Kasus Pem-bully-an Dimana-mana. Di Sekolah. Di Medsos. Di Jalan Raya. Jangan Heran. Kita Memang Negara Bully.

 

 

Kejadian berturut-turut pembullyan dimuat di media social. Yang miris adalah yang terjadi di lembaga pendidikan atau oleh siswa sekolah. Menurut saya jangan heran. Itu hanya cerminan kondisi kehidupan bernegara kita yang penuh dengan praktek pembullyan. Termasuk di jalan raya.

index.jpg

Anda di jalan raya. Siapa yang banyak, kuat, berkuasa dialah yang berhak bertindak semaunya. Aturan? Mbelgedhes!!

Ini tercermin mulai dari kebiasaan pejabat yang semaunya memaksa kendaraan yang sudah terjebak mampet di kemacetan harus menyingkir. Minggir kemana lagi pak? Apakah ini bully? Ya ini bully!

Begitu juga siapa yang banyak dan menang galak. Counterflow di jalan raya? Begitu ketemu teman-temannya udah semua jalur disikat, mengandalkan jumlah. Apakah itu bully? Ya itu bully!

Di Indonesia ini yang penting adalah jumlah atau kekuatan. Soal norma dan aturan belakangan. Setiap kesempatan untuk menikmati kekuasaan, kepada yang dianggap lemah/kalah, itu yang dilakukan.

Itu sebabnya kita bukannya berlomba-lomba menjadi lebih baik, tapi menjadi lebih kuat dan berkuasa. Baik dengan mengandalkan uang, jumlah ataupun kekerasan.

 

Iklan

35 thoughts on “Kasus Pem-bully-an Dimana-mana. Di Sekolah. Di Medsos. Di Jalan Raya. Jangan Heran. Kita Memang Negara Bully.

  1. sebenarnya kasus bully membully itu bisa jadi berasal dari kebiasaan kecil di keluarga dan lingkungan sekitar, secara tidak sadar kita (termasuk saya) dibiasakan untuk menari & tertawa diatas penderitaan orang lain contoh sederhananya ketika ada anak kecil yang terjatuh orang-orang dewasa disekitarnya dengan kompak bukannya menolong tetapi malah menertawakan, hal-hal seperti ini sudah turun temurun & menjadi kebiasaan, akhirnya menjadi mindset bahwa kalau ada yang jatuh ya ditertawakan bukan ditolong, dari situ berkembang ke aksi bullying yang lebih besar seperti yang Om Leo bahas di artikel ini

  2. Pendidikan Karakter, barangkali bisa menjadi salah satu solusi untuk kondisi yang kurang beradab seperti ini. Saatnya Pendidikan Karakter diimplementasikan di semua lembaga pendidikan yang ada di negara kita tercinta ini.

  3. wah yang dijalan raya sih ngeri juga, berenti depan garis malah dikatain “maju beg*” kemaren juga di pulo gadung berenti di lampu merah di klakson2, pas dikasih jalan taunya dia mau nerobos lampu, emang udah gila ya orang2.. mungkin ini salah satu alasan kenapa saya pengen banget tinggal di negara yg taat aturan lalu lintas, seperti om Leo yang tinggal di Australia

  4. ketika anak TK menjelang masuk SD di tuntut berpestasi setinggi tingginya dengan nilai, bisa nulis bisa baca, apalagi yg diharapkan selain pelampiasan emosi seorang anak yg harusnya menikmati masa bermain dengan riang gembira, berubah jadi anak anak yg agresif, sulit berempati, cenderung mau menang sendiri mengabaikan disiplin, tatakrama yg ikut bergeser gara gara mental anak kecil yg cuma butuh kegembiraan dipaksa untuk belajar nulis berhitung dan harus bisa untuk masuk SD, kentir…

  5. Apa perlu pelajaran tata krama dan moral serta agama sj yg masuk ujian nasional baik pratek dan teori untuk menentukan kelulusan..
    hehehe

  6. makanya saya bersyukur tinggal di desa,dan kalopun ke kota jarang2 ke kota crowded,bully yg paling saya rasakan klo ada rombongan moge yg mepet2 ke kita

  7. Di warung sebelah jadi ajang bully antar komentator om…. Klo di sini amaannn… karena yang punya warung ngeri2 sedap…. 😁😁

  8. jadi inget video yang viral tentang pemotor yang marah, banting helm dengan gerakan tubuh seperti mengancam aktivis koalisi pejalan kaki yang meminta penggunaan pedestrian atau trotoar dikembalikan fungsinya untuk para pejalan kaki … saat otot mengalahkan otak, terjadilah bully

  9. Tinggal keluarga yg sehat yg mendukung utk anti ngak mempan di bully, yg tahu akibatnya utk nahan diri membully, jangan kagetan jangan sombong jangan baperan. Itu pembelajaran hidup agar bisa bawa diri tong

  10. Habis dicontohin sama yang di atas. Merasa punya kuasa semena-mena membubarkan ormas tanpa lewat pengadilan, sama persis Senior SMA membuli yuniornya. 19 Juli 2017 adalah HTI : Hari TERSURAM Indonesia.

  11. Setuju om leo. Kalau di Makassar iring iringan mayat yg disertai banyak motor mengusir semua orang. Kan sdh ambil ful satu jalur. Di situ toleransinya. Lah ini mau ambil jalur yg berlawanan arah lalu usir semua kendaraan kuak usir binatang pakai kayu dan semacamnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s