. Dia keheranan dengan pilihan Aruna dan seketika setuju dengan Regina.

Dan teman-teman pembaca, perkenalkan, Regina, my red CBR250RR.

Entah bagaimana kebetulan sekali malam ini ada satu comment terakhir yang masuk dan mengusulkan nama Regina. Saat saya cek di daftar listing subscribe blog, emailnya belum ada. Saya berharap rekan Alvin alias alvyanto.blogspot.comx  
ekaalvin@yahoo.co.id  107.167.102.185

bisa menghubungi saya melalui email untuk konfirmasi email yang digunakan untuk subscribe ke blog ini.

 

  • Kawasaki Ninja 250fi 2012 (Bianka)
  • Kawasaki ER6N 2013 (Verde)
  • Yamaha R25 2014 (Sabina)
  • Yamaha MT09 2015 (Athena)
  • KTM RC8 2015 (Ausar)
  • Kawasaki ZX-10R 2016 (Zeus) di Canberra

welcome my Honda CBR250RR 2016 – Regina

img_7497

 

Pengalaman Service Pertama CBR250RR

Engga terasa dalam waktu seminggu KM sudah menyentuh angka 800 😂. Berhubung besok subuh akan dipakai riding ke Surabaya via Pacitan hari ini CBR saya service untuk pertama kali.

Saya cek stock oli dan filter oli aya. Tapi di Wahana Gn Sahari. Cap cuss lah pagi2 ke sana.

Sampai disana saat parkir, ternyata sedang ada kunjungan dari Honda Japan. Sontak CBR250 (apa namanya ya) dikerubuti. Mungkin bisa dikatakan ini service pertama Honda CBR250RR milik konsumen pertama di dunia. 

Saya minum dulu sembari menjawab pertanyaan ttg kesan saya sebagai consumer atas CBR, termasuk kelebihan dan kekurangannya.

Marketing Wahana sudah alert saya datang sepertinya, mereka sambut dengan ramah. Kopi teh dll. Motor pun langsung di gelandang ke fast track. 


Untuk service pertama yang dilakukan adalah ganti oli (gratis), ganti filter oli dan perawatan rantai. Tentunya dilakukan diagnostic terhadap fungsi elektronik.


Mekanik menyatakan kalau ada keluhan akan dilakukan pengecekan tambahan. Tapi sejauh ini hanya itu.

Oli masih gratis, tapi filter oli (262 ribu rupiah) harus beli sendiri. Masih okelahh.


Kurang lebih 45 menit, pas jam makan siang soalnya, service selesai. Dan motor siap digelandang keluar..


Sipplahhh …

Mengenal Karakter Throttle Honda CBR250RR

Sudah seperti otomatis rasanya, setiap kali menyalakan motor, mode pindah ke Sport +. I bought CBR with real money, i want its real power.

Selama 800 km bareng, saya menjadi hapal dengan karakter throttle by wire nya CBR ini.

Apa itu mas:

Responsif tapi nunggu. Dengan pintar.

Apabila anda putar gas dr posisi RPM cukup tinggi, sekitar 7000rpm dan posisi throttle dari 50% ke 70% misalnya. Wohh itu galaknya makkk kayak ibu kos belum terima bayaran 3 bulan. Bikin hati mencelat.. 

Tapi kalau anda putar dr RPM bawah 3000an misalnya. Dari 30% ke 70%. ECU dengan pintarnya menunggu RPM naik sebelum memberi tahu bahwa throttle diinstrusikan naik ke 70%. Jadi ada jeda atau lag sepersekian second. Ingat sepersekian second ya. 

Ini terlihat sekali saat mengeset AFR dengan menggunakan piggyback. Meskipun sudah di kunci bukaan throttle di 80%, ECU memberikan bacaan % yang berbeda sampai kemudian RPM sepersekian detik mengikuti.

Ini kerennn. Pembakaran lebih sempurna.

Buat yg biasa pakai throttle kabel biasa mungkin merasa karakternya berbeda. Tapi ga masalah, adaptasinya sebentar saja.