“Om Leo mau pakai mobil atau Erjigo (R25)?” bro Firman Ketua Chapter YROI CIlacap langsung menawari begitu tahu saya sedang menuju Nusakambangan. Wuihhhh anak motor ya lebih seru riding motor kali ya eksplore pulau yang satu itu.
Saya sebelumnya sudah gowes di pulau ini 4 bulan lalu, saatnya coba eksplore dengan motor. Dan bukan sembarang motor, tapi R25 andalan YROI Cilacap lagi hehehe.
Pagi-pagi begitu tiba di hotel Dafam Cilacap, saya sudah di SMS oleh bro Rifqi adiknya bro Firman. “Om saya sudah di parkiran hotel”. Bro Firman sendiri lebih sering tugas di Balikpapan. Membanting tulang mencari seraup emas.
Motor R25nya memang special. Kaki-kakinya sudah supersport. Mulai dari suspensi depan yang upside down, begitu pula swing arm dan roda belakang satu set dari R6.
Kelar sarapan, saya dan 3 orang rekan pun mengarah menuju dermaga Wijayapura. Ini adalah pintu masuk menuju Pulau Nusakambangan yang dijaga dengan ketat. Engga ada ijin, silahkan pulang.
Ferry besar ternyata masuk dok, jadi kami naik “compreng”. Kapal-kapal kecil yang mondar-mandir mengantarkan petugas ataupun pengunjung yang sudah memiliki ijin untuk memasuki pulau.
Memindahkan motor ke atas compreng harus penuh perhitungan karena licin. Ga lucu dong R25 sekeren ini nyemplung ke laut. Bukan disitu habitatnya hehehe.

handle sendiri aja, motor pinjeman je
Perjalanan dari dermaga Wijayapura menuju dermaga Sodong membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Perjalanan yang segar, karena angin pagi masih berhembus sejuk. Sampai di seberang, amannn.. Foto-foto dulu sembari menunggu mobil jemputan.
Tunggu punya tunggu kok belum sampai. Untung sudah ada motor, akhirnya saya dan seorang rekan gass langsung menuju Lapas pertama yang dituju.
Hari masih pagi, gerimis turun. Saya mulai memacu R25 menyusuri jalan sepanjang garis pantai. Tebing di satu sisi, laut disisi yang lain. Jalan raya tidak terlalu lebar. Hanya pas banget utk dua mobil berjalan bersisian.
Kondisi jalan sepanjang pantai masih mulus dan relative lurus. Gass gass sedikit lah.
Membelok dari jalur sepanjang tepi pantai, kita mulai mengarah ke atas dan dalam. Jalan raya mulai diapit rapat oleh hutan atau semak di kiri kanan jalan. Mulai harus hati-hati disini bro ada beberapa bahaya:
- Binatang yang lewat
- Tumpukan ranjau alias kotoran sapi yang tersusun tinggi dan dimana-mana.
- Permukaan jalan yang retak memanjang dan berbeda jalur ketinggian
- Permukaan jalan yang berlubang besar atau rusak
Kecepatan dipacu menyesuaikan kondisi jalan dan pemahaman kita akan situasi di depan.

Gatot, rekan kerja saya yg ambil gambar
Di sepanjang jalur pedalaman ini kita akan melintasi 6 LAPAS. Mulai dari yang pertama Lapas Terbuka. Disebut terbuka karena dalam lapas ini napi mengalami program asimilasi untuk kembali ke masyarakat. Umumnya mereka yang ditahan disini adalah yang low risk dan akan segera pulang.
Lalu kita akan melewati deretan kebun buah naga yang dikelola oleh penghuni Lapas.
Ada sejumlah bangunan peninggalan Belanda yang sudah tidak lagi digunakan di kanan kiri jalan. Cocok buat shooting film horror.
Jalanan mulai penuh tanjakan dan tikungan, normalnya asyikk untuk digass poll. Tapi saya merasa perlu “respek” pada pulau ini.
Di kanan jalan kemudian menyambut kita Lapas Batu, salah satu Lapas terbesar. Yang berdiri tegak menghimpit batasan badan jalan. Lanjut gass di jalanan yang mulai melandai dan melebar. Tetiba di sisi kiri jalan, di atas bukit kita bisa melihat Lapas Besi yang tertutup pepohonan. Ada jalur lurus yang menghadapkan kita dengan gerbang besar Lapas. Gass lanjut kita akan melihat di sisi kanan bawah di area terbuka Lapas Narkotika. Jalan semakin melandai dan kita mulai melihat lahan terbuka dan persawahan.
Pohon-pohon besar dan tua berdiri tegak dan teduh menaungi sisi jalan.
Dan benar saja di bawah setiap pohon besar itu kondisi jalan rusak. Mungkin karena tergenang dan selalu dalam kondisi basah. Hati-hati.
Gass lagi, kita akan ketemu Lapas Kembang Kuning di sisi kiri jalan. Kita sudah melewati dua pertiga dari jalur utama. Mungkin sudah ada 15 menit semenjak riding meninggalkan dermaga.
Track mulai kembali tinggi menanjak, sempit dan penuh dengan tikungan. Pepohonan rapat sekali di kiri kanan jalan. Mirip scene film king kong.
Untungnya R25 yang saya kendarai sudah dengan exhaust aftermarket, jadi dari jauh sudah terdengar ada motor yang datang, beberapa motor pegawai yang melintas dari arah berlawanan nampaknya sudah mengambil posisi kiri jalan mereka.
Setelah melewati dua bukit, sayapun sampai di Lapas Permisan. Banting kanan dan kemudian kiri, sayapun tiba di Lapas terakhir, yakni Lapas Super Maximum Security Pasir Putih.
— maaf dengan pertimbangan security, saya tidak menampilkan foto-foto Lapas.
Lapas ini niscaya tersapu terjangan ombak Tsunami yang sama yang menghajar Pangandaran tahun 2006 yang menelan korban jiwa 740an orang andai saja tidak ada bukit besar yang berdiri tegak di belakang Lapas. Tidak terbayang nasib para Napi yang terkunci dibalik sel dan harus meregang nyawa menghadapi hempasan ombak yang tercatat setinggi 21 meter.
Perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Pasir Putih dibalik Lapas. Bekas keganasan Tsunami setelah 10 tahun masih bisa dilihat. Bangunan-bangunan tersisa garis pondasi ditanah.
Alam punya caranya sendiri menunjukkan siapa yang paling berkuasa di bumi ini. Respek jangan pongah atau jumawa. Sebab nyawa kitapun bahkan bukan milik kita.
—–
Credit: Thanks to bro Firman dan bro Rifqi yang tanpa bantuannya perjalanan dan tulisan ini ga mungkin. Sayang banget kita gagal lagi ketemuan bro.
great journey..
Keren dan menegangkan,,
Andai r25 facelift kek gitu kaki kakinya om leo
Foto yang terakhir keren bet om.
DiBikin vlog dong om…
Pantai Permisan memang pantai paling sip….
Dulu pernah kesana sama keluarga hanya bertiga (saya, istri dan 1 anak cewek)
ijin masuknya susah banget, untung ada family yg bertugas jaga lapas, jadi ijinnya enak.
Sampai di pantainya …..gilaaaa…pemandangan membentang bagus, ombak gedhe ketahan karang jadi aman buat anak, dan di pantai hanya kita bertiga……seolah2 jadi punya privat pantai…..dari pagi sampe sore anak saya gak bosen2 maen (maklum anak masih TK kecil)
Ada tapinya…..kalo mau buang air besar/kecil susah….toilet tidak ada disepanjang pantai….dan warung juga gak bakalan ditemui disana…..lha wong area tertutup untuk umum.
Salute buat bro firman temen om Leo yg mau minjemin motor kesayangan nya…pasti om leo dah dianggap saudara sendiri 🙂
Brothers dalam YROI
Om leo… Prosedur ijinnya gmn ya? Saya jg pengen nyobain ksana.
Ajukan ijin ke Kanwil Jateng mas
Touring “Mawas Diri” (istilah saya).
Touring dg melintasi objek spt Lapas tsb diatas saya pikir bisa menjadi pencerahan jiwa.
Tepat sekali kesimpulannha mas
Beli batu akik ga Pak Leo?
Biasanya WB yg mau keluar suka nawar2in batu ke pengunjung. Sekedar buat sangu balik ke masyarakat.
Pernah masuk juga berkunjung ke lapas narkotika. Baca postingan ini serasa nostalgia.
Hehehe dulu saya pernah beli batu nya
wah sudah 4 bulan ya om trhitung dr artikel gowes yg lalu?, tapi rasanya masih inget tu tikungan2 di cerita “cerpen” gowes yg lalu deh om,hehehe.. ngomong2 warna black gold skrg banyak yang aplikasi dijalanan. Ijo stabilo juga sih.
Betul bro hehehe
Matching ya…
Baju sama motornya.. Hehehe..
Hehehe iya baru ngeh 😀😀😀
Wah pengalaman yang luar biasa..
Tapi jadi kepo sama kehidupan Narapidana di sana kaya gimana? Hehe
coba kalo pas mudik ke cilacap,minta bonceng saya kalo ke permisan…
kadang suka miris kalo ikon nusakambangan hanya terkenal akan penjara, padahal disana tersimpan pemandangan yang eksotis untuk di lewatkan