Pelajaran Terakhir dr Ustadz Jeffry – Reka Teknis Kecelakaan

Seperti yang saya sampaikan di artikel sebelumnya.

Ada beberapa alasan mengapa kejadiaan yang menimpa Ustadz ikut membuat saya terpukul.

Ustadz Jeffry yang saya kenal melalui komunitas adalah biker yang santun dan tidak grasa grusu. Tidak emosian dan selonongan seperti ribuan atau lebih biker yang ada di jalan.

Alasan lain saya shock adalah karena saya melalui persis rute yang sama setiap hari. Bagi commuter Serpong – Jakarta Kota, lintas ini cukup favorit karena ada dua jalur terpisah dan tidak ketemu angkot

Tentu pada kejadian tersebut ada banyak aspek non-teknis yang menentukan. Apapun bisa dilakukan namun hidup kita itu adalah hak nya Allah. Namun selain diingatkan bahwa kematian selalu bisa datang kapan saja, saya juga jadi ingin mengerti kira-kira bagaimana kejadian itu bisa terjadi. Apa pelajaran yang bisa saya ambil.

Saya lumayan hafal kondisi dan situasi jalan. Kalau pulang dari kantor di daerah Trunojoyo, Blok M menuju Serpong saya selalu melewati rute ini. Dari arah Pondok Indah Mall, saat memasuki bundaran besar, kita akan membelok ke kanan ke arah Bintaro dan biasanya tertahan di lampu merah (Poin 1)

DAri arah Pondok Indah belok kanan ke Bintaro

Dari arah Pondok Indah belok kanan ke Bintaro

Setelah melewati lampu merah dan masuk ke jalan Gedung Hijau, jalur ini searah, lurus, menurun dan sepi. Sangat nyaman sekali mendapatkan top akselerasi motor disini. Sepanjang kanan kiri jalur ini pohon juga cukup rindang menaungi, sehingga di malam hari, lampu PJU (Penerangan Jalan Umum) tidak terlalu menerangi jalan.

perkiraan kecelakaan 2

Menjelang pertengahan jalur ini ada perempatan komplek yang cukup sepi, dan sebetulnya jarang ada perlintasan. Namun biasanya saya turun ke kecepatan normal 50-60an km/jam karena ada blind spot dr sisi kanan. Melambat di point 3.

Jalan setelah perempatan terlihat lurus dan lebar tapi sebenarnya menikung dan agak menyempit

Jalan setelah perempatan terlihat lurus dan lebar tapi sebenarnya menikung dan agak menyempit

Saya tiba di lokasi beberapa jam setelah kejadian, sekalian berangkat pagi ke kantor dan mengambil gambar. Tidak terlihat tapak bekas pengereman sama sekali di aspal jalan raya. Kendaraan yg Almarhum gunakan adalah Kawasaki Er6n yang belum diperlengkapi dengan ABS. Setiap panic braking mestinya meninggalkan tapak pengereman. Almarhum nampaknya tetap lurus dan tidak mengikuti arah jalan yang melengkung. Jejak hantaman ban pada trotoar juga terlihat jelas (point 4)

IMG-20130426-035

Motor dan Ustadz menghantam pohon palem untuk kemudian mental kembali ke jalan raya. Baru saat mental inilah tapak gesekan motor pada badan jalan terlihat.

IMG-20130426-036

Ada foto2 yang lebih detil namun dengan alasan penghormatan kepada Almarhum tidak saya tampilkan.

Jadi ini kurang lebih urut-urutan kejadian kalau melihat bekas tapak yang ada. Ini adalah BAGAIMANAnya. Tapi MENGAPAnya hanya Almarhum dan Allah yang mengerti.

Ada yang menduga Ustadz kelelahan, sedang tidak fit dan mengantuk sehingga tidak mengantisipasi melengkung halusnya jalan. Semenjak dari Kemang, Ustadz sudah dua kali terjatuh karena kondisi tubuhnya di subuh hari itu. Ada juga alasan2 mistis dr sekuriti di sekitar lokasi yang tidak usah dibahas di sini.

Pembelajaran dari kejadian ini saya serahkan kepada saudara-saudariku..

Ini adalah pelajaran terakhir yang Ustad sudah berikan pada kita, jangan disia-siakan.

Advertisements

61 thoughts on “Pelajaran Terakhir dr Ustadz Jeffry – Reka Teknis Kecelakaan

  1. dari penuturan saksi mata ada yg mengatakan ‘ Alm mengendarai motor secara pelan ‘ tetapi dari uji forensik diperkirakan motor dalam keadaan kencang hingga tidak terjadi bekas pengereman & keadaan motor rusak parah.. Sambil menganalisa, kita tunggu penjelasan LABFOR POLRI.. Thanx Infona gan.. semoga kita bisa mengambil hikmah dibalik kejadian ini terutama tentang bahaya ‘Blind-Spot’… WallahuAlam

    • Kalau kebiasaan saya lewat di jalur itu, meskipun kelihatannya lebar dan kita tidak kencang tapi kalau tidak siap memasuki alur yang melengkung, apalagi karena ngantuk, pasti keder dan beresiko understeer. Makanya saya tidak lihat tapak pengereman sebagai bukti koreksi steering ustadz.

  2. Wah, langsung survey lokasi…. Pada arah sebaliknya (dari perempatan bintaro ke arah bunderan), ada jebakan batman lain. Jalan lurus dan relatif gelap, tiba-tiba ada polisi tidur guede, mobil bisa terbang klo gak liat.. paling minim ban bisa spelleng

    • Hehe saya tiap pagi pasti dan selalu lewat situ Bro. Makanya kemarin sekalian singgah dan mengamati TKP.

      Oh ya saya tahu itu jebmennya, hanya saja kalau pas saya lewat situ pagi kondisi jalan merambat jadi ga terlalu bahaya.

  3. th90an jln Raya Gubeng Surabaya masih 2 arah sekitar”Boncafe”tengah malam pelan karena ngantuk naik Taft GT roda depan kanan tabrak pembatas jalan,setir terputar kekanan,karena benturan pedal gas malah terijak,roda depan terangkat terbang pindah jalur,untung jalan sepi.

    • Bro Yudha kita ga melupakan itu kok.
      Kan di artikel sudah dibahas. Ada banyak faktor non teknis yang menentukan. Salah satunya adalah tentang hidup dan mati kita adalah hak Allah.
      Artikel ini berusaha melihat aspek teknis nya, HOW nya, bukan WHY atau mengapa nya.

  4. Menurut saya sih, kemungkinan ustadz ngantuk. Dan gak sadar motornya tetap melaju lurus, padahal jalanan agak sedikit menikung.

    • Terima kasih om untuk doa baiknya. Semoga om (ET ya?) juga senantiasa didampingi dan diberkahi Allah.

  5. yang jadi pertanyaan bagi saya adalah. . . .lha kok jam segitu ustadz uje masih dijalan. . dan konon katanya habis dari kafe. . padahal itu malam jumat. . apakah tidak lebih baik dirumah istirahat menyambut hari jumat esok harinya yang diibaratkan adalah harinya lelaki. . .

    • Saya kira kita tidak punya informasi dan posisi yang cukup untuk menilai dan menanyakan hal tersebut Bro.

    • “Jika dipaksakan, akan merugikan”
      Itu kata kunci dr mas Wahid yg perlu selalu kita ingat di jalan raya

  6. kata teman saya,, sebelumnya alm, ustadz sudah jatuh dlu (karna kondisi badan yg lagi tdk sehat) sempat pihak keluarga meminta utk menjemput saja dan diantar, tapi beliau nolak, dan tetep bawa motor,, mgkin krna keadaan kurang sehat itulah konsentrasi pun drop drastis..

    • Iya Bro, Ustadz sempat kecelakaan kecil di jalan radio dalam saat masih bersama adiknya. Mungkin krn merasa sudah dekat rumah ya…

  7. Pelajaran Terakhir dari pak ust. Betul dan setuju sekali om leo..°·♡·♥τнäиκчöü goodd♥·♡·° kita bisa mengambil banyak hikmah dri kejadian ini.

  8. ada yg saya nilai (maaf sebelumnya). orang terdekat uje ataupun org manajemen yg uje punya tidak ada sedikitpun bersikap lebih keras dari uje untuk mengingatin kondisi uje yg udah keliatan kurang sehat. seandainya ada yg lebih keras ngingatin uje untuk dibonceng sampai kerumah mungkin akan mengubah takdir dan kalaupun maut menjemput dijam itu juga mungkin beda versi kecelakaannya. tapi tetap menurut saya sifat manusia dapat merubah takdir. krn sifat itu bagian dari niat dan niat (masih menurut saya) seperti kita langsung sms-an kepada allah dan allah membalas sms kita, (maksud dari sms tidak bertatap muka dan tidak ada saling tukar suara) balasan sms itu lah takdir dari allah (dan masih juga menurut saya, silahkan disalahkan)

    • Ini sudah masuk faktor non-teknis dan rahasia Ilahi masbro. Mungkin sebaiknya kita tidak berandai andai dan menyalahkan siapapun. Ikhlaskan saja Ustadz menghadap Allah.

  9. diluar kasus Ustadz cuma berbagi,biasanya kita/disarankan mekanik luar BERES untuk potong per/menganti per trotle body/skep karbu supaya gas enteng tarikan terasa ringan walau power tetap.itu bahaya bila ngantuk,”handel gas dirancang berat diputar supaya kalau ngantuk otot melemah kecepatan turun,berlaku juga untuk mobil.”

  10. Kalau yg selama ini saya rasakan, riding tengah malam (pulang ngantor) kl lewat jalur banyak pohon cenderung lebih sering nguap, apakah tanda2 kurang oksigen akibat rebutan sama pohon?
    Biasanya kl pulang diatas jam 11 malam saya milih jalur fatmawati/prapanca (mega kuningan – depok) krn cenderung tidak begitu ngantuk.
    Btw panic braking motor berbobot berat berbeda dgn motor ringan, minggu kemaren ninja fi saya pecah mika kiri (samping lampu senja), kl dipikir ulang seandainya saya naek supra x atau skywave 125 mustinya bisa menghindari srempetan dgn angkot (angkot ngerem mendadak nyundul inova), tp dgn motor berbobot 172kg ga segampang itu, apalagi er6 berbobot 200kg. Kl blm pernah panic braking dgn motor berat reflek tubuh kita masih merespon utk motor kelas 90kg – 105kg, ternyata tidak cukup utk menghindari srempetan krn gerakan menghindar saya masih kurang menggeser 20cm-an, kl bawa supra x saya yakin kecelakaan kemarin bisa saya hindari.
    — just my humble opinion —

    • baiknya memang dibiasakan bawa motor berat Bro..
      Biar feelingnya dapat. Saya sdh bbrp kali panic braking sih.. syukurlah masih dilindungi Allah.

  11. Kl motor tdk terlalu berat, ban belakang ngunci motor geser kaki berani turun. Kalau motor berat di kondisi yg sama kaki turun resiko lutut dan pergelangan kaki kesleo/terpuntir lebih besar.

  12. Tp Alhamdulillah klo msh meriang ato pnz bila naik mtor g bgeto terasa. Tp sesampianya ditmpt kumat lag tuh meriangnya!!Ap krn semua t’gntung pkiran qt jg. Krn pnyakit umumnya dtng dr pikiran. Dan qt hrus bs mensugesti diri qt jd lebih baik. Dan Jng lupa DO’A

    #Keep safety bro sis

  13. pak leo boleh minta contact nya ga ? mau keep contact lebih gampang lagi nih ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan 😀

  14. pelajaran yg bisa d ambil bila benar alm.UJE kecelakaan karena kelelahan,bila badan kelelahan & ada acara penting,naik taxi,naik mobil/motor pake supir nya aja deh,jgn maksain riding 🙂

    • iya Bro. Kadang excitement kita untuk riding menutupi kemampuan kita mengenal isyarat tubuh bahwa kita ga kuat…

  15. ayah ku jg disitu prnh jatuh tpt na diarah sebaliknya ustadz jatuh..dia saat mengendarai motor agak melamun g mnyadari ddpn na jln agak mlengkung dan tiba2 brakkk menghantam trotoar tngh jln.

  16. Pelajaran sangat berharga dr kejadian P Ustadz , bahwa kondisi mengantuk, kelelahan ataupun melamun/halusinasi harus x-tra wspada saat mengendarai motor di jalan raya, sering di jalan dapet “jebakan Batman” kayak gitu, semakin berat motor semakin kencang lajunya maka energy enersia kelembaman benda bergerak semakin tinggi, makin sulit dikendalikan…so jgn memacu motor saat kondisi tidak fit atau kondisi jalan tidak mendukung (higway)…CMIIW, salam safety-bikers community

  17. menurut saya, jalan di indonesia kebanyakan tidak didisain ideal untuk motor besar, motor besar umumnya punya top speed tinggi, tentu perlu didisain dengan kestabilan tinggi pada kecepatan tinggi, cuma masalahnya jadi sulit meliuk/menikung dengan radius jalan kecil dan cenderung malah gampang lurus, contoh saja, misal motor gp disuruh balapan di trak balap senggol macam trek balap motor bebek di sini, saya yakin akan kalah, kalah lincah dan cenderung liar karena kelebihan power. makanya bawa motor besar sebetulnya harus lebih konsentrasi dan reaksi lebih cepat dalam menarik rem dan menganalisa trek, meleng sediki bakalan mengglosor, mungkin pemerintah harus memikirkan peraturan sim c khusus berdasar cc motor, ya seperti mobil harus ada pembagian sim b,b1,b2, agar lebih aman (dengan catatan peraturannya ditegakan dengan benar)

  18. Menurut saya .selain takdir illlahi. Faktor kelelalahn fisik . Yg mengakibatkan fatal pada almarhum uje. Saya pernah mengalami beberapa kecelaka, an dalam riding keseharian atau race. Dalam race saya sering mengalami kecelaka, an fatal, Tapi alhamdulillah. Luka terparah saya .patah tulang. Bukan ke hal yg vital. Tapi ketika eaya m3ngalami kecelakaan dalam riding touring. Eengan kecepatan sekitar40 km perjam. Saya menerima cedera serius sampai harus masuk icu. Saya koreksi ..kesimpulan saya. Knp dalam balapan atau race. Pembalap. Jarang mengalami luka parah . Dalam beberapa dekade . Cuma beberapa pembalap yg sampai tewas. Tapi kecelaka, an di jalan sering mengakibatkan kematian. Saya ambil kesimpulan selain safety gear.faktor kesdaran reflex .dalam balapan kita selalu siaga kareana resiko jatuh sangat besar.kita selalu waspada. Dan sa, at terjatuh reflex proteksi tubuh lebih baik dan siap. Tapi sa, at kita mengalami kecelaka, an di jalan kita kurang waspada dan tidak begitu siap dengan kecelaka, an .apalagi dalam kondisi lelah.seperti seorang petinju yg sudah kelelahan. Cuma bisa pasrah. Sa at di pukuli, reflek proteksi juga s3kenanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s