Pengalaman Pertama Mudik Jkt-Yogya th 1999 dg Honda Tiger. Ditawari ‘sesuatu’ di hutan ..

Pertama-saya ijinkan saya mengucapkan Selamat Iedul Fitri, Mohon Dimaafkan Apabila Ada Kesalahan Lahir dan Batin.

Gimana bro/sis berlebaran bersama keluarga. Mungkin di kampung halaman?

Kebetulan suasana liburan, saya pengen share cerita santai2 saja ya: pengalaman touring mudik pertama kali pake motor.

 

Saya pertama kali mudk dari Jakarta ke Yogya (tempat keluarga besar simbah) pake motor tahun 1999. Umakkkk udah 20 tahun lalu. Saat itu yang dijadikan besutan Tiger 2000 keluaran tahun 1997. Motor pertama yang saya beli dengan uang sendiri dalam kondisi 2nd hand. Harga 12 juta rupiah, barunya sekitar 17 juta sepertinya.

48405232_2006561392773819_8651630564551426048_o-001

Motor saat touring mudik pertama kali tanpa fairing. Tapi sudah ganti ban dan velg. Tahun 2000 motor sudah monoshock by Budi Jatayu.

Tahun 1999 lebaran jatuh di bulan Januari sekitar tanggal belasan. Motor baru aja dipinang 2 bulan sebelumnya.

Sempat galau karena diminta tolong keluarga sepupu untuk ikut nyetir konvoy ke Yogya seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi sayang banget ini kesempatan eksplore motor. Kapan lagi.

Sembari mikir-mikir, sayapun nyiapin motor. Dengan referensi tabloid Motorplus waktu itu, velg dan ban saya ganti yang lebih lebar. Tambah ganteng, dah ahhh gass motor aja.

Saya masih bujangan saat itu, umur 24 thn. Jadi sorangan wae.

Untuk rute.

Saya memutuskan untuk lewat pantura. Saat itu tol ke Bandung belum ada, sehingga jalur cianjur ribeut banget.

Rencana saya ambil Pantura sampai Semarang, kongkow bentar, lalu ngidul ke Yogya.

Untuk pemilihan hari mudik.

Tahun segitu mudik juga sebenarnya sudah macet, namun tidak berkepanjangan seperti sebelum era toll Jawa. Macet juga paling hanya di H-2 puncaknya. H-1 justru mulai sepi karena orang biasanya sudah di lokasi tujuan.  Supaya bisa tarawih terakhir dan persiapan sholat Ied bersama keluarga.

Akhirnya saya putuskan berangkat sekitar tengah malam dari area Rawamangun Jakarta Timur H-1.

Ga takut begal mas? 20 tahun lalu kejahatan di jalan raya tentu ada. Tapi ga semarak dan semengerikan sekarang.

Motor dipanaskan, perlengkapan siap. Namanya laki-laki mudik ga pusing dengan oleh-oleh atau bawaan macam-macam. Cukup kancut, dan pakaian ganti bbrp helai. Cukup diikat dengan jaring ke kursi belakang Tiger yg longgar.

Era itu saya sudah pakai full helmet. Merknya duhhh lupa, tapi liverynya saya ingat bara api dengan warna dasar helm putih. Kalau ukuran sekarang itungannya norak banget motifnya. Jaket saya pakai bahan parasut (ngetop waktu itu), dengan menggunakan vest tebal. Sarung tangan bahan abal-abal yg kalau kehujanan bahan pewarnanya luntur bikin tangan belang-belang. Kalau kering jadinya kasar.

Langsungg cussss ….

Kondisi jalan tengah tengah malam sepi, cukup sejuk. Membuat partikel udara lebih padat, dan motor terasa lebih bertenaga.

Honda Tiger ini enak banget buat cruising. Tenaga padat, ergonomi nyaman, suara mbulat meskipun knalpot standard. Tidak lupa ditemani suara rantai yg setia berisiknya, ini problem bawaan rantai Tiger era itu.

Melewati jalanan daerah Bekasi, Cikarang saya jalan speed 60-60an km/jam. Maklum ga semua jalan ada penerangannya. Temen di jalan hampir ga ada. Karena kendaraan roda 4 tentunyanya lebih memilih memakai jalan tol.

Barulah selepas Cikampek jalanan mulai hidup, Jalan juga mulai lebar, dengan divider dan nyaman buat digeber. Saya masih main 80-100 km/jam utk bisa menyalip truk-truk yang bergerak lambat.

Sebelum subuh saya menjelang masuk Cirebon. Berhenti di satu pom besar untuk refueling motor dan perut. Indomie telor donggg, ga bisa salah. Minum yg banyak. Saya lupa lokasi persisnya, tapi cukup besar dan ada gasebo dimana saya parkir motor dan tidur di balai-balai di sebelah motor.

Mungkin sekitar 30 menit saya tidur, terbangun saat kondisi mulai terang tanah. Langit mulai berwarna cerah namun matahari belum terlihat.

Gasss jalan kita, udah seger banget…

Cirebon Semarang lebih asyik lagi jalannya, apalagi banyak kondisi lurus dan jalanan masih lengang. Saya masuk Semarang ssekitar jam 8.30, Ngaso di sekretrariat mahasiswa tempat saya dulu tidur dan melawan orba. Refuel lagi lalu lanjut Yogya.

Setelah jembatan tempel saya belok kiri ke arah Simbah. Lewat Turi, Pakem dan kemudian sampai di Cangkringan jam 11an. Hehehe duluan saya nyampe ketimbang rombongan mobil. Maklumm kalau konvoi banyak berhentinya.

Sesampai di tempat simbah, motor dikelilingi saudara-saudara. Maklum tahun 1999 masih jarang yg pakai Tiger apalagi dipake mudik pulang kampung.

Saya cuci ampe kempling di blumbang sebelah rumah.

Saya kurang lebih 4-5 hari di tempat simbah, jalan-jalan bersilaturrahmi ke tempat saudara2. Sementara yg lain konvoi mobil, saya cukup senang dengan motor.

Sensasinya beda, bisa menapaki lagi kota yang kita pernah tinggal di atas kendaraan yang berbeda yang kita beli sendiri, Ada rasa nostalgia, haru bercampur kebanggaan.

Bro/sis pernah ngalami ini?

Saya jadi ngerti kenapa penjualan kendaraan selalu melonjak menjelang lebaran. People needs new ride to bring home. It gives a sense of nostalgic + achievement.

Ada beberapa hal menarik yang saya ingat banget:

  1. Saat jalan pulang  di daerah perbukitan antara Wangon dan Banjar, saya berhenti ngaso untuk minum es kelapa dan melemaskan kaki di salah satu warung di tepi jalan di kaki bukit. Sambil minum saya angkat kaki di balai-balai. Mbak yang jaga, mungkin usia 30an awal, ramah menawarkan “mas capek? mau sekalian dipijet?” sambil senyum menunjuk ke sisi atas bukit di belakang warung. Saya kaget lalu ingat isi postingan mailing list yahoo grup CCS. Saya gugup jawab “eh makasih mbak, saya minum aja”. Sambil nunggu pasrah kalau-kalau dipaksa. Ternyata engga.
  2. Honda Tiger makin panas makin ajib mesinnya. Cuma vibrasinya di tanki itu yg bikin ereksi tanpa penyelesaian, Ereksi lama, lemes, ereksi lagi, lemes lagi, sampe bosen di jalan. Lalu jadi ingat warung kelapa muda tadi.
  3. Riding positionnya Honda TIger ini memang cruising sejati, nyaman. Saya engga tau versi-versi belakangan. Saking nyamannya sampai saya beberapa kali setengah tertidur di jalan. Terakhir di klakson dari belakang oleh truk yang mungkin melihat saya mulai meleng hanyut ke kanan jalan. Kaget, sayapun segera cari warung untuk pesen kopi lalu merebahkan diri sejenak. Jaman itu belum ada indomart/alfamart, jadi warung tradisional masih banyak.

Perjalanan yang sangat berkesan. Touring tahun 1999 ini mengajarkan saya banyak hal:

  1. Tentang melatih tempo riding dan stamina. Tidak perlu ngebut segila-gilanya. Itu akan memompa adrenaline berlebihan, dan membuat kita lekas merasa lelah setelah adrenaline terpakai. Yang penting riding dengan kecepatan stabil dan nikmati perjalanan. Atur nafas.
  2. Persiapan motor dan timing touring itu penting, terutama utk kondisi motor. Saya melakukan kesalahan saat touring tahun berikutnya tahun 2000. Motor Tiger saya pasang fairing, padahal ini motor dengan air-cooled, tanpa radiator. Mungkin karena sebelumnya sudah overheat, seal oli mati, dan oli rembes sejak saya tiba di Yogya. Saya coba riding sampai semarang sambil tambah oli sedikit, namun rembesnya tambah parah. Akhirnya motor saya naikkan ke kereta dari stasiun poncol. Turun di Senen langsung dibawa ke AHASS di Cempaka Putih.
  3. Intuisi juga berperan penting. Tahun 2001 saya hendak mengulangi touring yang sama. Namun sudah ragu banget, karena tahun itu saya sudah harus berangkat ke UK, dpt beasiswa utk master hukum. Saya galau dan tetap memaksakan diri berangkat. Sama berangkat Tengah Malam. Sampai di Cikarang melewati jalan raya yang sedang diperbaiki, tanpa ada papan peringatan, badan aspal tiba-tiba habis. Saya refleks setengah berdiri mengurangi hempasan pada motor, namun stang kiri, sudah pakai setang jepit waktu itu, patah. Saat itu libur panjang, bengkel pada tutup, percuma meneruskan sampai ke Yogya. Stang akhirnya sya ikat tali rafia dan riding balik ke rawamangun. Ini saya anggap sebagai peringatan atas intuisi tidak berangkat. Mungkin akan ada kecelakaan yang lebih besar lagi kalau saya paksakan.

Demikian. Mungkin bro/sis punya cerita pengalaman pertama kali ‘minum kelapa muda;, eh touring jarak jauh?

 

 

Advertisements

39 thoughts on “Pengalaman Pertama Mudik Jkt-Yogya th 1999 dg Honda Tiger. Ditawari ‘sesuatu’ di hutan ..

  1. Memang menyenangkan walaupun Single Touring… Saya pernah mengalami nya Mas, meskipun hanya Rute Surabaya – Pacitan. Dulu Pake Byson, duuh.. Sensasi nya Hampir sama dengan Honda Tiger yang katanya sampean makin panas makin ajib mesinnya. Cuma vibrasinya di tanki itu yg bikin ereksi tanpa penyelesaian, Ereksi lama, lemes, ereksi lagi, lemes lagi, sampe bosen di jalan.Hahaha…
    Take a rest sebentar di hutan Caruban, sambil fotoin si Kebo Byson, kebetulan sampai di Hutan Saradan Caruban masih jam 8 an Pagi. View nya bagus tuh.. Soalnya Habis Subuh berangkat nya dari Surabaya. Mau istirahat di Mojokerto, masih terlalu dekat, padahal ada es tebu yang rasanya semacam es Kelapa Muda tadi,hahaha. Alhamdulillah Itu si Kebo Byson beli dengan uang sendiri Hasil mburuh di Surabaya.. Bener mas, bangga rasanya beli pake uang sendiri… Sekarang si Kebo udah dibeli sama tetangga di Kampung, masih sehat wal afiat sampai sekarang…

    • ga ditawari sesuatu mas? hehehe
      nanti kalau longgar anggarannya ambil lagi aja mas si kebo. motor pertama seperti cinta pertama.

    • Ditawari sesuatu?
      Jadi inget puasa mas, hehehe
      Anggaran kalo sudah longgar pengen MT 10 kayak Mas Leo (do’anya sih gitu)
      Sekarang bersyukur dan mendamaikan hati aja dulu mas, pake vario techno 125 old, hahahaha

  2. Tiger2 jaman 90an akhir – 2000an awal, trend modifikasinya selalu dipakein fairing ala CBR900RR (yang tampangnya aga persis punya NSR 150SP), setang jepit model gerigi yang rawan patah, monosok pake satria 120 yg terjangkau tapi kuat, velg racing gambot tapi berat, dan pilihan ban gede yg biasanya dari limbah moge (ban seken), knalpot yang gede kaya bazooka (kalo gak salah merk Kadron ato Konig yg trend waktu itu), komplet, sudah berasa naek moge beneran, hahaha…………..

    jadi inget masa2 itu, masa serba terbatas informasi dan part modif, tapi inovasi tetap jalan 😀

    • haha engga sempet pake tiger dulu, maennya 2 tak terus, cuma temen beberapa ada yg punya tiger terus digituin semua rata2,

      kalo yg budget cekak, modifnya minimalis paling ganti lampu depan pake punya Kaze 110 ato Karisma, setang jepit, engine cover + spatbor depan bercambang dari fiber yg custom dari tukang modif langganan (di Jogja yg terkenal dulu kan si Hengky sama Alan Fily)

  3. Nomor 1&2 wazzziiib pake banget.

    1. Udh 2 tahun sya mudik Jogja-Tasikmalaya. Kecepatan disesuaikn dgn kenyamanan rider dan jg kemampuan motor, mksdny usahakn utk tdk memacu dekat2 limit performa motor utk menghindari getaran2 brlebih, menghindari perasaan ga enak krn motorny “teriak”, juga fuel economy yg akan memburuk (spaya tdk usah banyak refuel. Refuel=berhenti=malas=bnyak waktu trbuang).
    Alhamdulillah, hasilnya puasa saya TIDAK batal, Jogja-Tasikmalaya yg jaraknya 320km-an (menurut odometer) bisa sya lewati dlm waktu <5 jam krna jaln trus tnpa berhenti, minta refuel pas sampai d kota tasik nya (fuel avg menurut MID: 29+ kmpl, padahal motorny R25 gen 1 dgn odo 30000+ km huahahaha :)))

    2. Mudik yg kmren, pertama kali ny mudik bareng2 (3 motor, termasuk saya). Sblum brangkat, sya sdah cuci motor dlu (cuci sendiri, skalian periksa baut2, rembesan2, kabel2, dsb.), lakukan perawatan ringan (kuras minyak rem depan belakang, top-up coolant,mmeriksa tegangan aki, dll..smuanya sya lakukan sendiri). Alhamdulillah mudik kmren sya tdk menemui kendala apa2, smentara kawan srombongan sya yg satu mengalami rem belakang blong krna minyak remny tdk sesuai spek (harusny diisi DOT 4, ini malah diisi DOT 3 xD), dan satunya lagi rem ny blong gara2 kepanasan, padahal odo sya mudik trakhir sdah 44459, fuel economy tetap 29+ (29.7 kmpl) :)))

    • motornya terawat banget ya mas.
      riding style yg cruising, bukan racing, di luar kota juga pengaruh besar dg fuel consumption.

      Thanks for sharing your story mas

  4. Loh orang cangkringan om?sempet lama juga tinggal di cangkringan..jathilan,sungai kecil yg jernih airnya,naik baker ke pasar pakem.aih jadi kangen 😖

  5. Baca judul kirain horor, ternyata isinya kotor
    Persiapan motor memang sangat penting, jadi inget pas pulang belum ganti ban yang udah licin niatnya sekalian ganti di rumah, eeh di jalan hampir celaka berhadapan sama truk pantura
    Btw baru tau ternyata om leo keturunan cangkringan

  6. Jadi inget pertama punya motor pas 2009 dibangku kuliah, shogun sp 125. Lg seneng bongkar motor pasang & chrome part.
    Dan ditahun yg sama nekad turing semarang – Jakarta, dan baru sampe pantura sekitar batang ada bunyi2 aneh, ternyata mur as swing arm lepas dan bkin as swing arm keluar sendiri dr poros nya. Otomatis tiap beberapa jam sekali kudu brenti buat masukin balik as swing arm ke poros nya. Sampe Karawang baru beli mur di pinggir jalan biar lbh nyaman di jalan.

    Beberapa waktu sblm berangkat turing semarang – Jakarta memang sempet bongkar footstep belakang spy lbh keren 🤦🏻‍♂️.

    Ini mengingatkan ku spy lbh detail dan jgn lupa di kencangkan dgn torsi tertentu spy gak lepas gt aja.

  7. Walah trnyata kita tetangga om leo
    Sampean cangkringane mana?
    Pernah dlu mudik pertama kali pakek fxr
    Spull gosong pas di cirebon
    Disusulin sma temen yg dri jkrta
    Nginep cirebon benerin motor smpe malam tkbiran.akhirnya takbir keliling cirebon-jogja
    Smpe rumah pas selesai solat ied

  8. 2007 awal2 punya Tirev n 1st time mudik k Purwodadi jam 01.00 dinihari start dr Jakarta jam 10.00 masih d Cikampek…ampunnn DJ

    2008 nggak kapok, jalan lg, bedanya jam 03.30 dah deket cirebon. Alhamdulilaahh… ngaso disebuah serambi masjid, dah kayak ikan bandeng tidur semua, nyempil deh maklum blon shubuh lengkap dengan jaket FLMnya biar anget.

    Sayup2 terdengar orang rame2 berdoa/kultum ane buka mata, ASTAGFIRULLAH tinggal ane doang diserambi mesjid itu dikelilingi bapak/ibu lagi tahlilan, kagak dibangunin sayah😣 rame banget. Udah jam 5 pagi pula, dah kayak “sebujur bangke” sayah😂… mukaku rasane pingin tak sobek2 mas🤣
    Langsung ngibrit k tmpat wudu Shubuh trus ngacir lg, semesjid pade senyum2 semua daahh…. kebayang kan “sakit” nyah😭🤣

    Mudik yg paling berkesan😁

  9. Jadi inget sekitar tahun 2013 pas saya merantau di Jogja, kondisi waktu itu lagi gabut karena udah pisah jalan sama temen (ceritanya bikin usaha kecil-kecilan). Mulai nongkrong sama temen yang punya bengkel balap, singkat cerita saya kena “racun” dan digarap lah motor Jupiter MX 2008 punya saya, spek nya saya agak lupa, yg pasti CC naik jadi 165 dan karbu pake PWK 28.

    Suatu hari saking bosennya gabut saya akhirnya memutuskan buat balik ke Jakarta riding pake Jupie MX saya dengan 2 motivasi:

    1) kangen keluarga di Jakarta
    2) ngetes motor yang abis digarap, aman atau gak buat jalan jauh

    Alhamdulillah riding 15 jam sampe Jakarta, walaupun awal nya agak ragu-ragu berangkat atau nggak (dan perasaan ragu itu masih ada sepanjang perjalanan) , motor sehat aman tanpa kendala, dan sampai rumah dapat bonus di omelin emak bapak, mungkin intuisi ragu-ragunya saya itu karena bakal diomelin orangtua kali ya… hehehe…

    Anyway makasih udah boleh sharing disini Mas Leo, semoga sehat dan sukses selalu…

    • jalan standar aja mas sesuai kondisi jalan… kalo ketemu jalan rame ya jalan santai, kalo ketemu jalan kosong ya tarik gas… sesuai kapasitas nyali juga sih, hehehe… cuma beberapa kali ketemu jalan kosong sempet lah kena 100 – 120 km/jam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s