Test Ride New Yamaha R1: It Is So light, So Unreal!

 

 

 

Setelah cuaca tak menentu dan kesibukan kuliah, akhirnya dapat juga hari yang baik untuk test ride Yamaha YZF-R1 milik Yamaha of Canberra. Dealer resmi Yamaha di Canberra. Setelah janjian dengan Matt dari Marketing sayapun meluncur ke lokasi.

Setelah paperwork selesai, Matt menyerahkan seperangkat kunci motor dan diarahkan menuju R1 merah yang sudah terparkir dengan gagahnya. Putih Merah cuk. Guantengg..

Matt pun menjelaskan beberapa hal dasar. “You may already know about it, but I still need to brief you some basic information about the bike”. Saya nyengir patuh.

GOPR0844

Matt menjelaskan bagaimana merubah Riding Mode melalui menu yang tampil di dashboard. Dashboard terlihat mungil mungkin hanya seukuran Nokia Communicator-lama jika dibuka. Namun layarnya padat akan informasi penting.

 

Selain konfigurasi Power Mode, layar juga menampilkan informasi tentang tekanan hidrolis pada rem dan distribusi beban pada kedua suspensi motor.

Saya ambil Mode A: Full power dan traction control pada posisi 3. Engine on, dan suara khas Crossplance mengisi udara. Melanjutkan karakter R1 edisi sebelumnya, suaranya justru lebih dekat ke V4 seperti Aprilia yang tidak rata dan kasar ketimbang I4 (ZX, CBR) yang rapat dan santun.

Sayangnya suaranya tidak semenggelegar yang saya bayangkan, cenderung tertahan malahan. Nampaknya persyaratan emisi Euro 4 membuat knalpot bawaan R1 terlalu jinak baik pada tampilan maupun suara. Wajib ini bagi pemilik R1 untuk menyegerakan mengganti knalpotnya. Colek Om Santo yang sudah langsung ganti Akra.

 

KARAKTER TENAGA

Tarik sedikit throttle gas yang motor melonjak padat ke depan. Ehh ga salah nih mesin Inline 4 begini… Sebentar kita ulang lagi. .. kita coba masuk ke highway dan lalu freeway.

Yak, selepas lampu merah masuk ke freeway gas pun mulai dikitir naik ke atas. Wolohhhh… beneran.. Torsi crossplane memang terasa lebih padat ketimbang torsi inline 4 biasa lainnya. Ini mirip torsi bawah ZX14R yang gemuk.

Sekali tarik, motor sudah meloncat ke 110 km/jam. Whohh..

(edit: saat saya lihat di dyno chartnya pada saat RPM 3000 sudah 50HP yang dilepaskan)

Pada inline 4 biasa, apalagi yang 600cc, kalau ditarik dari RPM bawah-menengah-atas, torsi akan datang: kosong-kosong-banjir badang. Tidak linear.

Pada R1, torsi datang: kosong-disiram air 4 ember -banjir badang. Lebih linear kurvanya.

Tidak seganas KTM RC8 memang yang banjir badang-banjir badang-kering bergetar.

Bersuara dan bertenaga padat seperti V-four di putara bawah-menengah, namun di putaran atas karakter inline 4nya keluar. Kencang dan meraung lepas. Seperti berhubungan badan untuk pertama kali.

Sampai pada speed 120km/jam di gigi 1, vibrasi relative tidak terasa. Jannn udah kayak matic bener. Tall first gear. Saya lihat RPMnya juga masih jauh dari red-line, ya udah daripada naik gigi, hajar langsung ke RPM atas masih di gigi1.

Dan dari 120 km/jam dihentak ke atas, R1 melonjak ke 169 km/jam dan itu BELUM redline. Saya terpaksa lepas gas karena kondisi traffic di freeway. Ini saya yang seberat dan sebesar ini. Jika ridernya lebih kecil (less air drag) dan ringan mungkin bisa lebih.

GOPR0856-012

Mas orang gila ya, motor kok dipaksa jalan di gigi 1?

Test top speed per gigi akan memberikan rasa bagaimana distribusi tenaga pada beberapa tingkatan RPM. Serta bagaimana performa motor pada RPM mendekati redline. Dan R1 performs brilliantly. Tenaga dilepas sangat cepat dengan vibrasi yang minimal.

Saat saya coba berkendara di tengah kepadatan kota dengan speed limit 40-50 km/jam, tenaga tetap halus mudah dikendalikan ketimbang RC8.

Sensasi unreal bisa didapat berkat kerja keras inertial-measurement unit (IMU) yang mengukur pergerakan R1 pada 6 sumbu dan meneruskannya ke Yamaha Ride Control (ECU) yang mengatur Power Delivery, Traction Control, Slide Control, Lift Control, Launch Control, dan the Quick Shifter.

 

 

ERGONOMI dan HANDLING

Oke, saya memiliki bias. Sudah terbiasa dengan handling Aussar, KTM RC8 saya, yang sangat enteng. Yah namanya juga Vtwin. Ramping dan posisi mesin bisa lebih di bawah. Membuat manuver lebih ringan.

R1 sebagai motor bermesin inline 4 memiliki diameter body yang lebih lebar. Dampaknya pada jejakan kaki yang kurang bersahabat bagi mereka bertinggi dibawah 170cm. Saya masih jinjit setengah telapak kaki depan baik kanan maupun kiri. Jadi meskipun saat swivel ke kiri dan kanan, saat static, motor sebenarnya tidak berat, tapi karena seat height yang tinggi bagi yang bertubuh agak pendek mungkin menyulitkan.

GOPR0856

Meskipun handlebar atau stang lebih rendah drpd ZX10R (atauh bahkan R1 lama), namun reach atau jaraknya ke pinggul lebih dekat. Sehingga posisinya tidak semenunduk ZX10R. Jarak handlebar ke pinggul yang lebih dekat, membuat posisi kita cukup ke depan PLUS area dashboard dibalik windscreen yang sempit menyebabkan rider dengan panjang torso sama dengan saya harus betul-betul mundur duduknya saat masuk ke speeding mode agar ruang di bagian kepala cukup lega.

GP020845-001

 

GOPR0856-006

Bagaimana handling di real life situation mas?

Posisi duduk dengan reach (jangkauan) lengan yang dekat membuat kontrol terhadap perubahan arah motor terasa lebih seketika dan cepat. Wheelbase yang relatif pendek dibandingkan dengan R1 lama juga berkontribusi pada handling yang sangat tajam dan ringan di jalan raya. Kibasan motor saat bermanuver menyalip juga terasa mantap dan sangat penurut. Saya ga bisa bawa ke sirkuit, habitat asli motor ini namun medium speed cornering sangat presisi. Optical fixation dari mata saat melihat corner -à diterjemahkan ke otot halus di pinggul à reaksi menikung motor yang halus dan terkontrol.

GOPR0856-005

Hilang semua angka bobot 199 kg. Motor ini handlingnya bahkan lebih tajam dan ringan dibandingkan R6 yang hampir 30 kg lebih ringan.

Saya merasa R1 ini lebih compact, practical dan rideable ketimbang R1 lama bahkan R6.

 

KESIMPULAN:

PROs:

  • Ergonomi lebih bersahabat ketimbang old R1
  • Compact, ringkas
  • Handling wuenteng
  • Dashboard dan electronic aid one of the best
  • Mesin Crossplane yang lebih baik, torsi lebih padat ketimbang I4 umumnya

 

CONs:

  • knalpot terlalu membatasi (restraining),
  • Ruang cockpit yang sempit, butuh windscreen yang double bouble
  • tenaga di kitiran atas terasa lebih linear dan tidak semeledak I4 pada umumnya. Dugaan saya di WSBK R1 bakal ajip di jalur yang twisty, tapi harus kerja keras untuk dapat top speed lebih dibandingkan yang lain di straightnya.

 

 

OVERALL

It is a brand new engine. A better crossplane. R1 memadukan sifat V4 yang padat akan torsi dengan karakter I4 yang smooth. Enginenya baru, benar-benar ringan dan seolah datang mewakili generasi yang berbeda. Duduk di cokpit R1 adalah seperti bermain game console/gadget. Respons mesin yang ringan. Gas diputar ke redline enteng seperti tanpa tahanan dan getaran. Tau-tau anda sudah melewati batas kecepatan legal. Bedanya tentu kalau di game anda tidak akan ditilang atau terlibat kecelakaan fatal.

R1 is so light, it feels like so unreal.

 

DCIM104GOPRO

 

 

 

Iklan

65 thoughts on “Test Ride New Yamaha R1: It Is So light, So Unreal!

  1. hmm.seat heightnya 86cm…superbike dengan seat height tertinggi saat ini. Untuk ngangkangin z800 yang seat heightnya 84cm aja udah bikin saya yg tingginya 165cm kepontal-pontal…apalagi ini

  2. Wahhh….Ada vlog nya… Jadi Kenal suara oom Leo nih … Overall dibandingin zx10r Bagus mana oom … New R1 modelnya jauh lebih Bagus Dari yg sebelumnya…

  3. Wah, koq mendadak Yamaha of Canberra minjamin R1 terbaru? Yang ngurusin orang Marketingnya pulak. Jangan2 nih motor sudah diboyong ke garasi….???

    BTW, membaca tulisan om Leo, Enny Arrow aja kalah. Sampai bawa2 sensasi berhubungan badan pertama kali. 😀

  4. waaaaaaahhhhhhhh ngiriiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!

    jangan bilang “unreal” donk om kan ngerasain motornya beneran bukan mimpi,hehehehehe

    klo saya yang ngerasain itu baru namanya…mimpiiiiiiiiiiiiiiiiiii wkwkwkwkwk

  5. saya ga pernah demen desain R1, tapi khusus yg ini, kereeeen BGT!!!
    sempet jadi wallpaper imac kantor saya selama 3 bulan sampe akhir nya kembali menjadi FBH hehe (gambar RC45 sekarang)

  6. Menarik banget..
    Bahasanya oke punya. Untung om Leo bahas nya ttg motor, kalo stensilan bisa basah semua ini mah.
    Penjelasan gimana rasanya handling di real life situation itu bikin bisa ngebayangin feeling nya om. TOP

    Teruslah berkarya om..

  7. Baru r1 ya blm r1m…manclab!!! Btw ane br paham mendetail knp yamaha pake crossplane setelah baca artikel sampeyan loh masbro…. Syg katanya seseorang ini motor kasta rendahan… Cmiuw… 😀

  8. Memang nih artikel dari om Leo lah yang paling pantas tak tunggu2 ketimbang yang lain 😀. Penjelasan impresinya yg bisa membawa pembacanya seakan ikut “merasakan” yg gw suka hahahaha. Salam om dr silent reader yg masih setia menggunakan montor dengan blok kanan mesin bertuliskan “four” ya om hehe

  9. Maaf om Leo…. dalam konteks naik R1 seperti berhubungan badan pertama kali, itu yang bagaimana ya ?… masalahnya pengalamannya pasti beda2…. ada yang ruuuuaarr biasaaaa, ada yang biasa aja, ada yang nightmare….. hehehehe…….

  10. Om, kalo jalanan di country side (bener ga tuh istilahnya) ada speed limit tidak? Kan kelihatannya kalau kanan kiri itu savana ga mungkin di pasang speedgun..

  11. Salam kenal Om Leo, boleh lah kapan2 di bahas fitur2 dan settingan New R1 yg ada di panel meter, effect pas ngebawa motornya apa aja? pernah coba ganti2 settingan tp ga bisa ngebedain rasanya, maklum masih kacung kampret ddlm dunia permotoran. Big thanx.

  12. Selalu terasa asik baca artikel test ride + jalan2nya om leo di teras rumah. Dulu artikel jln2 bareng MT nya aja saya jadiin DP bbm hampir sebulan saking masuk banget ke angan2.
    Mudah2an blog ini tetep bersih dari para FB aneh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s