The Unrivalled Rivale 800: “Not For Everyone” Bike (Part 2)

 

Mohon maaf ya baru bisa melanjutkan review Rivale 800 yang tertunda hampir 3 bulan.

Bagian pertama bisa dipirsa di marih: The Unrivalled Rivale 800 : Dominating Predator (Part 1)

 

Adrian, sang designer Rivale 800 sudah memperingatkan.

“It is beautiful but not intended for everyone”

Statement yang menggelitik dan menantang. Mengapa dia berkata begitu?

Sebagai sebuah supermoto, Rivale tentu saja tinggi dan ramping. Saat pertama bertemu langsung Rivale 800 awal maret lalu saya betul-betul tertegun. Oh boy…

IMG_4898

Tinggi saya 174 cm, kalau malam.

Ini seperti melihat kapten tim basket putri saat SMA dulu yang tinggi dan langsing namun hanya bisa dikagumi dari kejauhan. She is not for everyone dude.

IMG_6491

Hanya bagi mereka yang sungguh berikhtiar dan beruntung. Begitu pula Rivale 800 ini.

Why not for every rider?

Faktor #1: Tinggi

Jika terkesan tinggi, ini karena Rivale 800 memang tinggi.

Dengan seat height 881 mm, Rivale adalah motor tertinggi yang pernah saya kendarai. Ia lebih tinggi LIMA (5) cm ketimbang Z800 dan bahkan Versys 650. Bahkan lebih tinggi bila dibanding genre supermoto lain seperti Ducati Hypermotard (875mm) dan Aprilia Dorsoduro (870mm).

IMG_6485-001

Ini artinya motor ini tidak terlalu bersahabat bagi mereka yang tingginya di bawah 170cm. Bisa sih, tapi ya riskan dan ergonominya mungkin tidak ideal. Seperti bertinggi tubuh 160 cm namun berusaha mendekati sang kapten tim basket setinggi 176 cm. Bisa. Tapi ya gitu deh. Insecured, hehehe.

 

Faktor #2: Riding Ergonomics

Supermotor memiliki pendekatan yang berbeda. Kebanyakan rider yang basisnya bukan trail mungkin akan tidak familiar dan merasa canggung.

Sekarang bayangkan anda berdiri tegak seperti sedang berbicara dengan orang lain. Sudah?

Bayangkan kedua tangan anda sedang memegang sebuah tongkat selebar 70 cm setinggi pusar sekitar 30 cm di depan perut. Sudah?

Nah itulah riding position Rivale 800.

Posturnya seperti sedang berdiri tegak? Benar bro serius. Nah itu baik saat melaju pelan di 20 km/jam ataupun melesat di atas 160 km/jam lho. Tentu anda bisa menunduk tapi saat itu kepala anda sudah akan berada tepat di atas dashboard motor.

Kalau sedang riding, dalam posisi normal berjalan apakah anda bisa lihat roda depan motor anda berputar tanpa harus menunduk? Dengan Rivale 800 anda bisa

IMG_6539

foto diambil pada posisi normal kepala

Di sini factor “love it or hate it” menjadi lebih dominan.

 

Faktor #3: Handling

Dengan postur yang tinggi dan tegak mengendarai motor ini membutuhkan teknik yang berbeda. Baik saat long cornering (cornering yang panjang), flipping (seperti saat melalui chicane), maupun low speed cornering. Bahkan untuk urusan accelerating, anda tidak bisa main putar gas karena posisi tubuh yang tegak bisa tersentak ke belakang oleh hentakan mesin 125 tenaga kuda ini. Bagi yang terbiasa atau lebih senang sport fairing, mengendarai Rivale 800 akan membutuhkan penyesuaian dan komitmen.

 

Faktor #4: Daya Jelajah

Adrian juga mengatakan bahwa “This bike is not intended for every trips”. Dengan tanki ala Supermoto yang ramping (12 liter) dan konsumsi bensin yang sekitar 1 liter : 10 km, Rivale hanya berdaya jelajah maksimal 110 km. Jika anda touring keluar kota, setiap 80 km (atau kurang lebih 1 jam) paling tidak anda sudah harus mengisi bensin.

IMG_6494

Ini pengalaman Pape Setiawan saat touring ke Jambi bulan Mei lalu. Untuk berjaga-jaga, Pape membawa jerigen bensin 8 liter di side bag nya. Plus perlu berhenti setiap 80-100 km untuk refueling.

Alamnya Rivale ini memang lebih pada urban riding, tidak untuk touring antar kota apalagi antar pulau. Tidak bisa untuk touring mas? Tentu saja bisa. Tapi butuh perencanaan yang matang.

 

Faktor #5: Harga

Hehe sorry bro dan sis. But this bike aint cheap. Tidak murah untuk dipelihara apalagi untuk dibeli. Harga, kalau belum naik lagi, adalah Rp. 373 juta. Cukup premium, meskipun relative lebih terjangkau dibandingkan kakak-kakaknya di MV Agustas seperti Brutale 1090R dan F4.

Bukan hanya sekedar punya uang, tapi juga butuh determinasi untuk punya Rivale 800. Saya ikut menemani proses pembelian Rivale 800 ini sejak awal. Harus sabar dan persistent mengingat jumlah yang didatangkan ke Indonesia terbatas dan indennya sulit dipastikan. Tidak punya uang, tidak sabar dan telaten, anda bisa berakhir membeli motor lainnya.

 

Oke …Hmmm… saya kira jadi cukup beralasan pernyataan Adrian bahwa motor ini memang bukan motor bagi setiap biker.

 

Next: Riding the Unrivalled Rivale 800

 

ps: Thanks to Pape Setiawan ASR utk kesempatan testingnya.

Masih ada taruhannya nih berapa lama Pape betah dengan Rivale ini hehe..

 

Iklan

37 thoughts on “The Unrivalled Rivale 800: “Not For Everyone” Bike (Part 2)

  1. oh saya kira anda tingginya 180an, begitu berhenti di lampu merah dekat pasar modern BSD, samping anda ada motor lain, helmnya hanya setinggi diatas bahu anda, kayak pake motor trail ijo 250cc

    tapi tetep suaranya itu bgitu dinyalakan…… kaya lagi lihat pebasket cewe cakep, eh tau2 dia ngomong deket telinga kita, “ntar pulang jalan bareng ya” bikin jantung dagdigdugder

  2. Ping balik: The Unrivalled Rivale 800: Ultimate Excitement (Part3) | 7Leopold7

  3. Ping balik: The Unrivalled Rivale 800: Lebih Dekat – Lebih Personal (Part 4) | 7Leopold7

  4. Ping balik: The Unrivalled Rivale 800: Blusukan (Part 5) | 7Leopold7

  5. Ping balik: Impresi singkat nyicipin MV Agusta Rivale 800 , super extraordinary bikes! | Azizyhoree's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s