Triumph Daytona 675R: Extraordinary Sportbike for Mature Riders

Saat tiba di Canberra dan survey untuk membeli motor awal tahun ini, Triumph Daytona 675 memang masuk ke list motor keren inceran saya. Cuakep tenan di foto, lebih cuakepp lagi ternyata lihat aslinya di parkiran kampus. Tiap kali lewat mesti mandek dulu buat memuaskan mata.

Screen Shot 2015-09-03 at 5.16.18 am

Motor berkapasitas 675 cc, 3 silinder. Harga di Australia hanya 1/3 harga di Indonesia.

Penasaran berkepanjangan, daripada edan, saya pun kontak om Indra DS Marketing Manager Triumph Indonesia minta diajak berkenalan dengan si Daytona. Siapp om Leo, kapan? Begitu om Indra menantang balik. Itu sekitar bulan Maret 2015.

Saat tiba di Indonesia utk bertugas selama dua minggu awal Agustus kemarin, saya sudah dihadapkan dengan dua motor Triumph Daytona 675 R dan Triumph Speed Triple. I live in every biker’s dream.

IMG_8046

Daytona 675 edisi non-R, handlingnya memang terasa kalah dengan versi R

Dan sepertinya saat ini mungkin momen yang baik dalam hidup permotoran saya untuk mereview Triumph Daytona 657R.

Kenapa mas? Karena saya kebetulan sudah berkesempatan melakukan test ride lumayan intensif dg bbrp motor di jajaran sport 600cc. Mulai dari Kawasaki ZX-6R sang all-rounder, Honda CBR600 yang ridable dan nyaman, MV F3 675 yg tengil dan lincah, Yamaha R6 yang agresif dan tajam, sampai Suzuki GSXR-600 yang smooth handlingnya namun bertenaga. Apa lagi ya? Hmm udah semua sepertinya. Semoga dengan semua pengalaman itu review atas Daytona 675 bisa lebih tajam dan obyektif.

DESAIN

Triumph melanjutkan ciri khas desain motor-motor Triumph pada Daytona 675 ini. Alih-alih menggunakan gaya dengan sudut tajam yang agresif yang diikuti banyak motor kelas 600cc, Triumph menanamkan desain yang lebih “melengkung dan mengalir” yang menjadi ciri khas pabrikan selama puluhan tahun ini. Dan hasilnya adalah sebuah keindahan yang berkarakter.

Amati lengkung mulai pada wajah dan mata yang menelusur pada area dada yang membulat di tanki, dan kemudian disambut sub-frame alloy yang tercetak ketat hingga ke area tubuh belakang. Kecantikan yang memunculkan hormat dan segan.

IMG_8439-001 IMG_8457-001 IMG_8469-001 IMG_8449-001 IMG_8448-001 IMG_8462-001 IMG_8455-001

ERGONOMI

Daytona 675R ini untuk rider setinggi saya (174cm) cukup pas. Seat heightnya 825mm. Lebih bersahabat ketimbang R6 yang pancen duwur di 850mm atau ZX6R di 830mm. Dan ingat, bermesin 3 silinder membuat Daytona lebih ramping dan kaki lebih mudah menjejak bumi. Mengepit body Daytona juga tergolong nyaman. Ada ruang di area kaki yang cukup luas untuk ukuran motor sport.

IMG_8311

Kalau keliatan keren, itu karena motornya. Jangan salah hehe

Barulah saat menunduk terasa Daytona 675 ini memang race-oriented bike. Tergolong motor sport dengan forward/leaning angle yang paling besar. Posisinya lebih merunduk ketimbang R6, ZX6R apalagi the comfortable class seperti GSXR600 dan CBR600R. Anda harus mengerti posisi duduk yang benar pada kelas sport yaitu paha dalam menjepit body motor, pinggul dan tulang belakang bagian bawah menjungkit badan bagian atas dan posisi lengan sedikit lemas menekuk. Kalau ga gini, alias mengandalkan berat badan di tangan depan ta jamin 15 menit sudah sakit tangan dan bahu.

Benar-benar ergonominya focus dan race-oriented.

TENAGA

Ada dilemma yang dihadapi oleh jajaran motorsport kelas 600cc. Berbeda dengan kakak kelasnya 1000cc yang relative lebih memiliki kekuatan untuk disebar pada rentang RPM manapun, pabrikan memiliki pilihan yang lebih terbatas di kelas 600cc, terutama pada mesin berkonfigurasi inline four. Sebagai genre sport tentunya tenaga maksimal harus digelontorkan pada RPM tertinggi agar motor menjadi sungguh kompetitif. Namun itu memunculkan konsekwensi pada rentang RPM bawah dan menengah, tenaga menjadi terbatas. Coba saja dengan R6 atau ZX6R, tenaga akan meledak begitu gas dibetot diatas 6-7rb RPM. Tapi di rentang bawahnya cenderung kosong.

Ini problem yang diatasi dengan konfigurasi mesin 3 silinder. Memiliki keseimbangan antara torsi yang besar dan tenaga kuda yang aksesibel. Tidak terbesar, namun mudah diraih.

Saat menyalakan engine, terasa grunting khas 3 silinder yang saya hafal betul semenjak sering riding MV F3 dan Rivale, serta MT-09. Lebih rapat drpd twin silinder, namun lebih berkarakter dan menyalak ketimbang inline 4.

Eh sebentar ada yang khas disini. Ada dua kelompok nada yang terpisah. Di frekwensi bawah deruman serak 3 silinder yang dalam. Tapi di rentang atas ada whistling, bunyi desing yang halus dan tinggi. Wahhh jann… sungguh unik… mesti denger sendiri cak baru bisa ngerti maksud paragraph ini.

Memasukkan gigi sangat mudah. Saya kaget karena koplingnya enteng sekali, seperti kelas 250cc padahal tanpa menggunakan bantuan hidraulis. Feature slippery clutch dan quickshifter juga membuat perpindahan gigi berjalan halus dan cepat, tanpa mikir.

Gigi 1, gas sedikit diputar, dan wow!

Screen Shot 2015-09-03 at 6.46.36 am

Tenaga tebal terlempar mulai dari RPM rendah. Padat man, benar-benar beda dari 600cc supersport lainnya. Khas 3 silinder. Killer Torque.

Tenaga tetap padat mengisi hingga mendekati redline. Memang, karena 3 silinder, batas atas RPM lebih rendah, yang artinya kita harus lebih awal naik gigi saat berakselerasi ketimbang inline four. Tapi sensasi tenaga yang rapat tanpa ada drop dari awal akselerasi memang sangat berbeda.

Ini nampaknya juga terbantu dengan gear rasio gigi 1 yang cukup tinggi. Kecepatan maksimum di gigi 1 hingga redline bisa didapat di 123 km/jam tanpa terasa ada flat apalagi drop. Edian.

Di gigi 2 top speed didapat di 162 km/jam dengan tanpa bersusah payah. Gigi 3 mas? Saya ga suka ngebut2.

Penasaran, saya coba bandingkan ke-5 motor sport 600cc dari masing-masing pabrikan dengan menggunakan data dyno on-wheel nya MCN.

Screen Shot 2015-09-03 at 4.34.05 am

Dan ternyata memang meskipun Daytona 675R tidak memiliki HP tertinggi, kalah dengan ZX6R (636cc), namun torsinya beda jauh meninggalkan sport 600cc lainnya. Tebelll..

HANDLING

Nah disini harus saya bilang motor ini bukan buat sembarang rider. Dengan forward/leaning angle paling tinggi, bahkan beda tipis dengan MV F4, menghandle Daytona 675R membutuhkan kematangan dan adaptasi. Engga masalah utk low speed ataupun jalanan lurus. Tapi begitu medium speed ke atas dan memasuki tikungan, anda bisa jatuh jika tidak betul-betul menyiapkan diri.

Kenapa mas? Handling motor ini sangat tajam (meski sedikit tidak setajam R6) dan front forward. Jauh di depan. Bagi mereka yang tingginya pas-pas-an seperti saya (174cm) ini artinya anda harus lebih mendorong tubuh ke depan untuk memungkinkan anda tetap bisa mengontrol peralihan haluan dengan baik. Kalau tidak anda akan understeer alias melebar.

Tapi dengan sedikit penyesuaian ini bisa lekas dibiasakan oleh tubuh.

Suspensi Ohlins bekerja luar biasa. Perbedaannya antara Daytona 675 dan 675R terasa sekali. Out of the showroom setting sudah sangat pas. Lintasan antara Damai Indah Golf dan Nanyang University adalah tempat yang baik utk menguji performa suspensi dan chasis (apabila tidak ada pelintas jalan lain): sepi, long corner dan paving block, Melibas permukaan jalan yang terdiri dari paving block di tikungan panjang ini motor sangat terjaga efek reboundnya, ban tetap menapak dengan baik ke permukaan jalan.

IMG_8441-001 IMG_8443-001 IMG_8444-001

Brembo ABS system juga bekerja dengan sangat baik. Cukup intrusive dalam menghentikan laju motor kencang ini. Saat berhenti dari 80 km/jam ke 0, ABS bekerja 3 kali untuk memastikan ban motor tidak mengunci dan motor tetap melambat secara terkontrol. It can save your life mate!

KESIMPULAN

Pro:

  • Sharp handling, membutuhkan rider yang matang
  • Tenaga berlimpah ruah dan padat dari bawah sampai atas
  • Desain yang cantik dan khas
  • Suara serak dan dalam dari mesin 3 silider, memang unik dan seksi

Cons:

  • Bisa aja, tapi tidak terlalu nyaman utk mereka yang tidak terlalu tinggi. Bukan karena seat height tapi sudut merunduk ke depan.
  • Bukan untuk pemula atau sok-sok an rider

Mengendarai Triumph Daytona 675R di antara sport 600cc lain resikonya membuat anda mendapat perhatian khusus. Karena engineering, keindahan suara dan desain, serta aura life accomplishment yang memang istimewa dan berbeda.

IMG_8437-001

Iklan

59 thoughts on “Triumph Daytona 675R: Extraordinary Sportbike for Mature Riders

  1. Jangan lupa sensasi harganya juga ya bro….haha…saya cuma pernah nangkring di showroom aja…ngelus” aja sambil baca doa dalam hati…

  2. Tapi kenapa daytona 675 ini tidak berkutik di ajang supersport dunia? Tapi di balapan lokal British Supersport dia sedang berada di puncak klasemen.

  3. Makasih Om Leo….
    Udah dikasih dua rit panahan…
    Heheheh
    Walaupun ngasih kunci dengan muka pucat pasi

    Overall..
    Itu daitonah beda jauh dengan EnMaxnya si Om Kobay…

    Wkwkwkwkwkwk….

    😀

  4. Nah ini dia, mesin 3 silinder kayaknya emang solusi tepat untuk kompromi antara power dan torsi ideal, ngarep next-gen R25 pake engine 3 silinder inline dan sasis deltabox, lalu dijual 20 – 25 jutaan lebih mahal dari R25 current, keknya bakalan tetep laku :))

  5. Mantap ya om Leo… Saya baru sempet nyicip yg street triple R aja udah mantap torsinya, apalg ini daytona yg lbh tinggi lagi. Awalnya saya kira spek sama, ternyata beda 😀

  6. Om Leo : 250 cc kalo di 3 silinderkan musti pake konvigurasi Square Engine om bukan overbore, dengan bore x stroke = 47.3 mm x 47.3 mm jika dikalkulasikan dg rumus volume silinder lalu dikalikan 3 (karna 3 silinder) maka akan menghasilkan kapasitas sekitar 249.2 cc (dibulatkan ke atas jadi 250 cc). dg stroke 47.3 mm (lebih panjang dari Ninja 250 41.2 mm dan R25 44.1 mm) tentunya secara teori torsinya sedikit lebih besar ditambah konvigurasi square maka power bawah – atas akan terbagi rata:))

    *disini gak bicara istilah “nearsquare” yaaa 😄

  7. Mas leo,nanya dikit “menjungkit keatas” itu mksdnya gmna ya? Apa pinggul dan tlg belakamg bawah mksdnya mendorong agak keatas kayak org nungging gitu krn posisi setang agak kebawah?
    Mohon infonya mas, sy lg mencoba menerjemahkan sensasi berkendara dr tulisan mas leo.
    Maaf sy cm biker bebek,jd bner2 awam soal motor spoRt. Suwuun mas infone hehe

    • Memang harus di coba sendiri di atas motor yg pure sport bro hehehe. Otot pada Pinggul dan tulang belakang menahan tubuh bagian atas. Tubuh bagian atas bukan ditahan oleh lengan dan pergelangan tangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s