Perlukah Dibuat Dua Kelas (Stock dan Non-stock) 250cc di Gelaran ARRC?

 

Salah satu perdebatan yang selalu muncul setiap kali gelaran ARRC adalah mengenai regulasi. Regulasi memang bagian dari pertarungan. Terhitung di tahun 2015 regulasi berubah 3 kali. Perubahan drastis juga terjadi di akhir tahun 2016 persis menjelang dimulainya musim 2017.

160506_arrc_a2

 

Perdebatan tentang regulasi di tahun 2016-2017 adalah mengenai seberapa standard atau seberapa bebaskah modifikasi pada motor 250cc yang turun balap. Sebagian bersikukuh regulasi diharapkan mengacu ke kondisi motor se-standard mungkin. Di bagian ini ada Honda CBR250RR sebagai motor release terakhir dengan spesifikasi teknis tertinggi yang diuntungkan. Di lain sisi, regulasi balapan diharapkan juga bisa terbuka agar motor yang kondisi standardnya berbeda (maklum beda usia) bisa tampil sama kompetitifnya dalam lomba.  Di kubu ini berdiam Ninja 250FI dan R25 yang dari segi usia rilis lebih tua dan memang memiliki spesifikasi standard, menurut saya yang pernah punya tiga2nya, berada di bawah CBR250RR.

 

Memperhatikan berjalannya gelaran ARRC hingga pada seri terakhir, saya merasa hasil akhir untuk musim 2017 sudah bisa diduga. Honda CBR250RR dengan rider Gerry Salim sangat kuat mendominasi jalannya kejuaraan. Dalam kondisi standard-to-standard bisa saya katakan memang CBR250RR adalah motor dengan spesifikasi standard tertinggi dibandingkan companionnya yang lebih berumur.

Screen Shot 2017-04-02 at 6.30.29 PM

Melihat life cycle setiap produk selalu berbeda – frog leaping effect — dan berkaca pada pembagian kelas di WSBK, saya merasa perlu dipikirkan pemisahan kelas pada AP250:

  1. Kelas Stock atau standard – seperti regulasi AP250 edisi tahun 2016 akhir. Dimana motor yang turun bertanding hampir 100% dalam kondisi standard mass production. Mirip dengan motor yang sohib bisa beli dari dealer.
  2. Kelas Non-stock, bisa dinamakan intermediate, atau nama lain. Dimana tim memiliki kebebasan lebih untuk memodifikasi mesin, gearbox, pengereman, suspensi untuk mendapatkan yang terbaik di kelas 250cc.

 

Adanya dua kelas ini memberikan kesempatan yang adil. Bagi motor baru yang parts racingnya masih dalam tahap pengembangan awal kemungkinan besar mendominasi kelas standard. Sementara untuk motor (yang lebih) lama dengan melakukan modifikasi racing yang lebih bebas juga bisa tampil kompetitif. Ingat roda selalu berputar.

Ini seperti menyaksikan keseruan balap motor Superstock dan Superbike di ajang WSBK. Buat saya balap superstock mungkin lebih lambat tapi tidak kalah seru dengan kelas superbike pada cc yang sama namun lebih padat dengan parts racing yang sangat kompetitif.

Mungkin ide ini terlalu gila, tapi inti pesannya adalah memberi kesempatan kepada motor dari merk dan tahun produksi yang berbeda UNTUK PUNYA KESEMPATAN TAMPIL SAMA KOMPETITIFNYA dalam ajang ARRC. Tinggal keahlian tim balap dan rider yang akan menentukan.

Mas Ibnu Sambodo dari Kawasaki Manual Tech Racing berujar “Bahwa dengan regulasi standar, maka CBR 250 RR akan jauh lebih unggul. Itu harus disikap agar kompetisi ARRC 2017 menarik. …. Solusi saya, diameter klep dibuat sama. Ninja 250 memang lebih kecil hampir 2 mm dibanding CBR250RR. “

http://www.ototrend.com/otorace/nasional/10053-ibnu-sambodo-saya-yakin-ronn-hog-tinjau-ulang-regulasi-ap250-kita-jangan-saling-menyalahkan

Ngeri juga lho kalau pabrikan atau sponsor jadi enggan turun. Solusi dari saya adalah adanya regulasi yang memungkinkan motor dengan tahun rilis berbeda ini tetap berkesempatan untuk memiliki spek teknis yang sama kompetitifnya. Apabilapun tidak bisa, dengan pertimbangan motor harus dalam keadaan standard, maka perlu dibagi dua kelas yang berbeda: stock dan non-stock.

Bagaimana menurut anda?

 

 

https://7leopold7.com/2017/04/17/politik-dalam-dunia-balap-kasus-arrc/

Iklan

96 thoughts on “Perlukah Dibuat Dua Kelas (Stock dan Non-stock) 250cc di Gelaran ARRC?

  1. menurut saya ttp 1 kelas saja mas leo…yg penting regulasinya ditinjau ulang spy bisa seimbang antara motor yg keluar dluan dgn yg blkangan keluar.

    • Nyatanya R25 pas keluar ga bisa langsung menang bro.. ya namanya juga AP ya sesuai kluaran pabrikan lah. Klo bisa oprek buat aja wss250 full oprek

  2. Kalo standart trus ntar ngak ada yg menang soalnya yg trahir pasti lbh baik munkin begitu kira2 ya om.setuju aja si kalo ada non stock karna mekanik plus jokinyalah yg menentukan kemenangan bukan dari motor itu sendiri

    • Itu juga maksud saya, kalau motor bebas dimodif kan jadi nggak sama dengan motor yang di produksi masal. Kalau nanggung begitu nanti tetap ada perdebatan seberapa jauh motor boleh di modif. Kalau yang motor masalnya noken as nya jelek, ya minta boleh ganti noken as. motor masal yang ECUnya jelek ya minta boleh ganti ECU. yang bodinya jelek ya minta boleh ganti bodi.

      Jadi fairnya harusnya sama dengan motor masal atau sekalian dibebaskan bangun motor dari nol.

    • Saya kurang paham mas maksudnya. Tadi mas menyatakan teknologi bebas = motogp. Disitu saja mnrt saya analoginya sdh ga pas. Boleh dirunut lagi?

    • non stock = motor yang sekalian rangka dan mesin nggak usah ambil dari motor pasaran. mesin dan rangka dirancang sendiri mulai dari nol. jadi seperti motogp.

      Kalau non stock = menyisakan beberapa persen aslinya. tetap bakalan ada perdebatan.

    • yaelah kejauhan kali mas @sucahyoaji kalo samain NON STOCK SAMA DENGAN MOTOGP..
      PASTI ADA BATASAN-BATASANNYA JUGALAH.. PASTI YG DI PAKEK JUGA ADA YG STANDARD.. GAK SEMUA HARUS NON STOCK..
      kalo MESIN suruh RISET SENDIRI. KIRA-KIRA ADA PABRIKAN YG SANGGUP ENGGAK?? KALO SURUH RISET SASIS SENDIRI ADA YG SANGGUP JUGA ENGGAK?? yg PASTI ITU BUDGET RISET DI ARRC itu GAK SEBESAR DI MOTOGP..
      kalo anda samain NON STOCK SAMA DENGAN MOTOGP yg semua HARUS RISET SENDIRI.. “AHHHH BERCANDA KAMU”

    • Perasaan biaya buat motor balap korekan pun juga sudah luar biasa. Kalau sampai magnet, valve, noken, kopling, throttle body, dll banyak yang diganti, ya sudah jadi mirip buat mesin sendiri. Yang dipakai cuma rangka mesin sama rangka bodi. Sudah tidak lagi mewakili motor standar.

      Bukankah mereka sudah riset untuk noken, valve, ECU, dll.

      Tetap nanti ada saja protes modif apa yang boleh dan tidak boleh. Yang belum ada quick shift, slipper clutch, TBW, traction control, dst bakal protes kalau nggak dibolehin nambahin.

    • mas ngoreksi aja, slipper clutch sudah diperbolehkan. Pada saat Kawasaki N250Fi menggunakan slipper clutch sebagai standard, regulasi dirubah, dimana semua motor juga boleh menggunakan slipper clutch dg spec yg sama. Yg sdg diprotest oleh Kawasaki adalah, pada saat Honda datang dtg dg valve standard yg lebih besar, mengapa motor lain tidak boleh menggunakan valve yang seukuran dg honda

    • baru tahu, terima kasih infonya. Iya, jadi muncul kecemburuan seperti itu. tapi dengan begitu jadi memaksa pabrikan memperbaiki motor standar.

    • Ya beginilah klo ada yang kurang informasi antara WSBK, STK, dan MotoGP…, ARRC = Superbike aka motor masal dan SBK tiap region beda2 spek teknisnya misal All Japan, BSB dan AMA motor dasar sama tapi regulasi modif beda. belom lagi regulasi balap motor ketahanan

    • Om Leo. saya tetap lebih setuju bila balapan arrc irrs, irc, atau ntah apalah namanya nanti, sebisa mungkin spesifikasinya dibuat standard ting ting dari pabrikan, setidaknya bila motor itu menang, konsumen bisa merasakan aura kemenangan tersebut dengan membeli motor tersebut ke dealer.
      Karena saya kurang sreg bila ada yg bilang seperti ini “lebih baik beli saja motor yg sudah terbukti menang di sirkuit”
      Kan malu maluin Om, beli motor “mirip seperti yg menang di sirkuit”, tapi kenyataannya masih kalah kencang sama cb jadi jadian wkwkkk

  3. Ya sebaiknya begitu.. Karena walau pun standard pabrikan part nya beda ya jelas akan menyebabkan ketimpangan.. Pertanyaannya lagi apakah pabrikan yg capek capek Bikin motor lebih superior itu setuju??nanti Kalo ngga ada kesepakatan malah ngga ada balapan hehe.. Palagi pabrik itu lagi berburu Kemenangan.. Pasti akan jadi perdebatan yg alot… Untuk ide nya mantaaab dech

  4. Kalau gw sih lebih kenapa R25 Thailand besutan Anupab bisa sangat sangat kompetitif bahkan di straight? Faktor apakah itu? Rider? Motor? Dua duanya?
    Bicara cbr250rr lebih baik emg gak salah, tapi kalau liat result di semua race, AFAIK rider cbr250rr juga Ada di urutan bawah.. Kecuali itu adalah cbr250 jomblo yg emg udah obsolete dari sisi manapun…

  5. Kalo dibikin bebas gitu ada kemungkinan ap honda racing thailand balik lagi pake cbr 1 silinder dan dominasi taun 2014 2015 bisa terulang lagi

    • kalo boleh tau yg mana ya..stau sya diIRS yg full oprek pun sudah ikuta semua tuh kcuali sijuki..krn gk punya sport 250cc

    • kan udah confirrmasi..gk ikut seri 1 ..dikarnkan jdwal hmpir bersamaan dngan ARRC … jdi ya milih salah stu…
      dn itu pnting sebgai ajang promosi siCBR mngingat ini produk baru..biar dikenal secara global..

  6. Sprtinya itu lebih pada pembalapnya Pak, mampu sinergi total dg karakteristik handling CBR250RR. Rasa percaya diri (confidence) tinggi karena dpt feel dan feedback dri motor.membuat Gerry Salim bisa all out. Motor nurut sperti yg di inginkan ridernya. Pengereman, kecepatan masuk tikungan, kecepatan di mid-corner dan buka gaz se awal mungkin akselerasi keluar tikungan. Mungkin ini jdi faktor mengapa bisa lebih cepat dri pembalap lain.

    Kalau power output puncak lebih besar 3 HP di putaran tinggi 13000 rpm, kayaknya ngak bgitu jdi faktor penentu. Karena bukan topspeed yg menentukan kemenangan tpi bgaimana masuk dan keluar tikungan.

    Ini akan memicu pabrik lain utk melakukan penyempurnaan engine dan chassis geometry misalnya

    • motor kan ga hanya power output mas. chasis dan suspensi CBR250RR lebih rigid mas. Tentu faktor pembalap sangat penting juga selain motor.

    • @goezman : Nonton Pak hehe
      Power Ducati memang terkuat di rpm tertinggi, redline tembus 18000 rpm katanya. Lintasan lurus Mugello sngt panjang & bnyk tikungan med- fast flowing gir 3-4. GP17 kmarin mampu dibawa Dovizioso & Petrucci sampai maksimum dri motor2 lain. Tpi ngak selalu bisa sukses. JL di th sbelumnya paling sering juara di Mugello dimana power puncak/topspeed Yamaha kalah dg Ducati.

      Meskipun power terkuat di putaran atas ngak selalu sukses jdi pemenang. Faktor karakteristik handling (chassis geometry, center of Gravity, suspension setup) motor dan pembalap lebih menentukan. Kelemahan Ducati di corner speed. Katanya motor cenderung understeer kurang nurut dlm kecepatan tinggi di mid-corner.

      Dan fastest lap dicetak biasanya dlm kecepatan lebih rendah dri lap di mana topspeed tertinggi tercapai. Paling penting bgaimana kecepatan motor masuk dan keluar tikungan. Kira2 begitu sejauh sy faham ya, siip.

    • @goezman ; Sediki tambahan Pak, utk case CBR250RR bisa jdi skrng Gerry mampu memeras segala potensi motor sampai ujung batas. Konsisten, management ban yg efektif, determinasi tepat jarang error masuk/keluar corner.

      Tdk selalu motor pnya pwr kuat, handling stabil dibawa masuk/keluar corner jdi juara kalau feel ridernya blum maks memeras segala potensi. Contohnya all-new CBR1000RR WSBK pwr & handling bagus. Tpi blum bisa konsisten dibawa oleh alm N Hayden & Bradl. Posisi dibawah 10 besar. Masih lebih bagus Yamaha R1M dibawa M VD Mark & A Lowes masuk 5 besar

      Jdi bkn jaminan menang mudah mislkan nanti R25 & N250 sdh di revisi pd bag engine dan chassis. Harus dibawa oleh pembalap Indonesia dg skill terbaik jga.

    • @ArenaSepedaMotor

      klo saya sih buat reply @goezman, masa MotoGP di bandingkan sama ARRC 250cc wkwkwk jauh banget motor massal dan motor prototipe

  7. setuju ide om leo…
    soalnya keadaan saat ini jelas timpang lah walopun sama-sama standar. misal standar A = 1 B = 1.5 C = 2, ya jelas yg terbaru yg diuntungkan. ayooo… keluarkan model terbaru lagiii 😊

  8. Kalo menurut ku,yg konyol itu K n Y, uda tau spek mesin standar da kalah jauh kok masih ikut race. Kecuali ada xxx di balik layar.
    # untuk ide nya Mas Leo..stuju banget.

    • konyol? justru karna K dan Y itu bukan pabrikan yang cengeng. nggak turun balap karna regulasi yg merugikan mereka. beda sama pabrikan sebelah yang ogah turun balap karna regulasi. bilangnya sih belum siap.

    • lha kalo K dan Y ugak ikut jadinya bapalan omr dong Om?? balapan itu ya kalo bisa lintas brand..jadi atmosfernya itu beda..

  9. Produk mass pronya di refreshment aja semua.. kan konsumen jg jd bnyak pilihan produk spesifikasi standar yg tinggi. Life cycle ninja trutama yg udh lama beut..

  10. Sya rasa standard aja, lebih baik utk perkembangan motor..
    Wajar CBR250RR mendominasi, karna emang lebih baru dr segala sisi..
    Nanti pabrikan motor lain klo keluar model barunya juga pasti mendominasi juga, gantian.
    Kyk gini ini bukannya malah bagus y?
    memotivasi pabrikan utk selalu bikin motor lebih bagus..

    • yakin tuhh ketika pbrikan lain mengeluarkan motor baru dgn spek super duper dari C*R, REGULASI balapnya GAK AKAN DIRUBAH LAGI???
      GAK INGET AWAL ARRC TAHUN ini??
      GAK INGET AWAL IRS TAHUN INI??
      coba baca baca lagi dehh..

  11. Saya sih setuju usulan pak de ibnu, dan kayaknya perubahan regulasinya saat jeda sbelum seri arrc sentul -+ 2 bulan lagi jd riset masih bisa jalan kalo cuman upgrade porting menyesuaikan lebar klep yg seragam

  12. Contoh wss 300 aja tuh. Regulasi bisa dibuat “adil” jadi cc yg lebih kecil aja bisa bersaing ama yg lebih besar. Salip2annya juga seru termasuk ndolosornya hehehe

  13. lebih bagus seperti itu ya om..
    kecuali ada pihak-pihak yang merasa kalo dibuat seperti itu akan membuay citra produknya jelek..
    jadi keinget IRS seri pertama.. kalo gak magnet standart gk mau ikut -_-”
    kan kasihan yg sudah riset dari tahun jebot..

  14. Tapi kenapa cbr yg masih muda yg lebih superior dari kompetitor bisa masuk dan ikut mengubah regulasi yg ada tanpa ada penyesuaian dari yg tua” om?atau misalnya cbrnya dikebiri, dr suspensi & sasis aja udah beda om, udah versi balap dr yg tua” blm part penunjang lainnya..dan klo lifecycle motor 4th harus menunggu selama itukah hanya untuk sekedar bersaing agar betul” standard yg bisa memukul balik?

  15. Di buat ffa.. Cbr yg 1 cyl turun lg dah, keinget lap time 1.43 di sentul yg udah di obrak abrik team ART Thn 2013 denger2 laptime unoficial nya ada yg 1.39 (cmiiw),cuman ya ga sembarangan team bisa buat motor dengan motor se kompetitif itu.. Ujung2 nya jadi balapan mahal sekale

  16. Nah ini masuk akal, scra marketing ada pabrikan yg diuntungkan di kelas stock, scr kompetisi pabrikan jg bisa tau seberapa kuat motornya bisa di push di kelas non stock

  17. kalo saya setuju full racing, biar mekanik bebas mengembangkan mesinnya. biarpun yang produksi belakangan kerepotan diawal, namun pada waktunya pasti bisa mengejar juga.

  18. Pembatasan HP / weight mungkin bisa kah om leo? Entah HP ada batasan max nya? Berat jg dengan batasan max-min nya, power weight ratio juga di hitung.
    Yg bs diutak atik, mau di taruh dmn hp max nya, low-med-high rpm

  19. oh…!! terimakasih atas pencerahan nya.
    aku baca di blog-blog katanya cbr250 standar lawan r25 n25 oprekan.
    ternyata regulasi di rubah di menit terahir jadi kelas stock standar.
    JADI BUKAN “STANDART VS OPREKAN”

  20. balik lagi ke tujuan balapan digelar, promosi produk masal atau betul betul dibuat untuk kompetisi adu teknologi modif dan adu kencang, klo tujuannya dari awal untuk ajang promosi produk masal ya sudah, format kyk sekarang ya mau ga mau musti diterima, toh hal kyk gini juga berlaku untuk tahun tahun sebelumnya, klo toh muncul motor dengan kemampuan superior bukan kah bagus untuk konsumen yang selama ini mencari gambaran performa motor yang dibelinya, hal kyk gini bakal ngerangsang kompetitor buat memproduksi produk dengan performance lebih baik

    • @chibiyabi wah ane setuju gan. Untuk comen2 yg mnjelekkan mreka g tau tjuannya ini. Hilangkan neting tp tetp posting. Krn pda akhirnya kita jg yg senang dapat perkmbangan update tknologi dan prlngkapan baru tnp harus susah2 beli sndri krn pbrikan sudah mnyediakan. Btul g mas bro smuanya??? 😊😊

    • NGGAK!!!

      ya harus jujur lha bikin aturan nya, gak bisa seenak nya aja minta rubah aturan, bikin dua kelas stock dgn non stock, lebih adil, “BIASANYA” entar ada motor baru spec lebih, balik lagi ke era barbel

    • Saya yakin R25 dan N250 setuju kalau standaran, oklah tahun ini ka kompetitip bisa jadi berubah keadaan bgtu Y dan K ada Allnew…tapi yakin yang ITU ga acak acak regulasi?
      Jangan ada yang cengeng lg aka ngambek out, ujung-ujung nya mau ikut asal regulasi si cengeng yang nentuin,
      Kaya ga tau ajah yang sudah sudah gmana…

  21. yang kalah jangan cepet ngambek, terus kembangkan teknologi baru, (jangan kembang-kempiskan regulasi melulu) plus cari pembalap yg bagus, bila perlu pembalap tim lawan ditawarin kontrak, hal ini wajar di balap level motogp dan wsbk

    why not on arrc?

    • sebagai konsumen pilih yamg paling nguntungin buat konsumen.. lw balapan nya kurang seruh gak jadi maslah… toh maslah banyak balapan lainnya yg bisa di tonton

  22. Soalnya hampir semua balap di era sekarang lebih mengarah ke savecost dan low emition, 2 hal itu sangat bertolak belakang dengan ilmu motor banter…

  23. Bener om. Kalo regulasi sekarang menguntungkan motor yg rilis belakangan. Karena spek dr pabrik sudah tinggi. Dilain sisi pabrikan jg pasti akan melakukan refreshment pada produknya yg sudah cukup lama beredar, tentu jd revisi disektor performa. Tinggal promotor bagaimana menyikapinya. Karena kalo bergantung pada pabrikan yg mem-facelift produknya pasti akan lama.

  24. dilema mas. kalau stock . y untung konsumen. tau mana motor y terbaik. dan ini juga memotivasi pabrikan bikin motor ready to race walau dlm keadaan stock. tapi riset motor kan perlu waktu. dan g mungkin to pabrikan ikut balap terus di kejuaraan y g mungkin dimenanginya. bisa2 ARRC jd OMR terus bubar. mungkin solusinya memang ada 2 kelas sih. versi stock 100% kecuali ban.rem . biar safety. terus versi oprek dngn batasan tertentu. bagaimanapun juga ini bukan balap protitep motogp y habisin duit.. kadang memang serasa g adil juga disisi pabrikan y bikin motor udah kenceng bawaan misal cbr dngn klep lbh lebar;kemudian ninja dikasih dispensasi ganti klep y setara,tapi ada plusnya juga bahwa pembalap honda punya saingan y sepadan jadi skillnya terasah. fix. ane setuju ada 2 kelas. maaf puanjang 😀

    • Ya lebih adil ada Stock dan Non-Stock,
      Kalau ditanya utk yang sekarang gimana? Jelas ada ketimpangan, untung nya Y dan K ga cengeng.

    • pake aja aturan WSBK, motor 4 silinder harus lebih berat bobotnya dari yang 2 silinder atau motor 2 silinder diperbolehkan kapasitasnya mesinnya lebih besar 20% dari motor 4 silinder. seperti ducati jadi 1.200 cc 2slilinder, 1.000 cc 4silinder.

  25. Hmmm iya nih dilema bgt, tp tampak’y lbih seru jika motor sestadar mungkin, krna udh byak blpan yg udh d oprek mesin’y. . .
    Tp, harus d buat regulasi baru, semua pabrikan harus mngeluarkeun motor scara brsamaan, jgn sprti skrg yg beda”, jd motor yg terakhir kluar jd yg superior. . .

  26. salahnya R25 yg kalah om,,,coba R25 besutan tim Thailand menang dan mendominasi pasti gak ada yg permasalahin regulasi.

    kyk taun kemaren tim Thailand dengan R25 nya yg menang ga ada gonjang-ganjing regulasi malah fans boy Indonesia adem ayem ga ada yg protes knapa tim Indonesia malah ga bisa berbuat banyak padahal motornya sama2 R25.

    hal itu berubah ketika salah satu tim dari Indonesia pake CBR250RR turun dan mendominasi…banyak sanggahan2 dari fans boy-fans boy Indonesia yg gak terima kalo itu tim menang hanya karena pake Motor CBR.

    mungkin pikir saya “coba itu CBR merknya Yamaha….mungkin ga sampe ribut2 regulasi kyk gini”

    • Perdebatan regulasi sudah panjang. Dan regulasi sudah berubah-ubah. Bahkan tahun 2015 saat CBR masih single silinder juga terjadi nego yg alot ttg bobot minimum. Lalu juga di 2016.

  27. gak usah dirubah regulasinya, atw ditambah kelasnya … mendingan keluarkan dari dua pabrikan yg terdahulu motor motor barunya yang sekelas CBR …

    • setuju bro, kita konsumen juga yang diuntungkan. lebih banyak pilihan. seperti jaman 2tak. yamaha ada TZM, Honda NSR SP, Kawasaki KRR Serpico, Suzuki RGV Gamma 150.

  28. kalau regulasi ap250 thn ini tdk mau dibuat adil…yg penting kalau nti keluar all new ninja 250 dan new r25 regulasi ap250 ttp sperti skrg nggak di rubah2 lagi…hehe

  29. Menurut saya om leo ARRC perlu bikin aturan panduan yang memang mengatur hal2 yang signifikan secara perforna..
    Tapi kalo dilihat dari life cycle produk sebenernya antara 3 produk itu imbang hanya karna kebijakan pabrikan yg belom facelift saja jadi motor masih status lama..
    Untuk ninja harusnya 2016 akhir atau tahun ini itu udah FMC dan dengan mesin baru, R25 pun begitu, minimal awal tahun depan sudah FMC dengan engine baru juga karna menginjak 4 tahun jadi di tahun 2018 atau 2019 dan seterusnya masing2 pabrikan bisa setara..
    Untuk klas 250 life cycle produk termasuk cukup lama minimal 4 taun dan bisa hingga 6/7 taun..
    Beda dengan 150 yg cukup cepat baik model maupun engine 3 tahun bisa ganti minimal model 4/5 tahun sudah FMC

  30. Hebat banget y CBR 250RR dan lebih hebat R25 nya Anupab Sarmoon dengan regulasi mesin yg katanya di downgrade tapi lap time nya bisa semakin cepat dibanding lap time tahun kemarin dimana regulasi katanya masih bebas…

  31. Dibikin kelas stock n non stock ya?
    Kalo dibikin seperti itu bisa jadi ada kemungkinan seperti ini:
    Motor yg lebih lama usianya n part racingnya lebih bejibun bakal ikut yg non stock.
    Kelas stock kemungkinan ga bakal ikut karena kemungkinan besar ga bakal menang lawan motor yg baru dirilis.
    Sedangkan motor yg baru rilis kemungkinan cuma akan ikut kelas yg stock karena belum banyak part racing penunjang performa.
    Kalopun ikut kelas yg non stock ya mesti sadar konsekuensi buat kalah lawan motor yg part racingnya lebih banyak.
    Kemungkinan diatas bisa saja terjadi kan om leo?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s