Paket Upgrade R3 (321cc) Sudah Siap Tersedia, Raih Tenaga/Torsi Maksimal !!

Bro dan sister rider R25 mungkin sudah lama ngeces iri melihat performa R3 yang diproduksi di Indonesia, tapi beredarnya justru di luar negeri (hebatnya negara kerajaan pajak ini).

Nahh sekarang tidak hanya bisa ngeces dan dilap. Saat ini sudah ada pilihan yang terbuka untuk mewujudkan mimpinya.

Ga hanya bikin cutting sticker R3, tapi merasakan langsung performa R3 melalui tunggangan R25 masing-masing.

Komponen original R3 produksi Yamaha yang diekspor utk memenuhi aftersales LN sudah dipanggil kembali pulang ke tanah air alias diimpor. Tentu ga lewat Yamaha Indonesia karena akan jadi persoalan hukum.

Anjany Racing sudah mulai memasang 3 komponen utama R3 pada beberapa motor R25: Silinder blok, Piston dan Gasket.

11119003_10200813512978091_4748433208317726447_n

Bro Angga – AR1 menuturkan sama sekali tidak ada problem saat memasang komponen original ini. Karena memang perbedaannya hanya pada ratio bore x stroke. Kalau R25 hanya 60 x 44.1, di R3 sudah 68 x 44.1.

11143724_10200813512138070_83697726479792420_n

Tapi ditegaskan perubahan signifikan 74cc pada ruang bakar ini membutuhkan perubahan pengaturan juga pada otak processing.

Hal ini juga dikonfirmasi oleh sumber dari Yamaha. ECUnya R3 berbeda.

Ini berarti harus ganti ECU atau setting ulang dengan menggunakan piggyback yang parameternya komplit menjangkau perubahan spek tersebut.

11295669_10200813522338325_8391466773209092077_n

Anjany Racing juga membenamkan paket Power Commander V utk mengatur suplai bahan bakar dan timing pengapian.

Saya tanya, untuk pelepasan panas apakah radiator standar cukup? mengingat kalor yang dilepaskan akan lebih tinggi. Bro Angga mengatakan mestinya cukup. Tapi akan dipantau dulu nih. Dan ternyata saat saya cek spec sheet. Compression Ratio nya R3 (11.2:1) ternyata memang lebih rendah drpd R25 (11.6:1). Wahh bisa dioprek lagi nih hihihi

11269236_10200813423095844_4201878851148098654_n

Bagaimana dengan gearbox dan komponen lain?

Saya juga dapat konfirmasi dari sumber Yamaha bahwa komponen2 lain antara R25 dan R3 yang dieksport sama kualitas dan materialnya.

Berapa signifikan peningkatan performanya mas?

Masih menunggu in-reyen dulu baru rencannya akan di-dyno nih.

Tapi menurut bro Angga peningkatan tenaga dan torsinya pada putaran bawah TERASA sekali perbedaannya. “… terasa kuat bgt”. Kalau yg ngomong beliau saya percaya. Takut kuwalat.

Untuk putaran atas masih menunggu komponen duduk dengan pas dan tenangnnya dulu paska inreyen.

Kalau di atas kertas, perbedaan antara R25 dan R3 cukup ngerihh.

On crank R25 mencatat angka 36 HP, sementara R3 menyentuh angka 42 HP – 29.6 Nm (torsi).

Taruh kata tenaga on wheel terjadi transmission lost sebesar 4-5 HP dan 2 Nm (torsi) – (kondisi R25), maka JIKA settingannya pas R3 upgrade bisa menyentuh angka 37-38 HP dengan torsi di rentang 25-27 Nm.

Ini belum di porting polish, padahal Anjany Racing juga sedang mengerjakan proyek portpol R3 ini. Mau tembus berapa ini.

ediannnnn ….

Soal biaya, tiga komponen (diluar PCV) harganya sekitar 6 jutaan. Wahh ini gara-gara dieksport ke luar lalu diimport balik yang bikin mahal. Coba aja langsung dari suppliernya Yamaha disini ya hehehe

Minat? silahkan hubungi bro Angga atau Anjany Racing.

Ini 5 Lokasi Ideal Sirkuit Bertaraf Internasional Dibangun Di Indonesia

Hypes atau huru-hara terkait rencana Indonesia MotoGP betul-betul membesarkan hati. Kalau buat saya bukan sekedar “woh ada motoGP di Indonesia”, tapi ini bakal jadi momentum kebangkitan kompetisi otomotif di tanah air.

Kok bisa mas?

Ajang tingkat internasional yang begitu prestige tentunya akan memobilisasi begitu besar perhatian, dana dan manfaat (kalau dikelola dengan baik ya); memperlihatkan aspek positif dari kompetisi otomotif yang selama ini mungkin dipandang sebelah mata, atau malahan tidak dipandang sama sekali oleh awam.

Menurut saya jangan hanya bicara upgrading total Sentul ke tingkat international circuit. Idealnya di Indonesia ada paling tidak 5 lagi sirkuit bertaraf internasional yang perlu dibangun.

Kriterianya adalah

  • Lokasi yang strategis, ini penting mengingat Indonesia adalah kepulauan
  • Kemampuan Pemerintah Daerah dan Swasta, Membangun amat sangat tidak mudah, merawatnya juga butuh komitmen besar.
  • Pengembangan kompetisi kewilayahan

Baca lebih lanjut

Pengenaan Pajak “Barang Sangat Mewah” pada Motor 250cc Keatas Melanggar Azas-azas Fiskal

Ekonomi sedang mengalami perlambatan diluar kewajaran. Baik secara global maupun nasional. Meskipun Bank Central Eropa sudah menunjukkan insentif bank interest, recovery ekonomi masih sangat lamban bahkan bisa dikatakan minus.

Di Indonesia salah satu indikatornya adalah kian melemahnya nilai rupiah terhadap valuta asing.

Dalam konteks industri otomotif, terutama yang bercc besar, beban yang ditanggung ditambah lagi dengan pengenaan PPNBM tahun lalu yang melonjak hampir dua kali lipat.

Saya ngobrol informal dengan 4 ATPM yang mendatangkan motor2 ber-cc diatas 250, Eropa maupun Jepang dan kesemuanya berujar dengan nada berat kurang lebih seperti ini “Keputusan import diambil saat PPNBM masih relatif kondusif. Dengan perubahan seperti ini jujur saja memukul sekali trajectory sales kami. Berat nih mas”

Dan pada saat kondisi ekonomi kita kira sudah sangat sulit, Pemerintah datang dengan perluasan signifikan kategori “barang sangat mewah” yang terkena pajak 5% melalui Peraturan Menkeu No 90/2015.

PMK03-2015

Photo: TMCblog

Ini adalah pelanggaran asas yang pertama: “Pengenaan Pajak Pada Waktu Yang Tepat”. Alih-alih memberikan insentif agar pasar menggeliat, justru tambah dipersulit.

Azas kedua adalah azas keadilan, artinya pungutan dilakukan dengan mempertimbangkan perbedaan kemampuan finansial kelompok masyarakat.

Saya kira menyamakan “motor 250cc ke atas” ke dalam kelompok yang sama dengan pesawat terbang, kondomunium 5 Miliar, Mobil 2 Miliar sebagai sesama “barang sangat mewah” adalah kesalahan perhitungan yang berujung pada pelanggaran azas keadilan.

Melihat formulasi pasalnya, saya menduga batasan 250cc ini ditambahkan atau direvisi kemudian. Salah satu indikasinya adalah diletakkannya batasan ini setelah klausula “nilai jual barang 300 juta rupiah”.

Nilai jual sepeda motor, saat ini setelah kenaikan PPNBM 125%, yang seharga minimal 300 juta adalah motor ber-cc 1000 keatas untuk produksi Jepang. Seperti Z1000, R1, ZX10R.

Ada rentang yang luar biasa jauh dan sembrono dalam perhitungan menurut saya, antara kelas 250cc dan kelas “300 juta rupiah”.

Justru di rentang inilah pasar yang sedang tumbuh dan mulai matang di Indonesia. Justru kepada merekalah Pemerintah HARUSNYA memberikan insentif agar volume penjualan semakin meningkat dan penerimaan pajak bertambah. Yang terjadi justru sebaliknya, calon pembeli dihalangi dan pembeli dihukum dengan pajak.

Kita sebagai warga negara tidak anti-pajak, walaupun kita tahu penyelewengan uang pajak kita terjadi di banyak titik. Tapi kendaraan itu toh sudah dibebani dengan berlapis pajak mulai dari PPN, PPNBM, Pajak Kendaraan Bermotor. Utk CBU lebih banyak lagi pajaknya.

Apa yang bisa dilakukan mas?

Saya kira industri otomotif tentu ikut terbebani dengan pukulan tambahan ini. Tapi berharap kepada mereka untuk protest juga sepertinya tidak mungkin. Lobby yang dilakukan oleh asosiasi seperti AISI dalam isyu ini akan terbatas pengaruhnya. Lebih sayangnya lagi di Indonesia tidak ada ikatan pengendara motor yang mempersatukan aspirasi dan kepentingan. Padahal dari segi potensi jumlah sangat besar. Masih terpecah dengan isyu-isyu kecil. Apa yang bisa dilakukan? saya khawatir selain misuh atau nulis blog seperti ini, kita para biker tidak punya wadah.

Beberapa kelompok yang berbadan hukum bisa saja mengajukan gugatan. Karena ini adalah Peraturan Menteri (dibawah UU) maka gugatan bisa diajukan ke MA, bukan MK, dengan mekanisme Judicial Review. Hanya saja dalam pemahaman hukum saya yang terbatas, cara yang terbaik adalah tetap melakukan lobby non-peradilan oleh kelompok biker ke kementerian bersangkutan dengan dilengkapi data dan argumentasi yang kuat. Cara litigasi (gugatan) biasanya justru membuat pemerintah defensif, dan back firenya berpotensi besar.

Indonesia Championship Seri 1 Sukses Digelar, Peta Podium Kelas 250cc Berubah, Didominasi Yamaha R25

Setelah sempat terkatung-katung dan terancam tahun 2015 vacuum kejurnas, akhirnya IMI dan para stakeholder berhasil memutuskan dan menyelenggarakan dengan tenggat waktu yang amat sangat mepet: Kejuaraan Nasional Balap Motor atau Indonesia Championship Series putaran pertama di Sentul kemarin.

Dengan regulasi yang mengacu pada ARRC, kejurnas ini ibaratnya menjadi jenjang bagi pebalap dan tim motor nasional untuk mengasah skill, motor dan manajemen tim di jalur yang benar sebelum turun ke event regional.

Berbeda dengan ARRC kelas 250cc yang didominasi Honda Thailand dengan CBR250nya, Kejurnas seri 1 ini justru didominasi oleh Yamaha Indonesia (ya iyalah mas, masa Yamaha Malaysia) dengan R25nya. Mengandalkan pembalap senior dan data settingan saat Sunday Race seri pertama lalu, podium dikerubuti oleh tim R25: Hendriansyah (Yamaha Nissin BRT HRP), Irwan Ardiyansyah (Yamaha Nissin KYT FDR), dan Wilman Hammar (Yamaha Yamalube NHK IRC Nissin Bahtera). Catatan waktu terbaik yang dibukukan disini adalah 1:48.02. Hmmm bakal lebih tiris lagi nih di seri ke-2.

10308429_10203128785861115_517269770199715854_n

Turun pada kelas ini selain R25 adalah Kawasaki yang mengandalkan Ninja RR Mono-nya. Kok bukan yang dua silinder? saya rasa sangat sah saja mengingat lap time RR Mono pada saat OMR Ninja 250 di ajang IRS selalu terlihat lebih unggul dibandingkan kakak dua silindernya.

Pembalap-pembalap Honda sayangnya batal turun di kelas 250cc ini. Padahal catatan waktu CBR250R di ajang IRS 2014 juga bisa tembus 1:47 detik yang mengalahkan best lap time kelas 250 di seri 1 ini. Kalaupun regulasi harus menyesuaikan ARRC, mestinya bisa pinjem data atau bahkan motor CBR250R milik Honda Thailand, opo ga bisa ya?

Tapi untungnya di seri kedua Honda bakal join sehingga persaingan bakal semakin seru.

Berikut hasil seri 1 ICS utk kelas 250cc:

  1. Hendriansyah (Yamaha Nissin BRT HRP) 16 menit 19,185 detik
  2. Irwan Ardiyansyah (Yamaha Nissin KYT FDR) 16 menit 19,216 detik
  3. Wilman Hammar (Yamaha Yamalube NHK IRC Nissin Bahtera) 16 menit 19,284 detik
  4. Ifos Alfa Rianda (Kawasaki Greentech) 16 menit 19,565 detik
  5. Fitriansyah Kete (Yamaha Yamalube PRM) 16 menit 33,033 detik

Selamat utk Yamaha, Seri ke-dua bakal tambah berdarah-darah nih dengan bakal lebih optimalnya tim Kawasaki dan masuknya Honda.

NGERIII …..

Blanket Run alias Bakti Sosial Para Biker di Canberra

Melalui forum CanberraRiders saya juga jadi ngeh kalau ternyata ada tradisi tahunan yang menarik disini: Blanket Run.

Apa itu mas?

Sederhananya adalah bakti sosial.

Setiap tahun berbagai komunitas/klub biker di Canberra menggumpulkan bantuan dalam 3 bentuk (uang, makanan kemasan, selimut baru) untuk disumbangkan ke lembaga yang memberikan bantuan kepada para homeless terutama dalam menghadapi musim dingin.

Homeless itu bisa siapa saja. Seorang yang sebelumnya memiliki rumah, setahun kemudian bisa saja menjadi homeless karena kehilangan pekerjaan dan tidak bisa membayar sewa rumah atau tagihan lain.

Sama saja seperti bakti sosial di Indonesia, di Canberra sini rangakaian acara sebelum ke penyerahan bantuan adalah dengan rolling pusing-pusing kota dulu.

Kemudian bantuan diserahkan kepada lembga dan acara puncak lanjutnya adalah penentuan klub/komunitas mana yang membernya paling banyak hadir.

Seru juga kayanya nih. Bakalan tambah teman baru dan pengalaman.IMG_5707

Jam 8.45 pas saya dan Regis sudah tiba di tikum pertama, boathouse, dimana semua biker CanberraRiders (CR) akan berkumpul dulu. Tahun lalu CR yang mendapatkan penghargaan sebagai komunitas terbanyak yang hadir (60an orang hadir).

Pas ga lama saya sampai ada dua lady biker tiba dan salah satunya jatuh lagi. Ternyata dia tdk biasa bawa sport. Btw ada 20an sepertinya lady biker. rame juga.

GOPR0635

Jam 9 CR Bikers jalan dari tikum pertama ke tikum kedua, gedung parliament building. Udah rame disini boo..

Tidak ada atraksi, apalagi sexy dance, namun semua asyik aja ngobrol ttg motor.

Menjelang berangkat ada briefing besar. Dijelaskan prinsip terutama rolling ini adalah “obey the law” patuhi hukum. Tidak ada perlakuan khusus.

Sama saja dg pengendara lain. Ngantri panjang di lampu merah, rombongan putus 3.

Sama saja dg pengendara lain. Ngantri panjang di lampu merah, rombongan putus 3.

Dan benar selama perjalanan rombongan 172 motor ini pun terpisah2 hehehe

yang penting tiba dengan selamat dan membawa berkat buat yang lain. Tak iye?

IMG_5720 IMG_5712 IMG_5724 GOPR0636-002

GOPR0636-012 GP010636

Touring 7 Srikandi Women on Wheels Indonesia Mulai Hari Ini – Good Luck Sisters…

Nahh setelah kurang lebih sebulan lalu saya melaporkan persiapan acara ini, rangkaian acarapun masu ke fase yang critical yakni pemberangkatan dari balai kota DKI Jakarta. Dilepas oleh gub DKI, Ahok.

http://7leopold7.com/2015/04/07/bangga-the-1st-indonesian-women-bike-week-may-2015-in-lombok/

Berikut press release yang disebar oleh sis Cinta..

——————-

Touring 7 Srikandi Women on Wheels Indonesia Kendarai Yamaha MT-09, YZF-R6, YZF-R25 dari Jakarta ke Lombok

 

JAKARTA-Motor besar dan R Series Yamaha juga digandrungi kaum wanita. Tak tanggung-tanggung mereka menungganginya dalam touring panjang Jakarta sampai Lombok 8 Mei hingga 13 Mei 2015 lalu dilanjutkan dengan event 1st Indonesian Woman Bike Week di Lombok Nusa Tenggara Barat.

 

Wanita-wanita tangguh peserta touring itu menyebut diri mereka 7 Srikandi yang berasal dari komunitas Women on Wheels (WOW) Indonesia. Dukungan Yamaha dengan menyediakan 7 motor untuk dikendarai dalam touring ini yaitu 3 unit MT-09, 2 unit YZF-R6 dan 2 unit YZF-R25.

 

7 Srikandi sudah tes motor-motor itu terlebih dahulu dan sangat cocok buat mereka sehingga makin semangat untuk dibawa touring. Shirley Wenas, Inge Widjaja, Meilana Laissegar naik MT-09 ; Maureen Gunawan, Florence Simamarta (YZF-R6) ; Merry Narulina, Petty Febria (YZF-R25).

 

Pelepasan peserta touring dilakukan di Balai Kota Jakarta, Jumat 8 Mei oleh Gubernur DKI Jakarta Bapak Basuki Tjahaja Purnama. Beliau berkenan memberikan support dan semangat bagi 7 Srikandi ini.

Gubernur DKI Jakarta Bapak Basuki Tjahaja Purnama berkenan hadir dalam pelepasan touring 7 Srikandi Women on Wheels Indonesia dari Jakarta ke Lombok Gubernur DKI Jakarta Bapak Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota naik Yamaha MT-09 yang digunakan dalam touring 7 Srikandi Women on Wheels Indonesia dari Jakarta ke Lombok Pelepasan 7 Srikandi peserta touring Women on Wheels naik motor Yamaha oleh Gubernur DKI Jakarta Bapak Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota (2) Pelepasan 7 Srikandi peserta touring Women on Wheels naik motor Yamaha oleh Gubernur DKI Jakarta Bapak Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota

 

”Kali ini eventnya spesial karena kumpulan wanita yang jadi rider, mereka dari Women On Wheels (WOW) Indonesia sebanyak 7 orang sebutannya 7 Srikandi. Yamaha sangat mendukung kegiatan ini dan senang dengan antusias mereka dengan motor besar MT-09, R6 dan R25. Mereka mengaku nyaman dan cocok mengendarainya. Perjalanan turing ini membuktikan keunggulan MT-09, R6 dan R25 di tangan wanita makin mempesona,” beber Mohammad Masykur, Asisten GM Marketing PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing.

 

Touring selama 6 hari ini menempuh jarak 1.500 meter dengan rute Jakarta – Cirebon – Bali – Lombok. Touring dan juga diadakannya event 1st Indonesian Woman Bike Week 14 sampai 15 Mei di Lombok dari komunitas Women On Wheels (WOW) Indonesia bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai NKRI, eksplorasi wisata dan budaya Indonesia khususnya Lombok, meningkatkan industri menengah dan bawah, meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan wanita, serta untuk memperingati Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional, Hari Bidan International.

 

”Saya sudah test ride MT-09 buat persiapan touring ini. Yang bisa saya katakan adalah“Kudapat yang kumau”. Lincah, handling enak, bodi naked jadi makin enak dibawa di jalanan lurus dan tikungan. Kami senang dan berterimakasih kepada Yamaha untuk dapat menggunakan MT-09, R6 dan R25. Touring ini sendiri bukan hanya naik motor, namun juga sisi wanita dan parisiwata pun diangkat,” jelas Shirley Wenas, Ketua Panitia event ini sekaligus Ketua Women On Wheels (WOW) Indonesia.

 

Dari Jakarta ke Lombok ada beberapa tempat spesial yang akan disinggahi seperti di Cirebon mengunjungi pusat industri Batik Trusmi dan pelukis kaca. Lalu ke Jepara melihat museum dan kamar pingitan R.A Kartini spesial di 136 tahun pahlawan nasional emansipasi wanita itu. Di Tuban bertemu pengrajin Tenun Jedog. Serba tenun yang lekat dengan wanita singgah juga di Desa Tenganan Bali melihat tenun Gringsing.

 

Sampai akhirnya di Lombok di hari Rabu 13 Mei 2015, 7 Srikandi dengan 7 motor Yamaha MT-09, YZF-R6 dan YZF-R25 disambut tarian Gendang Belek. Silaturahmi dengan Gubernur NTB Bapak K.H.M Zainul Majdi dan bertemu pengrajin tenun di Desa Adat Sade.

 

Mulai 14 Mei sampai 15 Mei dalam rangka 1st Indonesian Woman Bike Week, digelar kegiatan sosial di Lombok yaitu Bakti Sosial di Desa Wakan (khitanan 120 anak dan pemberian obat-obatan gratis). Lanjut dengan rolling thunder dengan beberapa biker wanita dari Brunnei Darussalam, Malaysia, Vietnam, Australia. MT-09, YZF-R6, YZF-R25 digas lagi dari Lapangan Mataram ke Senggigi, Sembalun bumbun, Aikmel dan kembali finish di Lapangan Mataram.

Menantikan Generasi Baru Sport Yamaha: YZF-R 675 dan R 1100 Triple Silinder

Saat INTERMOT 2014 Yamaha Iwata mengakui tidak ada banyak inovasi yang dibawakan oleh Yamaha selama 1 dekade terakhir ini di pasar motor ber-cc besar.

And it was about to change drastically!

Ada direction baru. Untuk memberikan karakter tertentu kepada jajaran motor Yamaha ke depannya. Shun Miyazawa dari Yamaha Japan mengatakan, Yamaha sudah mempertimbangkan berbagai konfigurasi: in-line twins, triples and fours, dan V-twins; tapi in-line triple yang dianggap memberikan “the best solution of power, torque and low weight”.

Yamaha-three-cylinder-crossplane-triple-concept-041

Murah diproduksi, efisien dan bertorsi. Karakter yang dianggap akan lebih menjawab kondisi berlalu lintas yang akan semakin padat dan efisiensi energi di bumi ini kedepannya.

Baca lebih lanjut