Honda New Fireblade aka 2017 CBR1000RR – Aslinya Sporty Bangett …

 

New Fireblade sudah lama ditunggu. Karena sampai setahun lalu Honda CBR1000RR adalah yang paling tua life cyclenya dibanding rivalnya. Paling minim electronic aids, paling kecil tenaganya dan penjualannya pun perlahan menurun. Apalagi Euro-4 sudah efektif berlaku 2017 ini.

Sampai kemudian Honda mengeluarkan the new Fireblade akhir tahun lalu, penantian itu membuahkan hasil.  Seperti apa sih rasanya bertemu langsung?

IMG_5956.JPG

Cukup santai

Baca lebih lanjut

Iklan

Road Test GPR Exhaust Sportisi + CBR250RR: Tenaga Membengkak 10%

 

Knalpot aftermarket BUKAN HANYA TENTANG suara gahar. Knalpot aftermarket juga adalah tentang bagaimana performa terbaik dari motor bisa dikeluarkan. Dan untuk itu tidak bisa pakai kira-kira. Harus melalui riset. Mencoba memahami karakter mesin. Try and error berjam-jam di atas mesin dyno. Coba lagi. Perfecting. Waktu, biaya dan pikiran.

Baca lebih lanjut

Sudah ada 40an Indener Honda CRF250 Rally dari 66 Unit Batch 1. Kanmaenn..

 

Pasar adventure di Indonesia emang gurihh warbyasah. Setelah Kawasaki Versys 250 di launching,  diikuti khabar Suzuki Strom 250 masuk, Honda pun Maret/April ini akan segera memasukkan CRF250 Rally. Barang belum ada, tapi indener sudah mengular sob.

img_9892

Baca lebih lanjut

Knalpot Prospeed Double MF + CBR250RR: A Perfect Couple!

 

Terhitung 977 km saya testing Prospeed Double MF pada Regina. Mulai dari city ride, berlanjut dengan touring sampai ke Madura (918 km). Apa kesannya?

Semenjak bulan Maret 2016, Prospeed sebenarnya sudah riset knalpot untuk CBR250RR, pada unit pre-production. Langsung pada unit real. Hanya saja dengan kondisi tanpa aki, alias motor tidak bisa (tepatnya tidak boleh) nyala. Saya malahan sudah dikasi lihat knalpotnya duluan sebelum release resmi CBR250RR hehee.

Alur dan diameter piping mulai dari header hingga percabangan silencer tentu sudah dikuasai habis. Ga asal belok, karena sudut sekecil apapun bisa memberikan tahanan yang dibutuhkan ataupun dihindari.

Lalu bagaimana hasilnya?

 

Kondisi motor standard, piggyback sudah dicopot, baru saja selesai service pertama dan ganti oli/filter oli.

Baca lebih lanjut

918 km Menuju Madura Bersama Regina (CBR250RR): Touring Test

Long weekend 3 hari. Saatnya short touring. Sambil lebih memahami bagaimana motor yang track oriented seperti CBR250RR diajak sedikit touring. Iseng banget sih mas? Kenapa tidak? Saya yakin akan ada banyak kesempatan dimana rider CBR250RR mendapat kesempatan touring. Artikel ini semoga bisa memberi gambaran awal.

Baca lebih lanjut

Hanya Rubah AFR Gunakan PCV Milik Ninja250, Tenaga CBR250RR Naik 1.5 HP

Sabtu kemarin saat nongkrong di Sportisi, salah satu agendanya selain dyno test CBR250RR milik saya, juga aplikasi Power Commander 5 atau dikenal dengan PCV. PCV adalah modul piggyback yang digunakan untuk meningkatkan kinerja pembakaran dengan memberikan input data ke ECU. Nahhh PCV khusus untuk CBR250RR belum diproduksi, lha iya, motornya aja launching perdana di Indonesia. Ini sama ceritanya seperti saat setelah launching R25 dulu dimana Dynojet develop modul PCV nya di Sabina, R25 saya.

https://7leopold7.com/2014/09/20/pemasangan-pc5-dynojet-pada-yamaha-r25/

Baca lebih lanjut

CBR250RR + Slip-on Exhaust Sportisi VRZero: Kombinasi Tepat. Perkuat Tenaga di RPM Bawah-Menengah.

 

Mungkin pendapat saya bias karena tunggangan harian yg berbeda cc-nya, tapi menurut saya pada RPM menengah CBR250RR kurang padat tenaganya. Bagaimana cara mengakalinya?

 


 

 

Tapi sebelumnya mari kita lihat data real dynotestnya.

compare250

 

Ternyata temuan Dynotest juga menunjukkan pada RPM medium 7000-9000 RPM, tenaga CBR250RR cenderung 1-2 HP dibawah R25. Salah satu cara mengakalinya yang sederhana:

Penggunaan knalpot slip-on dengan volume muffler yang kecil. Pendekatan ini banyak dipakai pada generasi 4 tak untuk mengail tenaga pada putaran bawah dan menengah.

Hanya dalam waktu setengah jam, mas Imam, mekanik andalan Sportisi sudah berhasil membuat adapter pipe slip-on untuk silencer andalan desain Sportisi. Ada dua varian slip-on yang terpasang. Satu yang berdimensi besar, VRX, yang dulu berhasil membuat Sabina, R25 saya meraih tenaga di 33 DK. Serta satu lagi yang berdimensi kecil VRZero.

Artikel kali ini akan membahas VRZeroberdimensi kecil bulat.

 

20161119_171126-001.jpg

 

Dari segi suara, alamak, suara CBR250RR yang kalem berubah jadi lantang merusak keseimbangan emosi lelaki yang mengalami penuaan dini. Roaarrrr roarrrrrr ….. Bikin panas bergejolak hati.

 

Dari segi tampilan, perlu dipoles sedikit. Memang untuk keperluan racing agak masakbodo dengan tampilan. Tapi untuk harian bisa dipercantik sedikit. Baik dari segi bahan maupun tampilan.

 

Sebelum di test kita lihat dulu Dyno Runnya: wuihhh cukup dengan slip-on tenaga naik hampir 0.5 DK. Sebaran tenaga di kurva tengah juga sedikit lebih baik.

 

Okelah the test is in the pudding. Jangan hanya berteori, enak atau engganya harusnya dicoba langsung. Saya gelandang ke jalan. Begitu masuk di gas sejak awal, bedanya langsung terasa. Tenaga tersalur lebih padat dan seketika. Duh biyung….

Karakter suara VRZero terasa konsisten tidak pecah dan nyaman di dengar di teriakan atas.

Lalu lintas padat di sekitar Rawamangun pun lebih mudah disibak. Baik karena hadirin dan hadirat jalan raya tahu/sadar ada raungan motor mendekat. Maupun karena lepasan tenaga di kitiran bawah menengah jadi lebih mengisi.

Honda CBR250RR + Exhaust Sportisi VRZero 1-007.jpg

Karena kepadatan lantas saya tidak bisa merasakan performa pada kitiran atas. Namun untuk stop ’n go, exhaust ini pas banget. Menutupi powerband CBR250RR yang cenderung kurang padat di putaran bawah kalau dengan knalpot standard.

Ini. Ini yang menurut saya karakter yang lebih tepat untuk riding dalam kota. You got the attention. You got the power.

Komparasi dan Analisa Tenaga Ninja 250 VS R25 VS CBR250RR Diatas Dynotest (Part 2)

Kalau di tulisan sebelumnya kita diskusi tentang perbandingan karakter tenaga dari 3 riding mode, kali ini kita akan membandingkan antara CBR250RR dengan dua rivalnya yang sudah terlahir duluan: Ninja 250FI dan R25.

Ini merupakan hasil test yang dilakukan oleh para punggawa Sportisi (mas Bram, Mas Koko) dan jurnalis kawakan dari Otomotif, kang AAN dengan menggunakan CBR250RR unit test milik AHM.

Motor yang diisi Pertamax 92 dinaikkan. Dilakukan run pada masing-masing riding mode hingga didapat nilai tertinggi. Diberika jeda kepada mesin agar temperatur tidak berlebihan. Untuk Sport Plus, run dilakukan hingga 8 kali dengan hasil yang mengagumkan: 31.06 HP dan torsi 19.16 Nm! Standard lho ini ya.

screen-shot-2016-11-22-at-1-13-25-am

Perbedaannya cukup signifikan dengan rivalnya.

R25 standard produksi 2014 tercatat pada angka 28.61 HP dengan torsi 18.60 Nm

Sementara Ninja 250FI yang teknologinya sudah berusia 4 tahun tercatat  pada 25.85 HP, 17.81 Nm.

compare250

Jika kita analisa lebih lanjut, grafik menunjukkan beberapa hal:

  1. CBR dan R25 memiliki karakter dan besaran tenaga yang mirip pada RPM 4000 hingga 7000. Saat test ride dijalan saya juga merasakan kemiripan ini.
  2. R25 kemudian memiliki keunggulan di RPM 7000-9000. Meninggalkan CBR hingga hampir 2 HP di rentang ini. Namun kemudian melandai setelah RPM 10.500. Temuan ini konsisten dengan test R25 saya, Sabina. Tenaga mulai menurun di RPM 12.300
  3. CBR250RR memiliki karakter tenaga yang meledak di atas.Tenaga menanjak dengan sudut lebih tajam keatas semenjak RPM 8000 hingga 12.000. Praktis tertinggi dibandingkan rivalnya semenjak RPM 9000 ke atas. Puncak tenaga pada RPM 13.000. AFR (Air Fuel Ratio) pada RPM bawah terlihat kering (sehingga emisi bagus), namun pada RPM rentang atas AFR nampak sekali lebih basah untuk memastikan mesin tetap bertenaga (tapi sedikit lebih boros). Ini KUNCI dari riding mode Sport, dugaan saya. Pada Comfort Mode, ledakan tenaga atas tidak dibutuhkan, sehingga AFR pada RPM atas dikunci tetap lean/kering/irit dan tenaga tertahan.

Temuan yang menurut saya menarik.

Sepertinya Honda memang mendesain CBR250RR sebagai anti-thesis dari R25. R25 sendiri dikembangkan Yamaha  sebagai anti-thesis bagi Ninja 250FI.

CBR250RR bermain di area performance tinggi yang pada R25 standard area itu dikunci (secara elektronik dengan ECU versi produksi massal) oleh Yamaha dengan pertimbangan durability.

Ini menyebabkan dalam kondisi standard yang direstui pabrikan, di atas dynojet test CBR250RR standard – tanpa diapapun – memiliki performa tertinggi.

Mungkinkan Ninja 250 dan R25 menyamai performa itu? Untuk Ninja 250 mungkin sebaiknya menunggu revisi major tahun depan. Sementara untuk R25, rider harus membuka kuncinya dengan menggunakan piggyback (artikel terpisah).

Good Job Honda utk CBR250RR!!

 

15078786_1161509617279005_4187673583472958412_n