Test Ride R25 oleh (mantan) Rider Ninja 250 FI

Selamat Malam Bro dan Sis

 

Kesempatan yang baik, meskipun sekejap, jangan dilewatkan.

Saat ngobrol-ngobrol via WA, mas Aziz WarungDOHC menyampaikan rencananya solo riding ke Jekardah (istilah doi) utk test ride R25 dan Verde (Er6) sekalian. Ayok saja mas wong motor tiap hari saya bawa ngantor kok.

Dan sampailah kami di ground test (hehe ngeri) milik Tabloid OTOMOTIF di jalan Panjang Kebon Jeruk.

 

20140609_210704

Meskipun tracknya terbatas hanya sepanjang 200 meter x 2 row, namun (sementara ini) cukup untuk mendapatkan riding impression.

Kami menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam ditemani Mr Tester dr Otomotif.

Sebelumnya saya harus sampaikan bahwa meskipun saya berusaha obyektif, tapi tentu ada bias-bias di diri saya. Saya mantan rider Ninja 250 FI, ber KM 15,000 lebih dalam waktu 1 tahun. Saat ini saya menggunakan Er6n untuk harian, KM juga sudah 14,600 dlm waktu 10 bulan. Meskipun cukup sering test ride aneka jenis motor, saya tentunya, secara alamiah, akan selalu membandingkan dengan motor yang saya familiar.

 

KARAKTER TENAGA

 

Engine on …

Seperti saat saya bleyer2 di Dinner Party minggu lalu, suara R25 punya karakter yang berbeda dengan Ninja 250. Ninja lebih tenang bahkan saat kita revving up, sementara R25 lebih keluar, vrrumm vrrrumm.

Dengan penekanan pada “rrr”

Saat melangkahkan kaki dan swiveling ke kiri dan ke kanan terasa sekali enteng, hehehe ini mungkin efek harian pakai 650 cc ya, maaf.

Sudah siap-siap menunduk, eh ternyata ga perlu. Ergonomi tidak berbeda jauh dengan Ninja 250 FI. Bagi mereka yang sebelumnya membesut Yamaha Scorpio dan Vixion, R25 menawarkan posisi riding yang relative ramah.

Baiklah… first gear langsung revving up.

Stelan standard kopling agak jauh..  namun masih sempat wheelie pendek..

Torsi awal sampai 3-6 ribuan tipis. Mirip Ninja 250. Hmm lebih tipis. Beda dengan 250 RR Mono yang langsung melompat (iya iya itu satu silinder mesin trail).

Tapi RPM 3 ribu ke 7-8 ribuan rasanya cuma seperti kepleset. Cepet naiknya. Tau-tau sdh di atas.

Catatan: Saat gigi netral tentu RPM lebih cepat naik karena tenaga hanya sampai crank, tapi ini pada gigi 1 dan 2 pun RPM berkitir naik dengan cepat.

Wuttt..tau-tau sudah di 74km/jam di lintasan pendek ini.

 

Fullscreen capture 6102014 72144 AM

 

 

HANDLING

 

Hard brake menjelang tikungan.  Rem depan, tambah sedikit rem belakang, lalu lepas. Very good brake untuk di kelasnya. Saya sudah agak leaning/miring sebenarnya tapi pengereman tetap stabil. Tambah kemiringan, wasssss  serius entengg…

20140609_205319

Anda tentu tau sensasi apa yang dirasakan otak saat cornering begini…dan ini smooth…

Dan saat di 2/3 tikungn saya sedikit tambah gas… tidak terasa gejala bergetar atau bergoyang keluarr…

Memang tikungannya tidak lebar, namun dalam kecepatan rendah, tenaga yang diberikan mesin kepada chasis yang sebenarnya sedang mengalami gaya telikung bisa disalurkan dengan baik,

Luruss revving up ke 11,000 RPM…..

Saatnya flipping (menikung kiri kanan cepat) di dua tikungan halaman belakang.

Rem sedikit, lalu flipping ke kirii cepat lantas ke kanan…

Bro…berasa naik RR Mono. Pergeseran centre of gravity dari kiri ke kanan BERJALAN BEGITU SAJA. Ringan sekali.

 

SUSPENSI

Permukaan area belakang Gramedia tidak terlalu halus. Ada beberapa sambungan semen, beton, paving yang tidak terlalu rata. Pada saat testing, ketika revving up, braking, cornering semua ketidakrataan itu ditangani cukup baik. Suspensi cenderung lembut buat saya (problem berbobot 90 kg hehe).

 

 

CONCLUSION

 

Pros:

  1. Handling
  2. Handling dan;
  3. Handling
  4. Power band pada rentang mid (7rb RPM) hingga high (11-13rb RPM) yang betul2 tebal dan penuh untuk kelas 250cc 2 silinder. Sangat cocok untuk penggunaan sirkuit setingkat Sentul atau touring luar kota jarak jauh.
  5. Dengan knalpot yang sama-sama standard, R25 lebih memiliki suara yang berkarakter sport. Sementara Ninja 250 bersuara lebih senyap. Tergantung selera.

 

Cons:

  1. Torsi di putaran dibawah 6000 RPM agak ketipisan. Ninja 250 juga tipis di bawah sebenarnya tapi lebih tebal sedikit ketimbang R25. Memang R25 bisa mengkompensasi ini secara cepat karena RPMnya lebih ringan melejit ke 7000 RPM. Tapi untuk kepentingan stop n go dalam kota atau touring luar kota naik turun gunung saya lebih prefer pakai Rivale 800 mengganti gear belakang lebih besar.
  2. Desain sport yang sedikit tanggung. Untuk buritan dan body samping saya vote for R25. Tapi utk are haluan, saya kira ada kompromi dari ide/desain awal disini. Sebagai bagian dari keluarga YZF-R, R 25 terutama pada sudut kemiringan area depan kurang menunduk dan sporty seperti yang ditunjukkan oleh racing conceptnya. Disini Ninja 250Fi yang mewarisi desain moge-look dari ZX6R masih memiliki kelebihan.

 

I love my Kawasaki Ninja 250 FI, tapi setelah mencoba test ride saya harus katakan Yamaha datang dengan performa mesin dan handling yang lebih baru dan superior.

Utk handling, R25 ini ternyata lebih friendly dari yang saya bayangkan atau yang saya harapkan sebenarnya.

Lho kenapa om?

Di jajaran sport di atasnya: R6 dan R1, clan R dikenal sebagai motor yang sangat race-oriented dan tajam. Mengendarai R anda harus committed karena serie R sangat demanding dan tidak pemaaf. Saya sudah test misalnya R6 (utk jarak yang cukup jauh lho) dan bandingkan dengan 600 cc lainnya.

Itu juga sebenarnya salah satu alasan utama saya membeli R25: untuk merasakan sportbike 250 cc dengan segala performance dan feelingnya.

Mengapa R25 ini berbeda dengan R6 dan R1 om?

Kompromi ini terjadi krn:

1) Yamaha ingin memastikan ridability R25 utk penggunaan harian, dan

2) menjerat rider Yamaha yang sudah terbiasa dengan ergonomic tegaknya Scorpio, Byson, keluarga RX dan Vixion.

Ingat ada hampir 1.5 juta pengendara sport Yamaha (dihitung dari nilai penjualan Vixion, Byson, Scorpio dan keluarga RX) yang merupakan basis market R25. 10 persennya saja pindah ke R25 sudah besar sekali.

 

Bagaimana dengan pengguna 250 cc lainnya om, perlu pindah?

Tergantung kebutuhan masing-masing. Kalau sudah punya 250cc sih menurut saya kalau mau ganti sebaiknya ke cc atasnya agar pengalamannya lebih komplit dan matang.

Kenapa ga jual 250cc yg ada sekarang dan ganti R25?

Bisa saja. Kalau ingin lebih focus pada penggunaan sport di sirkuit, R25 bakal terbaik di 250 cc, sampai Kawasaki mengupgrade Ninja 250. Tapi kalau untuk penggunaan harian (ngantor, mejeng dll) saya rasa selisihnya tidak cukup signifikan bagi pemilik 250cc. Dan memang menurut YIMM pengguna 250cc milik competitor bukanlah target market primer R25.

 

Bonus Penampakan

20140609_211148

Mas Aziz WarungDOHC

 

158 thoughts on “Test Ride R25 oleh (mantan) Rider Ninja 250 FI

  1. memang boleh dikatakan ini generasi R yang paling keluar dari pakemnya dari segi ergonomi…om leo pernah nyoba cbr 250 ngga? kog kalo dari kasat mata saya lihat kalau orang ngendarai r25 ini posisi duduknya mirip cbr 250 ya

  2. Kayaknya putaran bawah r25 tipis karena pulleynya yg berbentuk oval om, agar lebih ramah gak terlalu ganas. Sepertinya memang harus ganti pulley yg bundar buat yg hobi sruntulan hehehe

  3. Wahh, coba si R25 muncul setahun lebih cepet, mungkin ane lebih prefer ama motor ini.
    Tp udah terlanjur beli ninin sih.
    😀

    • Hehehe
      Iya om, disyukuri aja deh apa yg dimiliki skrg.
      Mending ngumpulin duit buat beli lg motor yg lebih gede, lg sakaw ama si 636 soale.
      😀

  4. good review bung leo,thx dah sharing tapi tetap saya masih pake ninfi hehe alasannya sama dgn pendapat bung leo,mending nabung buat naik kelas misal ke er6n/er6f ato mt7 klo ud dijual disini

  5. Ini maksudnya apa ya bro?
    “Tapi untuk kepentingan stop n go dalam kota atau touring luar kota naik turun gunung saya lebih prefer pakai Rivale 800 mengganti gear belakang lebih besar.”

    • copaste kale om..

      btw kata rantang kok knalpot standar lbh vroom ninin yach? apa krn dia sentimen sama r25 duluan?

  6. om leo jujur ni, saat ini saya pengguna new vixion dan ingin beralih ke kelas 250cc,
    saya udah meminta ijin istri dan direstui utk beli,
    tp saya bingung antra r25 ato ninfi secara desain sy lebih suka ninfi,
    tp dari pertama punya sampai sekarang motor saya yamaha
    saya nunggu beli karena nunggu reviewnya om leo.
    tx om, sory kepanjangan

    • Sekedar masukan doang nih bro. Kl emang lbh demen disain Ninja ya mending ambil Ninja. Kenapa? Toh performanya gak beda jauh2 amat kok bro, dan lagian ente kan gak punya niat jadiin jalan raya sebagai sirkuit kan? Hahaha… Saya ksh masukan begitu krn saya pribadi emang lbh pentingin disain ketimbang power. Apalagi powernya Ninja jg bukannya jelek2 amat, masih bejaban kok ama R25. Sekali lg, ini cuma sekedar sharing aja lho bro.

    • Kalau engga buru2 sebaiknya mas coba riding saja kedua-duanya.
      Hanya membaca di artikel dengan melihat dan mencoba sendiri beda.

  7. kalau lihat grafik Dyno tenaga dan torsi R25 VS N250Fi(keIpan lebih mudah).R25 baru unggul diatas sekitar 9200 RPM.jadi kalau jalan kosong dan diadu habis2an baru akan unggul.itu konsekwensi mengejar power RPM atas jadi letoy RPM bawah,karena tanpa Variabel Valve.(kaya Mobil).

  8. cuma sensasi dari 7000RPM ke 9200RPM pada R25 lebih terasa karena posisinya mengejar (sudut peningkatanya lebih curam).jangan sok mengakali mesin powerfull dari RPM bawah tanpa mengorbankan RPM atas.dikira Yamaha ndak sekolah desainer mesinnya.

  9. maaf komen saya maksudkan menjawab “Fulley Oval.”.maksudnya dimana posisinya dan untuk apa?dimesin mobil ada fulley buat alternator,pompa oli,powerstrering dan tali kipas.maksud Fulley Oval VS Fulley Bundar?tolong penjelasan,Dewa sudah cari ilmu kemana2 ndak tahu juga.

    • Gini loh brow dewa, masalah pulley itu bukan masalah tekhnologi atau apa. Menurut brow dewa kalo pulley TB itu diubah jadi bulat bakal berubah gak respon tarikan bawahnya? Menurut saya sendiri pulley oval bisa jadi kelemahan buat rider yg suka sruntulan, tapi bakal jadi kelebihan kalo dipake sama rider yg bawa motornya kalem

  10. maaf komen saya maksudkan menjawab “Fulley Oval.”.maksudnya dimana posisinya dan untuk apa?dimesin mobil ada fulley buat alternator,pompa oli,powerstrering dan tali kipas.maksud Fulley Oval VS Fulley Bundar?tolong penjelasan,Dewa cari ilmu kemana2 ndak ngerti juga.

  11. merubah karekter/sifat mesin bisa dari merubah derajat Cam,ganti knolpot walau sedikit bisa merubah efesiensi volumetrik.bila ganti knalpot yg punya tendangan balik di RPM rendah tenaga akan naik diRPM rendah,cuma biasanya tercekik diRPM tinggi.merubah sifat harus merubah gearrasio.

  12. review Handling adalah saat menikung patah kecepatan rendah dan trek lurus yg pendek.dgn wheelbase pendek seukuran CBR memang enak,tapi trek lurus diatas 130km/jam dan lagi Topspeed Ninja diatas kertas unggul(ndak pernah pakai R25)serta tikungan lebar kecepatan tinggi.

  13. Bravo om leo, sangat subjektif penilaiannya.. Blogger seperti ini yang sangat rekomended dalam penilaian suatu produk. walau cinta mati dengan milik sendiri, tapi legowo mengakui kelebihan yang lain.

  14. dasar Abidin bersilat lidah,Pulley pemutar Katup TB bentuknya Oval dibilang tehnologi,dgn bentuk oval memang bukaan TB lebih cepat membuka diawal dan lambat diakhir putaran.sama kaya handelgas Spontan cuma dipindah kebukaan gas diTB.kalau dihandelgas cuma bendol diStang.

    • Abidin sering bikin komentar yg melenceng dimedia,jangan asal cuap2 yg akhirnya ditelan mentah2 penguna Yamaha(FBY)dan akhirnya FBY terkesan kurang cerdas.tadi contohnya bilang Pulley Oval buat ngeredam tenaga(padahal cuma bukaan gas).biar bulat/kotak/segitiga sama aja tenaganya.

  15. kalau Pulley TB bundar tarikan kabel sepanjang 4cm katup TB terbuka 90dearajat,kalau 2 cm terbuka 45 derajat.kalau oval tarikan 4 cm tetap 90 derajat cuma tarikan 2cm bisa dibikin 40 derajat atau 50 derajat tergantung bentuk ovalnya.jadi mau tarikan gas awal atau akhir agresif,bukan mesin.

  16. Pulley TB ndak merubah karakter mesin/grafik Dyno,hanya feeling pengendaraan,bukan tehnologi MOTOGP.kalau diMotoGp pengerak katup TB pakai Servo,ndak pakai pulley karena ndak ada kabelgas,adanya kabel listrik dan Servo(Drive by Wire)kekhayangan dulu sekolahnya.

  17. banyak mobil CKD,Moge termasuk Yamaha sudah pakai Drive By Wire yg bukaan TB terintregrasi dgn sensor Traction Control.bila sensor roda depan dan belakang kecepatan berbeda biar gas dibetot tetap aja TB kesettingan pabrik.coba Bro Leo cari kabelgas Rivale ada/kaga?

  18. Pingback: Kurangnya sesasi moge pada R25. Bisa jadi masukan untuk pengembangannya… | Smartfaiz

  19. Sayang tempat test ridenya suempit amir mas…idealnya tempat segitu buat test ride matic atau bebek hehee..

    • tergantung ridernya mas *hihihihi belagu
      iya sih memang idealnya test ride standardnya 7Leopold7 itu di area BSD/ALam Sutra atau di Sentul. Tapi sesuai kalimat awal, ada kesempatan ambil saja.

  20. sebenarnya mesin yg disetting teriak dan powerfull diputaran tinggi bisa diakali bertenaga diputaran rendah,semua pabrikan bisa apalagi ahli dari KHI yg biasa ngurusi robot industri dan pesanan pengerak pesawat Jet.kalau diYamaha R1 sudah pakai katup ExUp dari 2dekade lalu.masalah harga aja.

    • Mantap bro Dewa…!!! Joss ulasannya, hehehe… Perasaan kita doang yg kaga heboh kena euforia R25, wkwkwkwkwkwkwk………

    • Dewa selalu detail kalau menjelaskan. Baik saat kopdar ketemu langsung ataupun di blog.
      Soal “kita doang yg kaga heboh kena euphoria” maksudnya gmn? Karena saya nulis review dan menulis kelebihan kekurangan R25 saya termasuk heboh kena euphoria?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s