Kekurangan #1 YAMAHA YZF-R25

 

Setelah panjang dan lebar lewat beberapa seri tulisan membahas keunggulan R25, sepertinya saatnya saya juga menulis apa yang saya rasakan, sebagai user langsung, adalah kekurangan, downsides, dari R25. Hal ini juga saya lakukan ke motor-motor saya yang lain seperti Ninja 250 FI, itu malah sampai 4 artikel terpisah, dan juga Er6n sekarang ini.

Kekurangan #1 adalah ergonomi sebagai sebuah motor bergenre sport.

Sekali lagi ini subyektif dan mungkin tidak dirasakan oleh R25 rider yang lain. Karena terkait ekspektasi, postur tubuh dan riding style setiap rider yang berbeda.

Ekspektasi tentu tinggi saat melihat concept bike di bulan November 2013 lalu, apalagi saya cukup beruntung sebagai blogger pertama yang bisa menayangkan detil-detil concept bike di tanah air (saking buru2nya sampai ga diwatermark foto2nya). Coba lihat segitiga posisi duduk, footstep dan handle gas. Tajam.

Yamaha-R25-Tokyo-Motor-Show-20131120-1

 

Ini adalah gen racing YZF-R yang akan sport habis, Yamaha gitu lho..

Lihat ke atas ada R6, lihat ke bawah ada R125 wow….sport habis.

Tapi begitu tirai disibak di Parapat,, ergonomi nampaknya berbeda. Dan ini terconfirmed saat ride test di Otomotif grup dan Ancol.

Fullscreen capture 6212014 44351 PM

Posisi stang yang cenderung tinggi dan footstep yang longgar di depan dan bawah nampaknya dirancang untuk kenyamanan kendaraan harian. Apalagi dengan windshield yang mungil terasa sekali ergonomi saat kecepatan tinggi serba nanggung, Mau ngumpet kagok krn posisi footstep dan stang tegak, kita nunduk pun angin tetap lolos di windshield.

Hmm nampaknya Yamaha di persimpangan jalan dan menjadi ragu. Sport habis atau daily ride.

Ingin mendobrak dan mendominasi sport 250cc dengan motor sportnya sport, pure breed, ataukah ingin mendominasi penjualan pasar dengan mengusung motor yang ramah riding stylenya bagi seluas mungkin tipe pengendara.

“Kenapa bro kok ga beli R25?, kan keren”

“engga ah, gw udah nyobain motornya nunduk bener”

Nah tipe rider yang berada di area “pengin keren tapi ga nunduk dan pegel” itu mungkin persentasinya dianggap terlalu siginifikan untuk diabaikan. Dan dalam persaingan sengit pasar 250 cc sebagai pendatang baru tentu Yamaha butuh spektrum market yang luas.

Mas, lalu bagaimana cara mengatasi kekurangan ergonomi itu?

1. Menurunkan stang (murah) dan/atau stang underyoke (beli)

Dari pengalaman saya di Sentul dan Belitung, posisi stang yang lebih rendah membantu handling kita saat cornering. Disini soal selera dan kebiasaan. Untuk saya turun 3-4 cm cukup pas dan tetap  bisa digunakan untuk di jalanan kita yang tidak pernah bisa mulus.

2. Ganti footstep aftermarket atau beli raiser footstep.

Mundur sekitar 5 cm dan naik 2-3 cm. Ini akan membantu handling saat kaki kita rapat memeluk body. Juga untuk menaikkan posisi footstep yang jalu di bawahnya mudah sekali kena aspal kalau cornering.

yamahar252in (1)-001

3. Windshield yang nanggung

Saya kira sebentar lagi juga produsen sdh akan mulai release windshield aftermarket yang lebih bubbly dan cocok untuk sport purpose.

IMG_7765

Windshield R25 racikan YIMM khusus racing yang sudah adopsi windshield racing.

Cukup dengan dua cara pertama di atas kekurangan ergonomi R25 sudah lumayan bisa teratasi. Tentu bukan solusi yang ideal. Misalnya menurunkan stang membuat ground clearance motor turun sehingga harus hati2 saat melewati lubang/poltid yang sering kali lebay ukurannya,

Idealnya adalah Yamaha mengeluarkan YZF-R25 SE. Yang pure sport breed. Superior engine mapping dan ergonomi. Dijual 57 juta juga bakalan laku.

Gimana Bro dan Sis, mau R25 versi special edition tapi bayar lebih?

 

—————————————————–

Kalau rekan-rekan pas ada waktu senggang dan berkenan, mohon dukungannya untuk vote Sabina ya. Deadlinenya tanggal 18 September 2014. SATU hari lagi. Saat ini sih Sabina masih di posisi pertama dg 255 votes, tapi yah persaingan ketat hehe..sudah kayak balapan MotoGP, salip-salipan…..

Fullscreen capture 9122014 51249 AM

Caranya mudah:

  1. Masuk ke link ini: http://microsite.detik.com/minisite/streetshotyamahatahap2/detail/76057
  2. Klik “Vote” di kanan bawah. Bro dan Sis akan diminta login. Bisa dengan account email gmail, atau FB atau Twitter.
  3. Vote, lalu andai sempat mohon konfirmasi ke saya via email

 

 

Aplikasi Filter Udara Ferrox pada Yamaha YZF-R25 – Tenaga Naik 0.8 DK

 

Saya dan bro Bie Hau Panglima Prospeed (dah kayak gank motor aja) akhirnya berhasil menemukan waktu (setelah sejak awal Agustus gagal melulu) untuk mencari settingan CO yang pas bagi sebuah R25 + knalpot Prospeed. Agar settingan ini tidak hanya sekedar menggunakan feeling, kita perlu menggunakan alat seperti AFR meter atau dyno. Kali ini kami menggunakan fasilitas dyno milik Polaris 99 di Kebon Jeruk 3 Jakarta.

Bro Bie Hau sebelumnya sudah wanti-wanti, di Polaris ini besaran HP nya beda bang, tapi yang penting kita lihat AFRnya aja. Ayoklah…

20140913_150242

Kebetulan saya juga ada Ferrox filter baru keluaran khusus R25. Siap untuk sekalian direview. Harga pasarannya belum tahu.

    20140913_140836

Mari kita coba cari settingan CO dengan kondisi knalpot Prospeed no DB Killer, no snorkel lain2nya standard. Saat FIDT dipasang, lhooo kok Silinder 1 = 2, silinder 2 = 20. Selisihnya sampai 18. Ini nampaknya hasil settingan di Belitung saat knalpot R9 dipasang utk ditest. Pantas aja kurang enak.

20140913_142308

20140913_145512

Setelah beberapa kali run dan rubah akhirnya didapat angka CO yang dibutuhkan untuk meraih AFR yang ideal utk R25 + Knalpot Prospeed adalah 11 dan 12. Silinder ke 2 dibuat lebih besar karena selisih panjang header yang berbeda.

Noted….

Nah mari sekarang kita coba pasang filter Ferrox.

20140913_141723

Setelah 3 kali run pada settingan CO yang berbeda, akhirnya kita mendapatkan rasio udara bahan bakar yang lebih ideal (seputaran 14.7) pada settingan CO 15 dan 16 atau naik 4 stop dari kondisi tanpa filter Ferrox.

20140913_150002 (2)

Test dyno juga memperlihatkan grafik tenaga paska settingan CO dan pemasangan filter Ferrox membaik cukup signifikan terutama pada kitiran atas. Kenaikan tenaga mencapai 0.8 DK, tapi ini barangkali karena CO sebelumnya masih ngaco dan tenaga ngempos di putaran atas.

Saat saya test di jalanan. Wahh makk… gila.. beda banget dengan sebelumnya. Terutama pada putaran atas. Tetap ngisi dan nantangin.

Tarikan yang responsive di putaran bawah berlanjut dengan mulus tanpa gejala ngempos di putaran atas.. Ini baru enakkk…..mesti rasakan sendiri baru ngerti..

Aplikasi knalpot aftermarket memang seyogyanya disertai dengan MINIMAL pelebaran debit pernafasan agar motor tidak tercekik dan tenaga bisa lepas diproduksi. Langkah selanjutnya adalah mengoptimalkan pola dan timing pengapian melalui pemasangan dan penyetelan Piggyback. Tunggu minggu depan ya ada product baru yang bakal ditest.

—————————————————–

Kalau rekan-rekan pas ada waktu senggang dan berkenan, mohon dukungannya untuk vote Sabina ya. Deadlinenya tanggal 18 September 2014. Dua hari lagi. Saat ini sih Sabina masih di posisi pertama dg 225 votes, tapi yah persaingan ketat hehe..

Fullscreen capture 9122014 51249 AM

Caranya mudah:

  1. Masuk ke link ini: http://microsite.detik.com/minisite/streetshotyamahatahap2/detail/76057
  2. Klik “Vote” di kanan bawah. Bro dan Sis akan diminta login. Bisa dengan account email gmail, atau FB atau Twitter.
  3. Vote, lalu andai sempat mohon konfirmasi ke saya via email

 

 

Yamaha Street Shot Hunt 2014 – Vote for Sabina…

 

Ikut meramaikan Yamaha Street Shot Hunt saya minggu lalu mendaftarkan Sabina ke kompetisi. Persyaratannya cukup kompleks, tapi masih bisa dijalani.

Fullscreen capture 9122014 51302 AM

Akan dipilih tiga pemenang. Satu berdasarkan votes terbanyak. Dan dua lagi berdasarkan pilihan redaksi Detikoto dan Yamaha. Pemenang akan diberangkatkan ke Jepang pada bulan Oktober untuk nonton Miyabi Motegi GP.

Hmmm foto yang mana ya… akhirnya saya memilih foto Sabina di Belitung karena gagasannya adalah R25 untuk Indonesia.

Fullscreen capture 9122014 51249 AM

Kalau rekan-rekan pas ada waktu senggang dan berkenan, mohon dukungannya untuk vote Sabina.

Caranya mudah:

  1. Masuk ke link ini: http://microsite.detik.com/minisite/streetshotyamahatahap2/detail/76057
  2. Klik “Vote” di kanan bawah. Bro dan Sis akan diminta login. Bisa dengan account email gmail, atau FB atau Twitter.
  3. Vote, lalu andai sempat mohon konfirmasi ke saya via email

Cukup dengan tiga langkah diatas.

Sampai saat artikel ini diedit Sabina sudah mendapatkan 114 votes, terima kasih luar biasa kepada bro dan sis yang sudah banyak mendukung. Very-very appreciated.

Fullscreen capture 9122014 51317 AM

Bagi yang belum sempat vote, masih ada waktu 6 hari lagi hehehe, terima kasih banyak sebelumnya ya Bro dan Sis…

Service 15.555 km Verde – Persiapan Touring KM 0

 

Sebenarnya Verde tembus 15 ribu km semenjak awal Juli lalu.

Namun karena ada Sabina akhirnya odometer Sabina yang paling melejit.

Selama hampir sebulan ini Sabina ga ada. 10 hari menuju Belitung + 4 hari disana + 10 hari pulang ke tanah Tangerang Selatan. Akhirnya Verde pun yang kembali menjadi turangga harian.

Nah kesempatan nih untuk sekalian service karena ternyata odometer Verde sudah menunjukkan 15.555 KM. Oli sudah 2000 km bekerja.

 

20140909_073312

fuel gauge sdg berkedip. Ga benar2 habis.

Perawatan saya serahkan ke bengkel Super Sukses Motor milik bro Gofur dijalan Fatmawati. Karena lumayan dekat ke kantor dan stock parts biasanya lumayan komplit.

20140909_083543

Apa saja keluhan di 15.555 km ini mas?

Still strong, still full of fun. Torquenya bener-bener-bener asyik…

Buat kawan-kawan yang sudah agak terbiasa dengan 250cc, cobain deh sensasi Er6 series. Riding one and all your bullshit gone.

Saya sama sekali tidak merasakan penurunan performa. Subyektif mungkin. Tapi karena motor yang saya gunakan ganti-ganti apalagi kalau sedang berderetan test motor, saya selalu mendapat impresi yang positif dan konsisten tiap kali nyemplak lagi Verde ini.

Keluhan terakhir adalah seal oli shock yang bocor paska trip Jakarta-Bukittinggi. Dan kampas rem depan yang sudah pupus. Utk ukuran 15rb km masih wajarlah menurut saya.

Lalu saya cerita ke bro Erwin, mekanik andalan di SSM Fatmawati mengenai kondisi motor. Service 12,000 km sebelum ke bukittinggi sudah mengganti busi (sebijinya 255 ribu kalau engga salah), ganti kampas rem belakang (pake punya ZX6R lungsuran dari Pape Setiawan ASR), ganti filter oli dan oli, serta ganti kabel kopling. Kali ini tolong service ringan dan check shock saja.

Siap mas, kata mekanik yang sering dibawa bro Gofur ke Sentul ini.

Motor saya tinggal dua hari karena rapat dan rapat yang tiada henti. Jadi maaf ga ada foto pengerjaan hehe.

Hari rabu sore Verde saya jemput. Seperti biasa setelannya jadi lebih enak. Batang shock setelah saya ungkat ungkit tetap kering. Klakson yang sember malahan diganti dengan peninggalan customer lain yang masih oke. Makasih bro Erwin …Mantappp…

20140911_060354

Siap jalan-jalan lagi …

Pacet-20130929-928

 

Pertempuran Penjualan R25 & Ninja 250 Fi – Sales Record Juli Agustus 2014

Data dari AISI mengenai penjualan motorsport untuk periode Agustus 2014 sudah keluar. Saya tertarik untuk membandingkan flagship motorsport 250 cc 2 silinder yang dianggap sebagai flagship di kelasnya. Saya menambahkan field data CBR250R sebagai pembanding meskipun motor ini sebaiknya dibandingkan dengan Ninja 250 RR Mono ya.

Tercatat secara umum terjadi peningkatan penjualan di kesemua product.

komparasi SPort

Ninja 250FI (hijau) mengalami peningkatan penjualan setelah lebaran sebesar 435 unit dalam waktu sebulan. Sementara R25 melonjak sebesar 874 unit, mengambil alih tampuk no 1. Honda pun tak kalah mengalami peningkatan penjualan sebesar 45 unit atau 50%.

Wow…  Nampak kedua pabrikan sudah gas poll rem blong dalam menggeber penjualan masing-masing produk. KMI dengan cara memaksimalkan kran import dan distribusi sebesar 2000an unit Ninja 250 FI dari Thailand setiap bulannya. Begitu pula Yamaha mulai full operation dalam memproduksi 2000an R25 setiap bulannya semenjak Juli 2014.

Om apakah ini berarti bulan depan kenaikannya akan pada rate seperti ini?

Kawasaki bertambah 500an unit? dan Yamaha 900an unit?

Saya kira melihatnya tidak seperti itu. Bagi pabrikan baik untuk import maupun produksi nasional tentu memiliki limit terpasang. Meskipun permintaan besar, namun tidak semudah itu merubah kemampuan produksi ataupun quota import. Kawasaki Indonesia sudah ada kontrak dengan Kawasaki Thailand untuk import dengan jumlah tertentu (sekitar 2000an). Begitu pula Yamaha memiliki lini produksi yang tidak bisa dengan mudah dirubah begitu saja (sekitar 2000 unit per bulan), apalagi ditambah juga kewajiban untuk melakukan eksport R25 ke negara lain yang sudah tidak sabar (1000 unit untuk dieksport).

Itu untuk supply side nya. Bagaimana dengan demand side nya.

Meskipun di beberapa dealer nampak unit ready, namun diasumsikan tanpa channel kenalan, untuk mendapatkan masing-masing produk masih terjadi inden yang cukup panjang. Ninja masih membutuhkan 2-3 bulan Inden, begitu pula Yamaha yang bisa mencapai 4-5 bulan. Ini hasil observasi dan cek kanan kiri, kalau ada yang punya data berbeda silahkan dikoreksi.

Tanpa adanya perubahan dari sisi supply side diatas, yakni renegosiasi kontrak antara KMI dan KMT atau penambahan kapasitas produksi R25 oleh Yamaha, menurut saya angka penjualan akan steady dan persaingan akan tetap ketat.

Bagaimana menurut bro dan sis?

20130414-080115-pm IMG_7950

Sumber:

http://otomotif.kompas.com/read/2014/09/07/123000815/Yamaha.R25.Libas.Ninja.250R.Hanya.dalam.2.Bulan

Angkringan Mas Gembul van Belitong: Catatan Pinggir Touring Belitung

Touring bukan hanya tentang bepergian ke suatu tempat. Touring juga adalah tentang getting to know people; berjumpa kawan-kawan baru. Baik selama di perjalanan maupun di tempat yang kita tuju. Itu yang membuat komplit jiwa. Itu yang membuat kita pulang sebagai manusia yang lebih penuh.

Saat foto2 di Tanjung Tinggi saya mengalami kesulitan utk memarkir Sabina di atas pasir yang sangat lembut.

  IMG_7888

Malah amblas meskipun sdh ditahan potongan batok kelapa. Bergegas dua orang muda (lebih muda dari saya maksudnya wkwkwk) membantu mencarikan papan dan menahan motor.

Kamipun berkenalan. Anjas dan Gembul panggilannya. Keduanya adalah perantau dari Jawa yang mencari peruntungan hidup di Belitung. Keduanya sudah 6 bulan ini membuka usaha angkringan nasi kucing di ibukota Belitung, Tanjung Pandan.

Saya tanya “disini lumayan ya?”

“Iya bang, lumayan. Dari awalnya kami buka 2 meja, sekarang sudah ada 12 meja”

“Wahh itu sih maju banget”

“Alhamdulillah bang, sekarang ini pun beberapa tokoh kayak Kapolres, Dandim sering ngopi-ngopi dan nongkrong di tempat kami. Lalu klub Vespa pun ngumpulnya di kami”.

“Ngambil makanannya darimana?”

“Saye masak sendiri bang” ujar bro Anjas Jawa asli yang sudah berlogat Melayu sekarang.

Saya jadi penasaran untuk singgah. Obrolan berlanjut membahas budaya masyarakat setempat, dan tentunya motor dan komunitas biker di Belitong.

Obrolan terhenti ketika hujan mulai rintik dan kami bersalaman berpisah.

Di ujung hari pertama, selepas cuci motor di depan hotel, maklum habis main di pantai, saya dan Sabinapun mengarah ke lokasi warung angkringan itu sekitar jam 5 sore.

Depan kantor BRI Sibukir, dari Aston lurus saja saya mengingat petunjuk yang diberikan, hayukk…

ehh ketemu….

20140829_173839-001

Bro Anjas pun menerima dengan setengah kaget dan hangat…

“Eh nyampe juga bang”

Saya hanya nyengir. Iya di hotel ada dinner tapi saya mendingan makan disini. Sembari melongok menu yang ada. Lumayan lengkap pilihan angkringannya. Dan ada plus plusnya juga.

Ada tambahan menu seperti nasi bakar (sdh dibungkus daun pisang), ayam goreng (langsung goreng ditempat), soto dll.

Saya mengambil 5 sate kerang (kelihatan segar), nasi kucing dan es teh tawar. Lalu ngobrol sambil makan di bangku luar, di tepi jalan raya. Sate kerangnya memang ternyata segar dan kenyal, gurihhh. Teh tawarnya pun kental dan agak sepet, cucok pokoknya. Tempatnya bersih dan rapi.

20140829_175218

Bro Anjas kedua dari kanan. Bro Ivan pertama dari kiri. Yang paling kanan lupa haha

Saya perhatikan lalu lintas di area ini lumayan ramai (utk ukuran Belitong ya). Posisinya cukup strategis, hanya 200 meter dari bundaran utama (simpang 5 Belitong). Selama 45 menit duduk saya hitung, maklum namanya blogger, ada 12 orang yang datang dan membeli makanan. Sebagian besar dibungkus, pas menjelang jam makan malam soalnya. Saat sedang berpikir untuk nambah, nasi kucingnya ternyata sudah habis. Tinggal nasi bakar wahhhh..

20140829_174734-001

Yang sebelah kanan Sis Sinta. Yang bapak2 kumisan ga ngajak saya salaman jadi entahlah.

Sambil makan saya mendengar banyak mereka cerita mengenai komunitas motor disini, ketersediaan unit dan sparepart, persaingan Yamaha dan Honda dll. Berdatangan beberapa teman bro Anjas dari komunitas motor ikut ngobrol bersama kita. Beberapa penasaran test jarak pendek Sabina di jalan raya di depan.

Tidak terasa sudah menjelang jam 6.30. Saatnya pulang.

Perut penuh, hatipun penuh. Tentang cerita para perantau yang berusaha berjuang hidup di tanah Belitong. Tentang teman-teman baru yang siap menyambut baik kalau saya kembali ke pulau indah ini.

*note: 2 hari kemudian saat saya memasuki badan pesawat ATR menuju Bangka, mata saya terpaku membaca liputan Belitung Ekspres edisi Minggu tanggal 31 Agustus tentang warung Angkringan Mas Gembul ini. Luar biasa beritanya. Sukses ya bro…

2014-09-07 06.24.31

Yamaha YZF-R6 Minum Premium Eceran? Biasa Aja Ga Ada Masalah

 

Beredar di media sosial beberapa hari belakangan ini foto seorang rekan YRC (Yamaha Rev CBU) yang sedang mengisikan Premium Eceran ke motor R6nya.

Foto ini memicu berbagai komentar. Beberapa cukup berdasarkan informasi. Sebagian besar lain komentar yang out of context dan lebay hehe. Beberapa malahan dibuat dengan meme komik yang berlebihan.

 

Nah kebetulan seperti terlihat di foto, Sabina dan saya berada di tempat saat kejadian tersebut terjadi. Kelihatan kan buntut Sabina dengan tas Contin di foto di atas.

Jadi kronologi kejadiannya begini:

Rombongan berangkat pukul 09.30. Rider Yamaha berada pada posisi paling belakang.

Kali ini rute tidak melewati tengah kota dimana SPBU berada, namun melipir melewati tepi pantai. Kemungkinan tidak semua rider sempat mengisi full tank motornya sebelum rolling. Perlu bro tahu pada motor-motor sport high-end indikator bensin (fuel gauge) tidak ada. Hanya berupa lampu indikator berkedip pada saat bensin sudah masuk kondisi cadangan PLUS indikator jarak yang ditempuh dalam kondisi cadangan tersebut.

Kami berjalan kurang lebih 70-80 km, sekitar 5 km melewati pertigaan bandara pada jalur tengah Tanjung Pandan – Manggar, ketika rombongan berhenti.

Satu motor rekan YRC (ga perlu disebut namanya) sudah menunjukkan indikator fuel berkedip. Motor dengan kompresi rasio tertinggi di jajaran sport ini (13.1:1, sementara CBR 12.2 dan ZX6 12.8) sudah hampir menyerah.

Dalam kondisi touring sudah merupakan kebiasaan yang sangat lumrah untuk kemudian mengisi bensin premium yang tersedia kemudian ditambahkan octane booster yang kebetulan dibawa oleh member YRC yang lain.

Kalau dapat premium di pom bensin bagus, kalaupun tidak ya yang dijual eceran.

Apa itu baik om? jelas lebih baik ketimbang motor mogok dan didorong. Di tengah hutan gitu hallo?

Apa ga rusak mesinnya om? kalau tiap hari dan terus2an tentu akan berpengaruh buruk. Tapi ini kan sangat sementara dan sudah ditambah dengan octane booster.

Sangat disarankan untuk menguras tanki dan service tune-up selesai touring untuk menghindari efek jangka panjang.

Jadi ini hal yang wajar sekali dan tidak perlu dibuat heboh lengkap plus meme yang berlebihan hehe

 

Belitong Tour with Yamaha Indonesia – Day Two

 

 

 

Bangun dengan tubuh yang segar dan penuh antisipasi.

Hari ini kita akan riding lebih jauh ke arah wetan alias Belitung Timur. Yeahh…

Kelar sarapan kitapun berkemas. Tidak lupa briefing dan doa bersama dulu ..

20140830_085413

Sepertinya hari bertambah panas saja. Bagus dong, lebih baik riding panas-panas tho ketimbang kehujanan.

Kamipun berangkat. Grup Yamaha diputuskan berada di ujung belakang rombongan. hmmmm….

20140830_090053

Kali ini berangkat menyusuri sisi barat pulau Belitung mengarah ke utara. Jumlah armada motor yang bergerak melebih angka 176 motor karena kawan-kawan KNI Belitung (40an motor) ikut dalam rombongan di baris belakang. Belitung mungkin pulau yang kecil, namun komunitas bikernya cukup besar dan aktif.

Perjalanan sungguh menyenangkan. Langit terang, aspal halus, jalanan sepi dan penduduk yang tersenyum dan melambai di tepi jalan. Tidak terlihat raut negative karena direpotkan oleh acara motor ini. Momen seperti inilah yang saya kira diidamkan oleh banyak biker. Bergerak bebas bersama motor bersama ratusan biker lain di tempat yang indah. Jauh dari persoalan. Simply flying.

Fullscreen capture 942014 101723 AM Fullscreen capture 942014 101831 AM Fullscreen capture 942014 102206 AM

Sebelum menuju ke Belitung Timur kami menuju ke Belitung Highland Resort dulu untuk secara simbolis menghadiri acara ground-breaking resort tersebut yang dilakukan oleh Gubernur Bangka Belitung dan Bupati Belitung. Kesempatan baik untuk mengulang mengunjungi Tanjung Tinggi yang hanya berjarak kurang lebih 1 KM dari resort tersebut. Untuk apalagi kalau bukan foto-foto hehe….

IMG_7965

all Yamaha Riders (R25 + R6 + T-Max)

IMG_7956 IMG_7959 IMG_7972

Kelar foto-foto kami pun bersiap berarak menuju Belitung Timur sekitar jam 11.30. Saking besarnya dan bervariasinya rombongan akhirnya kita memutuskan untuk mengambil jarak dengan rombongan besar. Group R25 owner pun dibawah asuhan mas Wahyu dan mas Defin dari Yamaha Indonesia memilih bergabung bersama teman-teman YRC (Yamaha Revs CBU) yang mayoritas mengendarai R6.

Nahh ini baru enak, berbarengan dengan genre sport, meskipun beda cc dan tenaga jauh, kita bisa mengoptimalkan ke atas kecepatan dan gaya riding R25 kita.

Fullscreen capture 942014 100004 AM-001

Straight, bending left, diving to the right, rolling speed in entering corner, shifting up gear quickly exiting corner. KUMPLIT semua ada disini. Kecuali lintasan muter vertical aja ga ada. PUAS BENER. Tanpa diganggu lubang di jalan ataupun angkot berhenti dijalan.

Fullscreen capture 942014 101052 AM Fullscreen capture 942014 101243 AM

Hanya ada motor, open road dan skill yang tanpa disadari semakin terasah.

Kemarin kita riding bercampur dengan motor dengan pelbagai genre. Ada cuiser, tourer, bahkan trike (motor beroda tiga), café racer, dual purpose seperti BMW GS, Triumph Tiger, Versys. Akibatnya kecepatan, tempo dan gaya ridingnya juga campur baur. Belum lagi tidak semua biker terbiasa mengendarai motornya. Skillnya sangat berbeda-beda. Malah bahaya.

Tapi hari ini, sobek sobek sepuasmu karena grup kami Yamaha Sport semua (+5 T-Max dan 2 Supermoto). Teman-teman sepuasya sejauh 300 km mendorong riding pace nya to the edge. Sebuah orgasme yang berkepanjangan.

Kecepatan rata-rata kami antara 100-145 km/jam. Top speed dengan Sabina tanpa disadari adalah tepat pada digit 170 km/jam di lintasan tengah jalur Manggar – Tanjung Pandan saat melewati perkebunan Sawit (saat perjalanan pulang, gopro sayangnya habis batt). Ini terjadi saat membuntuti 3 R6 dan 1 Ducati Diavel yang berada pada kelompok terdepan rombongan. Mungkin karena terlalu nafsu ingin mengimbangi para R6 di depan. Kibasan angin sore dari samping sudah terasa cukup mengganggu di kecepatan ini. Bleg bleg bleg body motor terterpa.

Saya cukup pede, juga ga sadar menembus 170km/jam, karena handling R25 yang luar biasa nyaman saat memasuki jalur yang melambung. Presisi, dan tetap ringan untuk melambung meskipun kecepatan diatas 140km/jam. Saya ulangi, Presisi dan tetap ringan meskipun pada jalur melambung di kecepatan diatas 140 km/jam. Ingat lho saya ini ukuran badannya tidak proporsional.

Saat masuk dan menjelang keluar tikungan saya bisa rasakan R25 lebih cepat dan agile dibandingkan R6. Sehingga saat dari belakang, saya mengurut satu-satu untuk disalip umumnya di tikungan ke arah kiri (saya ambil dr luar, jalur kanan). Memang kemudian pada saat lurus rus rus, satu atau dua R6 memutuskan untuk menyalip kembali.

Note: Bro Vic, yang ukuran badannya jelas lebih proporsional dan lebih jago bawa motor, pada hari pertama, persis beberapa saat sebelum crash, sempat menyentuh angka 180 km/jam pada turunan kedua menjelang Tanjung Tinggi.Kami berdua menggunakan knalpot R9 untuk ditest. Sayangnya settingan belum optimal, potensinya belum semua terolah. Review knalpot R9 akan dibuat dalam artikel terpisah ya bro.

Kami tiba di kota Manggar, ibukota Belitung Timur dengan senyum lebar di wajah dan perut yang kosong. Tanpa berpanjang lebar kangsung mengarah ke tempat makan di Café Vega yang terletak di tepi danau. Bahhh… resiko kelayapan dan berada di ujung rombongan besar ya itu, menu makan sudah ga utuh. Malah ada yang Cuma dapat nasi dan kerupuk. Ya wis lah dinikmati. Santap siang sambil berbagi canda tentang perjalanan dan menikmati semilirnya angin di tepi danau memang luar biasa.

Istirahat siang ini menjadi sempurna ketika ditutup dengan minum Kopi Susu ala Manggar yang memang sangat terkenal. Dan ya ampun gurih bener memang kopi susunya. Habis dua cangkir saya. Dan ternyata pada gilingan kopinya memang ditambahkan kacang mete sehingga kopi memiliki rasa savory. Menurut Wikipedia, Manggar ini dikenal sebagai kota yang memiliki jumlah warung kopi per 100.000 penduduk (atau per kapita) yang tertinggi di Indonesia, sampai-sampai masuk museum MURI.

IMG_7980

Lanjut kami berarak menuju rumah bupati Belitung Timur untuk bertemu dengan kakaknya Ahok, alias pak Basuri. Orangnya sangat ramah, merakyat dan tegas. Tipikal yang berbeda dengan Bupati pada umumnya yang berusaha menjaga jarak dan mengutamakan birokrasi dan protokoler.

Next stop adalah SD Muhamadiyah yang menjadi lokasi syuting film Laskar Pelangi. Kondisi landscape yang berpasir malah dijadikan tempat bagi teman-teman untuk bermain motor. Hahaha seru…

IMG_7992 IMG_8009-001

Sekitar jam 4 kami memutuskan untuk pulang ke Tanjung Pandan sejauh 120 km melewati rute yang dilewati saat berangkat tadi. Yeahhhh…Prolonged orgasm repeats….

What a wonderful riding experience… and thanks to Yamaha Indonesia for that!

 

 

Semua R15 pun Dengan Segala Modifikasi dan Kondisinya Dipantau Yamaha Indonesia

 

Membaca artikel saya tentang Sabina beserta seluruh R25 yang dipantau kondisi dan modifikasinya, salah seorang pembaca blog, mas Prabowo Yoga Pratama mengirimkan pesan:

Om hbs baca posting d blog barusan, ane jg mau nambahin kmaren tgl 13 R15 ane jg d diagnostik d yamaha harpindo jaya jln.mataram yogyakarta salam R series monggo kalo mau d masukkan blog km sewaktu servis k2 =2200 maap foto jelek maklum hp butut

 

10622242_4622089406905_651454540_n

10603163_4622089126898_481095733_n

Ternyata R15 pun juga direkam dan dipantau kondisi dan modifikasinya lhho.

Blaik (kalau kata orang Semarang) alias nah lohh…

10582683_4622089246901_1877731261_n 10589713_4622089486907_801924020_n  10617522_4622089086897_1237618949_n  10622316_4622089366904_2008686377_n

Yamaha T-Max Test Ride at Belitong: Comfortable, Powerful and Sporty

I will make it simple and brief.

Reputasi tiba mendahului kehadiran T-Max di Indonesia. Bagi para pemerhati Mega-Scooter bercc lebih dari 500 cc mungkin sudah familiar dengan BMW C600 Sport atau Suzuki Burgman 650 yang banyak beredar di pasar Eropa.

2012-BMW-C650GTd

BMW C 650

index

Suzuki Brugman 650

IMG-20131110-01209

Saat perkenalan diam2 CBU Yamaha pada komunitas motor di Puncak November 2013

Namun T-Max memiliki posisi tersediri dalam konfigurasi persaingan di kelas ini setidaknya untuk dua alasan:

Pertama, T-Max yang mendefinisi kelas ini ketika diluncurkan oleh Yamaha tahun 2001 kepada public yang tidak teredukasi.

Kedua, melalui tiga generasi T-Max Yamaha mengarahkan paradigm bahwa Mega Scooter pun harus berorientasi sport.

Dan memang T-Max terlihat indah dan mengintimidasi pada saat yang bersamaan.

Desain sporty ala Yamaha tersemat habis pada setiap kurva tubuh T-Max. Agresif. Mengintimidasi karena dimensi T-Max yang tinggi dan besar, bahkan melebih total dimensi motor sport 600cc.

Saat istirahat makan di Café Vega, Manggar, Belitung Timur saya matur ke mas Defin Yamaha Indonesia untuk jajal-jajal sore T-Max. Silahkan mas. Muncul rasa penasaran juga karena selama 2 hari riding beberapa T-Max (5 unit kalau engga salah) tidak kalah agresifnya menjelajah Belitung dibandingkan kelas sport.

Saya ingin tahu apa saja sih yang ditawarkan this big convenient beast.

IMG-20131110-01199

Saat duduk, yuppp.. memang gede dan tinggi. Coba static swiveling dulu. Mengayunkan motor ke kiri dan ke kanan saat statis untuk mendapatkan feeling awal handling motor ini. Beralih dari satu sisi ke sisi lain tidak seberat bayangan awal saya.

Fullscreen capture 912014 101635 AM-001

Engine on. Getaran sangat halus. Thanks to the third slave piston yang meng-counter-balance vibrasi mesin.

IMG-20131110-01206

Squeezing the throttle, wow… responsive sekali.. melonjakkan motor berbobot 219 kg (wet) ini ke depan.. Torsi sebesar 45 Nm terasa ngablak semenjak RPM bawah…
Mengalirnya tenaga dari dapur pacu ke CVT dan roda belakang terasa sangat padat, halus dan bergelincir begitu saja. Mesin terasa mendenyut membesar ketika RPM ditarik melewati 5000RPM. Dan terus memburu naik secara linear tanpa gejala melandai.

Saya lirik speedometer yang agak sedikit deceiving. Yang terpampang lebih besar adalah satuan dalam miles per hour. Dan wohh this beast hit 100 miles/hour atau 160 km/jam. Dengan sangat stabil dan tenang. Aroma sporty betul-betul terasa. Overtaking di jalur luar kota tidak bermasalah.

Fullscreen capture 912014 102245 AM

Tanpa saya sadari posisi duduk saya sudah berubah. Mulai dari awalnya selonjor dengan posisi duduk di belakang. Sekarang kaki sudah lebih menekuk dengan posisi duduk lebih ke depan dan lengan menekuk. Sport tenan…..

Handling dan suspense sedikit mengingatkan saya dengan BMW GS. Ada realitas yang terpisah. Antara kondisi jalan yang wavey dan kenyamanan yang dirasakan tubuh. Seperti memandangi jalan raya dari balik dek. Nyaman dan berjarak.

Beloknya bagaimana mas?

Nahh.. saya awalnya skeptic dengan semua matic karena centre of gravity biasanya jauh di belakang. Tapi T-Max ini memang kelasnya berbeda. Titik beban cenderung lebih tengah karena posisi mesin diletakan lebih ke depan.

Fullscreen capture 912014 94128 AM

Berbelok dengan T-Max lebih menggunakan pinggul dan badan. Lumayan ringan, tapi gunakan pinggul. Kecuali anda berjalan pelan ya.

Salah satu problem cornering dengan T-Max adalah suspensi belakang settingan standard yang terlalu empuk. Jadinya mengayun. Tidak susah mengakalinya cukup merubah suspense menjadi lebih keras.

Problem lain adalah, T-Max ini memang di desain utk kondisi jalan dengan karakter medium to high speed. Long cornering adalah wilayah idamannya. Nah kelemahannya pada rute2 tikungan pendek seperti Cikidang atau Danau Maninjau. Wheelbase yang terlalu panjang akan menyulitkan quick and rapid maneuvering.

Saat melalukan test ride saya kesasar di kota Manggar, dari beberapa persimpangan saya melewatkan simpangan menuju pasar dan kesasar kesana kemari. Hadeuhh maaf ya mas Defin hehe.

Fullscreen capture 912014 101947 AM

kesasar *payah

KONKLUSI

Mega-scooter diciptakan untuk mengawinkan kenyamanan (matic transmission + praktikalitas) dan tenaga yang berlimpah. Kombinasi yang awalnya sangat berorientasi pada market eropa.

Yamaha mendorong lebih jauh versi ketiga T-Maxnya dengan menanamkan elemen yang ketiga: karakter sport.

Dan ini tercermin dengan baik on the way she moves.

Sembari berusaha menemukan jalan kembali ke tim Yamaha saya berpikir, hell I will have one of this. The white one.

IMG-20131110-01205