Shockbreaker PCX 150 Bengkok? Apa Yang AHM/Pemilik Perlu Dilakukan?

Beberapa waktu belakangan beredar di medsos, testimoni beberapa owner PCX 150 (non-CBU) yang mengeluhkan shock belakang bengkok. Dari 5 pemilik yang kebetulan teman saya di FB, 3 pemilik menyatakan pemakaian normal pada jalan raya dengan jarak tempuh 500-700km ketika shock-breaker ditemukan bengkok.  Apa yang harus dilakukan?

shock bengkok.jpg

Foto: Wira Pekerti

Bagi pihak AHM, mungkin melihat masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan telah terjadi cacat produksi. Jumlah PCX yang sudah diedarkan ke konsumen hanya di bulan Februari 2018 saja mencapai angka 9,661 unit. Dengan total target pertahun 150,000 unit. Ini setara dengan 12,500 unit per bulan atau 17 unit per jam nya. Keluhan konsumen mungkin menurut AHM belum mencapai jumlah kritis (critical mass) untuk bisa disimpulkan ada cacat produksi.

Nampaknya ini sebabnya pihak AHM (Head of Corporate Communication PT AHM Ahmad Muhibbuddin/6 April 2018) berpegang pada pernyataan:

“Semua unit motor yang dikirimkan ke konsumen telah lolos uji kualitas, termasuk bagian shockbreaker. Pada prinsipnya tidak ada masalah dengan shockbreaker PCX. Diskusi yang muncul di medsos itu lebih terkait dengan tampilan visual karena posisi outer spring yang nampak tidak simetris dengan cylinder”.

Sebagai corporate tentu tidak mudah bagi AHM utk menyimpulkan adanya defect. Pertama karena sejumlah langkah pemeriksaan yang harus ditempuh. Kedua karena konsekwensinya luas pada berbagai aspek. Dari segi brand image, apalagi mindset masyarakat kita masih menganggap recall itu sesuatu yang sangat memalukan. Maupun dari segi cost mengingat jumlah unit yang sudah beredar maupun yang saat ini sedang diproduksi sudah cukup besar.

Yang akan dilakukan oleh AHM adalah secara internal melakukan pemeriksaan bertahap untuk menentukan:

  1. Apakah memang benar ada masalah seperti yang dikeluhkan?
  2. JIKA TIDAK ada masalah, AHM bisa melakukan kampanye publik untuk meyakinkan masyarakat melalui media/blogger dll dengan cara kunjungan ke pabrik, static test atau long term test/review. Media/blogger dipinjemin saja PCX utk long term test (3-4 bulan).
  3. JIKA IYA, apa penyebabnya (traceback) ? apakah pada pengangkutan, penyimpanan, produksi, struktur, material, atau hulu desain (hampir tidak mungkin) dll?
  4. JIKA IYA, bagaimana langkah antisipasi terhadap produksi yang akan datang (perbaikan material/stuktur/penyimpanan/pengiriman/SOP lain) maupun penanganan terhadap yang sudah beredar (perbaikan terbuka/publik atau silent recall)? Juga damage control kepada public?

Ini bukan hal yang mudah. Dan selama belum ada kesimpulan pasti atas pertanyaan-pertanyaan di atas, maka ­AHM akan berpegang pada pernyataan yang disampaikan oleh Bpk Muhibbuddin.

 

—-

Sementara bagi pemilik PCX apa yang bisa dilakukan.

Jika memang mendapati ada defect pada produk yang dibeli, DAN tidak ada kondisi yang  membatalkan garansi (lihat daftarnya pada buku pemilik), maka adalah hak pemilik untuk mendapatkan penjelasan (pasal 4c) dan perbaikan (pasal 4h UU 8/1999 Perlindungan Konsumen) atas unit yang mengalami masalah dengan shockbreaker ini.

Honda sudah mengatur mengenai garansi yang diberikan:

  • Garansi mesin – 3 tahun atau 30,000 KM tergantung mana yang lebih dulu dicapai.
  • Garansi rangka dan sistem kelistrikan – 1 tahun atau 10,000 KM tergantung mana yang lebih dulu dicapai.
  • Garansi komponen PGM-FI (khusus untuk motor berteknologi PGM0-FI) – 5 tahun atau 50,000 KM tergantung mana yang lebih dulu dicapai.

Garansi ini hanya berlaku untuk penggantian atau perbaikan suku cadang yang rusak akibat:

  • Kesalahan proses produksi.
  • Kesalahan bahan atau material produk.
  • Kesalahan konstruksi.

Tentu sangat mungkin terjadi kondisi dimana AHM dan pemilik tidak mencapai kesepakatan. AHM menolak claim dan pemilik bersikukuh terjadi cacat konstruksi.

Apa yang harus dilakukan? Konsumen baik sendiri/perseorangan, maupun kelompok, bisa meminta bantuan hukum pada lembaga seperti YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) atau YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) untuk mewakili kepentingan konsumen. Tidak harus konsumen sendiri yang maju.

KESIMPULAN

Menurut saya lebih baik ada pemeriksaan langsung oleh AHM atas unit yang diduga shockbreakernya bermasalah. Ini juga untuk mencegah persoalan berkembang jadi black campaign terhadap AHM atau disisi lain konsumen merasa diabaikan.

 

 

Hal serupa juga pernah saya alami saat speedometer Ninja 250FI saya berembun dan mati tahun 2012, persoalan serupa dialami beberapa pemilik lain. Setelah unit ditarik ke pabrik dan diperiksa, ditemukan ada kelemahan pada seal speedometer yang diproduksi oleh vendor. Tidak ada recall resmi kepada public, karena memang tanggung jawab pabrik adalah kepada pemilik, tapi setiap unit yang mengalami masalah serupa diperbaiki oleh Kawasaki.

https://7leopold7.com/2013/02/14/ninjaku-di-recall-kawasaki/

 

 

Advertisements

144 thoughts on “Shockbreaker PCX 150 Bengkok? Apa Yang AHM/Pemilik Perlu Dilakukan?

  1. Ah..andaikan Aerox dibajuin sama kayak N-Max..pke windshield dan bs selonjoran, plus fitur berlimpah, tentu saya tdk akan melirik PCX.

    • N max itu ibarat mahmud yg lupa diet,
      Sedang Aerox itu…😁
      Tp jujur saja image premium matic yamaha itu keliatan banget. Smntara di honda baru PCX…vario 150 jauh dari kata premium.
      menurutku vario harus belajar dari si aerox soal desain dan body…gambot, enak mengalir namun sporty.

    • Harap sabar….ini ujian dan cobaan…..
      Bagus nya ditambahin…..shock belakang bengkok…tinggal di palu sajah atau beli after market.
      Chasis tidak simetris dan retak…dilas sajah.
      Bunyi klotok klotok….tinggal ganti tensioner baru.
      Gitu aja repot,jangan di besar besarkan pula.
      Namanya juga buatan manusia….
      Tidak ada yg sempurna.harap bersabar dan banyak berdoa……

  2. Gara gara geger shock meleyott saya jadi merhatiin pcx dijalan dan pagi ini berangkat kantor saya temui 2 pcx dijalan dan saya perhatikan memang shocknya meleyott.
    Kira kira apa penyebabnya

    • Penyebabnya adalah uniknya kondisi pasar disini, toleransi yang tinggi dari konsumen utk produk2nya, mau bermasalah kya apa juga tetap jadi pilihan nomor 1 pembeli motor, jadi knapa mesti repot2 & nunggu berlama2 utk bikin yg perfect??

      Bikin defectpun sudah laris manis dibeli toh, so buat apa repot bikin yg bagus2 & sempurna?cuma ngabisin resource & ngurangi profit saja

  3. hei kamu berani2nya ! hehehe mantep nih om leo turun gunung juga akhirnya. sepertinya kalau nggak (belum) ada kejadian fatal belum akan ditanggapi AHM. Padahal kalau nunggu sampai kejadian prnya akan lebih dari sekedar menyelamatkan image. imbasnya bisa kemana2. mari kita tunggu silent recall eh … kelanjutannya gmn wkwkwk

    • Paling2 yg komplain diganti ..trus improve di next batch .. sudah lumrah kebanyakan pabrikan disini begitu cara mainnya … Gak di oyomotif gak dielektronik sama seperti itu .. MP awal sering ditemui kekurang sempurnaan produk biasanya diimprove sambil bejalan … Kalau laris maka saatnya costdown buat nambah tebel marginnya..

    • sayangnya begitu. makanya sampai ada stigma kalau mau beli produk baru jangan batch awal.

  4. Kalian semua jangan lebay cuma gara-gara kasus yg sebenarnya remeh ini..
    yg tidak terlalu berpengaruh ke performa shockbreaker PCX itu sendiri. Lain halnya dgn spakbor miring milik motor kompetitor itu yg tidak bisa dianggap remeh karena bisa membahayakan nyawa terutama saat melintasi genangan air dan cipratan air tersebut mengenai mata pengendara di belakangnya lalu terjadilah kecelakaan. Coba bayangkan betapa berbahaya sekali spakbor miring itu.

  5. Kalo dipinjemin unitnya yg ada mlh jas jos jas jos doang… Coba dari bloger pinggiran yg beli unit nya scr langsung…. Pasti responnya murni sebagai konsumen… Bukan brand ambasador

    • Mungkin lagi sibuk..
      memperhatikan shock blk nya “red juminten” nya…..

  6. Kalau sy mah gak heran. Bertahun tahun sy perhatikan motor dr umur belasan sampai sekarang mendekat 40 tahun. Masalah gini mah mainan AHM dr dulu. Sy gak pernah bisa lupa zaman mega pro bagaimana banyaknya shock belakang tidak simetris dengan body dan spakbor belakang. Supra 100 juga. Hanya sampai zaman grand 100 yg honda lurusnya ban dgn spakbor dgn shock dan dng body betul betul pas. Walau sekarang sdh jauh berkurang sih tp kelakuan ahm ini menular ke yamaha sekarang walau blm/ tdk separah Ahm di masa lalu. Suzuki juga dikit dikit. KITA ORANG INDONESIA TERBIASA SEKALI BERTOLERANSI SALAH KAPRAH.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s