Kawasaki RR Mono Siap Utk Test Harian

Mid February lalu saya bersama Kang Taufik dan media otomotif lain sempat menjajal performa Kawasaki RR Mono di sirkuit Sentul. Pengalaman yg berharga, sayangnya sangat singkat, lha cuma dpt 3 lap dan keburu harus balik ke BSD utk jemput Regis dr sekolah.

https://7leopold7.com/2014/02/15/test-ride-kawasaki-ninja-250-rr-mono-urban-raider/

Setelah berkomunikasi dg rekan-rekan tim KMI akhirnya saya mendapat  kesempatan yang layak untuk mencoba langsung RR Mono di dalam real day life test. Di jalan raya.

Sore kemarin unit test dikirim melalui Kawasaki Grisenda… wuihh dapet yg merah ABS.

image

image

Wah waktunya tidak panjang nih krn dalam 4 hari saya juga harus persiapkan Verde untuk riding ke Bukittinggi bersama ASR. Tapi semoga test ridenya maksimal dan bermanfaat bagi rekan-rekan pencinta roda dua.

Hmmm brother dan sister enaknya RR Mono diajak ngapain ya?

 

20140425_174120

p.s.
Terima kasih utk Shimada-san, mbak Dewi dan mas Aliong dr KMI. Juga Kawasaki Grisenda PIK yang sdh memfasilitasi road test ini.

Test Ride Kawasaki KLX 150 L: Dangerously Addictive – Awas Racun…

Selamat hari sabtu pagi….

Karena sudah beberapa kali ditanyakan oleh pengunjung blog ini baiklah artikel review KLX150L di upload duluan memotong antrian artikel lainnya hehehe..

IMG_4665-001

Begitu tiba di tangan Sabtu lalu, hari Minggu saya coba bermain sejenak untuk mengerti apa sih yang dijanjikan oleh Kawasaki melalui KLX 150 L ini.

Seperti di artikel sebelumnya, saya jelaskan bahwa saya tentu memiliki bias-bias saat melakukan test ride:

1. Saya berat badan 90 kg, tinggi 174cm. Mungkin bukan postur yang ideal utk jadi rider KLX150L ya hehe

IMG_4754-001

naa keliatan ga cocoknya kan hahaha

2. Sehari2 utk ngantor (65 km pp) saya pakai Kawasaki Er6n yang sdh hampir tembus 11,000 KM dalam waktu 7 bulan. Lebih terbiasa dengan motor berat (berat Er6n 219 kg, KLX 150L 108 kg) dan bertorsi cukup besar (ga usah dibahas hehe)

3. Jangan diketawain ya. Saya belum pernah, sampai setua ini, naik motor trail, sama sekali.

Jadi saya bukan off-roader, enduromen yang tentunya akan lebih maksimal dalam melakukan test ride. Saya hanya orang biasa, pengendara motor kebanyakan yang tidak memiliki skill khusus. Tapi harapannya justru review saya bisa memberikan gambaran bagi mereka yang mempertimbangkan beralih menggunakan entry-level trail ini. Baik untuk keperluan menaklukkan jalanan Jakarta yang ancur-ancuran atau penuh polisi tidur, ataupun untuk mulai bermain off-road.

Baik, kita mulai.

FIRST IMPRESSION

Kesan saat pertama kali melihat KLX 150L: Langsing dan tinggi. Dengan tinggi seat 875 mm dan berat kosong 108 kg, KLX 150L adalah yang terlangsing dan tertinggi di kelasnya. Tanpa lemak dan aksesori yang tidak perlu.
Untuk perbandingan saja berat Honda CB150SF dan Yamaha New Vixion di kisaran 129 kg. Dan tinggi seat mereka: 790mm.

IMG_4763

Melemparkan kaki melewati seat, kedua kaki setengah jinjit. Berkat berat 90 kg, shock jadi sedikit turun hahaha..

IMG_4774

Saat berada di atas KLX dan swiveling ke kiri dan kanan, meskipun centre of gravitynya tinggi, namun tetap terasa ringan perpindahan titik berat motor.

TENAGA

Start the engine….wohhh kecil banget suaranya. Dengan vibrasi dan suara yang minim, di balik helm dan balaclava saya sempat mengira engine masih off…halus..

IMG_4776

Masuk gigi satu, putaran handle gas dikanan sepertinya memang disetel agak jauh. Setelah beberapa waktu terasa sih manfaat setelan agak jauh, untuk control gas yang lebih presisi.

Motor bergerak sigap.. tapi lho kok sudah minta pindah gigi. Torsi tebal, tapi cepat habis. Begitu pula menaiki kecepatan yang lebih tinggi, cepat habis dan minta pindah giginya. Mungkin ini khas trail yang pendek-pendek nafasnya.

Saya coba di lintasan lurus 700 meter, di 400an meter pertama sudah di 110km/jam, tapi setelah itu sudah tidak bisa naik lagi meskipun sudah nunduk2 dan ngedan…

Fullscreen capture 15032014 121740

Interupsi bang Leo!! yang bener aja dong! itu kan trail bukan road bike.

Oke.. oke, kita coba keluar dari jalan aspal, dan masuk ke dirt.

Fullscreen capture 15032014 63732

Meskipun bersuara lembut, KLX 150 L memiliki tenaga yang handal memasuki jalur off-road. Awalnya sempat tidak yakin, tapi ternyata torsi bawah KLX yang tebal mampu meluncurkan motor menaiki tanjakan yang membatasi aspal dan lintasan potong di area BSD.

Nafas yang pendek setiap gigi memastikan motor selalu dalam torsi maksimal dan siap untuk digunakan.

HANDLING

Hebat… tidak bergetar, kendor ataupun hilang kendali saat melintas di tanah merah, lintasar berumput ataupun akar-akar pohon.

Fullscreen capture 15032014 61358

Fullscreen capture 15032014 61459

Empat contributor disini:

1. Suspensi yang superior untuk kelas 150 cc

IMG_4771

2. Rem monopod yang mumpuni

IMG_4768

3. Sasis yang fleksibel pada saat melepas power atau menyerap tekanan

IMG_4767

4. Ban kembang tahu yang sangat nge-grip (meskipun tau dah tahan berapa lama ya)

Seumur-umur belum pernah naik trail, awalnya saya ragu. Namun keraguan itu hanya untuk beberapa menit pertama. Selanjutnya sudah hajar bleh..

Melintasi dirt dan grassy track, pada kecepatan 50-60 km/jam, gejala ngebuang kanan-kiri (side force), terhitung minimal dan mudah dikoreksi. Enak banget…

Fullscreen capture 15032014 60521

Meloncati akar-akar pepohonan yang melintang miring dan tak beraturan, KLX 150 L tetap tenang dan tahu apa yang harus dilakukan. Tidak ada gejala limbung.

Fullscreen capture 15032014 60319

KLX 150 L UNTUK PENGGUNAAN HARIAN

Bisa bangett… saya test KLX 150 L untuk ngantor hari Kamis kemarin melewati rute BSD-Bintaro-Pondok Indah-Blok M.

Handling menghadapi kemacetan: ringan sekali. Meskipun tinggi, radius putar KLX tergolong kecil, sangat memudahkan saat menghadapi mobil yang berjalan tidak lurus pada jalurnya. Karakter tenaga juga bersahabat. Kalaupun harus memasuki jalan tembus perkampungan karakter KLX yang kecil dan tidak belagu sangat menunjang.

Fullscreen capture 15032014 63112

Postur yang tinggi membuat kita mendapat visibility yang lebih baik atas kondisi jalan di depan. Saya bisa memutuskan lebih awal jalur yang akan dipakai ketimbang saat menggunakan si Spacy. Kalaupun tiba-tiba dihadang oleh lubang jalanan krn sebelumnya tertutup mobil di depan, kita cukup confident untuk menghadapinya. Polisi Tidur, ayo bawa sini, meski tetap terasa namun jauhh lebih nyaman dihadapi ketimbang menggunakan Spacy, bahkan Verde (Er6).

PROs:

1. Dengan harga bersahabat, anda mendapatkan suspense, roda, chasis, rem yang baik untuk kelasnya.

2. Penakluk kondisi jalanan di Jakarta yang tidak terduga. Banjir, lubang jalanan, polisi tidur mari kemari…

3. Irit bener, baru sekali isi, saya dapat rerata 1 liter untuk 42 km (Shell Vpower)

CONs:

1. Tenaga dan tenaga. Kalau akan digunakan untuk harian ataupun off-road sebaiknya diupgrade. Beberapa rekan yang pernah komentar, seperti bro Imam Sadikin, menyarankan ganti kampas dan per kopling dengan punya Tiger, ganti karbu, tambah sprocket belakang dll.

2. Menurut saya exhaust yang sudah menggunakan catalytic converter juga berperan menyunat tenaga, perlu berburu knalpot aftermarket hasil riset. Jangan ngejar suara berisik bro.. ga jamannya..

IMG_4779

3. Kalau berat anda melebih 80 kg sebaiknya ada menurunkan berat badan atau ganti ke KLX atau sekalian KX 250. Motor langsing ini juga untuk mereka yang langsing.

FINAL CONCLUSION

Anda beli motor sport jika anda ingin riding faster (lebih cepat).

Anda mengendari tourer bike kalau anda ingin riding farther (lebih jauh).

Tapi kalau anda sudah jenuh dan ingin mengeksplor alam dan hidup anda lebih dalam dan luas, buy a trail, and KLX 150 L is a very good start. Anda akan melihat dunia otomotif anda bukan hanya apa yang ada di atas jalan raya, anda akan melihat dunia yang terdiri dari pilihan yang lebih luas, tanpa batasan.

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca, ditunggu masukan dan komentarnya.

IMG_4640-001

Terima kasih Bung Regis utk foto2nya

Salam dr yg jadi kepengen KX250.

Sejenak Bersama KLX 150 L : LET”S PLAY !!! (Video)

Saya belum sempat menulis artikel review secara layak,
sementara ini saya upload dulu hasil sejenak bermain bersama KLX 150 L pada hari minggu lalu.

Kindly note saya memiliki bias dalam melakukan review ini:
1. Saya berat badan 90 kg, tinggi 174cm. Mungkin bukan postur yang ideal utk jadi rider KLX150L.

2. Sehari2 utk ngantor saya pakai Er6n yang sdh hampir tembus 11,000 KM dalam waktu 7 bulan. Lebih terbiasa dengan motor berat dan bertorsi cukup besar.

3. Jangan diketawain ya. Saya belum pernah, sampai setua ini, naik motor trail, sama sekali.

Review lengkap weekend ini ya, kerjaan amit2 banyaknya.

 

edited: utk yang bertanya kok saya mepet sekali dengan orang2 duduk di detik 2:30 sampai 2:33. Itu efek lensa lebar dari Gopro dan kecepatan motor.

Sebenarnya tidak sedekat yang dikhawatirkan (bbrp cm). Ini snapshot dr videonya. Kalau masih dianggap terlalu dekat, mohon maaf sudah memberi contoh yang tidak baik 😀

Fullscreen capture 15032014 60319

Catatan Pembalap Tim Kawasaki thd Performa Ninja RR Mono di Sentul

Nah sebelum test ride bagi media pada tanggal 15 Februari lalu, sebenarnya selama beberapa hari Kawasaki mengundang para pembalap dan tester professional untuk memberikan masukan yang ekstensif terhadap performa Ninja RR Mono di lintasan Sentul. Ada Katsuaki Fujiwara, H.A Yudhistira dan Shu Sato. Juga didampingi oleh official tester dari Kawasaki Jepang.

IMG-20140215-01480

Seperti diberitakan selain jajaran motor sport Kawasaki yang dijadikan pembanding, CBR250 pun ikut dihadirkan sebagai reference point saat uji coba.

Continue reading

Test Ride Kawasaki Ninja 250 RR Mono @Sentul Circuit

Sabtu yang sempurna

IMG-20140215-01482

Langit mendung menggantung tanpa hujan menjadi cuaca yang sempurna untuk mencoba kemampuan Ninja RR Mono di sirkuit Sentul. Kali ini ada sekitar 30an pewarta berita berkumpul di paddock Kawasaki dengan rasa ingin tahu yang besar tergambar di atas kepala.

Di sisi lain ada sekitar 5 unit Ninja RR Mono bersandar dengan gagahnya di pit lane. Ditemani dengan 1 Ninja RR, 1 Ninja 250R dan 1 Ninja 250Fi.

IMG_3660

Kita mungkin terpancing untuk menduga bahwa RR Mono akan mirip dan dekat dengan abangnya N250FI, tapi

Continue reading

Kawasaki Z800 atau Z1000 atau Z1000SX. Apa pilihanmu?

 

Semoga khabar bro dan sis senantiasa sehat dan baik..

Musim hujan, musim banjir, musim penyakit..

Saya sudah pernah secara tuntas membahas Kawasaki Z800 disini.

https://7leopold7.com/category/kawasaki-z800/

Z1000 lengkap disini.

https://7leopold7.com/category/kawasaki-z1000/

Begitu juga Z1000SX alias Ninja 1000 disini.

https://7leopold7.com/category/kawasaki-ninja-1000/

Tapi sebenarnya apa sih perbedaan signifikan di antara ketiga anggota keluarga “the Zed” ini ?

Dan yang mana yang tepat buat saya dan bro/sis?

Dalam suatu weekend yang basah, kebetulan ketiganya terparkir dengan rapi di the Breeze, BSD. Beberapa teman ASR sedang asyik ngobrol dan ngopi. Satu tempat nongkrong dengan suasana santai di tepian sungai Cisadane.

Image

Image

Pape (Setiawan), Sony, Payud (Yudi), Endro (duduk)

Continue reading

Kawasaki Ninja 1000: Satu Motor – Dua Jiwa

Selamat akhir pekan…

Kawasaki Motor Indonesia (KMI) bulan Oktober lalu secara mengagetkan melepas Ninja 1000 ke tanah air.

1001-launching-Ninja-1000-1

Pasar yang sudah terbiasa melihat Ninja 250 sebagai leading sportbike di Indonesia tentunya menaruh harapan bahwa seperti kedua adiknya: Ninja 250 dan Ninja 650, atau ZX10R di tataran pure sport 1000cc, Ninja 1000 pun dapat menjadi penguasa di kelas semi-sport 1000cc.

IMG_2710-002

Tapi saudara-saudari akankah ini terjadi? Apa kemungkinan-kemungkinannya?

Continue reading

MV Agusta Brutale 1090R: Riding an Italian Masterpiece

Italian Adjective

brutale m, f : rough, brutal

Kata brutal kita gunakan untuk menggambarkan karakter yang liar, kejam dan penuh dengan tenaga.

Hmm mengapa Almarhum Claudio Castiglioni (pendiri Cagiva, penyelamat Ducati dan pemilik MV Agusta) memilih nama Brutale untuk jajaran streetfighter MV Agusta. Why “Brutale”?

claudio_castiglioni_.jpg

Claudio dan Brutale Oro

Saat berdiskusi dengan Bro Yahya – Moto Arte Indonesia dan disodori beberapa pilihan, rasa penasaran itu yang membuat saya spontan menyebut nama Brutale 1090R.

Kebayoran Lama-20131124-01301

First look impression

Sebelum motor seharga 385 juta ini dikirim oleh Moto Arte utk direview, saya sudah membaca beberapa artikel mengenai sejarah, varian dan perbandingan Brutale. Tapi Bro dan Sis, saya tetap tidak bisa melupakan detik pertama menghadapi Brutale di depan mata, saat beradaptasi dengan apa yang saya lihat.

IMG_2443-001

Muscular, kesan bertenaga ini terpancar jelas dari wibawa rangka tubular merah dan tebalnya otot mesin yang terekspos. Beauty, saat mata kita menyusuri perlahan lekuk tanki yang, tidak terlalu besar, namun padat, kemudian pada halusnya permukaan kulit seat dan desain double exhaust yang ya ampun…

Di parkiran, saya menghabiskan kurang lebih sepuluh menit hanya untuk diam memperhatikan dan menikmati bagaimana detil per detil mengalir mulai dari head lamp hingga rear lamp. Sebagai reviewer, saya terhitung jarang melakukan ini, biasanya hanya melihat desain sebuah motor sebagai sebuah satu konsep/tema besar. Z1000 banteng. CB1000R Unicorn. Z800 Commanding Officer.

IMG_2532

Ergonomi

Meskipun secara statistic Brutale 1090R ini cukup tinggi, 830 mm, namun karena joknya ramping, kaki saya (174 cm) bisa menjejak tanah dengan cukup baik. Cukup bersahabat untuk ukuran orang Indonesia.

DSC02417Posisi riding tidak terlalu menunduk, sedikit lebih tegak dibandingkan Ducati Streetfighter S. Memungkinkan kita untuk secara baik melihat, dan dilihat hehehe. Penting juga itu.

Melirik spion..…sudah in-mirror sign lamp (lampu sen nya di kaca spion) bro.. meskipun saya mendapat kesan MV Agusta sepertinya memikirkan kaca spion setelah motornya selesai. Desainnya menurut saya berbeda dengan keseluruhan konsep motor.

Kunci diputar dan saya dengan khidmat menyaksikan electronic display beraksi.

IMG_2501

IMG_2502

ECU melakukan testing fungsi2 utama. Pengecekan selesai dalam waktu 2.5 detik. Komputer mengingatkan bahwa Brutale perlu diservice 1000 KM.

Saya coba melihat pilihan menu. Cukup informatif, namun tombol di dashboardnya sedikit keras. Saya setting traction control di level 0.

Karakter Tenaga

Engine ON… wuehh.. electronic starternya mengesankan. Cukup dengan satu sentuhan ringan, tidak perlu ditahan seperti biasa, computer akan memastikan mesin hidup.

522449_10152133521744158_1133554886_nDan kemudian, dan kemudian, saya mulai mengerti kenapa ia dinamakan Brutale. Meskipun bermesin 4 silinder inline, derumannya berbeda sekali dengan mesin inline four Jepang yang berdesing dan rata interval antar dentuman pembakarannya. Pada Brutale, suara 4 silindernya memiliki karakter yang sangat berbeda. Interval antara pembakaran sepertinya tidak sama/rata, saya tidak mendapatkan data derajat selisih pembakaran dari 4 silindernya. Namun faktor ini ditambah dengan radial valve (valve yang didesain melingkar) memunculkan suara khas yang tidak dimiliki inline four pabrikan lain. Inline four lain saat kita tarik gas cenderung berbunyi Zingggggg, kalau Brutale Vrrrrum…

Kopling, meskipun sudah diperlengkapi bantuan hidrolis dr Nissin, namun tetap keras. Mengindikasikan performa nan sporty. Dan benar, saat kopling dilepas sedikit, Brutale sudah memberontak ingin mendobrak berlari ke depan.

Fullscreen capture 1182014 20732 AM-001

Dan ya ampun, ini mesin memang brutal. 4 silinder yang berkarakter L-twin bertorsi besar. Spontan, menendang sejak putaran gas awal.

Sepanjang perjalanan dari kantor menuju rumah, saya terpaksa harus shift up. Lebih tinggi satu gigi agar mesin tidak terlalu beringas selama menembus kepadatan lalu lintas. Bukan saja utk menjinakkan hentakan pada saat revving up, tapi juga pada saat menutup gas, engine brakenya seperti twin engine, terlalu besar. Buas. Kompresi yang sangat tinggi 13:1, diatas kebanyakan superbike lain, memompa lebih banyak tenaga keluar dari kamar pembakaran.

Handling

Beberapa kali mengendarai Ducati, saya awalnya menduga Brutale juga cenderung stiff dan kaku, terutama di low-medium speed. Saya salah.

Handlingnya ternyata lebih mirip Japanese superbike. Sangat lentur dan nimble. Penasaran, saya menemukan artikel bahwa desainer Brutale 1090, pada saat MVA dimiliki Harley Davidson, merancang brutale dengan ridability (tingkat kemudahan dikendarai) Honda Hornet in mind. Ohhhh pantes saja. Baik pada low speed maupun higher one, Brutale bermanuver ringan. Saat saya bandingkan langsung dengan CB1000R, keturunannya Hornet, tanggal 14 Jan kemarin saya bisa mengerti apa yang dimaksud para desainer tersebut dan kenapa.

IMG_2474

CB1000R penerus Hornet yang menjadi acuan ridability oleh para designer Brutale

Saya kira ada beberapa faktor yang menjelaskan:

  1. Rangka, meskipun tubular, yang dibuat dari high end materials (percayalah waktu saya bilang high end),
  2. Bobot motor yang hanya 183 kg, sebagai perbandingan saja Z800 lebih berat 50 kg,
  3. keuntungan posisi 4 silinder inline yang memungkinkan bobot motor lebih ketengah dan
  4. suspensi yang sangat (sangat) superior.

Urban Aventure

Saat libur tanggal 14 Januari 2014 saya hela Brutale di lintasan Alam Sutra – BSD. Ini seperti melepas harimau ke kandang ayam.IMG_2447

Brutale dengan ringannya revving up.

Hanya dengan putaran kecil di pergelangan tangan kanan, realita dan tempat seakan dijambak, dilempar ke belakang secara brutal. Tanpa perlawanan.

Dengan applikasi Measurement of Acceleration for Android, saya mendapat 0-100 km/jam dalam 3.8 second (official time dg Race Logic = 3.4s). Lebih cepat dari kita bisa mengatakan “tiga koma delapan second”.

Saya tidak berani mencoba top speed Brutale yang secara resmi mencapai angka 265 km/jam. Karena bukan di Sentul. Dan looking back, sebenarnya muncul sedikit rasa menyesal. Tidak banyak kesempatan anda bisa menembus 220 km/jam ke atas dengan kendaran beroda dua *sigh.

Yang saya lakukan adalah berusaha mengetahui kecepatan maksimal pada setiap tingkatan giginya.

Pada gigi 1, Brutale menghantar saya sampai kecepatan 114 km/jam sebelum limiter berkedip di RPM 11.600 dan motor tertahan.

Pada gigi 2, saya dilesatkan sampai kecepatan 158 km/jam —- nah ini jawaban kuisnya.

Fullscreen capture 1162014 112105 PM

Pada gigi 3, saya tidak bisa menyelesaikan sampai limiter 11.600 RPM krn lintasan sudah habis. Kecepatan terakhir menyentuh genap angka 180 km/jam saat RPM menjelang 10.000.

Memasuki rangkaian tikungan berkecepatan sedang-tinggi di sekitar Mall @Alam Sutra, saya awalnya underestimate. “Hei, kalem saja, ini adalah naked bike, yang berstang tegak.” Tapi sekali lagi saya salah, Brutale menangani cornering dengan kemampuan setingkat kelas sport. Peralihan dari upright menuju leaning angle berjalan spontan dan halus seperti cinta pada pandangan pertama. Seketika, tanpa harus dikoreksi. Dijaga suspensi Marzoochi dan karet bundar Pirelli, Brutale secara confident melalap mentah perputaran arah.

Fullscreen capture 1182014 55000 PM

Dari review ini Brutale 1090R menurut saya adalah urban adventure bike: kendaraan yang didesain untuk menikmati setting urban dari atas motor. The best in its class. Baik dari gaya riding, fashion style, kompresi mesinnya yang tinggi (touring ga cocok dong), dan daya jelajah dengan tangki yang ada (setiap 200 km menjelang habis atau 10-11 km/liter). Apakah tidak bisa untuk touring, oh tentu saja bisa, sama bisanya dengan mengenakan stelan jas Armani untuk blusukan ke pasar pagi.

Pros :

  • Excessive power, seriously
  • Handling easily beats other Italian bikes, anytime
  • Exquisite design

Cons :

  • Sulit utk merubah traction control setting
  • Footpeg terlalu pendek, melelahkan untuk riding diatas satu jam
  • Sebaiknya menggunakan celana riding atau boots, hembusan panas pada kaki kanan luar biasa

Final Conclusion

MV Agusta berusaha mendapatkan keunggulan dari dua pendekatan pada Brutale. Karakter tenaga motor-motor Italia yang keras dan keindahan desain PLUS ridability yang bersahabat.

And MV Agusta has done a very good job.

Brutale 1090 R memberikan kesempatan bagi mereka yang mencintai style dan prestige Italy untuk bisa mengendarai superbike dengan handling yang bersahabat. Tidak perlu lagi riding 2 jam, lalu pegelnya 2 hari hehehe.

Di sisi yang berbeda, bagi kubu pencinta kecepatan namun sudah jenuh dengan desain sport Jepang, power puncak 4 silinder dengan responsiveness 2 silinder yang dimiliki Brutale 1090R adalah pilihan yang perlu secara serius dipikirkan.

Apabila saya mencari tiga hal penting diatas (power, style dan handling), saya akan kesulitan menemukan alasan untuk tidak memilih Brutale 1090R

Catatan saja. Anda bisa membeli MV Agusta bike, but you don’t own the bike.

It’s the bike who actually owns you.

IMG_2549

Terima kasih kepada Moto Arte Indonesia dan Bro Yahya yang sudah dengan hangat memberi kesempatan melakukan review. Juga mbak Rifka yang telah memfasilitasi prosesnya. Sukses selalu utk MV Agusta.

MV Agusta Brutale 1090R: Enaknya diapain ya?

Setelah hampir dua minggu lebih off blogging, nyambut gawe + sinau, seminggu ke depan saya bakal dapat tambahan bahan cerita untuk dishare nih..

Selama hari libur dan weekend, selain akan test ride release terbaru Ninja 1000 dr KMI (Kawasaki Motor Indonesia), saya juga dapat kesempatan utk review MV Agusta Brutale 1090 R.

Dan sore tadi, mendaratlah sosok beringas, abang tertua seri Brutale, 1090 R.

20140113-090839 PM.jpg

Sayangnya bung Regis Bagas, anak sulung merangkap co-reviewer dan fotografer andalan saya sedang terbaring sakit. Dan sayangnya lagi jadwal yg sdh dibooked sebulan lebih sdh fixed. Jadi ga seru ga ada bung test ridenya :(((

Yang sudah terbayang selain artikel utama review, saya juga akan membandingkan Brutale 1090 R ini dengan Ducati Streetfighter, pesaing terdekatnya. Dan juga dengan Honda CB1000R utk alasan yg akan saya jelaskan kemudian.

Hmmmm atau ada usulan lain ?

20140114-044409 AM.jpg