Royal Enfield Interceptor 650: Karakter Mesin dan Build Quality Diatas Harga Jualnya.

 

 

Bullet dan Classic 500 memang jadi penanam image pertama dan terkuat di market tentang apa itu motor Royal Enfied: keren, tapi vibrator terberat di jalan raya. Weekend ride café to café okelah, lebih jauh lagi duhh..lemes.

 

Royal Enfield Himalayan mulai mengendurkan image itu dengan counter shaft, balancer yang membuat motor lebih ridable utk jarak jauh.

 

Then come the Interceptor 650, motor bermesin baru twin silinder.

IMG_7159

 

Jumat siang itu saya dpt kiriman foto blur dan pesan pendek dari mas Bram Sportisi “maw coba?”

 

Sempat dag dig dug krn awalnya saya kira foto blur itu sosok seorang perempuan. Duh kok saya ditawari begini, saya pikir.

Setelah download picture, barulah jelas penampakan utuh tersebut adalah Royal Enfield 650 Interceptor. Motor yang baru dirilis tahun lalu dan banyak ditunggu-tunggu.

Saya dan Regis pun beranjak menyamperi Interceptor di kediaman mas Bram.

Berikut nih sob kesan-kesan saya.

Desain dan Built Quality

Royal Enfield terkenal punya built quality yang terburu-buru dan kasar. Terutama di kelas 500cc nya. Las-las-an nya seperti tidak standard industry. Finishing catnya pun demikian. Seperti home industry atau tepi jalan jika dibandingkan kelas retro Eropa.

Tapi Interceptor ini benar-benar beda sama sekali. Sambungan yang dilas nampak rapi sekali. Kualitas material/logam yang dipakai juga sangat baik, pilihan kelas cat, polishingnya juga sangat berkualitas. Interceptor dari segi built quality berada 2-3 kelas diatas motor royal enfield yang lain. Ini sebabnya di pasaran Eropa, Interceptor mulai mengganggu pasaran Triumph Bonnevile dan motor retro Eropa lainnya.

Untuk desain Royal Enfield mempercayakan pada tim engineernya yang berkedudukan di kota tempat kelahiran Bung Regis, Leicester di Inggris. Dengan menggunakan roadster RE era 1960an sebagai basisnya. Ini sebabnya saya kira desain 650 twin ini sangat distingtif dan berkelas.

DSCF5809-006

Dan ini bukan sesuatu yang harus dipelototi untuk diamati.  Cukup lihat dari jarak 3 meter area tanki dan body, sudah terlihat kelas mid-premiumnya.

DSCF5809-009

DSCF5809-001

Ergonomi

Interceptor ini genrenya tergolong roadster. Posisi duduk nyaman, tidak terlalu tegak (pegel juga kalau tegak 90’) dengan bahu sedikit condong ke depan. Ini memberikan ruang lebih bagi kita untuk menggeser titik berat badan.

Posisi footpeg alias ijakan kaki depan sedikit mundur ke belakang. Saya duga karena Interceptor berbagi basis dengan Continental GT, versi café racer dari 650 twin.

Seat height motor ini ramah banget. Lebih tinggi sedikit dibandingkan ER6. Jok terasa sedang tingkat ketabalannya. Cukup membuat kita terduduk dg baik. Tidak amblas ataupun menggeleser doang di permukaan.

Screenshot (4)-001

Saat swerving statis diatas motor ke kanan dan ke kiri, memang terasa bobot motor ini agak diatas, centre of gravitynya (CoG) lebih tinggi. Nampaknya konfigurasi mesin twin dengan head sylinder yg besar dan tanki cukup membuat motor ini agak tinggi CoGnya.

Mesin pun dinyalakan, vrung  vrung,..vrung…vrung … duh makkkk suaranya gagah dan dalam banget. Urutan pengapian 270’ membuat suara terasa serak namun dalam.

Mas Bram Sportisi cerita kalau menggunakan knalpot standard suaranya tertahan dan tidak sedalam ini.

Damnn… gila ini .. sob mesti dengerin sendiri deh.

Saya pun menggelandang motor ini ke jalan raya menuju BSD dari rawamangun.

Terasa sob, kegagahan dan kegantengan saya naik 230%. Mestinya pake helm ¾ nih, biar gantengnya keliatan naik 500% sekalian ehehehe.,,

Karakter Tenaga

Interceptor ini bermesin 648 cc twin silinder parallel dengan pendingin udara + pendingin oli. Nafas masuk dan buang diatur dengan 8 katup SOHC. Yang menarik adalah firing ordernya 270 derajat. Membuat motor ini memiliki feel dan suara mirip dengan V-Twin 90 derajat.

Saat saya coba melintasi tengah ibukota dari sisi timur Rawamangun ke sisi barat di BSD, saya merasakan pada kitiran bawah, tidak ada gejala tersendat dan ga nyaman. Fueling sangat halus di putaran bawah, terjaga dan smooth. Begitu juga saat kita gas, smooth tapi padat bertenaga naik. Tenaga masih naik ketika limiter motong RPM di speed 70km/jam di gigi 1 dan 105 km/jam di gigi 2. Dan terasa banget, tenaga ini sebenarnya masih ngisi saat RPM dipotong. Saya ga ngerasa kurva datar atau drop dalam satu tarikan gas. Bener-bener naik ngacung terus dan terus. Tenaga ngisi padat tanpa drop sama sekali.

Saat cek spek, ternyata system injeksinya dan engine management (ECU?) sudah pakai Bosch, ya wajar aja sih kalau fuelingnya halus, konsisten dan padat banget tenaganya.

Perpindahan gigi juga sangat halus, ga kayak adik2nya yang butuh tenaga dan agak rudimentary (pake Bahasa Inggris biar ga tersinggung). Ya wajar lah wong pake slipper clutch.

Saya sama sekali ga pernah sampai pakai gigi 4. Karena di gigi 3 saja torsi dan tenaganya sudah lebih dari cukup.

Dari segi tenaga Interceptor jelas lebih wow buat saya ketimbang W800.

Kelemahannya satu. Panas mesin akan terasa mulai dari betis bawah hingga lutut. Dan ini menurut saya yg pengalaman punya motor 1200an cc twin engine ya,

Motor ini memang dirancang tanpa radiator, demi kesan retronya, dan memiliki rasio kompresi yang rendah 9,5:1. Tapi mungkin karena aturan emisi (AFR dibuat kering) dan karena didesain di Inggris, persoalan panas tidak jadi factor besar disana. Saya ga mengalami gajala overheat sih. Motor tetap handal, ga ngedrop dll, saat dibawa menembus kemacetan selama 2 jam. Mungkin kalau AFR dibasahin sedikit, dan oktan bensin 95 up mesin lebih ademm.

Handling, suspensi dan braking

Saya butuh 30 menit pertama utk menyesuaikan diri saat cornering. Karena motor ini COGnya tinggi dan cukup berat. Tapi setelah itu enak aja, dan sangat stabil. Kuncinya adalah pada antisipasi menjelang cornering medium-high speed. Siapkan pinggul terlebih dahulu. Mirip seperti bawa Er6, tapi ini lebih nurut.

Suspensi depan belakang jelas lebih baik ketimbang  RE 500cc. Tapi tidak sekelas Triumph atau W800. Ada kecenderungan under-damped. Artinya rebound terlalu cepat dan berlebihan sehingga ada gejala mengayun. Ini untuk ukuran bobot (96 kg) dan gaya riding seruntulan saya ya. Ini masih bisa diakalin tentunya dengan stell/upgrade suspensi.

Braking juga lebih baik ketimbang seri-seri RE lainnya yang agak memprihatikan. Interceptor sdh dilengkapi ABS Bybre dualbloc, tapi dengan bobot lebih dari 220kg + pengendara dan pembonceng, saya berharap pengereman bisa lebih kuat lagi.

Harga

Motor ini dilepas dengan harga sekitar 51 juta rupiah saja. Di India sana. Di Indonesia menjadi 189 juta rupiah. Mahal? Tetep masih lebih murah dibanding 650/800 retro lainnya (Triumph, Kawasaki W800 dll).

 

KESIMPULAN

Naik motor ini, bro/sis akan dapat banyak perhatian. Ga recommend dipakai kalau anda napi yang lagi jalan-jalan di luar lapas. Suara dan tampilannya memang istimewa.

Kalau anda butuh kendaraan yang klasik, dengan performa mesin modern dan kualitas yang berkelas, pertimbangkan serius Royal Enfield Interceptor 650. Harga 189 juta? worth it. Banget.

DSCF5809-008

23 thoughts on “Royal Enfield Interceptor 650: Karakter Mesin dan Build Quality Diatas Harga Jualnya.

  1. “Vibrator terberat…”
    “Gambar blurr “maw coba?”

    Pagi2 baca begini serasa bikin morning wood makin kerasa, tp begitu tau gambar blur nya bukan itu seketika jd mendadak lemessssss

    Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk

    Sorry jadi salfok babang Leo.
    Walaupun bukan genre motor kesukaan saya tp dr review om Leo kok berasa saya rela disebut “Bapak2 Tulen” asal bisa naek/punya motor ini
    😁😁😁😁😁😁😁😁

  2. Om…, artikel Himalayan RE belom lanjut ya om.

    Sama, om khan dulunya rider RC8, gimana penerawangan KTM di Indonesia? Termasuk 2 Husqy vitpilen dan svartpilen?

    Keknya om lom coba deh…

  3. Kirain gak mau dikirimin “bginian” eh “dinaikin” juga wkwkwkwkwkkwk…..
    Entahlah Om kapan negeri kita ini bisa turun aturan pajek permotorannya, hadeehhh… 51 jt vs 180an jt adohh men.

    Ulasannya masih top markotob😁😁😁 lanjutkeun….

Leave a Reply to izanagi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s