MV Agusta Nikahi Loncin Utk Hadirkan MV 350-500cc! Lebih Terjangkau Namun Tetap Kelas Premium.

 

IMG_4082

 

Terbetik dari MCN edisi cetak terakhir bahwa selain membangun kerjasama untuk menghasilkan parts-parts MV, Loncin, perusahaan besar otomotif dari China ini juga akan menjadi mitra MV untuk menghadirkan sejumlah motor MV pad akelas 350 hingga 500cc.

 

MV nampaknya mulai bergeser dari pasar ultra-eksklusif masuk ke market yang lebih lebar.

Continue reading

Advertisements

The Unrivalled Rivale 800: Blusukan (Part 5)

 

 

Review sebelumnya:

The Unrivalled Rivale 800: Dominating Predator (Part 1)

The Unrivalled Rivale 800: “Not for everyone” Bike (Part 2)

The Unrivalled Rivale 800: Ultimate Excitement (Part 3)

The Unrivalled Rivale 800: Lebih Dekat – Lebih Personal (Part 4)

——————————————————————————-

 

Rivale didesain oleh Adrian Morton – MV Agusta sebagai sebuah supermoto.

Artinya Rivale diharapkan memiliki kemampuan di tiga jenis track: Road bike, Off-road dan Flat Track.

Test-test sebelumnya lebih melihat kemampuan Rivale sebagai road bike. Where there is tarmac.

Penasaran saya pun mencoba melihat kemampuan Rivale untuk blusukan di medan off-road kategori ringan. Agar lebih afdol feelingnya bisa langsung dilihat di rekaman videonya.

 

IMG_5898

 

 

IMG_5833

 

Saat diajak melewati track yang licin berlumpur, Rivale tetap stabil. Traction control membantu mencegah tenaga berlebihan disalurkan ke ban dan spinning.

Fullscreen capture 6182014 44540 AM

 

Melewati track yang sempit Rivale tetap stabil

Fullscreen capture 692014 10116 AM

Dalam kondisi jalanan rusak dan twisty, Rivale tetap stabil, Traction control membantu mencegah slip

Fullscreen capture 692014 10300 AM

 

 

 

KESIMPULAN

Ya, Rivale memiliki semacam kemampuan menangani kondisi off-road ringan. Dia bisa dan tidak berkeberatan sama sekali blusukan.

Dia agile, bertorsi tebal, suspensi superior.

Performa off-road tentu bisa ditingkatkan dengan mengganti ban, suspensi diperlembut dan mengaktifkan level maksimal traction control.

Namun menurut saya ini hanya 10% dari kodrat sesungguhnya Rivale. Mungkin malah kurang dari itu. Sebagian besar karakter Rivale adalah road bike, bahkan urban road bike.

Ada keterbatasan-keterbatasan kodrati yang tidak bisa dibantah: Rivale 800 terlalu eksotik dan cantik untuk penggunaan off-road.

 

 

The Unrivalled Rivale 800: Lebih Dekat – Lebih Personal (Part 4)

 

Review sebelumnya:

The Unrivalled Rivale 800: Dominating Predator (Part 1)

The Unrivalled Rivale 800: “Not for everyone” Bike (Part 2)

The Unrivalled Rivale 800: Ultimate Excitement (Part 3)

——————————————————————————-

Setelah bicara riding experience dengan Rivale 800, kali ini kita akan melihat lebih dekat dan personal si kapten tim basket putri ini.

IMG_4827

Rivale 800 mungkin kelihatan tinggi dan ramping, namun dianugerahi kedua kaki yang indah berotot. Seperlunya tanpa kelihatan berlebihan.

IMG_6510

Kaki depan ditopang oleh shockbreaker Marzocchi (bacanya bukan Marjuki ya hehe) dengan diameter 43mm. Kaki yang terlatih dan adaptable dengan pre-load adjuster yang dengan sangat mudah bisa diatur.

IMG_6545

 

Meskipun berat Rivale 800 hanya 173 kg (hanya 1 kg lebih berat dr Ninja 250, maaf hanya perbandingan) namun piranti perlambatan dipercayakan langsung ke Brembo Monobloc. Pengereman seperti istilah saya di artikel sebelumnya: sestabil Bank Indonesia. Tapak cukup lebar milik Pirelli Diablo Rosso II juga membuat sektor kaki depan nampak kokoh.

Begitu pula kalau bro dan sis melihat kaki belakang Rivale, single sided swing arm seakan memperlihatkan penuh keterlanjangan lekuk otot si Kapten. Material allumunium alloy membuat sisi kaki terlihat padat dan liat.

 

IMG_6501

IMG_6531

Beralih ke dada, perangkat pendinginan Rivale ini terlihat begitu massif dengan dual system (MV mengclaim triple). Pendinginan air dan oli. Untuk memastikan sang Kapten dapat merajai arena tanpa mengalami overheat. Setiap detil area dipakai penuh.

IMG_6513

Mari kita lihat rangka dadanya, hmm tubular trellis yang terbuat dari allumunium alloy.

Coba masih ada yang berani ngenyek “ah rangka tralis doang” ga, hehe..

IMG_4815

Satu hal yang selalu saya kagumi dari keindahan Rivale ini adalah kepaduan desain mulai dari area leher menelusur ke punggung hingga ke ujung buritan. Badan yang dibalut bahan thermoplastic, yang tidak seperti logam nan kaku dingin, terasa hidup hangat lencir di belaian.

IMG_6481

IMG_6520

IMG_6519   IMG_6532

Sungguh sungguh cantik..

 

Sekarang mari kita lihat bentangan kedua lengan sang Kapten tim putri ini.

IMG_6572 IMG_6561

Lengan yang langsing tanpa lemak dibalut dengan dua aksesori cantik. Sign lamp merangkap hand guard, dan kaca spion. Keduanya didesain sebagai satu bagian tak terpisahkan dari Rivale 800. Bandingkan dengan Brutale 1090R yang spion dan stang sepertinya baru dipikirkan setelah motor jadi. Sungguh menawan.

IMG_6526

Berbeda juga dengan Brutale 1090R, Rivale 800 tidak lupa menanamkan switch untuk merubah traction control dan power mode di kedua stang. Sehingga mudah dirubah sambil berkendara, on-the-go.

IMG_6541

IMG_6542

Seperti membicarakan sang kapten tim putri basket saat kita SMA. Yang hanya bisa kita kagumi dari kejauhan. Semakin dilihat dan diperhatikan semakin terlihat kian menawan di hati.

IMG_4964

Banyak terima kasih Pape Setiawan utk Rivale 800nya, juga untuk Regis Bagas, my first son, untuk foto-fotonya.

The Unrivalled Rivale 800: Ultimate Excitement (Part3)

Review sebelumnya:

The Unrivalled Rivale 800: Dominating Predator (Part 1)

The Unrivalled Rivale 800: “Not for everyone” Bike (Part 2)

————————————————————————————————

IMG_6485-001

 

Setelah membahas apa dan mengapa MV Agusta memilih genre supermotard untuk mengisi line-up 800 ccnya, kini saatnya membuktikan apakah memang Rivale 800 seperti yang dikatakan Adrian Morton sang desainer.

 

KARAKTER TENAGA

IMG_4893

Saatnya menyalakan motor seharga hampir 400 juta ini.

Tarik kopling, tekan switch power dan Engine is on.

Continue reading

The Unrivalled Rivale 800: “Not For Everyone” Bike (Part 2)

 

Mohon maaf ya baru bisa melanjutkan review Rivale 800 yang tertunda hampir 3 bulan.

Bagian pertama bisa dipirsa di marih: The Unrivalled Rivale 800 : Dominating Predator (Part 1)

 

Adrian, sang designer Rivale 800 sudah memperingatkan.

“It is beautiful but not intended for everyone”

Statement yang menggelitik dan menantang. Mengapa dia berkata begitu?

Sebagai sebuah supermoto, Rivale tentu saja tinggi dan ramping. Saat pertama bertemu langsung Rivale 800 awal maret lalu saya betul-betul tertegun. Oh boy…

IMG_4898

Tinggi saya 174 cm, kalau malam.

Continue reading

The Unrivalled Rivale 800 : Dominating Predator (Part 1)

 

Rivale
N – a person or thing competing for superiority

 

Setelah dikenal sebagai pabrikan yang eksklusif melahirkan premium sport (F3 dan F4) dan naked bike (Brutale series), MV Agusta merambah segmen baru di pasaran Eropa dengan meluncurkan satu supermoto: Rivale 800.
Satu langkah yang strategis mengingat kecenderungan pergeseran selera pasar dari sport bike ke genre lainnya seperti tourer. Catatan MCN menunjukkan bahwa pasar sport bike mengalami penurunan sebesar 46% dari 70,166 unit yang terjual di tahun 2010 menjadi 37,994 di tahun 2013. Sementara justru di Indonesia yang terjadi justru sebaliknya. Pasar sport menguat secara signifikan. Langkah ini, secara marketing, juga cerdas karena pada segmen ini pemainnya masih bisa dihitung dengan sebelah tangan (Ducati Hypermotard, Aprilia Dorsoduro and KTM SM-T 990).
Dan saudara saudari, MV Agusta did it again …!

2013-MV-Agusta-Rivale-800c-small

Pada ajang EICMA 2012 Rivale 800 dinobatkan menjadi the most beautiful motorcycle.
Dengan memenangkan 35,5% vote dari total 15,000 pengunjung. Melengserkan Ducati 1199 Panigale yang bertahta pada posisi ini di tahun sebelumnya. Ducati Hypermotard, sebagai sesama supermoto, duduk di posisi kedua dengan raihan 22.9% suara.

Vote anda utk yg mana?

2014-Ducati-Hypermotard-SP3

20140409-021433 PM.jpg

image

 

Sebuah Supermoto yang umumnya mengutamakan fungsionalitas dan minimalis. No bullshit, no nonsense. MV Agusta mengganggu persepsi ajek itu dengan menjadikan Rivale sebuah seni rupa yang dibentuk indah.

Perhatikan kepaduan garis binatang mulai dari beak (paruh depan), tanki dan air ram (dada dan sayap) hingga tegak tajam sayap ekor.

IMG_4862-002

Adalah Adrian Morton yang mendesain Rivale dibawah panduan maestro Massimo Tamburini yang wafat dua hari laluj. Adrian mengatakan sejak awal bahwa dia tidak akan minta maaf “but this bike is not intended for every rider, not for every trips”.

IMG_4828

Rivale ini memang indah, tapi Adrian mengingatkan Rivale dirancang bagi experienced rider. Sebagian besar rider mungkin masih akan mengejar apa yang menjadi mainstream sekarang. Yang menurut saya definisinya adalah motor sport berfairing dengan dua atau 4 silinder. Rivale bukan buat mereka.

Hmm apakah itu benar? Apa yang Adrian maksudkan sebenarnya?

Mari kita test dan lihat di artikel berikutnya
NEXT – First Riding Impression

IMG_4964

MV Agusta Rivale 800 – Teaser

IMG_4862-001

Saat ini anda sedang melihat salah satu dari tiga MV Agusta Rivale 800 pertama yang ada di Tanah air. Tahun ini MV Agusta, menurut bro Steven Oentoro, hanya akan mendatangkan 6 Rivale 800. Wuihhh eksklusif…..

Setelah menunggu beberapa minggu akhirnya Rivale 800 tiba dan menjadi primadona garasi rumah Bro Pape (Setiawan) ASR. Minggu pagi kebetulan saya sempat test dan ambil gambar.

Tunggu liputannya di blog ini bro…

Review MV Agusta Brutale 800: the Younger and Wilder in the Brutale Series

Selamat hari Minggu siang..

Sudah terlebih dahulu melakukan test ride atas Brutale 1090R, saya awalnya tidak terlalu antusias untuk mereview Brutale 800. Ada semacam sikap “gw udah kenal dengan abang loe kok”. 4 Silinder 1090 cc vs 3 silinder 800 cc gitu lho …

IMG_2443-001

Sampai kemudian saat mengantar teman ASR ke MV Agusta untuk membeli Rivale 800 saya mulai tergelitik dengan satu pertanyaan.

Mengapa MV Agusta menurunkan mesin Brutale 800cc 3 silindernya ini ke jajaran andalan teranyarnya mereka: Rivale 800, Dragster 800 dan Tourisme Veloce 800. What is so special with the engine?

Okelah, setelah kontak-kontak dengn Bro Steven dan Mbak Rifka, 3 hari kemudian Brutale 800 pun dibawa mengarah ke BSD-Alam Sutra untuk dipelajari dengan lebih baik.

IMG-20140216-01491

DANN… cakep bener…. selama hampir dua hari weekend hujan tercurah lebat tiada henti. Hadeuhhh…
Hanya meninggalkan window kering beberapa jam. Ya wiss ga apa2, cukuplah utk test ride..

IMG_3815

KESAN PERTAMA
MV Agusta dikenal dengan warna khas Silver-Red. It’s their corporate color. Pada unit Brutale 800 yang direview saya mendapat yang White-Blue Italia, tapi kok malah suka dengan yang ini ya. Kesan sporty, dynamis dan muda (ga boleh protes) justru lebih terpancarkan keluar. Seperti juga saat melihat abangnya, saya selalu terpana dengan desain tanki brutale yang lebar berotot dan gagah, namun juga aerodinamis pada saat yang sama.

IMG_4007 IMG_20140223_162247

Tidak habisnya saya menikmati garis desain Brutale 800 mulai dari air ram depan, tangki yang teduh membulat, one piece leather seat hingga pada buritan belakang yang sporty dengan tulisan TREPISTONI yang memperingatkan kita bahwa ada konfigurasi yang berbeda dibalik desain halus ini.

IMG_3792

Trellis frame membawa kesan kokoh kekar apa adanya. Tidak ada yang perlu disembunyikan. Knalpot susun tiga menjadi trademark dan penanda MV Agusta dengan mesin 3 silindernya yang khas.

IMG_4001

Kaki bisa menjejak dengan 100% sempurna. Posisi footstep tidak terlalu di belakang seperti pure sport YZF-R6, cukup nyaman sehingga ruang bergerak kaki cukup lega. Footstep B800 lebih lebar dan nyaman, berbeda dengan footstep abangnya yang cukup sempit.

 

KARAKTER TENAGA
Baiklah engine on…

IMG_3960

Suara timpang 3 silinder terdengar menderum. Tenang, dengan ketenangan yang mengintimidasi. Anda penuh antisipasi. Seperti detik-detik yang berjalan lambat menjelang sebuah perkelahian. You know something is going to happen…
Brung-brung—brung-brung-brung-

IMG_3966

Menggunakan motor besar anda perlu punya jari yang kuat sekaligus lentur untuk mengendalikan kopling. Pada 3-4 jari kiri kita terletak perbedaan antara riding yang nyaman atau nyungsup di tikungan.  Kopling relative enteng. Lebih berat ketimbang 2 silinder lain, namun lebih ringan ketimbang ZX6R. 

Revving up motor ini berjalan melonjak di depan antisipasi kita. Liar…

Ketika saya berasumsi Brutale 800 adalah versi jinak dari Brutale 1090R, karena cc dan jumlah silinder yang lebih kecil, saya salah. Salah besar.
Brutale 800 is the lighter, younger yet wilder brother of B1090R.

Fullscreen capture 22022014 232237-001

Karakter yang sangat responsif sejak derajat pertama throttle gas diputar. Kalau anda mengendarai 4 silinder akan ada momen yang harus dibangun, pada RPM di atas 4000 biasanya, sebelum tenaga bulat melesat. Pada Brutale 800, all the horses run much earlier.

This is simply the king of wheelie. Dia wheelie sesuka hati anda membawa. Saya menaikkan traction control ke tingkat full atau level 8. Masih saja wheelie meskipun hanya sebentar sebelum ECU memerintahkan mesin utk mengurangi supply tenaga.
Oke Oke… itu untuk tenaga bawah, tapi tenaga puncaknya tentu kalah dong dengan 4 silinder…. Dan lagi-lagi apa saudara-saudari? Saya salah ..
Tenaga lebih cepat selesai memang di setiap gigi dibanding Brutale 1090R, tapi lihat dong.
Gigi satu top speed diraih di 114 km/jam

Fullscreen capture 23022014 03125

Sedangkan gigi dua, kalau Brutale 1090R top speed diraih di 158 km/jam, Brutale 800 meraih puncak kecepatan di 157 km/jam. Tipis sekali bukan…

Fullscreen capture 23022014 03808

Dan sensasi akselerasinya khas sekali. It combines the best of two and four cylinders. Responsif di bawah, bertenaga sampai ke atas.

 

HANDLING
Saat anda melemparkan kaki kanan untuk menaiki Brutale 800 pertama kalinya, kesan besar dari guratan tanki sangat kuat. Tapi begitu motor mulai berjalan dan kita kendalikan, beda sekali….

IMG_3873

“Wah gila enteng banget bro” tukas bro Ricko yang biasa membesut GSXR600R.

Bro Ricko

Bro Ricko ASR

Saya kira ada beberapa factor yang menjelaskan. Pertama, dari segi bobot, Brutale 800 ini memang 16 kg lebih ringan dibandingkan abangnya Brutale 1090R (167 vs 183). Bayangkan 800 cc, 3 silinder, dengan ledakan tenaga 125 HP di bobot hanya 167 kg?
Belum cukup dengan itu, Brutale 800 berbekal wheelbase yang lebih pendek (1380 vs 1438) dibandingkan Brutale 1090R. Dan ketiga, tinggi seat yang hanya 810 mm membuat B800 lebih rendah 20 mm dan mudah dikendarai ketimbang B1090R.
Bagi biker yang sudah terbiasa mengendarai motor ber cc besar, Brutale 800 menawarkan handling yang jauh berbeda. Bersahabat..

 

PROs:

  1. Electronic control yang superior. Ada akses terhadap Power Mode dan Traction Control yang cukup dengan sentuhan ujung jari, on-the-go. Tanpa harus menekan-nekan tombol keras di dashboard seperti Brutale 1090R. And they do work. Di seputaran Summarecon Serpong yang berpasir, mudah sekali kita mengalami slide saat membuka gas motor, dan seketika TC comes to the resque.
  2. Compact, ringkas dan padat. Masih sulit memahami bagaimana tenaga begitu besar datang dari motor begitu ringkas. Ide bahwa moge itu harus segede gaban, besar sulit dikendalikan dan berisik gila-gilaan itu perlu dibuang jauh-jauh. Mesin 3 silinder 800 cc nya adalah magic. Peninggalan Claudio yang tak heran kemudian diturunkan pada line-up berikutnya dari MV yang akan dating.

CONs:

  1. Indennya lama banget. Bisa jadi PROs atau CONs. Buat yang tidak sabar bisa pindah kelain hati. Tapi juga bisa membuat memiliki Brutale 800 ini kebanggaan tersendiri. It is not just about money (a lot of money that is) tapi juga tentang life achievement.
  2. Motor yang kurang nyaman untuk dipakai berboncengan. Meskipun tapak sadel cukup lebar dan menjadi satu, namun begitu dipakai berboncengan handling berubah drastic. Saya kira ini disebabkan oleh motor yang ringkas dan centre of gravity yang sangat ditaruh didepan. Harus berboncengan dengan pillion yang ringan, kompak dengan kita dan mengerti motor.

FINAL CONCLUSION
Hati saya jatuh pada Brutale 800 ini. Momen saat motor kembali ke markas MV Agusta Indonesia, ada yang terasa sudah menyatu dan kemudian diambil dan hilang.
Ini tidak saya alami dengan Brutale 1090R. Mungkin hanya selama 3 hari bersama. Tapi 3 hari itu sungguh meninggalkan banyak dampak yang menuntun saya bisa menulis review ini dengan sepenuh hati meskipun sudah sebulan waktu berlalu.
Kekuatan dan keindahan. Brutale 800.

IMG_3827

Saatnya Review MV Agusta Brutale 800

 

Selamat sabtu pagi,

 

Semoga meskipun kondisi hujan, kondisi brother dan sister beserta keluarga senantiasa baik.

Di rumah pagi ini sudah siap menanti satu unit MV Agusta Brutale 800 untuk saya ajak jalan. Sayang sekali hujan masih betah turun semenjak malam tadi.

IMG_20140216_134744

 

Om Leo, kan sudah test drive Brutale 1090R. kok sekarang malah test Brutale 800?

Fullscreen capture 1182014 20732 AM-001

Ga turun kelas tuh?

 

hehehe pertanyaan yang baik.

Jawabannya ada dua:

1. MV Agusta sedang mendatangkan Rivale 800 dan 3 bulan lagi Dragster 800 yang menghebohkan itu. Kedua motor tersebut berbagi basis mesin yang sama dengan Brutale 800. Perbedaannya hanya pada mapping engine. Sembari menunggu Rivale dan Dragster siap, mungkin kita orientasi dulu dengan Brutale 800.

2. Saya belum pernah mencoba 3 silindernya MV Agusta. Tidak seperti official test ridernya MV Agusta Indonesia, Bro Kobayogas, atau Kang Taufik TMC, saya ini masih newbie untuk dunia 3 silindernya MVA.

Nahhh pas nganterin temen beli/order Rivale 800, saya pun sekalian jajal B800, tapi rasanya test kurang optimal, sehingga sayapun nembung ke Bro Steven dan mbak Rifka untuk review lebih dalam.

Ada titipan pertanyaan mungkin? asal jangan tanya top speed ya, aku ora wani…

Hasilnya? tunggu minggu malam atau senin pagi ya bro…

semoga hujan lekas berhenti nih…

IMG-20140216-01491

MV Agusta Brutale 1090R: Riding an Italian Masterpiece

Italian Adjective

brutale m, f : rough, brutal

Kata brutal kita gunakan untuk menggambarkan karakter yang liar, kejam dan penuh dengan tenaga.

Hmm mengapa Almarhum Claudio Castiglioni (pendiri Cagiva, penyelamat Ducati dan pemilik MV Agusta) memilih nama Brutale untuk jajaran streetfighter MV Agusta. Why “Brutale”?

claudio_castiglioni_.jpg

Claudio dan Brutale Oro

Saat berdiskusi dengan Bro Yahya – Moto Arte Indonesia dan disodori beberapa pilihan, rasa penasaran itu yang membuat saya spontan menyebut nama Brutale 1090R.

Kebayoran Lama-20131124-01301

First look impression

Sebelum motor seharga 385 juta ini dikirim oleh Moto Arte utk direview, saya sudah membaca beberapa artikel mengenai sejarah, varian dan perbandingan Brutale. Tapi Bro dan Sis, saya tetap tidak bisa melupakan detik pertama menghadapi Brutale di depan mata, saat beradaptasi dengan apa yang saya lihat.

IMG_2443-001

Muscular, kesan bertenaga ini terpancar jelas dari wibawa rangka tubular merah dan tebalnya otot mesin yang terekspos. Beauty, saat mata kita menyusuri perlahan lekuk tanki yang, tidak terlalu besar, namun padat, kemudian pada halusnya permukaan kulit seat dan desain double exhaust yang ya ampun…

Di parkiran, saya menghabiskan kurang lebih sepuluh menit hanya untuk diam memperhatikan dan menikmati bagaimana detil per detil mengalir mulai dari head lamp hingga rear lamp. Sebagai reviewer, saya terhitung jarang melakukan ini, biasanya hanya melihat desain sebuah motor sebagai sebuah satu konsep/tema besar. Z1000 banteng. CB1000R Unicorn. Z800 Commanding Officer.

IMG_2532

Ergonomi

Meskipun secara statistic Brutale 1090R ini cukup tinggi, 830 mm, namun karena joknya ramping, kaki saya (174 cm) bisa menjejak tanah dengan cukup baik. Cukup bersahabat untuk ukuran orang Indonesia.

DSC02417Posisi riding tidak terlalu menunduk, sedikit lebih tegak dibandingkan Ducati Streetfighter S. Memungkinkan kita untuk secara baik melihat, dan dilihat hehehe. Penting juga itu.

Melirik spion..…sudah in-mirror sign lamp (lampu sen nya di kaca spion) bro.. meskipun saya mendapat kesan MV Agusta sepertinya memikirkan kaca spion setelah motornya selesai. Desainnya menurut saya berbeda dengan keseluruhan konsep motor.

Kunci diputar dan saya dengan khidmat menyaksikan electronic display beraksi.

IMG_2501

IMG_2502

ECU melakukan testing fungsi2 utama. Pengecekan selesai dalam waktu 2.5 detik. Komputer mengingatkan bahwa Brutale perlu diservice 1000 KM.

Saya coba melihat pilihan menu. Cukup informatif, namun tombol di dashboardnya sedikit keras. Saya setting traction control di level 0.

Karakter Tenaga

Engine ON… wuehh.. electronic starternya mengesankan. Cukup dengan satu sentuhan ringan, tidak perlu ditahan seperti biasa, computer akan memastikan mesin hidup.

522449_10152133521744158_1133554886_nDan kemudian, dan kemudian, saya mulai mengerti kenapa ia dinamakan Brutale. Meskipun bermesin 4 silinder inline, derumannya berbeda sekali dengan mesin inline four Jepang yang berdesing dan rata interval antar dentuman pembakarannya. Pada Brutale, suara 4 silindernya memiliki karakter yang sangat berbeda. Interval antara pembakaran sepertinya tidak sama/rata, saya tidak mendapatkan data derajat selisih pembakaran dari 4 silindernya. Namun faktor ini ditambah dengan radial valve (valve yang didesain melingkar) memunculkan suara khas yang tidak dimiliki inline four pabrikan lain. Inline four lain saat kita tarik gas cenderung berbunyi Zingggggg, kalau Brutale Vrrrrum…

Kopling, meskipun sudah diperlengkapi bantuan hidrolis dr Nissin, namun tetap keras. Mengindikasikan performa nan sporty. Dan benar, saat kopling dilepas sedikit, Brutale sudah memberontak ingin mendobrak berlari ke depan.

Fullscreen capture 1182014 20732 AM-001

Dan ya ampun, ini mesin memang brutal. 4 silinder yang berkarakter L-twin bertorsi besar. Spontan, menendang sejak putaran gas awal.

Sepanjang perjalanan dari kantor menuju rumah, saya terpaksa harus shift up. Lebih tinggi satu gigi agar mesin tidak terlalu beringas selama menembus kepadatan lalu lintas. Bukan saja utk menjinakkan hentakan pada saat revving up, tapi juga pada saat menutup gas, engine brakenya seperti twin engine, terlalu besar. Buas. Kompresi yang sangat tinggi 13:1, diatas kebanyakan superbike lain, memompa lebih banyak tenaga keluar dari kamar pembakaran.

Handling

Beberapa kali mengendarai Ducati, saya awalnya menduga Brutale juga cenderung stiff dan kaku, terutama di low-medium speed. Saya salah.

Handlingnya ternyata lebih mirip Japanese superbike. Sangat lentur dan nimble. Penasaran, saya menemukan artikel bahwa desainer Brutale 1090, pada saat MVA dimiliki Harley Davidson, merancang brutale dengan ridability (tingkat kemudahan dikendarai) Honda Hornet in mind. Ohhhh pantes saja. Baik pada low speed maupun higher one, Brutale bermanuver ringan. Saat saya bandingkan langsung dengan CB1000R, keturunannya Hornet, tanggal 14 Jan kemarin saya bisa mengerti apa yang dimaksud para desainer tersebut dan kenapa.

IMG_2474

CB1000R penerus Hornet yang menjadi acuan ridability oleh para designer Brutale

Saya kira ada beberapa faktor yang menjelaskan:

  1. Rangka, meskipun tubular, yang dibuat dari high end materials (percayalah waktu saya bilang high end),
  2. Bobot motor yang hanya 183 kg, sebagai perbandingan saja Z800 lebih berat 50 kg,
  3. keuntungan posisi 4 silinder inline yang memungkinkan bobot motor lebih ketengah dan
  4. suspensi yang sangat (sangat) superior.

Urban Aventure

Saat libur tanggal 14 Januari 2014 saya hela Brutale di lintasan Alam Sutra – BSD. Ini seperti melepas harimau ke kandang ayam.IMG_2447

Brutale dengan ringannya revving up.

Hanya dengan putaran kecil di pergelangan tangan kanan, realita dan tempat seakan dijambak, dilempar ke belakang secara brutal. Tanpa perlawanan.

Dengan applikasi Measurement of Acceleration for Android, saya mendapat 0-100 km/jam dalam 3.8 second (official time dg Race Logic = 3.4s). Lebih cepat dari kita bisa mengatakan “tiga koma delapan second”.

Saya tidak berani mencoba top speed Brutale yang secara resmi mencapai angka 265 km/jam. Karena bukan di Sentul. Dan looking back, sebenarnya muncul sedikit rasa menyesal. Tidak banyak kesempatan anda bisa menembus 220 km/jam ke atas dengan kendaran beroda dua *sigh.

Yang saya lakukan adalah berusaha mengetahui kecepatan maksimal pada setiap tingkatan giginya.

Pada gigi 1, Brutale menghantar saya sampai kecepatan 114 km/jam sebelum limiter berkedip di RPM 11.600 dan motor tertahan.

Pada gigi 2, saya dilesatkan sampai kecepatan 158 km/jam —- nah ini jawaban kuisnya.

Fullscreen capture 1162014 112105 PM

Pada gigi 3, saya tidak bisa menyelesaikan sampai limiter 11.600 RPM krn lintasan sudah habis. Kecepatan terakhir menyentuh genap angka 180 km/jam saat RPM menjelang 10.000.

Memasuki rangkaian tikungan berkecepatan sedang-tinggi di sekitar Mall @Alam Sutra, saya awalnya underestimate. “Hei, kalem saja, ini adalah naked bike, yang berstang tegak.” Tapi sekali lagi saya salah, Brutale menangani cornering dengan kemampuan setingkat kelas sport. Peralihan dari upright menuju leaning angle berjalan spontan dan halus seperti cinta pada pandangan pertama. Seketika, tanpa harus dikoreksi. Dijaga suspensi Marzoochi dan karet bundar Pirelli, Brutale secara confident melalap mentah perputaran arah.

Fullscreen capture 1182014 55000 PM

Dari review ini Brutale 1090R menurut saya adalah urban adventure bike: kendaraan yang didesain untuk menikmati setting urban dari atas motor. The best in its class. Baik dari gaya riding, fashion style, kompresi mesinnya yang tinggi (touring ga cocok dong), dan daya jelajah dengan tangki yang ada (setiap 200 km menjelang habis atau 10-11 km/liter). Apakah tidak bisa untuk touring, oh tentu saja bisa, sama bisanya dengan mengenakan stelan jas Armani untuk blusukan ke pasar pagi.

Pros :

  • Excessive power, seriously
  • Handling easily beats other Italian bikes, anytime
  • Exquisite design

Cons :

  • Sulit utk merubah traction control setting
  • Footpeg terlalu pendek, melelahkan untuk riding diatas satu jam
  • Sebaiknya menggunakan celana riding atau boots, hembusan panas pada kaki kanan luar biasa

Final Conclusion

MV Agusta berusaha mendapatkan keunggulan dari dua pendekatan pada Brutale. Karakter tenaga motor-motor Italia yang keras dan keindahan desain PLUS ridability yang bersahabat.

And MV Agusta has done a very good job.

Brutale 1090 R memberikan kesempatan bagi mereka yang mencintai style dan prestige Italy untuk bisa mengendarai superbike dengan handling yang bersahabat. Tidak perlu lagi riding 2 jam, lalu pegelnya 2 hari hehehe.

Di sisi yang berbeda, bagi kubu pencinta kecepatan namun sudah jenuh dengan desain sport Jepang, power puncak 4 silinder dengan responsiveness 2 silinder yang dimiliki Brutale 1090R adalah pilihan yang perlu secara serius dipikirkan.

Apabila saya mencari tiga hal penting diatas (power, style dan handling), saya akan kesulitan menemukan alasan untuk tidak memilih Brutale 1090R

Catatan saja. Anda bisa membeli MV Agusta bike, but you don’t own the bike.

It’s the bike who actually owns you.

IMG_2549

Terima kasih kepada Moto Arte Indonesia dan Bro Yahya yang sudah dengan hangat memberi kesempatan melakukan review. Juga mbak Rifka yang telah memfasilitasi prosesnya. Sukses selalu utk MV Agusta.