Kawasaki ZX14R: Monster Hypersport tapi juga Friendly Tourer

 

 

Saya tergolong beruntung. Punya kesempatan 2 minggu (11-23 Dec) untuk merasakan Kawasaki ZX14R di sela-sela kunjungan pulang ke Indonesia.

Saking excitednya motor tidak ditowing dari Kawasaki Pulogadung ke rumah BSD, tapi saya riding.

Screen Shot 2019-07-27 at 10.08.17 PM.jpg

Menjemput impian

 

Selama seminggu itu juga saya puas-puaskan menikmati ZX14R di atas aspal mulus di area BSD-Alam Sutra yang waktu itu belum separah sekarang macetnya.

 

Berikut catatan saya

Nama Kawasaki ZX14R selalu dikaitkan dengan atribut: Hayabusa Killer. Dan memang sejarah developmentnya dirancang oleh Kawasaki secara spesifik untuk membunuh reputasi Hayabusa. Ini sebabnya kubikasi ZX14R dibuat 1441cc sementara Busa 1340cc (1299cc generasi pertama). Juga itu sebabnya power/torsi ZX14R dipatok di angka 210HP/153 Nm, dominan di atas Busa.

Karena Kawasaki berambisi gelar “motor produksi massal tercepat” ada di tangannya.

Dengan sejarah seperti itu, saya memandangi ZX14R yang terparkir di Pulogadung di depan saya. Can I handle it properly? Cocok ga untuk riding di Indonesia?

Unit test yang saya terima adalah ZX14R standard warna merah namun sudah dilengkapi dengan knalpot Nassert-Beet.

Saat saya duduki, joknya yang lebar terasa nyaman, tidak seperti genre sport, yang irit dan ramping. Seat heightnya juga rendah hanya 800mm. Ini artinya lebih rendah daripada Er6. Bedanya karena jok lebih lebar, kaki tidak menekuk santai seperti Er6. Tapi untuk rider dengan tinggi 174cm ini motor masih sangat bersahabat seat heightnya.

 

Menyalakan mesin, derum 4 silinder 1441cc terdengar dalam banget. Sport 1000cc terdengar lebih mid-tone, apalagi yang 600cc cenderung mid to high pitch. Ini dalam terasa di diaphragma dada.

Motor saya jalankan dengan hati-hati keluar area parkir Kawasaki belok kanan ke arah Kelapa Gading dan lalu Rawamangun.

Screen Shot 2019-07-28 at 7.50.28 AM.jpg

Ada DUA catatan mental yang langsung saya buat di 5 menit pertama:

  1. Posisi stang cukup tinggi, meskipun namanya Hypersport, tapi ZX14R dari segi ergonomic ini sebenarnya sport-tourer. Tidak menunduk seperti ZX10R. Beda banget. Sedikit lebih dekat ke Ninja 1000. Hmm hypersport dengan tempat duduk sofa dan stang tinggi?
  2. Meskipun terlihat panjang, dan berat (286kg), saat jalan motor ini terasa lebih ringkas dan padat. Bobot terasa di bawah dan ditengah. Saat saya body positioning utk cornering, menggeser sedikit pinggul, terasa centre of gravity motor garis tegaknya tidak beda jauh dengan centre of gravity tubuh saya, sehingga lebih seketika. Tidak perlu menekan berlebihan.
10866241_755502821213022_3958876721615810765_o

Saat test ga lama setelah launching

Jadi ini cukup mengagetkan buat kita yang antisipasi ini master of all sport bike. Besar dan pegel. Ternyata tidak.

Biar test tambah greget waktu itu saya lewat Jalan Panjang karena sekalian singgah layat keluarga teman, jam pulang kerja lho.

Screen Shot 2019-07-27 at 10.11.09 PM.jpg

wong edan

Handling motor terasa netral dan balanced saat harus filtering jejalanan ibukota.

Low speed cruise motor ini juga sangat behave, sopan dan terjaga sikapnya. Fuelingnya perfect, tidak terasa tersengal binal. Kopling pada motor ini sudah slipper asssist clutch (sejak edisi 2012) untungnya, cukup enteng tapi punya feedback yang berasa. Ga ngelos di jari.

Screen Shot 2019-07-28 at 7.54.50 AM

Stabil dan netral

Lebih jauh riding menembus jalur ibukota dari pulogadung menuju jalan panjang via tomang saya liatin aja ini temperature motor. Maklum jack ni motor 1441cc 4 silinder.

Angka digital indicator suhu ternyata tetap berkisar antara 95-103’C. Ga sampai overheat atau berhenti. Saya bisa rasakan hembusan angina panas juga mengarah ke kaki bagian bawah, bukan betis apalagi paha. Tumit panas dong mas? Iya kalau pake sendal.

Barulah pada saat berhenti dan harus bermanuver di tengah laknatnya lalu lintas ibukota terasa motor ini panjang dan gedabang. Hehehehehe..

Screen Shot 2019-07-28 at 8.22.21 AM.jpg

Motor tidak terlihat besar saat dinaiki, kaki bisa menapak dengan nyaman.

Screen Shot 2019-07-28 at 9.06.21 AM.jpg

Dilirk BM

Saat weekend, saya galang motor ini menuju rute favorit BSD-Rangkasbitung via Jasinga. Jalannya relative berbeton dan sepi serta berliuk berliku.

 

Berangkat pagi-pagi ketika para pemuda sebaya saya masih tidur kelelahan sehabis begadang. Jalan masih dingin dan sepi.

 

Jalur yang saya lalui ini bisa dikatakan jalur yang tidak lebar. 2,5 mobil-lah. Jadi saya sudah bersiap berjaga agar jangan sampai understeer, atau kelebihan saat menikung.

 

Traction control saya nyalakan karena kadang jalanan berpasir. Power mode, low dulu mek.

 

Melemaskan badan dulu. Selepas Parung panjang, jalanan makin enak, power mode saya naikkan ke full.

 

Bobot motor yang 30 kg lebih berat dari Z800 ini membuat motor tidak gugup, terasa antepp masuk tikungan beton yang kadang agak menggerinjal. Rebound pas, tidak berlebihan mungkin karena berat tubuh saya sangat ideal.

 

Dari corner ke corner, dilalap cepat oleh ZX14R. Masuk keluar corner, memang tidak selincah motor kecil seperti ZX10R, yang lebih ringan 70kg, tapi surprisingly ZX14R ini penurut loh.

 

Saya sampai ke Rangkasbitung terasa lebih cepat. Mumpung masih panas badan, saya ngeteh dan nyenek di alun-alun sebentar, lalu gasss balik lagi ke BSD mumpung belum terlalu siang.

 

Saya seperti merasa menemukan jati diri sebenarnya dari ZX14R di jalur ini: sport tourer. Motor tourer yang sporty. Motor quasi-sport yang nyaman utk touring.

 

Untuk pengereman dan suspensi, meskipun unit yang saya coba bukanlah seri Ohlins + Brembo, namun pengereman sudah sangat memadai untuk keperluan umum. Jika ingin tampil lebih kompetitif, perlu pertimbangkan seri Ohlins + Brembo yang lebih mahal hanya sekitar 30 jutaan.

 

Gimana tenaganya mas?

 

Ada satu karakter yang khas dengan motor besar Kawasaki, terkecuali Ninja 1000. Kalau bro dan sis sudah merasakan sendiri bisa skip bagian ini.

ZX14R ini seperti juga ZX10R kenaikan tenaganya sangat halus dan linear. Berbahaya, karena kita bisa sering overshoot memasuki tikungan. Vibrasi mesin dan sasis tidak mencerminkan kecepatan yang sedang ditempuh. Saya beberapa kali kaget karena baru menyadari saya terlalu cepat untuk tikungan di depan. Lepas dari satu tikungan, fixate mata langsung pada tikungan berikutnya, karena motor ini cepat tanpa terasa cepat.

Bermesin 1441cc, ZX14R ini juga memiliki kemewahan yang tidak dimiliki ZX10R apalagi ZX6R: tenaga yang berlimpah ruah di setiap tingkatan RPM.

Naik motor 600cc 4 silinder, bro dan sis akan familiar bagaimana tenaga terasa sedikit kosong, menunggu RPM naik ke kitiran 6000-7000RPM, lalu BHAMMM! Motor melesat. Jadi grafik tenaganya agak melandai di RPM bawah, dan kemudian meningkat drastic.

Sementara dengan 1441cc 4 silinder, motor ini padat bertenaga sejak RPM 2,000, Naik terus tanpa drop dengan kurva yang cenderung linear. CC yang besar membuat torsi selalu penuh, dan tidak harus memilih di kitiran RPM mana tenaga akan meledak.

Di jalur lurus belakang Foresta, pukul 5.50 pagi hari minggu keesokannya, saya sempat merasakan arti kata hypersport pada ZX14R. Selepas lampu merah Nanyang school, motor ini melaju dengan sangat sangat stabil, Cepat tanpa terasa cepat. Saya hanya sempat lirik sekali di gigi 2 sudah mencapai 183 km/jam. Saya sempat naik ke gigi 3 tapi sudah tidak punya sepersekian detik untuk lirik lagi. The end of the road came really fast.

Hanya sekali take dari arah timur ke barat, It scares the shit out of memann…. Am I too old for this bike?

10861031_750209375075700_3648069392046107117_o

KESIMPULAN:

Nama dan tampilan motor ini agak ambigu. Orang akan berpikir ini raja drag, jagonya jalur lurus sekecang setan. Ternyata di jalur penuh tikungan, monster ini juga penurut.

Nama hypersport juga bikin kita berpikir ini motor pegel banget.

Tapi genrenya ternyata lebih ke sport tourer, dengan jok ala sofa yang rendah dan stang yang tinggi. Buat antar kota pas banget ini.

zx14t.jpg

Kelamahan motor ini adalah dimensi fisiknya ketika statis ataupun saat macet, memang besar. Dimana tenaga manual kita untuk menahan motor cukup diperlukan. Tapi ya emang gila aja kayak saya bawa motor hypersport ditest di jalan Panjang dan Gandaria.

 

 

Screen Shot 2019-07-27 at 9.56.43 PM

berat banget rasanya mbalikin motor enak ini ke Kawasaki

26 thoughts on “Kawasaki ZX14R: Monster Hypersport tapi juga Friendly Tourer

  1. Si mata laba laba.. Setelah saya baca artikel pertama, saya iseng2 browsing pengen tau kalo second berapa, e malah di situs jualo.com di post juga,warna putih dgn harga persis yg om leo tulis.. Ga ada videonya ni om?

  2. Aduh, om Leo ini sangat meracuni pikiran deh tulisan2nya. Auranya tuh motor ini terasa “mature”. Kaya lebih pantes dipake sama bapak2 daripada anak muda. Asli kepingin banget, mudah2an diberi kemudahan dan rezeki sama Allah. Amin…

    Kira2 kalo beberapa tahun lagi, Flash sale nya masih berlaku gak ya? :mrgreen:

  3. Pertanyaan iseng om maaf 🙂 , Lalu apakah motor ini masih ok untuk dibeli? Maksud saya termasuk pridenya (dalam kondisi NOS dealer)? Dalam arti sudah ada H2 sekarang di Kawasaki, bahkan zx10r masih menjadi primadona banget, memang lebih mahal, tapi lebih WAH dan lebih harum(baru)..

    • mnrt saya ya: masih. kalau butuh pengalaman yg saya sebut diatas harga ZX10R = 2.5 kali ZX14R. Lalu harga H2 juga sdh 3 kali lipatnya. Jadi dari segi harga sih masih worth it. Kalau dr segi gengsi ya tentu beda

  4. Selalu bisa menyajikan motor dengan bahasan yang tepat, pas, dan explore hal2 yg tersembunyi. Joss Om Leo.
    Mudah2an ketularan MT10 nya Om Leo atawa MT07 jg nggakpapa lah.

    —sementara disyukuri dl pake NMP Fi dulu, hiks😢😭😭—-

  5. Oh ya om Leo mau tanya juga

    Kalo kita beli barang NOS gini yang sudah ada tahunan di gudang, hal2 apa aja yang harus diperhatikan? Dan bagian2 mana yang biasanya rawan rusak?

    Pengalaman teman saya baru bulan kemarin beli barang NOS Ninja 250 F1 model 2017, seal shock depan bocor.

    Thanks..

  6. kalau menurut saya riding positionnya mirip² sama Hayabusa, sofa low seater dengan stang “tinggi”. belum lagi jok yang empuk dan posisi memeluk yang “gentle”. dulu malem² pernah bawa ke sms-2 trus parkir di dropoff ya?

  7. jadi deg2an mau minang.. sekelas om Leo aja ampe bilang “Am I too old for this bike?’.. btw thank u bantuannya Om.. semoga jodoh ama si beast ini.

  8. Matanya banyak berderet deret. Persis jumping spider. Spion juga kayak ciduk a.k.a gayung air

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s