Balap kelas Bebek, Masih Perlukah? Atau Saatnya disuntik Mati?

Saya tercenung saat membaca berita dari kang Taufik mengenai pabrikan besar Honda yang memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari ajang laga kelas Bebek di Indoprix 2015.

indoprix-logo

http://tmcblog.com/2015/02/03/ini-alasan-honda-tinggalkan-indoprix-2015/

Saya, karena ukuran tubuh dan riding style, tidak terlalu menanamkan perhatian pada kelas bebek dalam blog ini. Tapi membaca berita diatas muncul pertanyaan di kepala saya.

Apakah dalam konteks Indonesia sekarang ini balap kelas bebek memang sebaiknya disuntik mati?

Dalam artikelnya Kang Taufik menjelaskan setidaknya 2 pertimbangan

  1. Aspek keekonomisan, karena nilai penjualan bebek meskipun masih besar namun mengalami penurunan
  2. Aspek penjenjangan balap, agar pembalap bisa segera masuk ke kelas sport.

Mengenai aspek keekonomisan, volume penjualan yang merosot. Menurut saya pasar yang prefer bebek akan tetap dalam skala profitable. Apalagi pabrikan kecenderungannya melahirkan bebek-bebek super dengan power mendekati kelas sport 150cc. Pasar akan mengalami kontraksi dan bertahan, bahkan mungkin sedikit membesar. Jadi terlalu prematur memastikan bahwa kecenderungan penurunan penjualan akan permanen dan bebek akan mati.

Aspek penjenjangan balap. Saya setuju banget nih bahwa pembalap Indonesia harus berorientasi pada kelas sport. Dan harus diupayakan kesana. Namun mematikan/tidak mendukung balap bebek juga bukan solusi. Paling tidak untuk 3 pertimbangan:

  1. Biaya untuk memodifikasi bebek untuk balap lebih murah. Disini pertimbangan aksesibilitas dan mendorong kemajuan bengkel-bengkel balap.
  2. Balap bebek dibutuhkan sebagai pintu masuk bagi pembalap muda untuk melatih ‘agresifitas’ dan half body control. Kurang agresif dan edan apa coba itu kalau sudah balapan bebek.
  3. FAKTANYA, berapa banyak sih sirkuit di Indonesia yang permanen, cukup besar utk power sport dan memenuhi persyaratan? Kita negara terbesar ketiga di dunia yang menggunakan sepeda motor padahal. Miriss. Sebagian besar sirkuit yang ada masih cocoknya utk kelas bebek.

Jalan tengahnya menurut saya adalah, (SATU) sementara kita semua mendorong Pemda bersama IMI daerah berlomba-lomba membangun sirkuit permanen dan mendekati standard internasional bagi kelas sport, (DUA) pabrikan besar seperti Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki dan lainnya perlu tetap mendukung kompetisi kelas bebek ditanah air. Karena itu realita yang harus dibenahi, bukan ditinggalkan.

Bisa tambah bertebaran lokasi balap liar yang tidak tersalurkan nanti.

Iklan

19 thoughts on “Balap kelas Bebek, Masih Perlukah? Atau Saatnya disuntik Mati?

  1. Jozzzz

    Ahm kabur gara2 keok mulu sm yimm

    Kmrn alasan dibohongi penyelenggara indoprix soal jumlah penonton

    Skrg alasanya beda lg

    Ahm plin plan kyk fbh kambing

    Kalo ahm bilang,bebek udah gk guna,kenapa ahm mati2an gelontorin produk2 bebek,sedang sport_nya dibiarin karatan digudang

    Inget,penjualan sport ahm gk ada separuh dari penjualan bebek_nya

    Mungkin ahm gengsi [m̲̅][a̲̅][u̲̅] bilang “malu keok mulu sm yimm”

    Ngoahahahahahahahah

    • wajar kalo kalah melulu mendik mundur, jd bs fokus penuhi target jualan beat harus 200rb per bln.

  2. beberapa point saya setuju om, tapi point pertama bisa debatable.
    murah / mahal tergantung kelas yang diikuti juga sih om.
    Faktanya shock belakang bebek tim gede harganya udah belasan, bahkan ada yang puluhan juta. belum bikin head silinder & isi, cam, karbu, rasio, ban.
    ujung2nya juga 50an, segitu juga belum tentu kompetitif.
    Diliat dari sisi ini, orang pasti setuju kalo dibilang ; mending balap 250 donk, mesin stock, modal ban + suspensi doank dah bisa race.

    Tapi jangan lupa, balap bebek yang dipandang sebelah mata ini sudah jadi bisnis yang melibatkan banyak orang, dan perputaran uang yang terjadi disitu juga besar.
    Industri knalpot maju pesat, pebengkel bebek didaerah mulai berani mendatangkan mesin-mesin cnc ultra presisi, dyno dan flowbench demi riset bebek, sponsor mengalir, kontrak tim melambung jadi milyaran, racing parts lokal mulai banyak dipakai dikawasan asia, racing suit lokal juga mendunia.
    Lahir juga jenius – jenius yang berasal dari bebek, siapa sih yang ga kenal Ibnu Sambodo, Benny Djati utomo, Tommy Huang, dll?

    Ok mungkin tidak semua dari kita hobi balap bebek, tapi percayalah, secara langsung / tidak langsung, balap bebek memberikan andil dalam perekonomian kita, dan saya jamin anda tidak akan pernah mau tau gimana pahitnya kalau balap bebek yang dipandang sebelah mata ini jadi mati suri lagi seperti dulu.

    • Balap bebek masih perlu?untuk saat ini tentu saja.tapi perlu dipikirkan bisa berlanjut ke kelas sport.sirkuit dll.
      honda menarik diri karena alasan ini itu.lalu bagaimana dengan regulasi dari penyelenggara itu sendiri..apakah ada sanksi??atau paling tidak sanksi moral.

      menurut analisa ane ahm mundur karena melihat peluang menang kecil.dan ketika memtuskan keluar dinilai tidak membawa dampak yang signifikan.
      .tapi ya hak nya ahm juga.

  3. Wong utk.motor harian aja blade 115cc keok lawan jupiter z1, skrg malah ditambahin cc ny jd 125, kelihatan takut n kalah sma z1…tetap aja z1 bisa libas bebek honda 125cc…

  4. Kalau di luar sih ada kelas buat pemula untuk tipe full frame yang basic mesinnya adalah mesin bebek, nah disini ga ada.
    Alangkah baiknya kalau balapan bebek masih ada, setidaknya ini buat penjengjangan seperti di Negara” lain. jgn langsung main loncat. harus belajar dari yg sudah sudah atau hasilnya akan sia sia. g bisa kompetetif di ajang internasional..

  5. Bebek sebenarnya memberi kesempatan pada tim privateer ikut berlaga lebih besar, tapi memang sudah saatnya balapan ya pake motor sport bukan bebek lagi….ini kalau beneran mau ada pembalap dari Indonesia di ajang internasional yak…

  6. Lebih seru nonton balap bebek dibanding balap sport… Apalagi mainnya di sirkuit besar semacam kelas underbone ARRC, 1 tikungan bisa 4 – 5 pembalap colok-colokan. Selain itu tiap lap pimpinan lomba bisa berganti-ganti, jadi seru gak ketebak siapa yang bakal menang haha…

  7. kalau balap bebek dtiadakan langsung ke balap sport 150 sih no problem, tapi kalau alasannya penjualan matik lebih laris dari bebek kemudian mengadakan balapan matik, benar2 pembunuhan dunia balap motor Indonesia tuh

  8. masih perlu..tapi benar2 dimanfaatkan sebagai ajang pembibitan dan penjejangan pembalap… lagipula betul bahwa faktor ekonomi balap bebek (motor) sudah berimbas ke banyak aktor dan faktor…

  9. Setuju balap kelas bebek dihapus. Kalau enggak ada kejuaraan resminya, justru orang malas mengadakan balap liar bebek. Ngapain bikin tiruan kalau enggak ada aslinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s