Photo Eksklusif Aplikasi CLV (Circuit Log Viewer) di R25 Jelang Yamaha R-series Cup 2015

Yamaha sudah memfinalisasi jadwal resmi YRC utk serie 2015 nih:

  • Serie 1 – 29 Maret 2015
  • Serie 2 – 14 Juni 2105

Break Puasa-Lebaran-17an

  • Serie 3 – 20 Sept 2015
  • Serie 4 – 1 Nov 2015
  • Grand Final YCR dan R Cup 22 nov 2015

Jadwal ini didapat setelah memperhatikan event IMI yang lain serta tentunya kalender nasional.

Wuihh serie pertama sebentar lagii. Bro dan Sis sudah siap belum?

Baca lebih lanjut

Kawasaki Jadikan RR Mono Sebagai Ujung Tombak Balap di Kelas 250cc?

Saya menyambut dengan sangat antusias rencana weekly test ride RR Mono di sirkuit Sentul. Menurut saya ini langkah yang tepat untuk dua hal:

  1. Memperbesar penetrasi RR Mono ke pasar, terutama paska berakhirnya era produksi 150 2 tak.
  2. Mempersiapkan RR Mono sebagai jawaban (sementara) terhadap tantangan balap di kelas 250cc.

Baca lebih lanjut

HAM Korban Vs HAM Pelaku Begal ?

Saya dikritik karena pada artikel sebelumnya dianggap mengabaikan HAM Pelaku Begal. Tidak ngerti HAM dan supremasi hukum.

Gini aja deh. Karena dipertanyakan saya permisi cerita dari mana saya datang.

Saya menjalani pendidikan lanjut mengenai HAM cukup lama. Mulai dari S1 FH Undip, S2 Human Rights di Inggris, dan Diploma Post-graduate di Afrika Selatan. Saat ini meneruskan studi S3 ttg Criminal Justice di Australia. Kalau ada yg mau diskusi panjang lebar ttg teori HAM saya selalu terbuka.

Setelah ditangkap dan ditahan polisi saat peristiwa 27 Mei, saya memulai karir sebagai pengacara di LBH Jakarta. Saya bekerja bersama Munir mendirikan Kontras tahun 1998, dengan resiko nyawa. Saya konsisten bekerja memperjuangkan HAM semenjak saat itu sampai sekarang. Pekerjaan terakhir saya, salah satunya, adalah memperjuangkan proses rehabilitasi narapidana agar bisa kembali ke masyarakat dalam kondisi lebih baik. Bekerja bagi para pelaku kejahatan. Kalau ada yang mempertanyakan komitmen saya, ya silahkan.

Itu background saya. Dan ini keyakinan saya ke depan.

Di dunia yang ideal  negara melindungi hak hidup masyarakat melalui perangkat hukum yang ada. Pada prakteknya hukum lamban dan tidak responsif dalam menghadapi kejadian seperti ini. Menghadapi pencurian okelah, tapi menangani sindikasi keji dan meneror masyarakat dibutuhkan terobosan. Sekarang.

Secara ideal tidak ada orang yg sebegitu kejinya menikam org lain hanya utk diambil motornya tanpa babibu. Pada kenyataannya ini terjadi dan pada tingkatan yang tidak tertangani hukum.

Secara ideal saya setuju dengan anda yang meminta HAM pelaku begal dihormati. Pada realitasnya apa yg kita setujui tidak mencegah serangan kejam kepada masyarakat.

Apakah kita harus menunggu sampai dunia ideal terjadi pada kehidupan kita sehari-hari? Butuh berapa banyak korban lagi?

Selama kita mendorong pemenuhan HAM bagi seluruh masyarakat, kita juga perlu melindungi HAM masyarakat. Sekarang. Bukan suk mben.

Yang saya ajukan adalah proses penyelidikan dan penyidikan terhadap komplotan begal ini adalah seperti bagaimana kita menangani teroris. Karena apa yg mereka lakukan sudah memiliki dampak buruk yang sama ke masyarakat.

Identifikasi, lumpuhkan sementara agar tidak mengganggu, lalu proses hukum. Bagi yang bandel, netralisir. Libatkan tokoh masyarakat independen dalam mengawasi skema dan implementasi operasi untuk mengurangi penyimpangan.

Kejahatan Sudah Sangat Meresahkan, Perlukah Operasi PETRUS (Penembakan Misterius) era 1980an Dihidupkan Lagi?

Eskalasi kejahatan, menurut saya, sudah masuk pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Aksi perampokan, pencurian, begal/perampasan dengan menggunakan kekerasan tidak kunjung menunjukkan grafik mendatar apalagi menurun.

Saya ga usahlah ya cantumin bukti2 link nya. Sudah terlalu banyak. Amat sangat banyak.

Ini bukan sekedar trend sesaat. Kejahatan nampaknya semakin terorganisir dan mampu menemukan celah dari penegakan hukum yang ada. Cukup anda lihat berita (koran/elektronik) kejahatan bengis nampak tak terhentikan.

APAKAH OPERASI PETRUS DIPERLUKAN?

sebentar mas, buat yang kelahiran 1980an mungkin istilah PETRUS tidak terlalu familiar, Itu apa sih mas?

Operasi ini sebenarnya dinamakan Operasi Clurit. Merupakan operasi gabungan ABRI (POLRI dibawah ABRI ketika itu) yang dikoordinir oleh Pangkopkamtib Laksamana Soedomo atas perintah Presiden Soeharto (Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989), yang ditulis Ramadhan K.H.)

Operasi ini melibatkan badan intelijen dari masing-masing angkatan, komando teritorial dan satuan wilayah kepolisian.

Menurut M Hasbi, mantan Dandim Yogya 0734, langkah yang dilakukan adalah:

  1. Disusun daftar nama orang yang dianggap sebagai preman/jaringan preman yang meresahkan masyarakat di satu wilayah. Yang menyusun daftar ini adalah badan koordinasi intelijen yang terdiri dari intel polisi, intel kejaksaan dan intel Kodim.
  2. Setiap orang di daftar nama ini diumumkan dan dipanggil untuk melaporkan diri dan aktifitas pekerjaan. Mereka yang sudah melapor akan diberikan KTL (Kartu Tanda Lapor).
  3. Bagi mereka yang sudah dipanggil namun menolak hadir/melarikan diri akan dijadikan target operasi oleh unit gabungan termasuk, khabarnya, Kopasus. Jika melawan maka akan digunakan metode terakhir daya paksa yakni penembakan

secara rata-rat 25% dari preman yang jadi target operasi ditembak mati (alasannya karena melawan). Sisanya diproses di pengadilan. Masih menurut Hasbi.

Yang berhasil dicatat saja oleh KONTRAS (saya termasuk yang mendirikan dan bekerja di Kontras 1998-1999) tahun 1983 tercatat 532 orang tewas. Pada tahun 1984 ada 107 orang tewas. Ta­hun 1985 tercatat 74 orang tewas. Itu baru yang tercatat ya. Sebagai bagian dari shock therapy, mayat yang umumnya bertato ditemukan masyarakat da­lam kondisi tangan dan lehernya te­ri­kat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, la­ut, hutan dan kebun.

Foto: Dok Tempo

Foto: Dok Tempo

Kendengarannya kejam, namun yang saya ingat dari komentar keluarga dan orang sekitar (saya masih SD ketika itu) jalan raya jadi aman, pergi malam hari lebih tenang. Wis aman pokoknya, begitu kurang lebih.

Lho bagaimana dengan sistem hukum yang ada mas? apa ga bisa mengendalikan kejahatan?

Rantai keadilan panjang, dan bagi penjahat yang sanggup menghabisi korban secara keji, sistem hukum yang ada mungkin terlalu lembek dan tidak menimbulkan efek jera.

Saya melihat sistem konvensional ini sudah tidak bisa mengatasi masalah kriminal yang terjadi di Indonesia, maka ini harus diambil satu pertimbangan, kriminalitas dibasmi atau tidak. Jadi keputusannya dibasmi demi kepentingan rakyat

—Wakil Ketua DPA Ali Murtopo (Sinar Harapan, 28 Juli 1983).

Tentu ada kelemahan dari operasi seperti ini, misalnya kemungkinan salah sasaran atau penyalahgunaan wewenang oleh aparat. Dan persis karena alasan inilah operasi ini kemudian dihentikan di tahun 1985.

Bagaimana menurut bro dan sis? apakah kita sudah memasuki tahap darurat preman dan butuh operasi serupa? atau akan lebih banyak mudharatnya?