CBR250RR + Slip-on Exhaust Sportisi VRZero: Kombinasi Tepat. Perkuat Tenaga di RPM Bawah-Menengah.

 

Mungkin pendapat saya bias karena tunggangan harian yg berbeda cc-nya, tapi menurut saya pada RPM menengah CBR250RR kurang padat tenaganya. Bagaimana cara mengakalinya?

 


 

 

Tapi sebelumnya mari kita lihat data real dynotestnya.

compare250

 

Ternyata temuan Dynotest juga menunjukkan pada RPM medium 7000-9000 RPM, tenaga CBR250RR cenderung 1-2 HP dibawah R25. Salah satu cara mengakalinya yang sederhana:

Penggunaan knalpot slip-on dengan volume muffler yang kecil. Pendekatan ini banyak dipakai pada generasi 4 tak untuk mengail tenaga pada putaran bawah dan menengah.

Hanya dalam waktu setengah jam, mas Imam, mekanik andalan Sportisi sudah berhasil membuat adapter pipe slip-on untuk silencer andalan desain Sportisi. Ada dua varian slip-on yang terpasang. Satu yang berdimensi besar, VRX, yang dulu berhasil membuat Sabina, R25 saya meraih tenaga di 33 DK. Serta satu lagi yang berdimensi kecil VRZero.

Artikel kali ini akan membahas VRZeroberdimensi kecil bulat.

 

20161119_171126-001.jpg

 

Dari segi suara, alamak, suara CBR250RR yang kalem berubah jadi lantang merusak keseimbangan emosi lelaki yang mengalami penuaan dini. Roaarrrr roarrrrrr ….. Bikin panas bergejolak hati.

 

Dari segi tampilan, perlu dipoles sedikit. Memang untuk keperluan racing agak masakbodo dengan tampilan. Tapi untuk harian bisa dipercantik sedikit. Baik dari segi bahan maupun tampilan.

 

Sebelum di test kita lihat dulu Dyno Runnya: wuihhh cukup dengan slip-on tenaga naik hampir 0.5 DK. Sebaran tenaga di kurva tengah juga sedikit lebih baik.

 

Okelah the test is in the pudding. Jangan hanya berteori, enak atau engganya harusnya dicoba langsung. Saya gelandang ke jalan. Begitu masuk di gas sejak awal, bedanya langsung terasa. Tenaga tersalur lebih padat dan seketika. Duh biyung….

Karakter suara VRZero terasa konsisten tidak pecah dan nyaman di dengar di teriakan atas.

Lalu lintas padat di sekitar Rawamangun pun lebih mudah disibak. Baik karena hadirin dan hadirat jalan raya tahu/sadar ada raungan motor mendekat. Maupun karena lepasan tenaga di kitiran bawah menengah jadi lebih mengisi.

Honda CBR250RR + Exhaust Sportisi VRZero 1-007.jpg

Karena kepadatan lantas saya tidak bisa merasakan performa pada kitiran atas. Namun untuk stop ’n go, exhaust ini pas banget. Menutupi powerband CBR250RR yang cenderung kurang padat di putaran bawah kalau dengan knalpot standard.

Ini. Ini yang menurut saya karakter yang lebih tepat untuk riding dalam kota. You got the attention. You got the power.

Iklan

Komparasi dan Analisa Tenaga Ninja 250 VS R25 VS CBR250RR Diatas Dynotest (Part 2)

Kalau di tulisan sebelumnya kita diskusi tentang perbandingan karakter tenaga dari 3 riding mode, kali ini kita akan membandingkan antara CBR250RR dengan dua rivalnya yang sudah terlahir duluan: Ninja 250FI dan R25.

Ini merupakan hasil test yang dilakukan oleh para punggawa Sportisi (mas Bram, Mas Koko) dan jurnalis kawakan dari Otomotif, kang AAN dengan menggunakan CBR250RR unit test milik AHM.

Motor yang diisi Pertamax 92 dinaikkan. Dilakukan run pada masing-masing riding mode hingga didapat nilai tertinggi. Diberika jeda kepada mesin agar temperatur tidak berlebihan. Untuk Sport Plus, run dilakukan hingga 8 kali dengan hasil yang mengagumkan: 31.06 HP dan torsi 19.16 Nm! Standard lho ini ya.

screen-shot-2016-11-22-at-1-13-25-am

Perbedaannya cukup signifikan dengan rivalnya.

R25 standard produksi 2014 tercatat pada angka 28.61 HP dengan torsi 18.60 Nm

Sementara Ninja 250FI yang teknologinya sudah berusia 4 tahun tercatat  pada 25.85 HP, 17.81 Nm.

compare250

Jika kita analisa lebih lanjut, grafik menunjukkan beberapa hal:

  1. CBR dan R25 memiliki karakter dan besaran tenaga yang mirip pada RPM 4000 hingga 7000. Saat test ride dijalan saya juga merasakan kemiripan ini.
  2. R25 kemudian memiliki keunggulan di RPM 7000-9000. Meninggalkan CBR hingga hampir 2 HP di rentang ini. Namun kemudian melandai setelah RPM 10.500. Temuan ini konsisten dengan test R25 saya, Sabina. Tenaga mulai menurun di RPM 12.300
  3. CBR250RR memiliki karakter tenaga yang meledak di atas.Tenaga menanjak dengan sudut lebih tajam keatas semenjak RPM 8000 hingga 12.000. Praktis tertinggi dibandingkan rivalnya semenjak RPM 9000 ke atas. Puncak tenaga pada RPM 13.000. AFR (Air Fuel Ratio) pada RPM bawah terlihat kering (sehingga emisi bagus), namun pada RPM rentang atas AFR nampak sekali lebih basah untuk memastikan mesin tetap bertenaga (tapi sedikit lebih boros). Ini KUNCI dari riding mode Sport, dugaan saya. Pada Comfort Mode, ledakan tenaga atas tidak dibutuhkan, sehingga AFR pada RPM atas dikunci tetap lean/kering/irit dan tenaga tertahan.

Temuan yang menurut saya menarik.

Sepertinya Honda memang mendesain CBR250RR sebagai anti-thesis dari R25. R25 sendiri dikembangkan Yamaha  sebagai anti-thesis bagi Ninja 250FI.

CBR250RR bermain di area performance tinggi yang pada R25 standard area itu dikunci (secara elektronik dengan ECU versi produksi massal) oleh Yamaha dengan pertimbangan durability.

Ini menyebabkan dalam kondisi standard yang direstui pabrikan, di atas dynojet test CBR250RR standard – tanpa diapapun – memiliki performa tertinggi.

Mungkinkan Ninja 250 dan R25 menyamai performa itu? Untuk Ninja 250 mungkin sebaiknya menunggu revisi major tahun depan. Sementara untuk R25, rider harus membuka kuncinya dengan menggunakan piggyback (artikel terpisah).

Good Job Honda utk CBR250RR!!

 

15078786_1161509617279005_4187673583472958412_n

 

 

Mengapa Saya Memutuskan Membeli Motor 250cc, kali ini, CBR250RR?

 

Reaksi kaget saya dengar ketika teman-teman pembaca, termasuk rekan blogger lain, tahu saya ikut inden CBR250RR. Apalagi saya memasukkan inden tergolong awal. Fotokopi KTP sudah saya titipkan sebelum saat launching. Dan DP segera dibayar begitu mekanisme online diumumkan. Kenapa mas Leo?

 

img_4265

 

Jawabnya: kenapa tidak?

 

Ini seperti déjà vu. Tahun 2012 dan 2014 saya menulis artikel serupa ketika membeli Ninja250Fi dan R25.

 

Ya itu tahun berapa mas, ngapain lagi mas Leo beli motor 250cc, bukannya sudah pakai ZX10R? 4 silinder 1000cc, kenapa ga move on, move up dan pergi sana?

 

Hehehe…

 

Mengapa 250cc? menurut saya, dengan skema PPN BM seperti sekarang ini, ke depannya 250cc merupakan kelas premium dimana SEMUA pabrikan akan all-out mengeluarkan semua jurus dan reputasinya menghadirkan produk terbaik. Disini battlegroundnya. Flagship? Bukan moge. Brand war tidak terjadi di kelas moge. Akan di 250cc, Lebih sengit daripada yang ada sekarang.

 

Ini adalah kelas intermediary, kelas antara, dimana teknologi dan pendekatan motor kelas 100-200cc, yang merupakan mayoritas pundi uang pabrikan, didefinisikan. Dan sebagai bike enthusiast ini menarik untuk saya ikuti.

 

Motor 250cc standard tidak memberikan hentakan torsi pada level yang saya suka dan butuhkan. Once you go up above 500cc, your heart remains there. TAPI kelas 250cc masih tetap merupakan kelas praktis di kondisi Indonesia. Keseimbangan antara kebutuhan medan, performa, dan nilai ekonomis bertemu.

 

Oke oke, tapi mengapa CBR250RR?

 

Pertanyaan ini diajukan oleh dua teman blogger papan atas saat ngobrol santai di Sentul. Jawaban saya, karena CBR250RR adalah interpretasi (tunggal) Honda Global atas sportbike 250cc. Semua kreasi dan daya upaya Honda curahkan untuk mendefinisikan seperti apa motor sport 250cc yang menyandang nama Honda seharusnya.

 

Untuk bertarung di sportbike 250cc, Kawasaki mengandalkan nama besar dan desain Ninja-nya, Yamaha dengan aura racingnya, bagaimana dengan Honda sendiri?

 

Berbekal pengetahuan teknis dari semua motor sport 250cc yang ada, kecenderungan pasar serta kelebihan dan kekurangan strategi dari para competitor, Honda tentunya memiliki keuntungan dalam menghadirkan CBR250RR.

 

Dan untuk betul-betul mengerti itu saya sendiri, mungkin teman lain berbeda, ga bisa hanya baca brosur atau test ride, harus merasakan sendiri soul sebenarnya dari CBR250RR ini.

 

Salam pelajar!

Test Ride RC213V-S: Ya Ampun Entenge

Di artikel sebelumnya saya sudah cerita bagaimana Honda memberikan privilege kepada para indener CBR250RR dan Big Bike Owners untuk mengenal lebih jauh dan personal RC213V-S.

Tanggal 24 Oktober 2016 pagi, Saat tiba di Sentul, peserta sudah disambut dengan hidangan pengganjal perut pagi. Excitement atau kegairahan sepertinya sudah terlalu membuncah, saya langsung menghadiri briefing yang dijelaskan oleh legenda balap: M Fadli.

14729192_1137329016363732_2704051487971647327_n

Baca lebih lanjut

Update: Honda CBR1000RR edisi Euro-4 2017

 

Sembari nunggu launching CBR250RR yg, khabarnya, akan dilakukan beberapa hari ini di pusat Jakarta, kita pantengi dulu abang terbesarnya: CBR1000RR 2017. Setelah hampir 10 tahun tidak mengalami perubahan yang mendasar, Honda akan melepas edisi update 2017 dari si pedang api, CBR1000RR. Baca lebih lanjut

Informasi Lebih Jauh Mengenai Kebijakan Honda Discontinue CBR600RR

Pertama, ini belum merupakan statement resmi alias official statement dari Honda Pusat.

Kedua, alasan discontinue merupakan kombinasi beberapa faktor sekaligus: tidak hanya persoalan Euro-4.

Ketiga, pola gerak sportbike Honda memungkinkan munculnya kelas baru supersport.

IMG_0497

 

Mari kita bahas satu persatu.

Baca lebih lanjut