[Regis] 2021 Yamaha Aerox: Taringnya makin tajam!

Jadi kemarin saya diberi kesempatan oleh Yamaha untuk test si new Aerox.

Di pagi hari kami kumpul di DDS Yamaha Cempaka Putih. Sedikit briefing lalu naik bus ke Sentul kecil.

Ruangan briefing pagi

Di hari itu ada 2 main event. Time trial di sirkuit dan Eco challenge yang selain dijadikan sebagai tes jalanan raya juga diadakan sebagai tes untuk melihat seberapa irit motor Aerox ini.

Saya sama sekali belum pernah ke Sentul kecil jadi excitement masuk ke sirkuitnya itu besar.

Saat turun dari bus, saya disambut oleh 3 Aerox yang sedang muter-muter di trek dan pelan-pelan terlihatlah si Sentul kecil ini. Sedikit kaget karena treknya jauh lebih besar dari apa yang ada di pikiran sebelumnya.

Kita ngumpul di dalam gedung, lalu di briefing run-down acara, layout trek, dan lain-lain.

Briefing di sirkuit oleh mas Danu

Usai briefing saya mulai jalan ke tenda dimana motor-motornya berada. Impresi pertama melihat desain Aerox baru ini adalah bagaimana nyang baru ini kelihatan lebih gagah dan cakep desainnya dibanding versi lawas. Garis bagian depan yang menelusuri lampu terlihat mencolok.

TJAKEP!

Tapi justru saat melihat ke bagian buritan saya sedikit kecewa karena seakan-akan tidak menyimbangi kerennya bagian depan motor. Tapi itu mungkin karena harapan saya setelah melihat bagian depan motor sudah tinggi.

Motor saya bernomor 14 dan ada di group yang terakhir. Ga lama kemudian saya turun di trek.

Jadi kami diberi 5 lap, 1 lap untuk sighting dan warm up lap lalu 4 lap untuk time trailnya sendiri.

Begitu bendera start diangkat, dan gas saya puntir, hal pertama yang dirasakan adalah tenaganya yang galak. Powerband dari bawah sampe atas konsisten dan berisi berkat VVA yang dibenamkan. Dan juga faktor Power to Weight Ratio (PWR) yang terbaik di kelasnya, membuat akselerasi lebih tajam.

Handlingnya? WOW! ringan dan nurut banget motor ini saat melibas tikungan-tikungan pendek. Sampe lupa kalau lagi naik matic.

This image has an empty alt attribute; its file name is image-7.png

Suspensinya untuk di trek bisa saya bilang nyaman dan pas. Tidak terlalu empuk dimana saya kehilangan feel ban depan ataupun terlalu keras dimana jadinya ga nyaman. Belum lagi aspal di Sentul kecil ini kan banyak tambelannya XD.

Impresi rem depan responsif!! Bisa melambatkan motor dengan baik sebelum masuk ke tikungan-tikungan. Untuk rem belakang, awalnya saya sedikit ragu karena masih pake tromol. Tapi saat di trek saya ga nemu masalah apapun terkait rem tromol karena buktinya ok ok saja setelah dipake untuk trail braking.

This image has an empty alt attribute; its file name is image-4.png

Meskipun rem tromol new Aerox ini pakem, muncul pertanyaan kenapa Yamaha tidak pake disc brake untuk bagian belakangnya. Secara definisi, Aerox adalah sebuah persilangan antara sport dan matic, tentunya untuk rem depan & belakang sebaiknya pake disc brake yang performanya lebih baik daripada tromol. Sehingga untuk Aerox yang versi ABS, Yamaha bisa membenamkan dual channel ABS. Dugaan kuat saya adalah pertimbangan harga, karena jika dipasangi disc brake untuk belakang dan dual channel ABS, maka harganya bisa tembus diatas 30 jutaan, menyamai Nmax. Sementara pricing Aerox ini utk menghadapi kompetitor di kelas harga 25 sampai dengan 30 juta.

Di lap terakhir bendera finis dikibarkan dan selesai lah time trialnya.

Sekarang saatnya rehat dan makan siang!!!

Makan siangnya adalah nasi goreng dan telur sambil berbincang-bincang bersama om Triaz, kak Arta dan kak Sinta.

Setelah makan, saya dan om Triaz keluar ke trek lagi untuk tes si Aerox lebih further dan biar ga bosen hihi. Kali ini saya tidak terpaku dengan mindset time trial melainkan memperbaiki racing line dan have fun.

Ada satu lap dimana ada biawak di tengah trek. Di Aussie ada burung camar di trek, kalau eropa kelinci, di Indonesia ada biawak hahaha HARDCORE!

Setelah muter-muter di trek sampai mabuk, kita akhirnya keluar trek dan istirahat lagi.

Tidak lama kemudian kita briefing lalu siap-siap untuk Eco challenge sambil ke arah balik DDS. Di challenge ini si peserta akan dilihat seberapa irit jalannya menggunakan si new Aerox. Makin irit penggunaannya semakin banyak poin yang di dapat dan bisa menang. Datanya akan di record melalui app Y-connect ini.

Jadi kita pertama harus mengoneksi HP ke motor menggunakan aplikasi Y-Connect yang bisa di download dari Play Store atau App Store. Registrasi akun lalu scan barcode atau kode vin. Nanti terkoneksi dan informasi mengenai motor bisa diakses.

Nah nanti di Speedometer akan ada icon “App” dan battere yang menandakan bahwa HP bro sis sudah terkoneksi.

Icon “App” dan battere nyala jika terkoneksi dengan HP

Tapi ada satu hal yang menurut saya krusial. Yaitu jika bro dan sis mau hp dan motor tetap terkoneksi terus menerus, maka bro dan sis harus tetap menyalakan internet alhasil pengunaan kuotanya jadi lumayan.

Oh iya Speedometer new Aerox ini juga mengalami perubahan ya. Jadi dimana tachometer yang versi lawas ada diatas, versi anyar sekarang ada di kiri dan kanan. Indikator bensin sekarang ada di bagian bawah dan indikator kecepatan ada di atas.

Layout speedometer & notifikasi Y-Connect

Setelah semua motor terkoneksi, kami ada sesi foto2 sebentar lalu dimulai lah si Eco challenge ini.

This image has an empty alt attribute; its file name is image-2.png
Rute dari sirkuit ke DDS Yamaha Cempaka Putih

Belum lama keluar dari sirkuit kami disambut oleh jalan berbatu dan semi berlubang. Disini terasa kalau suspensinya new Aerox ini sedikit stiff atau keras buat saya. Ga tau kalau memang karena masih masa inreyen atau memang settingan suspensinya segitu.

Dan semakin lama saya di jalan raya, gundulan, tambelan jalan makin terasa. Saran saya jika bro dan sis beli motor ini, mungkin suspensinya diatur agar menyesuaikan dengan berat badan bro sis.

Di Eco challenge saya berusaha se irit mungkin dan tidak bejek gas seperti biasanya. Menjaga RPM di angka 4000 dan tidak melibihi kecepatan 45km/jam. Wahhhh bosennyaaa… Di awal challenge saya masih semangat tapi begitu ngelewat Depok saya udah ngua-nguap aja dan capek aja XD.

Kondisi jalan sih padat tapi ga sampe ga bisa gerak sih

Di jalan raya inilah tenaga dari mesin VVA Aerox benar benar terasa dan terpake. Stop and go rasanya mudah dan ga usah mikir. Apa mungkin karena di rumah saya pake Honda Spacy, pake Aerox jadinya wow banget hahaha

Setelah satu setengah jam perjalanan akhirnya saya sampe. Capek, pegel, sakit hati, eh. Kami diberi makan malam yaitu nasi padang di box, uhuy.

MAKAN DULU SOBBB

Jadi kesimpulannya, jika bro dan sis di market untuk matic 150cc untuk harian, maka Aerox ini patut untuk dipertimbangkan. Value banget di kelas 25 juta! Handling yang ringan dan mesin VVA adalah kombinasi yang cocok untuk kondisi stop and go di kondisi harian. Hanya saja kalau saya akan mengatur suspensinya supaya cocok dengan berat badan.

Ok bro sis iitu dulu dari saya, semoga tulisan ini bermanfaat dan sampai jumpa!

11 thoughts on “[Regis] 2021 Yamaha Aerox: Taringnya makin tajam!

  1. menarik! saya sudah bosan dengan nmax 2016, ada keinginan ganti aerox tapi aerox lama lutut saya ga masuk di fairing depannya, alias sering kepentok tonjolan fairing yg menyudut. Apakah di Aerox baru ini lebih “lutut friendly?” FYI, TB 175cm BB 74kg. terima kasih

    • Yang pasti ruangnya ga seluas Nmax. TB saya 171cm dan lutut saya sih masuk. Tapi waktu test di jalan raya, saya ada dua kali ga sengaja nyundul kompartmen glove box di sebelah kiri dan kebuka. Jika mau lebih pasti, saya saranin mas nyoba duduk di motornya supaya bisa tau ukuran sebenarnya. ~Regis

  2. Apakah dengan tidak hadirnya RDB di new aerox ini juga jadi strategi YIMM dalam menghadapi market Vario,
    secara teori sebentar lagi pasti vario juga akan di facelift dengan mesin 157CC (issu e nya ) begitu next vario hadir , YIMM akan mengupgrade aerox gen 3 , dengan fitur yang lebih value misal hadir dengan RDB dan mungkin monoshok ( basis smax taiwan) dibanding kompetitor?

  3. Ngeri dorongannya nasgor vs naspang🀣 Btw tumben g posting di FB lg om..hehe

    Pada tanggal Jum, 13 Nov 2020 05.45, 7LeopoldRegis7 menulis:

    > Leopold S posted: ” Jadi kemarin saya diberi kesempatan oleh Yamaha untuk > test si new Aerox. Di pagi hari kami kumpul di DDS Yamaha Cempaka Putih. > Sedikit briefing lalu naik bus ke Sentul kecil. Ruangan briefing pagi Di > hari itu ada 2 main event. Time trial d” >

  4. Kebiasaan Yamaha, unfinished business. Saya tuh lihat banyak model Yamaha yang bagus di bagian Depan tapi bagian lain seperti ga serius
    Contoh
    1. Nmax Old, depan bagus tapi bagian belakang meski tidak jelek namun tidak mengimbangi bagusnya desain di depan.
    2. Aerox Old dan New, saya suka depan tapi bagian belakang seperti ala kadarnya
    3. Mio S, ceritanya mau dibikin unyu-unyu tapi desain bodi belakang malah tetap pakai punya M3.. Hadeuh…
    4. R25 Old, desain dari depan sampai belakang Ok, tapi kabel gas sama rem semrawut. Ga rapi
    5. MT25 Old, Alisnya bagus tapi headlamp jelek, ini juga satu-satunya MT yang pakai Jok Split seat
    6. Semua MT series itu, dengan desain bagian depan yang Wow, saya merasa desain lampu belakang cuma sekedar pelengkap atau syarat road legal aja, ga ada ada yang di desain serius, beda dengan XSR series yang desainnya jauh lebih komprehensif.

    Tapi ya itu masalah selera aja seh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s