Duel Maut 7 Superbike ala MCN. Siapa Pemenangnya?

 

Setiap tahun MCN melakukan “Superbike Shootout”. Shootout artinya duel senjata ala koboi ampe mati. Ngeri. Pemenang 2016 adalah Ducati Panigale S. 2015 – Yamaha R1. Dan 2014 – BMW S1000RR. Siapa pemenang 2017?

17545499_1303452076418091_5522921949893090781_o(1)

Sebelum melanjutkan membaca ada dua catatan:

  1. MCN menurut saya — dari pengalaman membaca media ini sejak thn 2001 dalam versi cetak, saat saya sekolah di UK — adalah media yang punya bias nasionalis yang tinggi. Artinya mereka cenderung memberi point lebih pada motor/rider/event yang berbasis di Britania Raya. Saya nyengir aja kalau sudah ada motor Triumph yang direview atau Rider Inggris yang menang race. Ini artinya apa? MCN pun bukan media yang 100% sempurna dan obyektif. Bacalah dengan terang pemikiran demikian.
  2. Lifecycle setiap motor selalu berbeda. Tahun 2010, BMW menghentak dunia dengan tenaga kuda nyaris 195HP dan pesta elektronik. Menghentikan dominasi CBR dan R1 (baru saja juara WSBK). Standard/benchmark berubah. Tahun 2012 Kawasaki merubah peta dengan menghadirkan ZX10R Generasi 4, satu keseimbangan antara power delivery yang halus/presisi dengan handling yang ringan. Begitu selanjutnya. Selalu berganti. Mengapa? Karena lifecycle motor berbeda-beda. Yang terbaru biasanya mengalahkan yang kemudian.

 

Tahun 2017 ini ada 7 motor yang dipinjamkan oleh pabrikan untuk berpartisipasi: Ducati Panigale S 1299, Kawasaki ZX-10RR, Aprilia RSV4 RF, Yamaha R1M, BMW S1000RR, dan dua motor versi baru pada shootout 2017 ini: Honda CBR1000RRSP dan Suzuki GSXR1000R.

IMG_5140

Keduanya adalah mantan-mantan jawara Shootout era pertengahan sampai akhir decade 2000 yang kemudian tergusur karena usia.

 

ROAD TEST

 

Pada umumnya, meskipun didesain terutama untuk race, sportbike melakoni sebagian besar dari hidupnya di jalan raya. Sehingga handling dan performa di kecepatan dibawah 100 km/jam menghadapi jalan bergelombang, berpasir, emak-emak berdaster, pecahan beling (anak tanggung) goncengan bertiga tidak kalah pentingnya dengan performa di kecepatan 260km/jam di atas track.

 

Dan untuk itu 7 tester MCN melakukan test selama dua hari, 800 km di jalan pegunungan Welsh yang berliku, dan hujan hehehe. Ban yang digunakan sama semua, sebagai variabel control, Pirelli Diablo Rosso III.

 

IMG_5144

Kawasaki ZX10RR: Ergonomi dan cockpit dirasa sesak oleh para tester hehee, emang lebih cocok ukuran tubuh Asia atau dibawah 180cm. Power di RPM bawah dirasa kurang agresif dibanding Duc dan Aprilia. Tall gearing, tenaga yang smooth dan traction control yang tidak abrupt (kasar) jadi kelebihan di jalan raya, terutama di lintasan tak terduga.

 

Yamaha R1M: keluhan pada tiadanya autoblipper (mengkompensasi turunnya RPM) pada downshift dan boros bensin untuk road use. Yang disukai para tester pada attitude crossplane dan suspensi semi active yang membuat kendali riding menuju sempurna.

 

Ducati Panigale S: meskipun ini binatang sirkuit, namun ternyata ergonominya tidak sekejam itu. Masih bersahabat di jalan raya. Riding mode perbedaannya terasa sekali. Sensasi tenaga dan suara impresif. Tenaga yang terlalu agresif pada kecepatan dibawah 60km/h jadi kelemahannya dan panas dari bawah seat.

 

Aprilia RSV4 RF: Motor paling tinggi gedabang. Tidak terlalu nyaman di kecepatan bawah. Tidak ada rain mode, semua riding mode dirancang untuk ngebut dan ngebut. Quickshifter luar biasa halus, membuat tenaga membanjir tanpa henti. Widow maker.

 

Honda CBR1000RRSP: Kebalikan, seperti dari planet lain jika dibandingkan dengan Aprilia. “Natural balance” dan tenaga yang halus dari motor memberi kenyamanan di road. Ditambah lagi suspensi semi active (mengatur sendiri compression dan rebound) yang dinilai sangat baik. Kelemahan: windscreen dan ergonomic dinilai kecil. Ini bias bule lagi.

 

Suzuki GSXR1000R: Dinilai motor paling sederhana teknologinya dibanding yang lain. Saat break ngopi juga para tester merasa motor ini kekurangan wow factor. Tapi mungkin simplicity adalah kelebihannya. Model baru dirasakan senyaman GSXR lama, dengan steering yang ringan/light dan neutral. Tapi jauh lebih cepat dan bertenaga, berkat VVT. Seharian mengendarai ini tester merasa nyaman dan menikmati riding.

 

BMW S1000RR: Meskipun tidak ada perubahan dr tahun sebelumnya, tapi motor ini disukai karena ergonominya yang lega, buat bule hehehe. Tenaga jadi kekuatan utama. Dalam bahasanya MCN: pada midrange, jambakannya bisa menyobek lengan dan pada high revs, bisa membuat kepala anda copot dari leher. This bike is about Germany power.

 

IMG_5143

TRACK TEST

 

Test dilakukan selama 2 hari di Rockingham, di lintasan aspal sepanjang 3.2 km. Track ini memiliki kombinasi slow corner, chicane dan flat-in-fourth, atau straight line pada gigi 4. Karakter medium speed sirkuit menurut saya.

 

Ducati Panigale S: Ini bukan motor yang paling netral, para tester harus mencari settingan yang paling cocok untuk masing-masing mereka dan sirkuit. Tapi begitu ketemu “once it clicks”, oh boy, 1299 is the fastest. Tricknya adalah body position yang selalu aktif, namun dengan halus tegas, menyerang setiap corner. Lakukan dg benar, Panigale akan menjadi motor paling presisi dan cepat.

Lap time: 1m29.91s, Top speed saat straight: 224.6 km/jam

 

BMW S1000RR: Semua tester sepakat BMW adalah motor yang paling mudah utk digasss poll. Sasisnya sangat balanced dan terprediksi. Respons trotle saat keluar tikungan akurat, meskipun digas di gigi yang lebih tinggi, tenaga masih berlimpah. Sayangnya suspensi semi active Sachs yang dipakai masih kurang dibandingkan Ohlins-nya Panigale. Andai BMW bisa lebih ringan dan agile, maka ia mengalahkan Ducati.

Lap time: 1m 30.23s. Top speed saat straight: 221.92 km/jam

 

HONDA Fireblade CBR1000RR SP: Blade sangat ringan, agile dan presisi di tikungan. Tenaganya sangat mudah dikendalikan hingga kalaupun kita riding seharian bisa mendapatkan lap time yang konsisten. Sasisnya memberi respons mirip RC213V-S. Sayangnya tenaganya tidak seagresif dan sekuat rivalnya saat keluar tikungan atau di straight line. Grade Brembo yang digunakan juga tidak setinggi para rival.

Lap time: 1m 31.03s. Top speed: 219.35 km/jam

 

SUZUKI GSX-R1000R: VVT tidak terlalu pengaruh di track, karena penggunaan di track selalu high revs. Meskipun tidak seagresif Duc dan BMW, namun GSX “far stronger than the Honda in a straight line”. GSX adalah superbike Jepang tercepat di straight line. GSX tidak dilengkapi dengan semi-active suspensi, seperti tiga di atas, sehingga GSX tidak se-stabil dan setajam Duc, BMW dan Honda di tikungan. Problem yang sama dg GSX lama, fading brakes.

Lap time: 1m 31.36s. Top Speed 221.12 km/jam

 

APRILIA RSV4-FR: RSV4 adalah monster dalam hal tenaga. Setingkat dengan Duc dan BMW. Sayangnya Aprilia dirasakan kaku untuk sirkuit medium speed seperti ini. Gearingnya, seperti juga ZX10R, dinilai terlalu tinggi untuk track yang dipenuhi slow corner. Suspensi Ohlins manual, harus diadjust secara presisi agar bisa keluar tikungan dengan lebih cepat.

Lap time: 1m 31.51s. Top Speed: 215.49 km/jam

 

YAMAHA R1M: Lap-timenya dengan Aprilia hampir identik. Aprilia bermesin V4, sementara R1 bermesin CP4, crossplane 4, sehingga karakter mesinnya mirip. Para tester menyukai ergonomic R1 yang cenderung lega untuk raksasa Eropa dan nyaman dikendarai. Sayangnya di bagian sirkuit dengan tipe sempit, motor seperti kurang agile. Gigi 2 terlalu tinggi. Sementara gigi 1 terlalu torquey. Namun pada tikungan panjang, motor terasa sangat bertenaga dan confident.

Lap time: 1m 31.51s. Top Speed: 219.67 km/jam

 

KAWASAKI ZX-10RR: ZX adalah “the smoothest of all the bikes here”, MCN menambahkan “easily”. Memiliki nafas tenaga yang panjang, yang sayangnya kurang bisa dimaksimalkan di tikungan pendek dan sempit. Electronic dinilai termasuk yang paling halus atau tidak obtrusive. Keluhannya sama: “taller riders struggled with the riding position”. HAH! Makanya saya demen banget ama ZX ini. Pas. Braking kurang terasa menggigit namun sedikit lebih baik, “fade less” dibandingkan GSX dan CBR.

Lap time: 1m 31.88s. Top Speed: 216.29 km/jam

 

ACCELERATION TEST

Ini bukan hanya soal gede-gedean HP, faktornya kompleks termasuk gear ratio, aerodinamika dan lain2. Pemenangnya? silahkan pantengin data di bawah ini.

IMG_5152-001.jpg

 

DYNO TEST

 

IMG_5139

Untuk horsepower bisa dilihat di chart, Aprilialah pemenangnya di 192.64 bhp. Dengan posisi buncit dipegang CBR di 179 bhp.

 

Sementara untuk Torsi, tentunya dipegang Panigale si kembar mesin, dengan maksimal 134.46 Nm. Posisi terakhir CBR di 110 Nm.

 

 

KEPUTUSAN MCN:

 

Cukup mengejutkan kalau dilihat di grafik di atas, dalam duel maut 2017 ini MCN memutuskan Honda CBR1000RRSP sebagai pemenangnya. Meskipun dari sector tenaga yang paling kecil, namun semuanya bisa digunakan dengan mudah dan penuh kendali. The easiest bike, the most comfortable to ride.

 

“it’s velvety smooth and refined as an RC213V-S and built with similar attention to detail”

 

Kuncinya pada bobot, balance dan penyempurnaan pada detil. Trik yang sama ketika Blade pertamakali diluncurkan 25 tahun lalu.

 

Selamat utk Fireblade 2017..

IMG_5152.jpg

 

WUAHHH … CAMANA INI MOTORKU KALAH HUAAAA ….

 

Catetan: tolong ya, saya nulis ini habis 2 jam. Kalau mau bakar-bakaran atau komentar asal, saya blokir anda 7 turunan 12 tanjakan. Oke?

 

 

103 thoughts on “Duel Maut 7 Superbike ala MCN. Siapa Pemenangnya?

  1. cemana inii. Motor tenaga paling kecil, laptime juga nggak bagus2 amat dibanding duc atau bmw tapi bisa jadi juara?? hehe

    Eh iya om. Duc peningpale sangat terkenal akan panasnya, di luar negri yg hawanya dingin aja tester pasti mengakui itu. Ada yg bisa nyetir di indonesia berarti hebat banget yak..

  2. Itu bmw gede banget ya, tester yg orang eropa aja kliatan kcil diatasnya. Nek aku sek numpak malah kebur kyake wkwkwk

  3. top reviewnya. Kalau untuk Indonesia memang lebih penting yang nyaman dipakai pelan. Karena mau dipakai kencang juga tidak ada tempatnya. Motor harus yang aman dipakai di jalan licin juga, sehingga butuh yang gampang dikendalikan. traction control itu rasanya lebih ke mencegah selip, bukan untuk mencegah motor liar. mcn apa nggak cerita soal riding mode yang dipakai saat pengujian?

    Kalau soal aerodinamika, penting juga kemampuan menahan angin dari samping,

    Rasanya kesimpulannya cocok juga untuk Indonesia.

    https://kupasmotor.wordpress.com/2017/04/07/ini-riset-yang-menunjukkan-ngawur-dan-bahayanya-ajaran-safety-atau-defensive-riding-mendahulukan-rem-depan-dan-melarang-menaruh-jari-di-tuas-rem/

  4. Secara general orang awam saya lihat, Emang setuju sih. Paling user friendly gitu fireblade. Yang lain punya kelebihan di masing2 faktor. Dan biasanya yg punya kelebihan di masing2 itu justru jadi preferens bagi beberapa orang saja yg merasa cocok.

    Jgn diblokir ya om, just my thought.

  5. 7 superbike itu yang ngetest om Leo aja, wis…. mesti gamblang ora abot sebelah. Cepetan di test Om wkwkwk
    Nggih nopo mboten pembaca lan Om Leo?

  6. Wkwkwkwkwkwwk 7 turunan 12 tanjakan!!!!!! Gile om, mirip jalur pulang je kampung saya, yg bisa bikin keguguran kucing yg lg hamil.

    Mangstab om review n pengejawantahan hasil shootout mcn nya. Soalnya klo nonton videonya kadang2 g ngerti om maksud dr si testernya waktu koment stelah test tiap motor. Dlu jg waktu kelas 600cc yg comentnya positif triumph n zx 636, tp yg menang GSXR 600, aneh saya jg om hahaha.

    Kayaknya d blog ini apalagi ngebahas moge g akan bakar2an om.

    Yg bakar2 an mh di kelas motor sejuta umat

  7. saya kira bmw ato zx yang menang ternyata cbr, kalo tester nya dari orang asia dan tempat test nya di asia juga apakah sama pemenang nya om?

  8. Cbr walaupun power paling kecil, tapi laptimenya cuma kalah dari ducati dan bmw. Cukup cepat di track, paling nyaman di jalan raya, ga salah sih kalau jadi pemenang

  9. hehe udah ada feeling superbike shootout ini bakalan ditulis sama om Leo
    GSX rada mengecewakan di dyno, di test Yoshimura juga 185, tapi VVT emang nolong banget
    buat yg duitnya cepak motor ini emang pilihan terbaik sama kayak adiknya haha

  10. kalau kelasnya orang europe kayaknya seperti mbandingin sport 150 cc ditanah air.
    tapi kalau orang indonesia dan ga terlalu rich2 amat dan ttep untuk gengsi yang penting 4 silinder dan pasti ambil yg paling murah diantara mereka 😁😂😂😂😂😂 (tapi jarang juga sie mereka beli cuman satu moge kalau udah ngomongin prestige)

  11. Dah lama gak komen di blog om leo..

    Setidaknya agak terjawablah knp om leo lebih memilih zx10r ketimbang s1000rr. Ini pertanyaan sy 2-3 tahun yg lalu baru keliatan jawabannya skrg..

  12. Ada 1 hal om yang jadi pertanyaan ane eh disini dibahas:
    Pabrikan kalo desain motor, patokan postur tubuhnya dari negara/region mana ya?
    Apakah sesuai target pasaran motor ntu?
    Kalo gitu, gimana dengan yg produk global?
    Atau berdasarkan asal pabrikan, kaya contoh S1000RR sama ZX10RR diatas?

  13. Sekali lagi, om leo bener2 membantu saya mengartikan makalah ala MCN secara lebih menyenangkan dan mudah.
    Seenggaknya MCN memberikan pengajaran positif “kebutuhan untuk menghadapi keseharian masih lebih mencuri nilai” ternyata ya..

    Ah Semoga new ninja dan R25 facelift segera brojol dengan waktu yg berdekatan biar MCN Indonesia ala om leo bisa segera saya nikmati.

  14. Hmm.. Suzuki GSXR1000R.. Road test; (daily use) dengan steering yang ‘light & neutral, akselerasi lebih cepat dan bertenaga (lowrange torque-nya lebih ‘useable’ )pasti bikin nyaman dan bisa dinikmati seharian (apalagi + ergo versi nakednya)😁😘

    pecahan beling… spot on😂

  15. KTM RC-8 kok gak ikut? MV Agusta F4 series juga absen.

    Ah, mending nunggu review superbike shootout yg dari media Amerika aja, seperti Cycleworld, Motorcycle, motorcyclist dsb, barangkali ngga ada unsur nasionalis/europeanis secara ngga ada lagi superbike made in Amrik pasca Buell Bangkrut.

  16. kok bisa yak, yang paling “irit” di horsepower dan “irit” torsi malah jadi pemenang?

    masih kurang ngeh aja..

    • Power paling kecil bisa digunakan secara maksimal… nothing power without control
      Cek aja laptimenya hp & torsi terkecil tapi bisa mengimbangi bahkan mengalahkan rival nya yg punya power & torsi lebih tinggi… jika masih kurang klimaks lu jajal aja rsv4 dgn cbr

  17. onda menang, pasti dibayar tuh ngoahahahahahaha

    btw, kayaknya cbr / zx10 oleh honda / kawasaki emang dibuat agar orang asia bisa naik ya, terbukti orang bule bilang kesempitan/kekecilan, soalnya kan brand asia, lucu juga kalau brand asia tapi orang asia kesulitan mengendarai hehe

  18. Khusus untuk hasil tes di sirkuit, jika di uji di sirkuit yg berbeda karakter sirkuitnya mungkin saja akan menghasilkan juara yg berbeda….

  19. jujur aja lebih gantengan 250rr daripada fireblade 😀 . mudah digunakan ya? total control? aprilia hp terbesar K0 lawan cbr hp terkecil? gak heran om menilik sirkuitnya kecil sempit. bila diadu senjata pistol glove vs asault river AK47 vs sniper riffle dragunov , secara jangkauan dan akurasi akan menang sniper dan paling buncit pistol, tp fakta dilapangan kalo combat didalam gedung akan menang pake pistol karena ringan mudah diajak manuver dan cepat diarahkan ke sasaran jangka pendek… daya ledak dan daya jangkau tinggi mubazir… power rpm tinggi dan topspeed mubazir…

  20. Mungkin bener kayak yg banyak di omongin di balap2 macam moto gp /wsbk …power yg terbesar tdk ada gunanya jika tidak diimbangi dengan handling yg baik pula….makanya sebagai pemula naik ke superbike mending milih zx10 ato fireblide jangan coba2 langsung naek panigale lohh hehehe ( pernah ngalamin)

  21. Melihat hasil dyno, Ninja masih yg terbaik dibandingkan sesama japanese. Namun masalah nya GSX terbaik dalam hal performa laptime acceleration yg optimal (gear ratio, aerodynamic, etc) makanya biarpun Power & torsi biasa saja, tp bisa melesat cepatt utk drag 1/4mile meninggalkan motor lain yg notabene monster dyno (panigale, bmw, ninja)

  22. Saya suka poinnya “yang paling penting adalah yang paling gampang di kontrol di jalan”..
    walau sebenarnya di sirkuit pun yg power paling gede belum tentu yang menang..
    makasih om leo atas artikelnya.. pencerahan bagi saya yang awam tentang big bike..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s