Test Ride Honda CB1000R: 80% Technology + 20% Mystery

Selamat hari minggu….

CB1000R. Setiap kali melihat motor ini selalu timbul satu pertanyaan di benak saya. Bagaimana mungkin sebuah motor bermesin 1000cc 4 silinder bisa terlihat begitu ringkas bahkan menurut saya kecil. Misteri.

IMG-20130915-00793

Hingga akhirnya, kurang lebih sebulan lalu, saya berkesempatan merasakan langsung CB1000R nya Bro Rudi Tan yang ketika itu baru pulang dr Belitung trip.

Apperance

CB1000R adalah genre streetbike yang berbeda jika dibandingkan dengan Z1000 atau FZ1. CB1000R didesain di Italia (bukan Jepang) dengan satu misi penting: mengganggu dominasi streetbike eropa seperti Triumph, Ducati, MV Agusta dll.

Dan ini terlihat dari garis desainnya yang memang jelas berbeda. Bentuk tanki, single sided arm dan garis buritan tidak mewarisi seri CB yang digantikannya: CB900F Hornet.

export3-001

Lebih terbiasa dengan Z800 atau Z1000 yang majestic, saat duduk di atas CB1000R dan memandang ke bawah, kesan yg kuat muncul pertama kali adalah body yg ramping dan indah. Lekuk pada tanki halus mengalir, tidak terlihat lebar seperti laiknya motor 4 silinder segaris. Kaki pun dapat menjepit dengan rapat dan penuh gairah.

IMG-20130915-00783Dengan tinggi seat hanya 828 mm, CB1000R cukup ramah kepada para biker dengan tinggi di kisaran 160-180 cm. Kedua kaki saya dapat menjejak dengan sangat baik di tarmac.

IMG-20130915-00800

ERGONOMI

Nyaman dan tidak intimidating. Saya bisa duduk dengan tidak terlalu menunduk ataupun terlalu tegak.

IMG-20130915-00799IMG_9633

Engine is on dan deruman rapat khas 4 silinder pun halus terdengar… Sulit sekali untuk tidak jatuh cinta pada deruman mesin 4 silinder. Kebetulan CB1000R bro Rudy ini exhaustnya sdh diganti dengan Akrapovic, yg kebetulan juga my kind of pipe. Tetap bulat dan konsisten bahkan pada RPM menjelang redline.

IMG-20130915-00803

HANDLING

Sayapun menghela CB1000R ini memasuki lintasan alam sutra.

Ya ampun….kagak berasa berat seperti motor 1000cc.

Motor seberat 217kg ini bergerak lincah seperti bisa membaca pikiran kita. Z1000 menurut saya sudah cukup nimble dan lincah. CB1000R saudara-saudara simply at different level.

CB1000R ibarat atlet senam, yang berotot namun lentur, berjalan melewati arus traffic dengan sangat mengalir dan presisi. Dari satu angle ke angle lainnya bisa dilakukan dengan predictable, tanpa harus mengkoreksi.

Saat memasuki parabola Mall @ Alam Sutra dan mencoba cornering pada kecepatan medium pun tidak terasa efek ‘melawan’ (centripetal) yang berlebihan. Sepersekian detik yang biasanya dibutuhkan untuk mendapatkan balance cornering sebelum kita ‘dive’ atau menyelam bisa dipangkas.

Dan wah, suspensinya juga menambahkan persoalan bagi rival2 CB1000R. Kalau anda mengenal lintasan alam sutra, beton disini tidak sepenuhnya halus. Bumpy dan bisa membuat efek bbrp mili second floating pada saat cornering. Tapi dengan CB1000R ini efek itu minimal. Ehh.. lho corner itu sdh lewat ya?

IMG-20130915-00785

It puts shame on smaller streetbike, seperti Er6n. Iya iya memang harganya dan teknologinya beda lumayan jauh.

Misterinya ada dua ternyata.

1. Mass Centralization atau sentralisasi massa. Prinsipnya bagaimana Honda berupaya keras agar centre of gravity CB1000R benar2 bisa serendah mungkin dan tersentral mungkin (tidak menyebar/memanjang)

2. Chassis. Menurut Honda mereka melakukan investasi yang lebih di luar kebiasaan untuk mendapatkan chassis yang tepat : Gravity Die Cast mono-backbone aluminum chassis “that puts the 998cc engine out front and center, and lets you sit more upright”

Z1000 bisa saja lebih pendek 5mm wheelbasenya, atau lebih rendah 8mm tinggi seatnya, atau seringan CB1000R, namun Honda nampaknya mengambil pendekatan yang lebih revolusioner untuk meningkatkan handling,

KARAKTER TENAGA

Bukan hanya handling, tenaganya pun sangat bersahabat. PGM-Fi dan mapping distel sangat halus. Unit yang saya coba sudah ganti exhaust dan re-mapping. Namun dugaan saya CB1000R secara umum memiliki karakter yang sama: bertenaga di bawah, namun sangat halus dan terjaga.

Seperti kelas streetbike pada umumnya, kelebihan CB1000R adalah pada torsi di range low-medium yang dibutuhkan untuk city riding atau country-side cruising. Kehalusan keluarnya tenaga ini membuat kita lebih confident untuk bermanuver ataupun keluar masuk tikungan. Honda juga meng-claim bahwa mapping dibuat halus agar konsumsi bahan bakar lebih efisien (pertimbangannya Eropa sekali).

Namun saya lebih senang torsi Z1000 yang sedikit lebih nakal.

KESIMPULAN

Honda CBR1000R adalah salah satu karya penting Honda utk kategori premium streetbike. Tipikal Honda, mereka merancang motor untuk kenyamanan, handling dan efisiensi. Kuda putih ini lentur namun tetap bertenaga. Motor ini menawarkan sesuatu yang sulit dikalahkan oleh para rivalnya. Motor bagi semua orang (yg mampu membeli tentunya). Setiap biker hanya butuh kematangan emosi dan waktu 5 menit untuk beradaptasi dengan superbike satu ini. Honda, a job well done!

IMG-20130915-00787

Sedikit issue: dr segi penampilan, tipikal Honda terlihat biasa saja. Ini juga seperti di kasus superbike CBR1000 vs R1 vs ZX10R atau di kelas supersport CBR600 vs GSXR600 vs R6. Tampilannya agak biasa. Didesain dan dilahirkan di Italia tidak membuat motor ini lebih agressive pada style. Doktrin Honda yang mengutamakan kenyamanan nampaknya lebih dominan. Jika diparkir berbarengan Z1000 orang mungkin akan tetap lebih menoleh pada Z1000, tanpa mereka tahu apa yang terbenam didalam CB1000R. Yang tetap tinggal menjadi misteri.

IMG-20130915-00798

Iklan

108 thoughts on “Test Ride Honda CB1000R: 80% Technology + 20% Mystery

  1. Pertamax….
    Luar biasa gaya bahasanya Mazbro… Seperti Kahlil Gibran yang sedang memujua motornya…
    Ane baca test ride jadinya kena racun, kalau mau beli motor naked 1000cc, ya Honda CB1000R…

  2. Soal desain dari depan smp tengah, tyata kita sepaham om, dr depan melihat lurus, bisa saja orang sekilas melihat kalau itu adalah PNS, dimana HL-nya PNS emg nyomot dari situ hehehe.
    Jok tengah smp buntut, jika tdk ada seperate seat, maka akan dianggap NVL..
    Hanya pro arm dan area mesin yang bakal bikin orang ngeh ini bukan motor biasa hehehe…

  3. “Sepersekian detik yang biasanya dibutuhkan untuk mendapatkan balance cornering sebelum kita β€˜dive’ atau menyelam bisa dipangkas.”
    Brow bisa di jelaskan lagi balance cornering itu maksud nya balance speed vs angle motor atau bagaimana ?

    • ya maksudnya menemukan garis keseimbangan antara kecepatan dan sudut lean. Pada bbrp motor kita tidak bisa langsung dapat, kadang ada koreksi sedikit.

  4. koq beda banget ya dgn testimoni bro kobay di warungnya..hhmm..*sambil colek si Z. Dgn kata lain, menurut saya CB1000R kurang gahar utk kelas 1000cc.

  5. Akhirnya review Honda CB1000R keluar juga…sangat informatif dan netral, thanks untuk effortnya Om Leo. Kelas naked street bike bisa dibilang kelas yang penting bagi penggemar touring seperti saya….kelas ini adalah the real sportbike (on the street). Motor ini di mata saya sangat understated dan simple dibandingkan kompetitornya. Design nya yang tidak segarang kebanyakan naked bike lain serta tidak terlalu ‘moge’ plus design single arm nya justru yang membuat motor ini sangat menarik dan disukai oleh ‘real bikers’ – rider yang senang riding for the sake of ride (hmmm…apa ya kata yang tepat dalam bahasa Indonesia).
    Motor ini sangat disarankan bagi rider yang mengutamakan performa, handling, safety dan kenyamanan. Fitur ABS, combi brake dan traction control yang tidak ada pada kompetitor sekelasnya memungkinkan kita melahap tikungan seperti jalan2 santai saja (lah bisa buat tikungan tak terasa seperti contoh diatas kok hehehe…).
    Menurut saya CB1000R memang juara yang rendah hati di kelas ini…

    • Setahu saya sih hanya Honda (penggabungan ABS & CBS) dan BMW (Integral ABS) yang menggunakan teknologi Combine Braking System (CBS) di produk nya (diluar scooter)…system ini menggabung (serta mengatur) pengereman dua front disc dan rear disc sehingga mendapatkan pengereman yang sempurna dan tidak mudah slip, khususnya pada saat menikung…monggo dikoreksi bila kurang tepat…

    • Nahh ini komentar yang sangat bernas dan berdasarkan pengalaman langsung menghela CB1000R.
      Saya senang dengan istilah “CB1000R memang juara yang rendah hati di kelas ini…”
      TOP. thank bro Dicky..

  6. Honda memang menganut prinsip ‘Comfortable Style’. Bknnya ane FBH y tp ane kbtulan dah test ride&dnger dr bbrp ownernya yg dah gape dlam dunia permogean. Salut ma honda yang memegang teguh prinsip tsb. Dr Lini kelas capung sport layaknya Ciby 250 smpe 1000 RRnya memang punya sensai riding yg ‘mudah’. Beda kompetitor lain yg terlalu racy skali handlingnya. Trasa skali swaktu mlibas kmacetan di Jakarta yg notabene tdk cpt lelah πŸ™‚ Malah lelahan pke n250 ane ktimbang Ciby 600 :). Apalagi riding dng CB 1000 RR ini yg notabene Naked style :). Vote for this!!! πŸ™‚

  7. Gara-gara penampakannya yg terlihat “tidak garang” bro Dicky Winata pernah ditantangin balapan sama motor kecil saat perjalanan ke Pandeglang dulu…hahaha… Untungnya saat lampu hijau nyala si CB1000 langsung melesat meninggalkan jauuh si motor kecil yg terbengong-bengong..

    • ‘..lbh pada feel, bukan teknikal spec..’ nah ini dia pembeda dgn blogger R2 lainnya..blogger R2 lainnya bagus, tp ceritanya masih sering pendek+ending’nya anti klimaks..

  8. banyak pemakai Honda dan FBH bilang produk Honda yg terbaik.kadang sebagai orang yg terlahir diera modern menganggap cuma kefanatikan belaka.sulit dipercaya bila pabrikan lain tidak bisa mengikuti,tapi kenyataannya motor Honda sering dipuji sebagai “salah satu” yg terbaik dikelasnya.

    • fanatisme buta adalah tanda kurangnya informasi dan kejernihan berpikir.
      Tidak ada produk yang 100% sempurna. Tidak ada pabrik yg 100% kuat di semua tipe produknya. Pilih yang terbaik sesuai kebutuhan.
      Utk sport saya ogah Honda, krn selera riding beda. Tapi utk matic, saya memilih Honda krn cocok dg teknologinya.

  9. mas leopold dulu yang naek vixy merah pindah ke ninja putih sekarang er6 kah?…hebat…hahahaha…gw seneng baca tulisan om leopold…., beda banget ama tulisan2 gw om bro leopold…hahahaha…boro2 mengalir, pating plintut lah bahasa jawanya….maklum masbro basic nya jauh dari tulisan,,,pengen belajar menulis aja…biar otak kiri kepake…hahaha..eh bener gak sih…..btw bagus2 nih tyulisannya..baca2 dulu yah om…

    • lebih dulunya lagi naik Tiger 97, Scorpio 06 hehehe
      iya saya bro. Makasih banyak utk apresiasinya. Saya kebetulan di kerjaan harus sering nulis report makanya agak biasa nulis. Tapi memang budaya di kita bukan budaya menulis, blogging begini bagus untuk melatih keahlian menulis.

    • Terima kasih banyak mas Wahid utk kata-kata baiknya. Saya juga selalu menikmati khabar dari Papua yang dibawakan oleh mas. Keep on blogging mas, salut saya utk mas yang berjuang di tanah rantau.

      iya memang kecil, kalau ga lihat mesinnya orang akan salah kira,

  10. om, ini motor dambaan ane hehhe.
    kpn bisa ky om yak πŸ˜€ (nabung 20 tahun dlu kyanya baru isa terwujud)
    nyicil dlu beli adiknya cbr150 hehe.
    nambahin referesi search blognya motor om leo hehe.
    bagus ni blog (y)

    • Semoga kita selalu dimudahkan rezeki dan apa yang kita butuhkan akan dibukakan jalannya. Amin.

      Makasih banyak juga atas comment dan persinggahannya bro…

  11. manteb gaya bahasanya,sangat dapet feelnya serasa saya yg naek ni motor bukan om leo,he he.eh gmana om kbar ninja yg 4silinder,jadi masuk dimari gak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s