Ini Seharusnya Argumentasi Pengajuan Akses TOL Agar Tidak Mudah Dipatahkan

Di artikel sebelum ini, saya menyambut positif pengajuan akses jalan tol oleh beberapa club motor di Indonesia.

Dengan dua argumentasi:

Pertama:

“Bahkan seharusnya setiap ruas jalan tol dipersiapkan jalur untuk kendaraan roda 4 dan roda 2. Proyek pembangunan tidak boleh bersifat diskriminatif dan hanya dinikmati oleh satu kelompok masyarakat.”

Itu adalah tulang punggung dan dasar argumentasi pertama yang harusnya diajukan. Hampir semua proyek pembangunan jalan tol bersikap diskriminatif terhadap pengguna roda dua. Padahal KR2 juga adalah obyek terkena pajak di negeri ini. Padahal atas beban awal pembangunan jalan tol dimana ada penyertaan APBN terdapat uang hasil pajak SELURUH lapisan masyarakat Indonesia.

Hal ini tertera pula sebagai tujuan diadakannya jalan tol dalam PP no 15/2005 tentang Jalan Tol.

Screen Shot 2015-07-01 at 7.47.56 am

Jadi kenapa jalan tol hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda 4 keatas? Kenapa tidak ada jalur roda dua? Dimana aspek keadilannya?

Kedua:  Pertimbangan keuntungan ekonomi.

Bisa dibayangkan manfaat ekonomi yang didapatkan. Baik oleh masyarakat umum pengguna sepeda motor, maupun oleh pengelola jalan tol apabila kendaraan motor roda dua bisa menggunakan jalan tol. Pembangunan tidak hanya dilakukan dengan menggunakan kendaraan roda 4 keatas. Sepeda motor juga adalah alat produksi yang masif digunakan di negeri ini. Efisiensi biaya dan waktu yang didapat akan sangat besar bagi masyarakat pengguna roda 2. Sementara itu bagi pengelola jalan tol, dengan beban pemeliharaan yang relatif lebih ringan, pemasukan dari KR2 juga akan signifikan.

——————

Harusnya berdasarkan dua argumentasi inilah kita mengajukan akses jalan tol bagi kendaraan roda dua kepada pihak otoritas pengambil kebijakan dan pengelola jalan tol.

Perlu dipikirkan komunitas motor secara lebih luas untuk bisa mengajukan hal ini. Tanpa harus dibatasi cc tertentu. Dan diutamakan mungkin, untuk jangka menengah, pada akses tol luar kota yang relatif pengadaan lahannya masih memungkinkan.

Kalau ini digulirkan, ini adalah kontribusi nyata komunitas motor bagi negeri.

Iklan

45 thoughts on “Ini Seharusnya Argumentasi Pengajuan Akses TOL Agar Tidak Mudah Dipatahkan

  1. Pengusulan yg lalu memang terlalu sempit logika berpikirnya, sehingga langsung bisa disanggah oleh para pemangku kepentingan. Krn kesan yg muncul moge minta despensasi hukum “lex specialis” yg tdk pada tempatnya. Setuju dng usulan brader.. Tambahkan tarif masuk yg lebih tinggi, shg secara hukum ekonomi akan terbentuk mekanisme pasar dengan sendirinya. Sertai persyaratan kendaraan dan safety gear yg ketat.. Misal helm minimal harus SNI atau standar international yg di akui disertai dengan sanksi yg berat buat para pelanggarnya.

  2. Menurut saya kondisi di tanah air belum sesuai kendaraan roda dua atau tiga masuk tol. Melihat perilaku berkendara baik roda empat atau roda dua yang secara umum tidak bisa tertib. Pelarangan roda dua masuk jalan tol bukan semata2 karena diskriminasi tapi lebih untuk keamanan bagi semuaya. Di jalan umum yang padat saja masih banyak yang ngebut dan selap selip baik mobil ataupun motor, apalagi di jalan tol. imho

    • -jalur terpisah hanya cukup 1 jalur, kalau moge turing pemakai jalan yang lain (baca mocil) mau disurh merumput dulu ?
      – dengan dibuatnya jalur terpisah diluar masalah dana, lahan dan infrastruktur, apakah mas berani menjamin tidak bakal ada moge / mocil yang NEKAT keluar dari jalurnya ?
      – Berhubung setiap hari ada kecelakaan motor dan jika kecelakaan tsb dipindahkan ke jalan tol apakah sudah dihitung akibatnya ke produktifitas pengguna tol secara kesuluruhan ?

    • Dibikin jalur tersendiri, dikasih pembatas beton tinggi setengah meter. Mobil aman, motor aman, diskriminasi hilang, semua senang…
      waktu tempuh lebih singkat..stres menurun..kinerja di tempat kerja meningkat..pertunbuhan ekonomi meningkat signifikan..waktu untuk keluarga lebih banyak.
      semoga petinggi-petinggi negeri ini terbuka pikirannya dan gak egois mau nyaman sendiri mobilan.

    • Dilihat aja pembatas beton 0.5m punya busway.. dijebol buat diambil rangka bajanya..
      Berani menjamin hal tsb tidak akan terjadi di tol jg ?
      Dengan dikasih pembatas beton 0.5m mobil dan motor sudah bisa aman ?
      zero accident life happily ever after ?
      what a wonderful world :mrgreen:
      keep on dreaming 😆

    • @eko
      Solusinya keep on dreaming naik motor di tol indo.. Sapa tau dapat nomor 4 angka 😉

    • kasih pembatas seperlunya aja, kayak di ring road jogja, tapi agak lebar lagi kira kira 3 motor berjejer bisa muat

  3. Saya mah setuju berat dengan mas Leo mengenai aturan ini. Cuma mungkin menurut saya lebih baik diterapkan di jalan tol yang trafficnya belum terlalu padat. Jadi meminimalisir terjadinya kecelakaan.

  4. Kalo menurut saya, dengan argumen sebagus dan seindah apapun paling mentok hanya bisa dibikin jalur terpisah untuk roda 2 seperti di suramadu.

    Tentunya dengan spek dan dimensi seadanya, muat buat bebek metic atau sport cc kecil. Kalo dilewatin moge kyknya sempit dan tetep galayak jalan. Beda dengan di barat yg mana highway bs dipake roda 2 atau lebih tanpa jalur “spesial”.

    Jangankan proyek jalan, tempat parkir di mall buat motor aja beda jauh sama mobil. Biasanya sempit, padat, di basement, bau gasedap, pengap dan diperlakukan sebagai ” warga kelas bawah”.

    Ya masalahnya image sudah nempel kuat di Indo, motor buat “warga miskin”, mobil buat ” yang lebih mampu”. Jadi yg punya moge ya ttep aja sgelintir yang hobi. Akibatnya membentuk club, turing sana sini dan menganggu publik. Akibatnya image pemotor makin hancur cur cur akibat ulah genk moge, dan pemotor alay lain di jalan. Mau usulan apapun dianggap angin lalu.. Sediih.

  5. mustinya torge dan torcil bersatu ngajuin revisi UU jalan tol yg mewajibkan semua pembangunan jalan tol musti mengakomodasi roda 2 dan 4, yang jadi masalah besar adalah perilaku pengendara torge dan torcil yg masih lebih dominan yang ugal ugalan dibanding yang patuh aturan. klo alasan yg dipake kemaren emg pemikiran sempit yang hanya mementingkan kepentingan torge.

    klo pun misalnya UU bisa diubah musti ada pengaturan kelayakan pengendara motor yang boleh masuk tol, alias musti ada uji ulang untuk SIM dengan penegakkan aturan yang sangat ketat, ga kayak sekarang malah banyak yg mo bikin sim, oknum polisi, plus calo yg memanfaatkan pengurusan SIM dengan cara yg tidak patut untuk kepentingan pribadi. bila perlu plat nomor motornya juga khusus sehingga proses identifikasinya lebih mudah.

  6. jika semua motor boleh masuk tol malah akan kacau.
    harus dibedakan entah dg cc atau dengan izin khusus yang menyatakan motor dan rider tsb layak masuk tol

  7. Untuk pembatasan cc, menurut saya masih diperlukan mas untuk menghindari status jalan tol berubah menjadi “jalan raya biasa” karena selama ini kan jalan tol dianggap khusus/spesial.

    400cc+ itu sudah pas, kenapa?
    1. Secara performa sudah bisa mengimbangi kecepatan mobil. (untuk menghindari kecelakaan karena ada motor yang kecepatannya tidak bisa mengimbangi)
    2. Untuk menjaga jalan tol agar tidak menjadi terlalu ramai dan rusuh seperti di jalan raya biasa.

    Sebetulnya jika dilihat dari performa, 250cc saja sudah bisa mengimbangi (bahkan melebihi) kecepatan mobil pada umumnya tapi kan populasinya sudah terlalu banyak, jadi kembali ke poin nomer 2. Lagipula sudah selayaknya para pembayar pajak extra+++ ini mendapatkan hak yang spesial.

    Masa bayarnya vip dapetnya reguler?

  8. Kalau idenya kayak gini baru bener om,,jadi pemilik motor dan mobil sama-sama bisa menikmati akses jalan tol ( sesuai asas memperhatikan keadilan ) tanpa saling mengganggu karena punya jalur terpisah. Buat segala jenis motor tentunya,kalau hanya moge yang boleh ya sama aja tetep diskriminasi juga. Kalau boleh lewat tol tentu sangat membantu memangkas jarak pemotor terutama saat musim mudik. Yah moga aja “motor itu bukan kendaraan yang di rancang untuk jarak jauh” nggk di jadiin alesan buat mentahin lagi om.

  9. Jd tentang keadilan, nih ? Kalo saya petik bunyi pancasila yaitu dr sila ke 2 ( Kemanusiaan yang adil & beradab )…
    Maka sudah jelas segala hal tentang keadilan bagi manusia/ pengguna jalan haruslah memiliki sifat yang beradab…
    Beradab membayar pajak, mematuhi rambu2 lalu lintas, menghargai antar sesama jalan..
    Apakah hal tersebut mayoritas sudah diterapkan oleh pengendara roda 2 di NKRI ?? *sila jwb sendiri dengan senyuman..

    • Betul sekali mas leo, mau roda berapapun kelakuannya mirip. Di jalan tol aja r4 asik jalan santai di jalur paling kanan. Diminta minggir ke kiri malah galakan dia..hahay gak tau aturan..indonesia bingits.

  10. Susah juga ya yg tinggal di jkt ga bs menikmati moge nya, beda sama yg di daerah jawa tengah yg bagian bukit2 aka “mulholland van java” aspal nya mulus dan sepi… bengkel resmi pun ada, tiap hari geber si “z8” ga pernah capekk… hihihi… and no chicken strip of course…

  11. No 1 yg hrs dibenahi emg sikap dan kelakuan dari para pemotor itu sndiri, saya setuju pemoge msk tol, cma klo ngeliat kelakuan mayoritas dri pemoge skrg saya kurang yakin

  12. kalo sepeda motor di jalur mirip tol, tingkat risiko kecelakaan besar mana sama jalan raya… soalnya menurut saya agak rentan buat pengendara roda dua di kecepatan relatif tinggi. kalo menurut saya mending kelola angkutan umum, supaya ngga bikin macet jalan( yang cari penumpang dengan berkendara ekstrim), dengan demikian pemotor nyaman dan tepat waktu… plus infrastruktur.

  13. Tol dalam kota jakarta aja suka macet pas jam sibuk om. Apa kabar kalo diselipin jalur khusus motor? Tambah sempit dong jalur mobilnya. Yang ada malah semakin macet dan semakin ga efisien.
    Nah Kalo pertimbangan aspek ekonomi, malah jatuhnya jadi ga ada aspek keadilan kalo cuma moge yang dapet akses. Berapa banyak sih pengguna moge yang menggunakan sebagai kendaraan harian untuk berangkat ngantor ? Kecuali om leo yang pake er6n buat harian ngantor.
    Hihi

    • menurut saya yang perlu diprioritaskan, seperti di dalam artikel, mungkin tol luar kota yang dari segi lahan masih memungkinkan dan dari segi ekonomi menguntungkan.

  14. Wah mas minta parkir motor yang manusiawi dan tidak diskriminatif aja di jakarta susah apalagi yg namanya jalan tol….

  15. Kalau mau ikutan seperti negara lain ya semua jenis motor boleh masuk tol. Jangan cuma “moge” saja. Sesama bikers harus kompak.
    (di Singapura motor bebek pun masuk tol)

  16. kalo lajurnya kayak di suramadu semua motor bisa masuk ya ngenes kacian motor kecil./
    bayangin kalo pas barengan ada harley minta jalan di lajur yg sesempit lajur motor di suramadu. bisa disuruh nyemplung laut itu motornya.

    kalopun dikasih lajur khusus saya oke2 aja. tapi apa mau MOGE – MOGE jalan di 1 lajur yg sama ama mocil?

    nanti mereka bakalan tetep aja nyelonong ke jalur mobil

  17. Kalo bahasanya pemerataan,terus bagaimana halnya dengan motor non moge? Motor harianlah kita sebut.mereka juga samasama disebut motor kok.moge memang kapasitasnya gede,tapi tetep aja motor disebutnya.skrg moge masuk tol,motor biasa kgk…pemerataan sebelah mananya? Itu mah bukan pemerataan,ekslusifitas moge smata. Harusnya sih pemilik harus tau konsekuensi punya moge di indonesia,siap macet macetan…

  18. setuju kr2 masuk tol
    imho:
    1. hrs ada batasan bahwa tdk semua motor bisa masuk tol. minimal motor yg kecepatannya bisa mencapai kec minimum yg di haruskan di tol yg boleh masuk jalan tol. kalo beat ato mio boleh masuk tol SAMA JUGA BOHONG. Sekalinya mereka ada di depan kita siap2 deh naik moge rasa mocil (spt jalur suramadu).

    2. perlu persiapan matang, komprehensif dan menyeluruh mengenai hal tersebut. jika perlu diujicobakan dulu di ruas2 tol tertentu, pada hari & jam tertentu. jika perlu contoh implementasi ‘car free day’, kemudian terapkan di jalan tol. sediakan ruas tol tertentu pada hari & jam tertentu hanya bisa diakses oleh kr2 yg memenuh syarat kecepatan minimum tol. tentunya dengan syarat & ketentuan berlaku spt tetap bayar tol, safety gear dst, dll. pengelola untung, pengguna kr2 senang.
    jika positif bisa dilanjutkan dgn memperluas ruas tol, hari & jam ‘car free day’ di jalan tol tsb.

    usul:
    tol jombang – kertosono bisa di pakai pilot project tuh krn tingkat kepadatannya masih sangat rendah. utk area jabodetabek mending bangun private road sendiri saza saya setuju haha…..

    sekian & terimakasih.

  19. Klo bicaranya keadilan mana ada di negeri ini om? Kaum kaya menindas kaum miskin..bayangin aja mau dibikin jalur lebar seberapa,motor kecil ttp aja kegusur ama yg gede,sirine tuh nguing2 & blayer2..blm lg klo konvoi sdh bnyk rekam jejak moge yg bikin resah,gimana di tol nanti yg g ada polkis dipengkolan.. 🙂 lampu merah aja diterjang kok, apalgi cm mocil..kna angin juga dah melayang.disuruh pake plat nomer aja masih bnyk alasan,disuruh ngelepas sirine masih bnyk bacot,ky gitu kok mau disiplin & tertib berkendara.. GA MINGGIR GUA HAJAR NTAR..klo sdh bisa saling menghargai antar pengguna jalan boleh lah..

  20. sayangnya ga bisa bro, coba de baca pasal 38 PP iyu, disebutin jalan tol diperuntukkan memang khusus untuk roda 4 / lebih. jadi mau alasannya untuk pemerataan atau lain2nya percuma, emang peraturan perUndang2annya by desain dikhususkan bukan untuk motor.

    pemerataan pembangunan tol roda untuk mobil, itu maksud Pasal 2.

  21. Jalan tol diindonesia yg bisa dilewati motor yg saya tau dan pernah lewat cuma di bali, tol bali mandara namanya. Sy pernah beberapa kali lewat tol ini pakai motor tarifnya Rp5000. Jalurnya dipisah antara mobil dan motor, udah gitu tolnya diatas laut keren banget dah pokonya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s