Pentingnya Ban Depan Setingkat Lebih Baik

 

Kalau ada anggaran untuk modif, pilihan para biker selalu beragam. Ada yang konsentrasi ke penampilan, ada juga yang ke performa. Untuk saya sendiri, yang saya pilih untuk diupgrade paling pertama adalah ban.

backup iphone nov 2015 2761

Baca lebih lanjut

Iklan

Review Regis atas Helm HJC Lorenzo

 

Saya sedang mempersiapkan review tentang akurasi speedometer R25. Sementara itu silahkan dipirsa tulisan review Regis, anak pertama saya (12 th) atas helm hadiah HJC Lorenzo hadiah kiriman dari YIMM hampir 2 minggu lalu. Saya tidak melakukan edit hanya merapikan dan menambahkan gambar.

 

————————————–

 

Selamat  siang om dan tante, ini saya regis bagas.

Mohon maaf lahir dan batin mungkin saya banyak salahnya walaupun saya jarang menulis. Kali ini saya mau mereview helm HJC Jorge Lorenzo yang ayah dapat dari yamaha. Ayah memberikan helm ini untuk saya pakai.

IMG_7287

Baca lebih lanjut

Review Knalpot Prospeed Black Carbon – Ninja 250FI

Selamat malam ….

Beberapa waktu lalu performa Bianka (Ninja saya) saat dipersenjatai knalpot Prospeed (Blue dan Black Carbon) ditest menggunakan Dynojet SBS team oleh Otomotifnet dan Prospeed.

20130414-070800 PM.jpg

Hasil Dynojet test sdh cukup jelas:
1. Blue series lebih tinggi torsi dan horsepowernya dibandingkan Black Carbon.
2. Keduanya mengalami kenaikan hampir 4 HP dibandingkan knalpot standard.
3. Blue pada grafik dominan di rentang RPM 4,000 hingga 7,000.
3. Black Carbon barulah dominan pada rentang RPM 7,000-11,000.

20130414-071059 PM.jpg

Cukup mengejutkan, mengingat harga black carbon sebenarnya lebih mahal 500 ribu ketimbang seri Blue. Dan saya menduga hasil test ini juga ikut menyebabkan team SBS melengkapi Nico dg Blue series saat IRS serie 1. Padahal saat itu risetnya dgn Black Carbon.

20130414-071347 PM.jpg

Tapi itu kan hasil test Dynojet, bagaimana dengan road testnya?
Setelah test, tanpa dinyana, Bianka dibawakan hadiah Slip-on Prospeed Carbon oleh Bro Bie Hau. Kesempatan Brooo utk menjajal performa jalanannya.

Sudah lebih dr satu bulan dan 1500 km saya mencoba merasakan dan memahami karakter Black Carbon ini. Baik untuk harian ngantor (60 km pp) maupun weekend ride (paling jauh nonton IRS di Sentul). Berikut observasi saya.

1. Rentang Tenaga atau Power Band

Saat menghela Bianka pulang dr Dynojet test menembus traffic jalan Haji Nawi – Pondok Indah, saya sempat kaget dan merasa sedikit kecewa. Black Carbon tidak seresponsif adiknya, Blue. Di putaran bawah dan menengah saya merasa Blue sedikit lebih berisi dan padat. Tidak sangat signifikan, tapi cukup terasa. Saya coba pd bbrp kondisi, bahkan dlm sehari sampai copot silencer dua kali hehehe. Tetap sama saja. Saat memasuki area yang memiliki lintasan panjang dan cukup aman utk RPM bermain di atas 7000 barulah terasa betul power yang mendesak keluar melalui black Carbon. Sangat mulus dan tanpa jeda tenaga bisa naik sampai ke batas redline RPM. Sangat mudah dan tanpa terasa. Tahu2 sudah tersendat terkena limiter.
Dengan knalpot standar untuk mencapai redline akan ada drop sedikit, seperti mengambil nafas dua kali jadinya.

Drop explained
Dari sini bisa disimpulkan, black carbon sebenarnya lebih cocok jika kita lebih sering bertengger di RPM atas seperti saat di race track ataupun touring.

2. Panjang Nafas

20130414-080115 PM.jpg

Saya mencoba di lintasan sisi utara Foresta BSD yang tidak memiliki persimpangan dan cukup sepi. Ingin mengetahu panjang nafas di setiap gigi hingga RPM tertahan di redline.

Gigi BLUE. BLACK CARBON Knalpot Standar
1 55 km/jam. 58 km/jam 45 km/jam
2 84 km/jam. 87 km/jam. 75 km/jam
3 116 km/jam 118 km/jam. 90 km/jam
4 131 km/jam 132 km/jam. 120 km/jam
5. N/A 157 km/jam 150 km/jam

*hasil knalpot standar, test oleh Kang Taufik, beliau lebih ringan 30kg dibanding saya.

Mencapai redline mulus sekali dan nafasnya lebih panjang.

3. Tampilan dan suara

Black Carbon ini lebih rapi finishingnya. Bracket utk dudukan sudah dilas rapi pada badan silencer. Berbeda dengan blue yang harus menggunakan gelang brakect.
Untuk suara, anak saya Regis dan tetangga depan rumah (yang ikut “dipaksa” mendengarkan suara knalpot setiap pagi 🙂 )merasa Black Carbon lebih bulat dan ngebas suaranya.
Saat revving up menjelang redline, Black Carbon juga warna suaranya tetap konsisten. Sementara Blue ada kecenderungan berubah dan jadi agak pecah.

Jadi mana yang saya pilih?

Dua2nya. Untuk Harian, saya akan pakai Blue yang lebih cocok utk stop and go

20130414-075811 PM.jpg

Sementara utk weekend ride atau touring saya lebih memilih Black Carbon. Toh bongkar pasang silencer hanya butuh tang, kunci 14 dan 5 menit waktu.

20130414-081414 PM.jpg

ARTIKEL TERKAIT:

Review Knalpot Prospeed Blue series

Dynojet Test Knalpot Prospeed – Blue versus Black Carbon

User Review Battlax S20 pada Ninja 250FI

Selamat malam Bro dan Sis

Sudah genap kurang lebih 3000 km battlax S20 terpasang di Bianka.
Sudah dipakai untuk ke Lembang pp, juga untuk harian kerja hampir 2 bulan lebih.

Saya mulai merasakan menjadi terbiasa. Nahh berarti ini saatnya menulis review.

Selama menggunakan ban standard IRC, untuk touring maupun harian, saya sudah beberapa kali mengalami slide saat menikung. Bahkan pada lintasan lurus saat mencoba knalpot baru di bawah hujan, ban sempat mengalami spinning. Berkintir cepat mencari jejakan.

20130107-052214-AM.jpg

Setelah hampir 4 bulan (Sept 2012- Januari 2012) memakai ban standard dan daripada kenapa2, saya memutuskan untuk mengganti ban dengan yg performanya lebih baik.

Yang terbayang di pikiran hanya ada dua pilihan
Bridgestone BT 090 (sport) yg soft compound atau Bridgestone S20 (Sport Touring) yg dual layer medium soft compound.

Bagaimana dengan merk ban lainnya? Sempat coba tanya kanan dan kiri ke komunitas Ninja NEX, NIO dan komunitas campuran lainnya. Sebagian besar merekomendasikan kedua ban tersebut dengan kecenderungan lebih ke BT 090.

Baiklah, dgn anggaran yang terbatas saya engga bisa coba-coba dengan sesuatu yang baru.

Pilihan dijatuhkan kepada S20 setelah melihat jumlah kilometer yang bisa diraih dibandingkan dengan BT 090. Bianka saya gunakan harian, bukan hanya utk racetrack, atau weekend. Saya butuh ban yg awet harian namun juga cukup mencengkeram di tikungan.

Setelah berburu online dan offline, akhirnya saya memutuskan satu toko di Bonjer 3 utk berbelanja. S20 satu set 120/150 dibanderol 2.3 jt, sementara BT90 pada kisaran 2.7jt.

IMG-20130125-00128

Coba tanya dan tunggu S20 yg 120/160 namun ukuran 160 sulit sekali didapatnya. Dari tanya2 memang velg Ninja  250 FI dpt menerima ukuran 160 yg pastinya best look namun 150 most recommended utk best performance. Ada yg ga setuju? img_battlax_s20_05 Sedikit pelajaran saat memasang ban. Ternyata tidak semua toko ban mobil, paling tidak di bilangan BSD, meskipun peralatannya lengkap cukup pede untuk memasang ban motor, terutama kalau mereka belum terbiasa untuk bongkar pasar roda dari sepeda motor.

IMG-20130125-00127

Begitu terpasang, Bianka pun saya hela pulang.

Ya ampun … hampir jatuh saya.

dari posisi tegak atau upright lalu mengayun miring ke sisi hampir tidak ada tahanannya.

bridgestone2

sekian lama dg Ban IRC, dengan tapak cukup rata, kita selalu cenderung dlm posisi tegak. Utk bisa miring, kita harus cukup menekan. Ada effort atau upayanya. Saat akan cornering, kita sudah mempersiapkan sepersekian berat badan untuk membujuk motor miring mengantisipasi gaya sentrifugal.

Ninja adalah masternya understeering. Cenderung melebar. Sebagian faktor, selain sasisnya, menurut saya adalah dosa dari ban bawaan yang bertapak datar dan licin ini.

Dengan S20, yang terjadi justru kebalikannya. Motor cenderung oversteering. Saat kita entering corner, ban belakang justru seakan menawarkan atau menarik ke bawah. “Ayo masih ada”.  Cukup kaget awalnya hehe..

IMG_4743

Setelah 3000 km saya cukup puas, hampir semua sisi ban sudah saya pakai utk mereng-mereng hehehe. Tinggal kurang 1 cm lagi sisi luar ban yang belum dipakai.

Ini perbandingan dengan ban kawan2 lainnya.

IMG_4741 IMG_4740

Kesimpulan Akhir.

Dengan anggaran 2.4 juta, Battlax S-20 adalah investment yang perlu dilakukan. Baik demi keselamatan maupun kenyamanan. Ban ini secara total merubah feeling mengendarai Ninja. Memperluas confident zone kita dalam bermanuver. Yang awalnya ragu karena mudah slide, sekarang malah nyari rute2 yang memungkinkan cornering hehe. Efek jeleknya jalan sering muter mungkin ya

Dynotest Knalpot Prospeed – Blue versus Black Carbon

Saya dikontak Bro Bie Hau, penggede Prospeed.

“Bang, mau ga Blue seriesnya di dynotest dibandingin dengan standard utk artikel otomotif”

“ayo”

setelah janjian waktu, akhirnya kami ketemuan dg om Binbin di Aerospeed, markasnya SBS racing team di Jl Haji Nawi, Jaksel. Dr otomotif hadir meliput Bro Opick dan Cameraman, sorry bro gw lupa namanya hehe.

IMG-20130308-00733

Aerospeed Jl Haji Nawi 74

Aerospeed Jl Haji Nawi 74

Baca lebih lanjut

Review Helm GIVI HPS 50.2

Selamat hari Sabtu siang ..

Semoga acara kita semua berjalan lancar weekend ini Bro dan Sis.

Saya butuh helm full face baru. Yang lama (yang saya pakai di gravatar pictures diatas) sudah berumur 6 tahun. Busanya mulai mati dan terasa longgar.

Ganti helm full face apa ya?

Utk helm tentu pilihannya banyak, tergantung budget dan kebutuhan.

Saya mencukupkan diri saya dg budget dibawah 2 jt rupiah asalkan cocok grafis dan modelnya dengan saya dan Bianka. Jangan sampai grafisnya nabrak dan ga cocok.

Baca lebih lanjut

Asisten Pribadi utk Ngegas – Ninja 250FI

Selamat malam Bro dan Sis..

Semoga long weekendnya berjalan baik.

Kalau teman2 pernah/sering perjalanan agak jauh/touring, tentu pernah mengalami pegal pada otot2 telapak tangan akibat mencengkeram handle gas.

Tidak seperti mobil, teknologi Cruising control tidak jamak pada sepeda motor. Handle gas ya harus digenggam kalau tetap ingin kendaraan berjalan.

Sampai bbrp waktu lalu saat main ke Ace Hardware, saya menemukan benda kecil bernama Accelarator Assisstant Mat. Ah apa pula ini?

Baca lebih lanjut

Review Knalpot Prospeed Blue – Ninja 250 FI

Selamat pagiii

Selamat kembali dr liburan panjang utk yg berlibur.

Welcome back to the real world .. Hehe..

Sebelum memulai minggu kerja yang bakal panjang, di subuh ini saya ingin sedikit menulis review atas knalpot Prospeed Blue yg sdh mengabdi selama dua tahun hari belakangan.

Bro dan Sis, kalau kita ngobrol tentang aftermarket exhaust utk Ninja 250 FI sebenarnya ada bbrp pilihan yang beredar di pasaran. Mulai dr VRX Sportisi, Yoshimura, Akrapovic, R9, Nassert Beet, Prospeed, Arrow, Two Brothers, Leopold Vince dan beraneka ragam lainnya. Belum lagi yang kreasi lokal atau custom dr bengkel knalpot.

Banyak sumber bisa menjadi acuan dalam memilih. Misalnya hasil Dyno test yang dimuat di media yang memperlihatkan perbedaan antara berbagai produk. Selain itu bbrp video yg diupload di youtube juga dapat memberikan gambaran atas penampilan dan suara.

Sumber lain adalah ngobrol dengan user atau saat melihat sendiri di jalan hehe

Pertengahan Agustus lalu, Otomotif membuat perbandingan, yang menurut saya jadi ukuran seberapa siap dan serius sebenarnya para produsen mengembangkan Research and Development untuk mengisi kebutuhan produk yang baru saja launching.

20130107-043720 AM.jpg

Buat saya selain kenaikan Horse Power, yang tidak kalah penting adalah grafik yang naik secara stabil dan tidak ada drop. Grafik di atas memperlihatkan bbrp produk drop di kitiran RPM 8000 sampai 10,000. Range yang menurut saya justru kritis. Yg grafiknya masih bagus disitu ada dua, apa saja? ayo lihat sendiri hehe
Kriteria kedua, saya juga mencari yg suaranya adem dan ngebas, tidak yg racing melengking. Yang istilahnya socially acceptable. Ga bikin masalah dg tetangga hehe.

Dan yang kriteria yang ketiga, pastinya yg harganya cocok. Makanya Nassertbeet yg mahalnya selangit (buat saya) engga dilirik babar blas.

Dengan mempertimbangkan harga, suara dan performa, ada dua besar yg saya pikirkan: Akrapovic dan Prospeed.

Akrapovic

20130107-044421 AM.jpg

Prospeed

20130107-044634 AM.jpg

Pilihan kemudian jatuh pada Prospeed, Akra sudah banyak sekali beredar, plus apalagi stlh mendengar Akra KW juga sudah mulai produksi dimana2.

Dari bro Herry group NIO (Ninja 250 Injection Owner) saya dapat kontak Bie Hau dan kemudian Sabtu kemarin janjian utk ketemu. Meluncurlah saya dan Regis, anak pertama saya (11th) dari Serpong ke workshopnya.

Bro Bie Hau ini orangnya asyik banget, sangat informatif dan sabar. Mau nanya apa saja diladenin. Dari pengalaman, engga banyak pedege yang seasyik ini.

Kurang dari sejam, Prospeed yg blue series pun terpasang.

20130107-044458 AM.jpg

Capcus, Biankapun diajak pulang…

Review Suara

Kesan pertama saat melihat tampilan terpasangan dan suaranya memang wahh sekali. Lebih baik ketimbang yang ada di youtube, karena range bass nya kurang terdengar disana. Suaranya berdenyut ngebass ke bawah. Rumble ….. Saat saya test decibel suaranya pada RPM 12,500 noise level menyentuh 95 DB atau hanya selisih 2 angka dari raungan maksimal knalpot standard. Artikel mengenai tes decibel knalpot standard ada disini.

Saya senang sekali dg timbre (warna suaranya) Prospeed yg Blue ini. Ngebas, tidak lebay, saat RPM naik juga tidak pecah. Hanya saja kalau habis ditarik, lalu mendadak tutup gas, dia akan “berdeham” sekali. Bukan nembak ya (pengalaman sbg Scorpio rider nih hehehe).

Review Performa

Selama dua hari ini perbedaan yang paling terasa buat saya adalah pada panjang nafasnya.
Kalau bro dan sis pernah bawa Ninja 250 FI, mungkin akan kerasa bagaimana torsi bawahnya Ninja itu nafasnya engga panjang dan harus sering ganti gigi pada gigi bawah.

Jadi berubah Bro..

Saya bawa Bianka minggu pagi ke daerah Foresta BSD untuk ditest range kecepatan per gigi. Hujan gerimis semenjak subuh. Yah tetap maju terus..

20130107-050133 AM.jpg

Kondisi motor standar habis. Tidak ganti injector, no PCV, ban sutandar yg licin itu.

Gigi baru saya pindah saat RPM menyentuh limiter. Untuk akurasi speedometer bisa dilihat di artikel saya yang ini.

Gigi Kecepatan
1     55 km/jam
2     84 km/jam
3     116 km/jam
4     131 km/jam

Data di gigi 5 tidak bisa didapat, krn saat kecepatan di 142 km/jam (sementara RPM belum mentok), ban belakang (standard) menunjukkan gejala spinning (berputar melebihi kecepatan jejak) dan bergoyang mencari jejakan. Genangan air kecil ada dimana2. Ini nampaknya yg membuat aqua planning (ban tidak bisa menjejak aspal dg baik akibat tekanan permukaan air) dan kemudian spinning.

Karena tidak punya data utk knalpot standar, saya coba lirik hasil test ridenya kang Taufik dgn Ninja 250 FI standard.

Gear 1 bisa mencapai 45 km/h
Gear 2 mencapai 75 km/h
gear 3 mencapai 90 km/h,
Gear 4 mencapai 120 km/jam
Gear 5 mencapai 150 km/h

Lumayan signifikan berbeda ya hasilnya

Kalau kang Taufik yg ngetest knalpot Prospeed mungkin hasilnya bisa lebih baik lagi. Krn beliau lebih berpengalaman dan postur tubuhnya lebih kecil dan JAUH lebih ringan hehe. Apalagi kalau bro dan Sis pakai ban kompon lunak seperti BT 090 DAN tidak di hari hujan.

Untuk sementara reviewnya itu dulu, anak2 saya sudah bangun pagi dan ini hari pertama sekolah. Rencananya minggu ini akan service yg kedua ( sudah 4600 km), sekalian resetting ECUnya.

20130107-052214 AM.jpg